Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 26


__ADS_3

"Bagaimana Karin, apa kamu sudah memberi tahu pada Om dan Tante?" tanya Arvan saat mereka bertemu di kafe tempat yang sering dikunjungi.


"Aku belum bertemu dengan mereka," jawab Karin berbohong.


"Memangnya mereka ke mana?" tanya Arvan.


"Heemm.. mereka lagi di luar kota, jadi aku mohon kamu bersabar," pinta Karin.


"Karin, kamu yang menginginkan pernikahan ini tapi kenapa aku harus disuruh bersabar?"


"A..aku belum siap membicarakan ini pada orang tua ku," jawabnya.


"Jadi, kapan kamu siap?" tantang Arvan.


"Secepatnya," jawab Karin.


"Bagaimana besok malam aku ke rumah orang tua kamu?"


"Jangan Arvan!"


"Kenapa? Aku perlu bicara," ucapnya.


"Tapi belum tepat, Arvan!"


"Kamu benar-benar mencintaiku atau tidak?"


"Ya, cinta tapi tidak sekarang juga."


"Kamu tidak berniat mempermainkan hatiku, kan?"


"Tidak, Arvan."


"Perlahan tapi pasti kau akan meninggalkanku, Karin." Batin Arvan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dewi, Fandi ada apa tiba-tiba kalian ke sini?" tanya Rindu pada temannya itu.


"Maafkan kami, Rindu. Pagi-pagi begini sudah datang kemari," ucap Dewi.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Rindu.


"Toko Arvan harus di tutup, tidak tanggung-tanggung ada 8 unit yang dijual." Ujar Dewi.


"Loh, kenapa bisa begitu?" Rindu terkejut begitu juga dengan Roy, suaminya.


"Arvan harus membayar utang di bank termasuk bunganya belum lagi rumah kami," ujar Dewi sedih.


"Jadi, maksud kedatangan kalian ini apa?" tanya Roy.


"Karin meminta Arvan menikahinya tapi apa kalian mau jika anak kami hanya memberikannya mahar yang sedikit?" jawab Dewi.


"Tidak, ini tak boleh terjadi. Jika dia bangkrut, Karin ikutan susah lagi," batin Rindu.


Rindu dan Roy tampak diam dan berpikir sedangkan Dewi dan Fandi saling memandang dan tersenyum.


"Bagaimana? Hubungan anak-anak kita sudah berjalan 4 tahun, tidak mungkin harus diputuskan begitu saja."


Tutur Dewi.


"Kami akan tanyakan kembali pada Karin," ucap Roy.


"Baiklah, kalau begitu. Kami mohon kalian beri keputusan secepatnya, jangan menggantung hubungan mereka. Arvan berhak memiliki seorang istri dan kebahagiaan," ungkap Dewi.


"Baiklah, kami akan bicarakan pada Karin." Ujar Rindu.


"Kalau begitu, kami pamit pulang!" ucap Dewi.


*


"Bu, kamu yakin rencana kita ini berhasil?" tanya Fandi.


"Ayah, tenang saja. Rindu itu tidak memiliki uang, kemarin itu saja dia pinjamkan kita dari jual rumah mertuanya sudah gitu bunganya hampir separuhnya lagi," ucap Dewi.


"Ini salah kita juga, kenapa maunya menerima tawaran perjodohan dari keluarga mereka," ujar Fandi menyesal.


"Sudahlah, Yah. Jangan disesali, terpenting sekarang kita harus membuat Karin memutuskan hubungan dengan Arvan," ucap Dewi.


*

__ADS_1


"Karin, kamu harus memutuskan hubungan pertunangan dengan Arvan!" perintah Roy.


"Apa Papa sudah tahu semuanya?" tanya Karin.


"Kami sudah bertemu dengan orang tua Arvan," jelas Rindu.


"Mereka menjelaskan semuanya pada kami," sahut Roy.


"Jadi kita harus bagaimana?" tanya Karin.


"Kamu harus cari cara agar Arvan memutuskan pertunangan ini," jawab Dewi.


"Baiklah, aku pun malas dengan pria seperti dia. Apa lagi Arvan jatuh miskin," ungkap Karin.


*


"Bagaimana, Bu?" tanya Arvan.


"Bagaimana apanya?" Dewi balik bertanya.


"Apa sudah bicara dengan orang tua Karin?" tanya Arvan lagi.


"Sebentar lagi, Karin juga akan meninggalkanmu!"


Tak lama mereka mengobrol, ponsel Arvan berdering.


"Siapa?" tanya Dewi.


"Karin, Bu!"


"Cepat, angkat!" Dewi penasaran apa yang akan dibicarakan oleh Karin.


"Halo, Karin!" ucap Arvan lembut.


"Arvan, aku ingin bertemu. Ada hal yang ingin ku bicarakan padamu!"


