Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 79-Godaan


__ADS_3

"Kalau begitu, mari kita kenalan!" pria itu mengulurkan tangannya.


Karin hanya menatap tangan itu. "Bapak jadi beli atau tidak?" tanyanya ketus.


"Jadi!"


"Silahkan pilih, biar saya bungkus!" ucapnya tanpa wajah ramah.


"Kalau melayani pembeli itu harus senyum. Jangan cemberut begitu," goda pria itu.


"Maaf, saya di sini kerja."


"Oh, jadi kau punya waktu di luar jam kerja."


"Tidak untuk anda!" ucap Karin ketus.


"Baiklah, aku tidak akan menyerah!" Pria itu tersenyum.


*


Karin berjalan dengan cepat, saat pria yang ia temui di toko mengikutinya. "Karin!" panggilnya.


"Kenapa dia tahu namaku," batin Karin.


Pria itu menarik tangan Karin. "Kau mau ke mana?"


"Aku mau pulang, pergilah menjauh. Kita tidak saling mengenal," usir Karin


"Namaku Putra!" pria itu mengulurkan tangannya kembali.


"Apa mau kamu?" Karin menatap dingin pria yang ada dihadapannya.


"Aku ingin mengenal lebih dekat dengan kamu," jawabnya.


"Aku tidak punya waktu," tolak Karin.


"Aku bisa memberikan apapun yang kamu minta," ucap pria itu lagi.


"Aku tidak mau," ucapnya tegas.


"Kau mau apa, biar aku berikan?"


"Apa kau sudah gila? Kau orang asing bagiku," ujar Karin.


"Aku mengenalmu Karin!" ucapnya. "Apa kau tidak ingat, pesta di mana Michael mengajakmu?"


Karin berusaha mengingatnya.


"Ayo, cobalah ingat. Kita sempat mengobrol," ucapnya lagi.


"Iya, aku ingat. Kau teman bisnis Michael,"ungkapnya.


"Nah, kau ingat. Apa mau aku antar pulang?"


"Tidak, terima kasih." Karin segera menyetop ojek.


"Sial!"


Sesampainya di rumah, Karin melihat beberapa paket memenuhi meja tamu. "Ini punya siapa, Ma?" teriaknya.


"Untuk kamu!"


"Dari siapa?" Karin membuka paketan itu dan membaca pengirimnya. "Putra!" gumamnya.


"Dari siapa, Karin?" Rindu mendekati putrinya.


Karin tak menjawab pertanyaan Rindu, ia mengambil kotak berukuran besar memasukkan barang-barang pemberian Putra.


"Mau dikemanakan barang-barang itu?"


"Mau Karin kembalikan pada pengirimnya," jawabnya.


"Kenapa dikembalikan? Ini tas, sepatu dan aksesoris mahal," tutur Rindu.


"Karin tak mau lagi mengejar pria kaya lagi," ujarnya.


"Kau mau hidupmu miskin seperti ini," Rindu memprovokasi putrinya.


"Percuma, Ma. Harta yang ku dapatkan tapi hatiku tak tenang," tutur Karin.


"Kau begini bukan karena ingin kembali pada Michael, kan?"

__ADS_1


"Michael sebentar lagi akan menikah," jawabnya.


"Kau tidak marah atau ingin merebutnya kembali, secara mantan suamimu itu kembali kaya," ucap Rindu.


Karin menggeleng pelan. Ia berdiri dan berjalan menuju kamarnya dan membawa barang-barang tersebut. "Jika aku bertemu dengannya, aku akan mengembalikannya," gumamnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini," ucap Karin yang baru keluar dari minimarket.


"Apa kau rindu padaku?"


"Di mana alamat rumahmu?"


"Untuk apa kau ke rumahku? Oh, apa ingin bertemu dengan kedua orang tuaku," ujar Putra.


"Aku ingin mengembalikan barang-barang yang kau kirim ke rumahku," ucap Karin.


"Apa kamu tak suka? Aku bisa memberikanmu lebih dari itu," ucapnya.


"Aku tidak akan menerimanya karena ku tak butuh," Karin menekankan kata-katanya.


"Jadi yang kamu butuhkan apa? Kasih sayang atau belaian," Putra memancing emosi Karin.


Plak..


"Itu pantas untukmu!"


Putra memegang pipinya yang baru saja ditampar. "Kau!" menatap geram.


"Berani saja kau berkata begitu lagi, aku tidak akan segan melakukan lebih dari ini," ancam Karin.


*


Seperti biasa, Karin melakukan aktivitasnya bekerja di toko perhiasan. Ia melayani pembeli dengan baik, para pelanggan memujinya karena keramahannya.


"Hei, apa kabar?"


