Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 70


__ADS_3

"Bagaimana bisa dia membawa kabur Kara?"


"Maafkan kami, Bu. Tadi saya ke toilet," jawab pengasuh ketakutan.


"Kamu?" tatapannya mengarah pada sopir.


"Tadi saya lagi menjawab telepon," jawabnya


Tissa terduduk, dia mulai menangis. "Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Kara?" gumamnya.


Ponsel Tissa berdering tertera nama putranya. Ia segera mengangkatnya. "Halo, Michael. Bagaimana?"


"Aku lagi menuju rumah sepupu Karin, Mama tenanglah!"


"Bagaimana bisa tenang kalau Kara masih bersama wanita itu?"


"Aku akan berbicara padanya," jawab Michael.


"Semoga kau berhasil membawa Kara pulang," ucap Tissa menutup teleponnya.


*


Sesampainya di sana ia tak menemui mantan istrinya, menurut penuturan sepupunya sejam yang lalu. Karin pergi mengambil mobilnya dan membawa putrinya.


"Saya sempat bertanya mau ke mana, dia jawab akan ke kota B," ucap sepupu Karin.


"Jadi dia membawa Kara ke rumahnya?"


"Sepertinya, ya."


"Kalau begitu. Terima kasih," ucap Michael. Ia menghubungi Mama Tissa kalau akan menyusul Karin di Kota B.


Michael juga menghubungi Karin berulang kali namun wanita itu tak menjawabnya.


"Bagaimana bisa dia menyetir sambil membawa bayi," gumamnya.


Michael mempercepat laju kendaraannya agar segera sampai.


*


"Kara, cucu Oma!" Rindu mencium cucunya itu begitu juga dengan Roy. "Bagaimana bisa kamu membawa Kara ke sini?" tanya Rindu.


"Aku menculiknya," Karin tampak santai menjawabnya.


"Kau sudah gila!" hardik Roy.


"Iya, Pa. Aku sudah gila karena Michael," ucapnya meninggikan suaranya.


Kara yang mendengar suara Karin nyaring membuatnya menangis. Rindu mendiamkannya sedikit menjauh.


Karin menyusul mamanya dan mengambil Kara dari gendongannya. Ia membawa balita itu ke kamarnya, tak lupa ia juga memandikannya.


Sejam setelah Karin sampai, suara klakson berbunyi memekakkan telinga. Michael sengaja melakukan itu agar Karin keluar tapi malah mantan mertuanya yang menemuinya.


Michael turun dan berusaha masuk ke dalam rumah. "Di mana putriku?" Michael tanpa berbasi-basi.

__ADS_1


"Mari masuk, Nak!" Roy mempersilakan mantan menantunya.


Michael pun masuk dan berteriak memanggil nama Karin.


"Tenanglah, duduklah. Papa akan memanggilkan Karin," ucap Roy.


"Pa!" larang Rindu.


"Biarkan, Ma. Mereka bicara!" ucap Roy lagi.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, kami sudah berpisah. Hak asuh Kara padaku," tutur Michael berdiri.


"Tunggulah, Papa akan memanggilnya!" Roy berjalan ke arah kamar putrinya.


Roy keluar bersama Karin. "Dia lagi tidur," tanpa Michael bertanya dia segera menjawab kegundahan hati pria itu.


"Aku ingin membawanya pulang!"


"Biarkan dia semalam bersamaku," ucap Karin.


"Aku tidak mengizinkannya," tolak Michael.


"Kau mau bawa dia malam-malam begini, dia sudah melakukan perjalanan 2 jam hari ini," ujar Karin.


"Itu karena kau, kalau tidak dia tak mungkin sampai di kota ini," Michael mulai geram.


"Michael, biarkan Kara semalam menginap di sini bersama Karin. Kamu bisa beristirahat di rumah ini," tawar Roy ramah.


"Baiklah, Kara semalam di sini bersamamu," Michael menatap mantan istrinya.


Seulas senyum terbit di wajah Karin. "Terima kasih," ucapnya senang.


Namun, Tissa sedikit khawatir putranya tidur di rumah mantan mertuanya. Ia takut Michael akan kembali suka pada Karin.


