Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 50


__ADS_3

"Karin!"


"Arvan," ucap Karin gugup.


"Kamu di sini? Mana suamimu?" tanyanya.


"A..aku di sini ada urusan pekerjaan," jawabnya.


"Dia siapa?" tanya pria yang bersama Karin.


"Saya teman Karin," jawab Arvan dengan cepat.


"Ya, dia temanku." Wanita itu memaksakan senyum.


"Oh, ya sudah. Silahkan dilanjutkan," ucap Arvan. "Kau dari dulu tidak pernah berubah," ia tersenyum sinis. Ia pun kembali bergabung dengan teman-temannya.


"Teman kamu bilang suami?" Pria itu mulai mengintrogasi.


"Oh, itu. Ya, aku punya suami. Tapi hubungan kami tidak lagi baik-baik saja," jawab Karin.


"Kenapa?"


"Dia berubah," jawab Karin bohong.


"Dia selingkuh?"


"Hmm...ya," jawabnya gugup.


"Kenapa kau tidak meninggalkannya?"


"Aku tidak bisa, karena ada anak."


"Tinggalkan saja anakmu pada dia dan hiduplah bersamaku. Aku akan memenuhi semua keinginan kamu," ucap pria itu memberikan janji manis.


"Aku akan pikirkan itu nanti, Tapi ku merasa nyaman seperti ini," ujar Karin.


"Tapi, aku tidak. Mereka akan menuduhku sebagai perebut istri orang," ucapnya.


Karin tersenyum. "Tidak akan!"


*


Arvan yang bergabung dengan teman-temannya menikmati sarapan, ia pun menghubungi istrinya dengan melakukan panggilan video.


Ia menanyakan kabar istrinya dan kondisinya begitu juga sebaliknya. Tak lupa, kamera mengarahkan ke arah teman-temannya.


Tanpa sengaja kamera juga menangkap sesosok wanita yang Sabrina kenal.


"Mas, kamu bersama Karin?" tanyanya.


Arvan segera mengarahkan kamera ponselnya ke arah Karin dan pria yang duduk bersamanya dari jarak jauh.


"Dia dengan siapa?" tanya Sabrina.


"Aku tidak tahu. Jangan bahas dia, kamu sudah sarapan?"


"Sudah, Mas."


"Sayang, aku tutup dulu teleponnya. Jangan lupa minum vitamin dan banyak istirahat," ucap Arvan.


"Iya, Mas."


Arvan pun menutup panggilan teleponnya. "Huh, syukurlah. Untung Sabrina tidak salah paham," ucapnya mengelus dada.


"Kalau hal itu terjadi, kau bakal tidur di kamar tamu," sahut salah satu temannya disambut tawa teman lainnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa hari kemudian..


"Nak, kamu main sama Mbak 'ya. Mama mau pergi sebentar," ucap Karin pada putrinya. Ia menyerahkan Kara pada pengasuhnya.


"Mau ke mana lagi kamu?" tanya Michael.


Pengasuh melihat majikannya yang pria menghampiri istrinya. Ia pun membawa Kara menjauh dari kedua orang tuanya.


"Aku mau kumpul dengan teman-temanku," jawab Karin.


"Kamu baru pulang semalam, pagi ini sudah pergi lagi. Apa kau tidak bisa memberikan waktu luang untuk kami?" Michael mulai kecewa dengan sikap Karin.


"Aku butuh waktu sendiri, Michael. Ku jenuh dengan rutinitas sehari-hari di rumah," ucap Karin.


"Jenuh kamu bilang? Sebulan ini ke mana? Kau ke luar kota!" sentak Michael.


"Permisi, Pak, Bu!" ucap asisten rumah tangga mereka.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Michael tanpa menatap.


"Ada kiriman paket untuk Bu Karin," ucapnya.


"Paket? Saya tidak ada memesan barang apapun di online shop," ujar Karin.


"Saya tidak tahu, Bu. Di sini tertera nama Ibu dengan alamat lengkap," jelasnya.


"Ya, sudah." Karin mengambil paket dari tangan asisten rumah tangganya itu.


"Kalau begitu, saya permisi!" pamitnya.


"Siapa yang mengirimkan kamu paket?" tanya Michael dingin.


"Aku juga tidak tahu," jawab Karin. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, ia pun buru-buru membukanya. Sekilas senyum terbit dari bibirnya.


"Dari siapa?" tanya Michael sekali lagi.


"Tidak ada," jawabnya.


"Kenapa kau tersenyum?"


"Ini hanya pesan dari temanku yang sudah menungguku," jawabnya.


"Kau tidak berbohong?"


"Kau tidak percaya denganku?" tanya Karin meninggikan suaranya.


"Kau berubah Karin sejak beberapa bulan yang lalu," jawab Michael.


"Itu perasaan kamu saja," ucap Karin.


"Kau yakin tidak menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Michael, aku bosan kamu selalu curiga padaku."


"Aku tidak curiga, ku hanya bertanya kenapa kau berubah. Itu saja," ujarnya.


"Sudahlah, aku mau pergi. Teman-temanku sudah menunggu," Karin mengambil tasnya, ia menuju mobilnya. Tidak lupa ia membawa paket kecil hadiah dari kekasihnya.


Michael pun mengikuti mobil istrinya. Ia ingin memastikan Karin berbohong atau tidak.


