
"Nak, kamu bilang ingin membelikan Mamamu perhiasan?" Arman memasuki kamar Yudistira.
"Ya, Yah. Tapi belum ada waktu mencarinya," jawab Yudistira.
"Kamu bisa lihat ini, jika cocok tinggal pesan barang akan datang esok harinya," jelas Arman menyodorkan sebuah majalah.
Yudis meraihnya dan membolak-balik majalah tersebut. Matanya tertuju pada sebuah perhiasan dan membuatnya terdiam.
"Kamu mau kalung itu?" tanya Arman.
"Tidak, Yah."
"Terus kenapa menatap foto itu ?"
"Aku ingat dengan seseorang saja."
"Siapa? Mantan istrimu pertama?" tebak Arman.
"Pasti Ayah tahu dari Papa," ucapnya.
"Ayah tahu darinya, kamu tidak bisa melupakannya."
"Iya, Yah. Aku sangat merindukannya," ujarnya. "Aku pernah berjanji untuk membelikannya kalung dan anting tapi saat itu ku belum bisa mewujudkannya," ucapnya lirih. "Sekarang aku tak bisa memilikinya, karena dia telah dimiliki orang lain," lanjutnya lagi.
"Kenapa kisahmu persis dengan kisah Ayah, mengharapkan Mamamu kembali tapi ia malah menikah lagi," batin Arman.
"Entah, kenapa sulit sekali melupakannya?" gumamnya.
"Ikhlaskan dia bersama orang lain dan kamu buka hatimu untuk wanita yang mencintaimu," nasehat Arman.
"Aku lagi berusaha, Yah."
"Kamu tidak ingin memberikannya kalung atau anting?"
"Untuk siapa?"
"Mantan istrimu itu!"
"Tidak, Yah. Dia tak mungkin mau menerimanya," ucap Yudis lirih.
"Kau pilihlah untuk Mamamu!"
"Iya, Yah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sejak pasca perampokan itu, Karin memang tidak pernah bertemu dengan Michael maupun putrinya. Ia berjanji takkan menemui dan mengganggu mereka.
Hal ini sebenarnya merupakan angin segar bagi Michael, namun kenyataannya berbalik. Terselip rindu dihatinya. Biasanya mantan istrinya itu akan mengirimkan pesan menanyakan kabar Kara atau berpura-pura menelepon agar ia bisa mengobrol dengan dirinya.
Tiga bulan berlalu, ia masih melirik ponselnya untuk sekedar mendapatkan notifikasi dari Karin. Ia juga mengirimkan seseorang untuk memantau kegiatan mantan istrinya itu dari mulai keluar rumah sakit hingga saat ini.
Ia mendapatkan laporan kepulangan istrinya dari rumah sakit yang harus dituntun Papa Roy turun dari mobil dan masih meringis kesakitan, di dorong Mama Rindu menggunakan kursi roda menikmati matahari pagi, hingga ia menjual mobil kesayangannya.
"Halo, Pak!"
"Iya, ada laporan apa dari wanita itu?"
"Sepertinya dia tidak lagi bekerja di perusahaan yang bapak maksud, karena selama pemantauan saya Bu Karin hanya pergi ke sana 2 kali saja. Itu pun sebelum menjual mobilnya," jawabnya.
"Jadi laporan hari ini apa?"
"Bu Karin menaiki ojek online sepertinya dia akan melamar pekerjaan," jawabnya lagi.
"Tetap ikuti dia," perintah Michael.
"Baik, Pak!"
Tissa mendengar percakapan telepon anaknya dengan orang suruhannya. "Sepertinya kamu tidak bisa melupakan dia?"
"Ma!"
"Apa kamu masih mencintainya?"
"Bukan begitu, Ma." Ia bingung memberi alasan, seharusnya ia tak melakukan itu memata-matai mantan istrinya kalau bukan masih cinta.
"Michael sebentar lagi kami akan melamar Nora untukmu. Jadi, Mama harap kamu harus bisa melupakan dia," ujar Tissa.
__ADS_1
Bimbang dan ragu itu yang dirasakan Michael saat ini, Nora yang sekarang begitu dekat dengan putrinya. Sebagian hatinya tak bisa melupakan mantan istrinya.
*
*
"Hei, kita jumpa lagi!" sapa Yudis mengejutkan wanita yang ada didepannya.
Karin membalikkan tubuhnya dan tersenyum tipis.
"Sedang apa kamu di sini?" Yudis melihat sebuah map digenggam Karin.
Karin segera menyembunyikannya kebelakang tubuhnya. "Oh, itu. Hmmm, lihat-lihat aja!" ia terbata.
"Aku lihat kamu bisa bicara dengan manajer toko ini?"
"Oh, itu aku hanya bertanya saja!" jawab Karin gugup.
"Oh, begitu."
