Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 31


__ADS_3

"Jadi wanita ini yang sering kamu ceritakan, Arvan?"


tanya Dewi.


"Iya, Bu." jawabnya.


Sabrina tersenyum gugup saat bertemu dengan kedua orang tuanya Arvan.


"Mari, Nak. Kita sarapan bersama!" ajak Fandi.


Mereka berjalan menuju meja makan, berbagai masakan telah tersedia sepertinya memang Arvan sengaja mengundang Sabrina.


"Silahkan duduk, Sabrina!" ucap Dewi mempersilakan calon menantunya.


Dengan wajah sungkan dan malu serta bingung, Sabrina mendudukkan dirinya.


"Jadi kapan kalian melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius?" tanya Dewi pada Sabrina.


"Hah!"


"Bu, jangan terburu-buru. Biarkan mereka saling mengenal dulu," sahut Fandi.


"Bukankah kalian sudah lama kenal?" tanya Dewi.


"Benar, Tante." Jawab Sabrina.


"Ya, sudah. Apalagi yang ditunggu?" tanya Dewi.


"Maaf, Sabrina. Pertanyaan Ibunya Arvan buat kamu bingung, maklum kami menginginkan dia menikah," ucap Fandi.


Sabrina menelan saliva dengan kasar dan menoleh ke arah Arvan untuk membantunya menjawab pertanyaan dari orang tuanya.


"Bu, Yah. Sabrina saat ini kami hanya berteman, apalagi sekarang aku jadi sopir pribadinya," ucap Arvan.


"Oh, begitu." Ujar Dewi. "Tapi kami berharap hubungan kalian bukan sekedar teman atau antara majikan dan sopir saja," lanjutnya lagi.


"Maaf, Tante, Om. Saat ini saya belum siap untuk menikah lagi," ucap Sabrina.


Ketiganya saling pandang mendengar ucapan Sabrina.


Dewi menenggak air putih dan melihat wajah wanita yang telah merebut hati putranya.


"Tante maklum apa yang kamu rasakan. Kami tidak akan memaksamu, maafkan kami!" ujar Dewi.


"Sekali lagi saya minta maaf!" ucap Sabrina.


"Tidak apa-apa, silahkan dilanjutkan lagi sarapannya!" ucap Fandi.


*


"Sabrina, maafkan kedua orang tuaku tadi," ucap Arvan saat mereka berada di dalam mobil.


"Aku maklum, Mas. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menikah dan bahagia. Wajar mereka bertanya seperti itu, apalagi seorang wanita dibawa pria bertemu keluarganya. Mereka berpikir kalau putranya itu serius menjalin hubungan," jelas Sabrina.


"Tapi, aku serius sama kamu!" ungkap Arvan.


"Mas, aku belum bisa." Tolak Sabrina halus.


"Apa bayang-bayang masa lalu yang membuatmu tidak bisa membuka hati?"


"Mas, tolong ngertiin aku!" pinta Sabrina. "Ada alasan aku saat ini belum bisa menerima siapapun," ucapnya lirih.


"Oke, aku akan ngertiin kamu!" Arvan pun melajukan kendaraannya menuju toko.

__ADS_1


Dalam perjalanan ke toko, hanya sunyi. Tak ada obrolan ringan yang biasa mereka lakukan.


Sekata dua kata tidak ada yang terucap dari bibir Sabrina ketika mobil yang ia tumpangi berhenti tepat di depan toko. Wanita segera turun dan berlari kecil karena ia sudah terlambat.


Arvan yang melihat Sabrina dari kejauhan yang berlari-lari kecil masuk ke dalam toko.


"Aarrghhhhh..!" ia memukul setir mobil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Pak, saya kok jadi gugup begini," ucap Nora saat akan bertemu dengan orang tua Yudis.


Yudis tertawa melihat ekspresi sekretarisnya itu. "Kau ini, kita hanya pura-pura. Jadi tak usah dibawa serius," ujarnya.


"Tapi perasaan saya berkata malah sebaliknya," tutur Nora.


"Apa kau sudah pernah dibawa seorang pria ke rumahnya bertemu dengan orang tuanya?" tanya Yudis.


"Pernah, Pak. Tapi sudah cukup lama," jawab Nora.


"Bersikap biasa saja," ucap Yudis.


Nora menarik nafas dalam-dalam perlahan mengeluarkannya.


"Sekarang, kita turun!" ajak Yudis. Mobil yang dikendarainya berhenti di depan orang tuanya. Mereka berdua menempuh perjalanan 3 jam dari kota M.


