Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 62


__ADS_3

"Michael sudah tak di kota ini lagi, Ma!" ucap Karin.


"Jadi benar mantan suamimu itu bangkrut?" tanya Rindu.


"Tidak tahu, Ma. Rumah yang dulu kami tempati sudah dijual," jawab Karin.


"Ya, sudah. Kau tinggal cari saja pria kaya yang lain," ujar Rindu.


"Ma, aku ini janda. Mana ada yang mau denganku," ucap Karin.


"Kau tinggal gaet aja pria beristri," celetuk Rindu.


"Mama mau kalau Papa diambil wanita lain?" tanya Karin membuat Rindu terdiam. "Aku ingin minta maaf pada Michael, ku rindu dengan Kara," ucapnya lirih.


*


*


"Menurut kamu Nora, orangnya seperti apa?" tanya Tissa pada putranya.


"Aku tidak tahu, Ma."


"Kok kamu tidak tahu," ujar Tissa.


"Mama yang mengenal wanita itu dengan baik, pasti tahu bagaimana sifatnya," tutur Michael.


"Nora itu wanita yang ingin kami jodohkan kepadamu," ucap Tissa.


"Ma, aku belum siap untuk menikah lagi," tolak Michael.


"Kenapa? Kau masih berharap Karin kembali lagi," ujarnya.


"Ma, aku baru berpisah beberapa bulan yang lalu."


"Mama tidak menyuruhmu langsung menikah, kalian boleh mengenal dulu," ucap Tissa.


"Michael, ikut Mama saja." Ia pun beranjak pergi meninggalkan meja makan. "Titip Kara, Ma. Kemungkinan aku tiga hari lagi kembali ke sini," lanjutnya lagi.


"Iya, kamu tenang saja."


*


*


Sore harinya, sepulang kerja Nora sengaja ke rumah keluarga Michael. Dia ingin bertemu dengan Kara, entah kenapa ia begitu rindu dengan balita perempuan itu.


"Nora!" sapa Tissa.


"Kara lagi ngapain, Tante?"


"Oh, lagi main. Kamu ingin berjumpa dengannya?"


"Iya, Tante. Nora rindu banget dengannya," jawabnya.


"Ya, sudah. Ayo, kita ke sana!" ajak Tissa.


Mereka berjalan menuju ruangan keluarga tempat biasa berkumpul dan bermain Kara.


"Hei, cantik!" sapa Nora.


Kara tersenyum dan merangkak ke arah Nora ketika melihatnya.


"Tante, mau cuci tangan dulu 'ya!" ujar Nora.


Kara terus mengikuti langkah Nora, sampai pengasuhnya harus mengejarnya.


Selesai mencuci tangan, Nora mengendong Kara. Balita itu tampak riang dan menunjukkan giginya.


"Kalian persis seperti ibu dan anak," ujar Tissa membawakan minuman untuk Nora.


"Kara lucu banget, Tante. Boleh bawa pulang," ucapnya bercanda.

__ADS_1


"Tante 'sih boleh saja tapi papanya memberi izin atau tidak," ucap Tissa tersenyum.


"Papanya di mana biar Nora minta izin?" tanya Nora.


"Michael lagi di luar kota," jawab Tissa.


"Papa kamu lagi di luar kota, Tante tidak bisa membawa Kara ke rumah," ucap Nora pada balita itu.


"Tante akan sering ke sini menemui kamu," lanjutnya lagi.


Tissa melihat kedekatan keduanya tersenyum. "Nora!" panggilnya lembut.


"Ya, Tante."


"Kamu mau 'kan jadi ibu dari Kara?"


"Hah."


"Tante berharap kamu jadi menantu di rumah ini," ucap Tissa.


"Heemm, bagaimana 'ya?" Nora menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kalian boleh mengenal dulu," ucap Tissa meredakan salah tingkah Nora. "Kamu belum memiliki kekasih atau teman dekat 'kan?" tanyanya.


Nora menggeleng.


"Syukurlah," ucap Tissa lega.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ma, Kara di mana?" tanya Michael yang baru saja pulang dari luar kota.


"Oh, tadi pagi Mama nyuruh pengasuh Kara mengantarnya ke rumah Nora." Jawab Tissa.


"Kenapa dia ke sana?"


"Kara menyukai Nora, wanita itu sering ke sini menemuinya," jawabnya lagi. "Pergilah, ke rumahnya ambil anakmu!" titahnya.


*


Selesai mandi, Michael bersiap ke rumah Nora. "Pengasuh Kara di sana juga?" tanyanya pada Mama Tissa.


"Tidak, dia Mama suruh libur," jawabnya.