"Baiklah, kita bertemu tempat biasa."


"Aku tunggu kamu di sana setengah jam lagi," ujar Karin lalu menutup teleponnya.


Arvan tersenyum kepada ibunya.


"Apa yang dikatakannya?" tanya Dewi.


"Sudah sana, cepat pergi!" titah Dewi.


"Iya, Bu. Do'akan saja ini segera berakhir," ucap Arvan.


"Ibu selalu mendoakan kamu," Dewi memeluk putranya.


*


"Ada apa kamu ingin bertemu denganku?" tanya Arvan sesampainya di kafe.


"Aku mau berkata jujur," jawab Karin terbata.


"Kamu minum dulu dan tenanglah," ucap Arvan berbasa-basi.


Karin menyedot jus mangga yang sudah tersedia di atas meja. Ia lalu menarik nafas.


"Katakan apa yang ingin kamu bicarakan!" Arvan berusaha santai.


"Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini," ucap Karin dengan wajah pura-pura sedih.


"Maksud kamu apa?" Arvan pura-pura terkejut.


"Kita tidak bisa melanjutkan ini, aku harus pergi ke luar negeri." Tutur Karin.


"Yes!" batin Arvan.


"Kemungkinan aku cukup lama di sana. Tidak mungkin kamu harus menungguku," ujar Karin.


"Kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Arvan sekali lagi.


"Iya, aku yakin." Jawab Karin.


"Apa karena aku sudah bangkrut, makanya kau meninggalkanku?" tanya Arvan.


"Bu..bukan begitu," jawab Karin.

__ADS_1


"Lalu?"


"Aku harus mengejar cita-citaku," jawab Karin.


"Walau berat hati aku harus terima, ini adalah pilihanmu," ujar Arvan.


"Maafkan aku, Arvan!" ucap Karin.


Arvan tersenyum lalu berkata,"Aku juga minta maaf sama kamu!"


"Aku pamit pulang," ucap Karin.


"Apa perlu aku antar?" tawar Arvan.


"Tidak usah, aku bawa mobil sendiri." Jawab Karin.


"Hati-hati, semoga kamu dapat pengganti aku yang lebih baik," ujar Arvan.


"Itu yang ku inginkan lebih kaya dari kamu," batin Karin tersenyum.


Karin hanya membalas dengan tersenyum lalu ia pergi.


Mobil Karin tak terlihat lagi, Arvan tersenyum senang. Lalu ia menghubungi Dewi.


"Halo, Bu. Akhirnya dia menyerah," ucap Arvan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arvan kembali ke kota M, sudah hampir sebulan ia tak bertemu dengan Sabrina. Rasa rindu kepada wanita itu tidak terbendung.


"Sabrina!" sapanya kepada wanita yang telah membuatnya hatinya senang.


"Mas Arvan," ujarnya tersenyum. "Aku pikir kamu tidak pernah ke kota ini lagi," lanjutnya lagi.


"Aku pasti kembali untuk menjemputmu," ceplos Arvan.


"Menjemput?"


"Oh, ya. Menjemput beberapa berkas yang ketinggalan," ucap Arvan berkelit.


"Oh, begitu."


"Wita ada?" tanya Arvan.


"Bu Wita, ada di ruangannya." Jawabnya.


"Kalau begitu aku tinggal sebentar, mau menemuinya." Pamit Arvan. Pria itu pun berlari ke lantai atas.


Arvan membuka pintu ruangan itu sebelumnya ia juga sudah menelepon Wita.


"Arvan!" sapa Wita. "Apa masalahmu dengan wanita itu sudah beres?" tanyanya.


"Sudah, dia mengundurkan diri." Jawab Arvan tersenyum.


"Apa aku sudah bisa mengakhiri sandiwara ini?" tanya Wita.


"Jangan dulu!"


"Kenapa?"


"Ku tidak ingin Sabrina tahu jika aku berpura-pura, tetaplah seperti ini," pinta Arvan.


"Kau menyukai dia?" tanya Wita.


"Bisa dikatakan begitu."


"Sepertinya wanita itu kelihatan sederhana dan tulus," tutur Wita.


"Aku juga berpikiran begitu," ungkap Arvan.


"Jadi sampai kapan aku bermain dalam sandiwara ini?" tanya Wita lagi.


"Sampai dia jadi milikku," jawab Arvan tersenyum.


"Jangan terlalu lama, sebelum mantan suaminya kembali."


"Maksudnya kamu?"


"Beberapa hari yang lalu mantan suaminya datang dan menjemput Sabrina kerja," ujar Wita.

__ADS_1


"Jadi, pria itu masih di kota ini," ucap lirih Arvan.


"Aku sarankan kau bergerak lebih cepat," celetuk Wita.


__ADS_2