"Kamu!"


"Sepertinya toko ramai pengunjung," ucapnya.


"Syukurlah!"


"Kamu sering ke toko ini," ucap Karin.


"Ya, Saskia adikku belum sempat mengunjungi tokonya yang ada di kota ini," ujar Yudis.


"Oh, begitu."


"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" ajak Yudis.


"Heemm, maaf. Aku tidak bisa," tolak Karin.


"Kenapa?"


"Aku bawa bekal makan siang," jawabnya.


"Kau persis seperti Sabrina," ceplosnya.


"Katanya tak mau ingat mantan," celetuk Karin.


Yudis tertawa kecil. "Iya, ya. Kenapa bahas dia," ucapnya.


"Sudahlah, aku mau makan siang," pamitnya.


"Oh, ya. Silahkan," ujar Yudis.


*


*


Karin menyusuri jalan yang biasa ia lalui dengan berjalan kaki, motor yang biasa ia pakai harus masuk bengkel. Tak mungkin menyuruh Mama Rindu menjemputnya karena ia pasti akan menolaknya dengan alasan malu punya anak yang bekerja di toko orang lain.


Sebuah mobil mewah berwarna putih, berhenti tepat didepannya yang sedang menunggu angkot. Salah penumpang mobil membuka jendela kaca.


"Karin!" sapanya dengan lembut.


"Sabrina," gumamnya.


Wanita itu pun turun dari mobilnya.

__ADS_1


"Aku harus segera pergi," batinnya Karin.


"Kamu sedang apa di sini?" tanyanya sebelum Karin pergi.


"A..aku baru saja pulang kerja," jawabnya terbata.


Sabrina melihat penampilan Karin yang sangat jauh berbeda. "Kamu kerja di mana?"


"Heemm.."


"Kita mengobrol di dalam saja," ajaknya membuka pintu mobil.


"Aku tidak bisa, Sabrina."


"Ayo, kamu tak perlu sungkan."


Karin akhirnya masuk ke dalam mobil Sabrina, ia mengagumi kendaraan yang dimiliki istri mantan tunangannya.


"Kamu kerja di mana?" tanyanya sekali lagi.


"Aku bekerja di toko perhiasan milik adik dari mantan suamimu," jawabnya.


"Mas Yudis?"


Karin menganggukan kepalanya.


"Adiknya laki-laki?"


"Saskia, namanya." Jawab Karin.


"Adik iparnya?"


"Bukan, dia sudah berpisah dengan istri keduanya."


"Lalu?"


"Katanya adik kandungnya," jawab Karin lagi. "Apa kamu tidak mengenalnya?"


"Yang aku tahu adiknya bernama Rio," jelas Sabrina.


"Oh, aku pun tidak tahu. Dia yang menerimaku bekerja di toko itu." Karin menjelaskan.


Sabrina tampak bingung. "Kenapa Karin bilang Mas Yudis memiliki adik perempuan?" batinnya bertanya.


"Sabrina, aku minta maaf padamu!" Karin memegang tangan wanita yang ada disampingnya.


Sabrina mengerutkan keningnya.


"Selama ini aku pernah menyakiti perasaan kamu dan Arvan, sekali lagi ku minta maaf!"


"Karin, kamu bicara apa?"


"Apa yang aku lakukan padamu terdahulu sudah menyadarkan ku sekarang bahwa kemewahan tak selamanya dalam genggaman," Karin menundukkan kepalanya.


"Aku sudah memaafkanmu, yang berlalu biarkan berlalu," ujar Sabrina.


"Aku malu jika berjumpa denganmu dan Arvan, pasti keluarga mertuamu sangat membenciku," ungkap Karin.


"Tidak ada yang membencimu, aku bersyukur dan berterima kasih padamu."


"Untuk apa?"


"Kamu melepaskan Mas Arvan untukku," jawab Sabrina.


"Ya, aku sadar Arvan memang tidak mencintaiku, dia sudah menyukaimu saat kami masih menjalin kasih," ungkapnya.


"Aku yakin kamu akan menemukan pria yang tulus mencintaimu," Sabrina menguatkan hati Karin.


"Aku sudah mendapatkannya tapi bodohnya diriku melepaskannya," tutur Karin.


"Kamu mengkhianatinya?"


"Iya, Sabrina. Sungguh aku menyesal, kami berpisah dan terpaksa jauh dari anak kandungku," Karin menangis tersedu.


Sabrina memeluk tubuh Karin dan mengelus pundaknya. "Kamu harus bisa buktikan pada orang-orang kalau dirimu menyesali semuanya dan mau berubah."


"Terima kasih, Sabrina!"


"Aku akan mengantarmu pulang," tawarnya.


Karin pun mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2