
Plak...
"Aku tidak menyuruhmu melecehkannya!" seorang pria mengeraskan rahangnya. "Bagaimana jika wanita itu mati? Aku tidak akan segan menjebloskanmu ke dalam penjara dan menghancurkan perusahaanmu," ancamnya dengan mata marah.
"Saya melakukan itu karena ia pernah menolak cinta dan menamparku di depan umum," ia memberi alasan.
"Aku tidak mau tahu alasanmu," pria itu menekan perkataannya. "Pergilah, menjauh! Jangan tunjukkan wajahmu itu lagi di hadapanku!" usirnya.
*
Sementara itu tim dokter berusaha membuat detak jantung Karin normal kembali. Karena tadi sempat membuatnya berhenti bernafas.
Roy mondar-mandir di depan ruangan putrinya sedang berjuang, Rindu terus menangis. Rencananya mereka akan pulang esok pagi.
Namun, perasaan Roy cemas akhirnya mereka memutuskan pulang pada jam 12 malam, saat memasuki rumah pintu sedikit terbuka dan ruangan tamu begitu berantakan.
Panik, Roy dan Rindu memanggil nama putrinya. Mata mereka tertuju pada sesosok tubuh tertidur di lantai dengan mulut dan hidung mengeluarkan darah yang sudah mulai mengering.
Keduanya berteriak-teriak memanggil nama Karin dan membangunkannya namun tak ada jawaban. Mereka pun membawanya ke rumah sakit.
Hal, yang sama dirasakan Michael. Di malam kejadian itu saat Karin menutup teleponnya perasaannya semakin khawatir berkali-kali ia menghubungi mantan istrinya itu namun tak ada jawaban. Hingga ia mencoba menghubungi mantan mertuanya.
Kabar mengejutkan kembali ia terima, Karin harus dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi tak sadarkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lagi-lagi Michael harus melihat Karin lemah tak berdaya, ia mengepal tangannya saat mendengar Roy menjelaskan kronologi kejadian.
Pakaian yang digunakan Karin robek bagian belakang, menurut penuturan tetangga ia juga sempat mendengar teriakkan meminta tolong sekali.
"Siapa pun kau, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang!" batin Michael geram.
*
*
"Bagaimana kondisi wanita itu?"
"Belum menunjukkan tanda-tanda apapun," jawabnya.
"Apa dia datang?"
"Datang, Pak. Dia begitu terpukul," jawabnya lagi.
"Kabari aku secepatnya, berita tentang wanita itu. Pastikan dia hidup!"
"Baik, Pak!"
*
"Aaargghh....sial!" gumam Putra. "Dia berani menampar dan mengancamku, tapi bagaimana kondisi Karin? Apa dia baik-baik saja?" batinnya bertanya.
"Bodoh... bodoh... entah apa yang aku lakukan padanya," ia menyesali perbuatannya. "Harusnya aku tak menyentuhnya," gumamnya.
Suara telepon berdering. "Ada apa lagi?"
"Jika wanita itu tidak sadarkan diri dalam dua hari ini. Jangan harap kau bisa selamat!" seorang pria mengancamnya dari jauh.
Putra menutup teleponnya dan membuang ponselnya ke sembarangan arah.
"Brengsek!" ucapnya. "Kalau tidak butuh uang dan cinta, aku tidak mau melakukan ini!" gumamnya.
*
__ADS_1
Michael tetap menunggu Karin sadar, ia tak pernah beranjak pergi dari sisi mantan istrinya itu. Walau Roy sudah menyuruhnya pulang, ia tetap menolaknya.
Telepon Michael berdering, tertera nama Mama Tissa. Ia pun menjawab panggilan itu.
"Halo, Ma!"
"Kamu kapan pulang?"
"Karin belum sadar, Ma!"
"Astaga!"
"Kemungkinan aku akan di sini sampai Karin sadar, Ma!" ucap Michael.
"Kabari Mama jika ada perkembangan dari Karin," ujar Tissa.
"Iya, Ma!" Michael menutup teleponnya.
Ia memandangi wajah Karin yang terlihat pucat dan pipinya memar. Tak terasa air matanya menetes.
"Bangun, Karin. Kara mencarimu!" Michael mengelus rambut mantan istrinya itu. "Kamu bilang tidak ingin lagi menjauh dari kami," ia menyeka air matanya yang menetes di pipinya. "Aku akan mencari pria yang berani menyentuhmu," janjinya.
Michael pun tertidur di sisi ranjang Karin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mendengar kabar Karin di rumah sakit, Yudis segera pergi menjenguknya. Di tambah berita beredar di toko, kalau wanita itu tak sadarkan diri di rumahnya dengan wajah penuh luka.