Mobil milik Karin memasuki sebuah kafe yang baru beberapa bulan lalu buka, beberapa teman wanitanya juga sudah berkumpul. Michael menatap dari kejauhan.


"Tidak ada yang mencurigakan," gumamnya.


*


*


"Mall, restoran, toko pakaian milik kamu, dan ke rumah Ibu," jawab Sabrina.


"Apa kamu tidak bertemu dengan seseorang?" tanya Arvan lagi.


"Maksudnya?"


"Ya, seseorang entah dari masa lalu kamu," ujarnya.


"Pasti Sheila atau jangan-jangan kedua wanita itu yang memberi tahu Mas Arvan," batinnya.


"Sayang, kenapa diam?"


"Tidak ada, Mas. Aku tidak bertemu dengan orang yang kamu maksud."


"Oh, ya sudah. Kalau tidak ada," ucap Arvan.


"Mas tidak lapar? Kamu 'kan belum makan siang," Sabrina berusaha mengalihkan pertanyaan selanjutnya dari suaminya.


"Sebenarnya aku ingin makan kamu," ucap Arvan.


"Nanti malam saja," bisiknya.


"Memangnya Dokter sudah mengizinkannya?"


"Belum tahu," jawab Sabrina.


"Nanti kita konsultasi lagi," ucap Arvan.


"Kamu mau makan di kamar atau di bawah?"


"Di bawah saja," jawabnya. "Ayah dan Ibu ke mana dari tadi pagi aku pulang mereka tidak nampak?"


"Mereka ke tempat rumah temannya sewaktu sekolah."


"Oh, kalau Sheila?"

__ADS_1


"Dia pergi ke rumah orang tuanya, mumpung lagi libur."


"Jadi kamu sendirian?"


"Tidak juga, mereka semua pergi baru tadi pagi sebelum kamu pulang."


"Oh."


"Kemarin kamu ketemu dengan Karin, tapi kenapa dia tidak bersama Michael?"


"Aku pun tidak tahu, katanya dia di sana karena ada urusan pekerjaan."


"Oh, begitu."


*


*


"Stella!" teriak Linda pada menantunya itu.


"Ada apa 'sih, Ma?"


"Yudis pergi ke kota M, kenapa tidak kamu larang?"


"Memangnya aku siapa dia, Ma?"


"Kau istrinya!"


"Aku memang istrinya cuma di atas kertas dan ranjang," ucap Stella ketus. "Biarkan saja dia ke sana," ujarnya lagi.


"Kau tidak takut kalau Yudis bertemu dengan Nora?"


"Tidak, Ma. Hati Yudis itu hanya ada nama Sabrina," jawab Stella.


"Makanya, kau cepat hamil. Biar dia bisa melupakan mantan istrinya itu," ucap Linda.


"Mama pikir hamil itu semudah kita belanja online," gerutu Stella kesal.


"Stella, kau harus bisa mengambil hati suamimu. Jika ada anak diantara kalian, pasti dia akan mempertahankan kamu!"


"Rasanya aku ingin menyerah saja," ucapnya lirih.


"Kamu, jangan menyerah. Dari dulu kau mencintainya, kan?"


"Iya, Ma. Pertama kali kami jumpa , aku sudah jatuh cinta padanya," jawab Stella senyum-senyum mengingat masa remajanya dulu, anak lelaki lebih tua tiga tahun darinya tampak cuek, angkuh dan dingin. Sikapnya begitu membuat ia jatuh hati.


"Eh, malah senyum-senyum gak jelas."


"Iya, Ma. Nanti ku usahakan lagi. Aku akan menyerahkan seluruh pikiran dan tenaga untuk menggaet hati suamiku," ucap Stella semangat.


"Begitu dong, aku bangga punya menantu sepertimu." Linda tersenyum.


Di tengah obrolan mertua dan menantu. Marissa pulang kerja dan mengucapkan salam. Linda dan Stella pun menjawab salam darinya.


"Bawa apa kamu?" tanya Linda menghentikan langkah Marissa.


"Gorengan, Ma."


"Minta Mama!" ucap Linda.


"Jangan, Ma. Ini banyak mengandung kolesterol, nanti Mama sakit," ujar Marissa.


"Kan, ada kamu yang mengurusku." Ucap Linda santai.


"Ogah," gumamnya.


"Apa yang kamu bilang?" tanya Linda.


"Tidak ada, Ma."


"Sudah, kasihkan saja mana tahu cepat dapat warisan," sahut Stella.


"Kalian, mendoakan aku cepat mati!" sentak Linda.


"Tidak, Ma. Kasihan para suami kami nanti tidak punya Mama," ucap Marissa lembut.


"Jangan banyak bicara, sini gorengannya!"


"Iya, Ma. Ntar ku ambil piring dulu," Marissa ke dapur dan memindahkan gorengannya menjadi dua bagian. Ia pun membawa piring tersebut ke ruang keluarga dengan kedua tangannya. "Ini untuk Mama, ini untuk aku," ia menyodorkan sepiring gorengan pada mertuanya.


"Untukku, mana?" tanya Stella.


"Beli aja sendiri atau minta sama Mama," Marissa memajukan bibirnya.


"Pelit!" ucap Stella.

__ADS_1


"Biarin!" Marissa memasukkan pisang goreng ke dalam mulutnya.


__ADS_2