Yudis mengandeng tangan Nora, seakan mereka adalah sepasang kekasih.


"Yudis, kenapa tidak bilang akan pulang?" tanya Linda ketika putranya itu mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


"Kangen saja dengan Mama dan Papa, makanya pulang tidak direncanakan," jawab Yudis.


"Mama juga kangen kamu," ucap Linda namun matanya tertuju pada gadis yang ada di belakang putranya.


"Siapa dia?" tanya Linda pada Yudis.


"Dia kekasihku, Ma." Jawabnya.


Ada raut wajah tak suka saat Yudis mengatakan kekasih.


"Apa pekerjaannya?" cecar Linda lagi.


"Dia sekretaris di kantorku," jawab Yudis.


"Bagaimana dengan keluarganya?" tanya Linda.


"Papa mana, Ma?" Yudis mengalihkan pertanyaan Linda.


"Papa lagi keluar bersama Rio," jawab Linda.


"Memangnya mereka ke mana?" tanya Yudis sengaja agar Mama Linda tidak bertanya tentang Nora.


"Katanya 'sih ke bengkel," jawabnya.


"Oh, begitu."


"Kamu belum menjawab pertanyaan Mama," ucap Linda.


"Ma, masak apa? Aku lapar nih," ujar Yudis memegang perutnya.


"Bik Ratih tadi masak balado telur, semur daging dan sop sayur," tutur Linda.


"Sayang, ayo kita makan!" Yudis menarik tangan Nora mengajaknya menuju ruang makan.

__ADS_1


Linda selalu menatap Nora dari atas ke bawah dan gadis itu hanya tersenyum, tidak ada kata-kata yang terucap dari mulutnya.


"Kekasihmu ini, apa tidak bisa berbicara?" celetuk Linda.


"Mama ingin tahu apa tentang Nora?" tanya Yudis menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Semuanya," jawab Linda.


"Ma, kami mau makan lebih baik nanti saja bertanya tentang Nora. Benarkan, sayang?" Yudis mengarahkan pandangannya menatap Nora.


"Hah, iya." Nora tersenyum kikuk.


Linda menyebikkan bibirnya tanda tak suka.


"Wah, ada tamu rupanya!" ucap Hendi yang baru saja pulang.


"Ternyata Kak Yudis bawa calon istri," sahut Rio dari arah belakang tubuh Hendi.


"Kapan sampai?" tanya Hendi.


"Baru sejam yang lalu," jawab Yudis.


"Kayaknya aroma pernikahan sebentar lagi, nih." Ledek Rio.


Yudis tersenyum pada adiknya itu. "Lebih baik kamu yang menikah duluan," ucapnya.


"Aku 'sih mau saja, tapi Mama.." Rio melirik Linda.


"Kenapa rupanya dengan Mama?" tanya Linda menatap tajam putra bungsunya.


"Mama maunya mantu yang kaya dan cantik, calonku tidak kaya," jawab Rio jujur.


"Kalian nikah saja diam-diam tanpa Mama," sindir Yudis.


"Tidak bisa, kalian menikah harus ada restu dari Mama." Ujar Linda.


"Jadi, tolong restui hubungan kami," pinta Rio dengan wajah sedihnya memohon.


"Nanti Mama pikirkan lagi," Linda meninggalkan anak dan suaminya pergi ke kamar.


"Apa benar dia calon istri kamu?" tanya Hendi pada putranya.


"Sebenarnya kami cuma pura-pura saja, Pa." Yudis mengecilkan volume suaranya saat berbicara dengan Hendi.


"Kenapa pura-pura?" tanyanya lagi dengan pelan.


"Biar Mama tak menjodohkan aku dengan Stella," jawab Yudis.


"Bagus juga ide Kakak," sahut Rio.


"Mau bagaimana lagi," ucap Yudis menaikkan bahunya.


"Kalian menginap di sini?" tanya Hendi.


"Sore nanti kami pulang, Pa. Banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan di kantor," jawab Yudis.


"Oh, begitu. Papa ke kamar dulu menyusul Mama," pamit Hendi.


"Aku juga, Kak. Mau mandi," ucap Rio.


Hendi dan Rio tak nampak di mata mereka. Nora berbisik di telinga Yudis. "Mama anda ternyata serem juga."


"Tapi anaknya tidak, kan?" tanya Yudis.

__ADS_1


Nora tersenyum nyengir lalu berkata,"Kalau anda serem, sudah dari dulu saya mengundurkan diri dari tugas sebagai sekretaris."


__ADS_2