Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 49


__ADS_3

Sebulan kemudian...


"Stella, apa kamu sudah telat?" tanya Linda.


"Baru juga sebulan, Ma." Jawabnya malas.


"Lama sekali, apa jangan-jangan kamu tidak bisa hamil?" sindir Linda pada Stella.


Stella pun menjawab sindiran mertuanya. "Menantu Mama bukan cuma aku saja, coba minta pada Marissa," ia melirik adik iparnya itu.


Istrinya Rio pun menoleh, ia menarik sudut bibirnya.


"Menantu kesayangan Mama 'kan cuma Kak Stella," ucapnya balas menyindir.


"Aku capek, Ma. Mau tidur," ucap Stella.


"Kerjaanmu selalu saja tidur, kalau tidak di dalam kamar pasti keluyuran. Bagaimana Yudis mau suka sama kamu?" Linda terus mengomel.


"Yudis itu tak ada rasa padaku, Ma. Lebih baik Mama berdoa agar ia terbuka hatinya untukku dan melupakan mantan istrinya itu," ucap Stella. "Satu lagi, Ma. Aku mau ke mana-mana juga bukan pakai uang suamiku."


Ia pun masuk ke dalam kamarnya.


Linda berdecak kesal, ia melirik menantunya satu lagi.


"Kamu lagi, nonton terus dari tadi. Cuci piring!" perintahnya.


"Iya, Ma. Aku cuci piringnya," Marissa berdiri dan menuju dapur.


Rio yang baru pulang, menghampiri istrinya di dapur. "Bawa apa kamu?" tanya Linda menghentikan langkahnya.


"Bawa pizza, Ma." Jawabnya.


"Untuk Mama?" tanyanya lagi.


"Bukan, ini untuk Marissa."


"Buat Mama mana?"


"Mama minta saja sama Papa," jawab Rio.


"Dasar anak pelit!" ucap Linda kesal.


"Mama juga pelit," sahutnya. "Mama tiap bulan, Rio kasih tiga juta. Apa kurang?" tanyanya.


"Ya, kurang. Makan kamu dan istrimu, apa tidak dihitung?"


"Lha, Mama juga dikasih uang belanja sama Papa dan Kak Yudis masa 'sih kurang?" Rio tak percaya.


Marissa yang mendengar perdebatan antara ibu dan anak berusaha menghentikannya. "Mana pizzanya? Biar bagi dua dengan Mama," ucapnya.


"Istri kamu saja tidak pelit," ujar Linda.


Marissa menyodorkan piring kaca berisi tiga potong pizza. "Ini, Ma!"


"Terima kasih," ucapnya. Linda ke ruang keluarga menikmati sinetron kesayangannya.


"Mama selalu jahat, tapi kamu tetap baik padanya," tutur Rio.


"Rio, dia itu wanita yang melahirkanmu. Jadi kau harus menghormatinya,"


"Iya, tapi dia yang membuat Kak Yudis dan Kak Sabrina berpisah," ucap Rio.


"Mungkin jalan mereka begitu, Kak Sabrina sekarang juga sudah bahagia," tutur Marissa.


"Tapi Mama selalu membandingkan Kak Sabrina dengan mantan pacarnya Kak Yudis," ujar Rio.


"Tapi tidak denganku. Mama tak pernah membandingkan diriku dengan mantan pacarmu. Tiap hari dia masak untuk kita, aku juga bukan orang kaya, ku hanya kasir minimarket," jelas Marissa.


"Iya juga," ucap Rio.


"Kurasa Mama menyembunyikan sesuatu dari kita semua," bisik Marissa.


"Bisa jadi."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Hei, kenapa murung saja?" tanya Sabrina mengejutkan Sheila.


"Oh, tidak ada."


"Kamu pasti mikirin Aldi, ya?"


"Tidak," jawabnya gugup.


"Bilang saja, cuma ada aku saja di sini."


Sheila pun mengangguk.


"Nanti, kakak bantu dekatinnya tapi keputusan dia terima kamu atau tidak semua tergantung padanya," ucap Sabrina.


"Aku jadi malu," wajah Sheila tampak memerah.


*


"Mas, kamu jadi ke luar kotanya?" tanya Sabrina.


"Iya, kamu tidak apa aku tinggalkan?"


"Tidak, Mas."


"Aku di sana cuma 3 hari saja, alasannya tidak mau jauh-jauh dari istriku tercinta," gombalnya.


"Mas, bisa saja!"


Arvan mengecup kening istrinya.


"Mas, aku boleh pergi jalan-jalan ke mall bersama Sheila?" izinnya.


"Boleh, tapi kamu juga harus diantar sopir dan dua pelayan wanita ikut kalian," ucap Arvan.


"Terima kasih, Mas."