Sesampainya di sana, ia bertemu dengan Michael. Karena Roy dan Rindu harus pulang mengambil barang-barang kebutuhan putrinya dan uang untuk biaya rumah sakit.
"Anda siapa?" tanya Michael.
"Saya Yudistira, Kakak dari pemilik toko tempat Karin bekerja," jawabnya. "Bagaimana kondisinya?" tanyanya.
"Belum sadar juga," jawab Michael.
"Terima kasih," ujar Michael. "Kau Yudis mantan suami Sabrina?"
"Pasti Karin sudah menceritakannya."
"Iya, Karin bercerita banyak tentangmu. Kau pernah mengajaknya untuk menghancurkan rumah tangga Sabrina tapi dia menolaknya," tutur Michael.
Yudis menarik sudut bibirnya. "Awalnya aku ingin merebut kembali dirinya tapi ku rasa caraku salah," ujarnya.
"Memang caramu salah," ucap Michael.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Karin bisa sampai tak sadarkan diri?"
"Sepertinya seorang pria mencoba melakukan pelecehan terhadapnya," jawab Michael.
"Apa dia pria yang selalu datang menggoda Karin di toko?"
"Maksud anda?"
"Beberapa karyawan mengatakan ada seorang pria hampir setiap hari datang ke toko dan berbicara pada Karin," jawab Yudis.
"Apa anda tahu ciri-cirinya?"
"Kita bisa melihat CCTV toko," jawab Yudis. "Tunggu aku akan meminta pihak toko untuk mengirimkannya," lanjutnya lagi.
Tak menunggu terlalu lama, Yudis menunjukkan hasil rekaman beberapa hari terakhir di toko kepada Michael.
"Apa kau mengenalnya?"
__ADS_1
"Putra," gumam Michael.
"Kau mengenalnya?" tanya Yudis sekali lagi.
"Aku mengenalnya, dia dulu salah satu teman bisnisku," jawabnya.
"Apa mungkin dia pelakunya?"
"Dia pernah mengaku menyukai Karin."
"Kau harus menyelidiki CCTV sekitar tetangga Karin," usul Yudis. "Tapi, hanya Karin satu-satunya yang menjadi saksi kunci dalam kasus ini karena dia korbannya," lanjutnya lagi.
"Terima kasih, sudah membantuku!"
"Sama-sama, aku harus kembali toko. Semoga Karin segera sehat," ucap Yudis.
"Semoga saja," Michael tersenyum.
*
*
Roy berjalan tergesa-gesa menuju bagian administrasi rumah sakit untuk membayar tagihan, sesampainya di sana biaya pengobatan dan perawatan Karin sudah dibayarkan dan ia akan ditangani oleh Dokter terbaik yang didatangkan langsung dari luar negeri.
"Siapa yang sudah membayarnya?"
"Maaf, Pak. Kami tak bisa memberi tahu karena ia meminta pihak rumah sakit merahasiakan ini," jawab pegawai bagian administrasi.
"Terima kasih, Mbak!"
"Sama-sama, Pak!"
"Bagaimana, Pa?" tanya Rindu menghampiri suaminya yang masuk ke dalam ruangan rawat Karin. Dari tadi dia menunggu putrinya.
"Sudah ada yang membayar tagihannya."
"Siapa?"
"Orang misterius," jawab Roy.
"Apa kamu, Michael?" tanya Rindu pada mantan menantunya itu.
"Bukan, Tante." Jawab Michael.
"Jadi, siapa?"
"Apa Putra yang membayar tagihan itu semua?" batin Michael bertanya.
"Kita tak perlu memikirkan siapa yang membayarnya, sekarang berdoa bersama untuk kesembuhan Karin," ucap Roy yang mendapatkan anggukan Michael dan Rindu.
*
*
"Kalian sudah bereskan semuanya?"
"Sudah, Pak. Pihak rumah sakit berjanji merahasiakan ini, kami juga meminta mendatangkan Dokter terbaik," jawabnya.
"Bagus."
"Kabarin setiap perkembangan wanita itu dan juga pria yang ada disisinya," pintanya.
"Sepertinya Michael sudah mengetahui siapa pria yang beberapa hari ini bertemu dengan Karin."
__ADS_1
"Biarkan saja, pria bodoh itu. Di beri pekerjaan tapi tak becus," keluhnya. "Cari informasi tentang Putra, pastikan dia tak muncul dihadapan wanita itu lagi," titahnya.
"Baik, Pak!"