"Kalau kamu ingin mengajakku merusak rumah tangga mantan istrimu aku tetap menolaknya," ucap Karin.
Yudis tertawa tipis. "Aku tidak akan mengganggunya lagi, mungkin memang dia bukan jodohku."
"Ya, baguslah itu. Hm, aku harus pergi, permisi!"
"Tunggu, Karin!" panggilnya.
"Ada apa lagi?" tanyanya ketus.
"Aku tahu kamu lagi butuh pekerjaan," jawab Yudis.
Karin tersenyum tipis. "Dari mana kau tahu aku butuh pekerjaan?"
"Dari manajer toko ini," jawabnya.
"Oh."
"Toko ini milik adikku, kamu boleh bekerja di sini," ucapnya.
"Sepertinya aku harus pergi mencari lowongan pekerjaan yang lain," tolak Karin membalikkan tubuhnya.
"Lepaskan tanganmu!" Ia menyipitkan matanya.
"Maaf!"
"Aku tidak mau terutang kebaikan padamu," ucap Karin.
"Kamu tak perlu terutang apapun padaku," janjinya.
"Aku tidak percaya kata-katamu!"
"Baiklah, kalau kamu tak percaya. Ini kartu namaku jika butuh pekerjaan hubungi aku!"
"Terima kasih," ucapnya ketus. Ia pun berlalu meninggalkan Yudis, pria itu hanya menyunggingkan senyumnya.
*
Karin terus mengipasi tubuhnya dengan telapak tangannya, hari ini cukup panas. Ia harus menghemat ongkos, jadi ia berniat akan naik angkot. Kali kedua ia harus menaiki kendaraan tersebut.
Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat didepannya. Kaca jendela terbuka seorang pria tersenyum padanya. "Butuh tumpangan?" teriaknya.
"Tidak," jawab Karin.
Pria itu turun dan mendekatinya. "Kamu mau pulang?"
"Ya."
"Biar aku antar!" tawarnya.
"Makasih," tolaknya.
Pria itu menghela nafas. "Aku tidak akan macam-macam," ucapnya.
"Aku bilang ku tak mau terutang kebaikan padamu," Karin berusaha tegas.
"Coba deh hapus pikiran negatif di otakmu!"
__ADS_1
Karin memegang kepalanya.
"Aku tidak berniat lagi merusak rumah tangga orang lain," jelasnya.
"Terus kenapa kau masih mengejarku?"
"Hei, siapa yang mengejarmu?"
"Ini buktinya, sekarang kau di sini!"
"Aku hanya kebetulan saja lewat dan melihatmu berdiri, kamu tidak takut jika ada yang merampok tasmu lagi?" Ia melihat tas Karin.
Karin segera mendekap tas miliknya, ia sudah mengalami dua kali hal begitu. "Aku tidak takut," ucapnya.
"Oh, ya. Ini jalanan cukup sepi!"
Karin melihat ke kanan dan kiri, memang jalanan yang ia lalui cukup sepi.
"Baiklah, kalau kamu tak mau ku antar pulang!" Ia memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu kemudi.
Karin mengejar langkahnya, "Aku mau!"
"Mau apa?"
"Aku mau diantar pulang," jawab Karin masih dengan angkuh.
"Silahkan masuk!"
Karin pun duduk di samping kemudi.
"Di mana alamat rumahmu?"
"Jalan Mawar."
"Apakah kamu memiliki anak?" tanyanya saat perjalanan menuju rumah Karin.
"Ya, satu orang putri."
"Bersamamu?"
"Tidak, dia bersama mantan suamiku."
"Oh."
"Kamu?"
"Aku tidak memiliki anak padahal sudah dua kali menikah," jawabnya tersenyum.
"Oh," ucap Karin. "Kenapa kau begitu ingin mengejar dia?" tanyanya.
"Entahlah, mungkin karena kami cukup lama mengenal dan dekat jadi sulit melupakannya," jawabnya.
"Kenapa berpisah?"
"Hubungan kami tidak direstui Mamaku," jawabnya.
"Wah, sulit sekali dekat denganmu. Lalu yang kedua?"
"Kami terpaksa menikah karena Mamaku menyukainya," jawabnya. "Akhirnya dia menyerah dan kami berpisah," lanjutnya lagi.
"Sedih banget ceritamu!"
Ia tertawa tipis. "Memang sangat menyedihkan," ucapnya.
"Makan, yuk!" ajaknya.
"Kau ingin mentraktirku?"
"Iya, tenang saja aku ikhlas mengajakmu makan."
"Benarkah?"
"Ya."
"Ya, sudah. Aku mau!"
Mobil pun meluncur ke sebuah restoran, mereka menikmati makan siang bersama.
__ADS_1
*
"Cuma segitu perjuanganmu, kau tidak pernah berubah!" Seorang pria melihat foto di ponselnya.