Selepas Arvan berangkat ke luar kota, Sabrina pun juga pergi bersama sepupu suaminya. Mereka akan menonton film di bioskop. Sheila terus menggenggam tangan istri kakak sepupunya itu.


Jika terjadi sesuatu pada kakak iparnya itu, yang ada Arvan akan marah-marah. Dua asisten wanita yang mengikuti mereka dari belakang.


"Terserah," jawab ketiganya.


"Kok terserah 'sih?"


"Kami ngikut aja, Bu." Ucap salah satu asistennya.


"Film komedi saja, Kak." Usul Sheila.


"Terserah kamu, yang penting jadwal tayangnya sekarang," ucap Sabrina.


Sheila pun melihat jadwal film yang terpampang. "Oh, ada itu. Filmnya lima belas menit lagi tayang."


"Ya, sudah. Kamu pergi sana beli tiketnya, aku tunggu di sini saja." Sabrina duduk di bangku tak jauh dari loket pembelian tiket.


Yudis yang kebetulan berada di mall yang sama melihat Sabrina. Ia melangkah dengan cepat menghampiri mantan istrinya.


"Sabrina!" sapanya.


"Mas Yudis," ucap Sabrina gugup.


"Kamu di sini dengan siapa?" tanyanya.


Sabrina melirik kedua asistennya.


"Aku sudah membelinya, Kak." Sheila menunjukkan empat tiket. Gadis itu menoleh ke arah pria yang ada di depan kakak iparnya. "Dia siapa?"


"Bukan siapa-siapa. Ayo, kita masuk!" ajak Sabrina menarik lengan Sheila.


"Sabrina!" panggilnya lagi.


"Maaf, Pak. Tolong, jangan ganggu majikan kami." Cegah salah satu asisten Sabrina dengan tegas.


Yudis menatap punggung mantan istrinya dari kejauhan, cukup lama ia berdiri hingga tepukan di bahu menyadarkannya.


"Kau di sini? Dari tadi dicariin," ucap Theo. "Kau lihat apa?" pria itu mengikuti pandangan temannya.

__ADS_1


"Sabrina!" ucapnya lirih.


"Mana dia, sudah lama aku tidak berjumpa dengannya," ucap Theo semangat.


"Dia juga sudah menikah," tutur Yudis.


"Aku terlambat," sahut Theo.


Yudis menatap tajam temannya itu.


"Sudahlah, dia sudah menikah. Kau jalani saja rumah tanggamu sekarang," ucap Theo.


"Aku lagi mencoba," ujarnya.


*


"Karin belum pulang juga?" tanya Tania.


"Belum, Ma."


"Kamu tidak meneleponnya?"


"Sudah, Ma. Dia menunda kepulangannya hingga empat hari ke depan," jawab Michael.


"Istri macam apa dia yang bisa berjauhan dengan anak yang masih bayi begini," gerutunya.


"Apa kamu tidak curiga dia lama-lama di sana?"


"Aku percaya dia, Ma."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu mau pesan apa?" tanya pria berperawakan tinggi seperti orang Eropa.


"Nasi goreng seafood dan jus jeruk," jawab Karin.


"Mbak, kami pesan yang teman saya sebutkan dua porsi," ucap pria itu pada pelayan restoran.


"Kapan kamu akan pulang?" tanya pria itu selepas pelayan restoran pergi.


"Kemungkinan 3-4 hari lagi," jawab Karin.


"Aku pasti rindu padamu," ucap pria itu. "Setelah ini kita belanja, kamu pilih apa saja aku akan bayarin," tawarnya.


"Benarkah, aku senang sekali," Karin tersenyum, ia mendaratkan kecupan di pipi pria itu.


Arvan yang baru saja keluar hotel bersama dua orang temannya memilih sarapan tak jauh dari tempat penginapan.


Menurut beberapa orang teman yang pernah berkunjung ke kota ini, restoran itu menjual makanan yang enak.


Arvan memasuki restoran, matanya tertuju pada sepasang wanita dan pria yang saling berhadapan dan melepas senyum. "Itu 'kan Karin?" gumamnya.


"Kenapa berhenti di sini?" tanya seorang temannya.


"Aku melihat Karin," tunjuk Arvan. Temannya itu mengikuti arah telunjuknya.


"Iya, benar. Sepertinya itu bukan suaminya," ujar teman Arvan.


"Pria itu bukan suaminya," tutur Arvan juga.


"Beruntung, kau berpisah dari dia. Jika menikah, entah bagaimana nasib rumah tangga kalian?"


"Aku bersyukur sekali," jawab Arvan. "Kau tunggu di sini, aku akan menemuinya," ucapnya.


Arvan pun berjalan menghampiri meja mantan tunangannya.


"Karin!" panggilnya.


...----------------...


...----------------...


Bab selanjutnya, insya Allah sore atau malam 'ya..


Jangan lupa tinggalkan jejak..♥️

__ADS_1


__ADS_2