"Jadi, yang memangku Kara siapa?"


"Bawa saja Nora ke sini, mumpung hari ini ia libur."


Michael menghela nafasnya. "Ya, sudah deh."


Akhirnya, Michael menjemput putrinya di rumah Nora. Dia yakin kalau ini semua rencana Mama Tissa untuk mendekatkannya dengan wanita itu.


Walau Michael bingung mencari alamat Nora, akhirnya ia sampai juga.


"Permisi," ucap Michael mengetuk pintu rumah Nora. Dia terpaksa memarkirkan mobilnya di depan gang karena jalan yang harus dilalui sempit.


Nora membukakan pintu. "Kamu?"


"Ya."


"Kara lagi tidur, pengasuhnya mana?" Nora celingak-celinguk mencari wanita yang mengantar ke rumahnya tadi pagi.


"Dia libur," jawab Michael ketus.


"Oh, ya. Silahkan masuk!"


Michael pun masuk dan duduk di ruang tamu.


"Ibu kamu mana?"


"Dia lagi ke luar sebentar," jawab Nora. Wanita itu segera ke dapur membuatkan minuman.

__ADS_1


Tak lama ia keluar dan menghidangkan segelas air putih. "Aku tidak tahu, minuman kesukaan kamu jadi tidak masalah 'kan ku hidangkan air putih saja," ucapnya.


"Tidak masalah, kau tak memberikan minuman itu juga tak masalah bagiku," ujar Michael yang sibuk dengan ponselnya.


"Sepertinya kita pernah berjumpa," ucap Nora.


"Beberapa hari yang lalu, kita berjumpa," celetuk Michael.


"Bukan itu, kalau tidak salah. Aku tak sengaja nabrak mobilmu, pas malam hari di depan restoran Jepang," ujar Nora.


Michael berusaha mengingatnya. "Oh, ya. Jadi kau wanita itu yang mau dijodohkan denganku!"


Nora berusaha tersenyum.


"Sepertinya perjodohan itu akan terus berlanjut," ujar Michael.


"Kenapa kamu tidak mau?" tanya Nora menyelidik.


"Sebenarnya, malas untuk menikah lagi. Tapi Kara membutuhkan seorang ibu," jawab Michael.


"Kamu cari istri atau pengasuh anak?" Nora tak suka dengan jawaban dari pria itu.


"Hei, kenapa kau yang marah?" tanyanya. "Oh, jangan-jangan kau menginginkan pernikahan ini," ucapnya lagi.


"Aku pun tak mau menikah denganmu," ujar Nora.


"Kalau begitu, kita bicara pada orang tuaku untuk menolak perjodohan ini," ucap Michael.


Suara tangisan Kara terdengar dari kamar Nora. Wanita itu berlari menghampiri balita tersebut. Michael juga mengikutinya.


"Kamu kenapa ngikutin aku?"


"Kara itu putriku jadi aku ingin tahu keadaannya," jawabnya.


"Kau tunggu di ruang tamu saja!" perintah Nora.


"Baiklah!"


Nora membuka pintu dan tersenyum pada balita yang sudah bisa duduk. "Kamu sudah bangun, haus 'ya?" Ia mengambil botol berisi air putih. Lalu ia menggendongnya dan dibawa menemui ayahnya.


"Hei, kenapa kau memberikan dia air putih saja?" protes Michael.


"Jadi saya harus kasih apa, ASI?"


Michael terdiam.


"Tadi dia sudah makan bubur pengganti ASI, kamu sebagai ayahnya masa tidak tahu makanan putrinya," keluh Nora.


"Aku sibuk!" jawabnya ketus.


"Makanya kalau tidak tahu apa-apa, jangan protes!"


"Kau saja belum menikah!" ceplos Michael.


"Walaupun belum menikah tapi urusan tentang anak-anak aku tahu dan ngerti," ucap Nora bangga.


"Oh, jadi pernah jadi pengasuh bayi 'ya!"


"Tidak juga, aku pernah mengurus bayi yang ibunya saat itu lagi sakit dan tak sadarkan diri berminggu-minggu," tutur Nora sedih.


"Oh, begitu. Nanti saja curhatnya, sekarang ikut aku!"


"Ke mana?"


"Pulang bawa Kara."


"Kamu saja bisa sendiri," ucap Nora.


"Aku menyetir, dia dengan siapa. Nanti ku antar lagi kamu pulang," ujar Michael.


"Tunggulah sebentar, aku akan menelepon ibu," Nora menghubungi Nisa dan mengatakan akan mengantar Kara pulang.

__ADS_1


__ADS_2