Suara tangis Kara meledak, membuat Karin terbangun ia segera berlari ke dapur membuatkan susu untuk putrinya. Ia pun menggendong Kara dalam dekapannya.


Tangis Kara belum juga reda, ia membawanya ke luar kamar dan mencoba menidurkannya dalam gendongan walau ia sedikit sulit karena putrinya tak mau diam.


"Kara sayang, Maaf!" Karin mengelus lembut rambut putrinya dan menggoyangkan tubuhnya. "Tenang, Nak. Ini Mama," ucapnya lembut.


Rindu dan Roy pun terbangun karena mendengar tangisan bayi.


"Kamu kalau tak bisa ngurus bayi, jangan sok-sokan mau ngerawatnya!" cerocos Rindu.


"Ma, Kara ini anakku. Aku banyak bersalah dengannya. Ku ingin menebusnya," ucap Karin.


"Biarkan, Ma. Dia mengurus anaknya, Karin ibunya. Ayo, kita masuk tidur lagi!" ajak Roy.


"Besok kau harus mengembalikannya!" titah Rindu.


Karin masih menggendong Kara, dia mencoba duduk namun putrinya terbangun dan menangis. Terpaksa, ia berdiri dan mengayunkannya dalam gendongan.


Michael yang mendengar suara Kara keluar kamar untuk memastikan mantan istrinya itu bisa atau tidak mengurus bayi. Ia mengintip dari pintu kamar yang terbuka sedikit.


Ternyata, dugaannya salah. Karin sempat berdebat kecil dengan Mama Rindu. Ia juga sampai menguap untuk menidurkan putrinya.

__ADS_1


"Biasanya Kara akan tidur kalau diberi susu," gumam Michael. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 2 pagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu yang menyiapkan ini semua, Karin?" Roy tak percaya kalau putrinya memasak sarapan pagi mereka.


"Iya, Pa." Ia rela belajar memasak sebulan yang lalu, orang yang pertama menjadi juri masakannya itu asisten rumah tangganya yang datang pagi dan pulang sore hari. Karena keluarga mereka tak sanggup lagi menggaji asisten banyak. Cukup dua orang saja.


"Kara mana?" tanya Roy.


"Kara masih tidur," jawabnya.


"Wih, tumben sekali kau bangun pagi untuk masak?" sindir Rindu.


"Aku ingin berubah, Ma." Jawab Karin.


"Mama tidak percaya, pasti kamu punya rencana lain 'kan?" tuduhnya.


"Terserah Mama saja!" ujar Karin ketus.


"Papa mau panggil Michael untuk makan bersama kita," Roy berjalan ke arah kamar tamu.


"Biasanya jam segini sudah rapi dan cantik. Kau tidak bekerja?" tanya Rindu.


"Aku mengajukan cuti," jawab Karin.


"Oh," ucap Rindu singkat.


Roy dan Michael berjalan menghampiri meja makan. "Ayo, Nak. Kita sarapan bersama ini masakan buatan Karin," ucapnya.


Untuk pertama kalinya, Michael mendengar Karin memasak dan melihat mantan istrinya masih memakai baju piyama dengan rambut di cepol. Lingkar matanya menghitam karena kurang tidur.


Biasanya setiap pagi Karin sudah mandi dan berpakaian rapi walaupun sedang hamil.


Karin menyendokkan nasi goreng ke piring papa dan mamanya membuat keduanya menatap heran.


"Mau aku ambil?" tawarnya pada Michael.


"Biar aku sendiri saja!" tolaknya.


Tiba-tiba Kara menangis membuat Michael beranjak berdiri.


"Biar aku saja!" ucap Karin. "Kalian makan saja!" lanjutnya.


"Apa bisa Karin memandikan bayi?" tanya Rindu.


"Entahlah!" jawab Roy melanjutkan sarapannya.


Michael menoleh ke arah kamar Karin. Pertanyaan yang sama juga terselip di hatinya.


"Hei, sayang. Kamu sudah bangun!" Karin meraih tubuh mungil itu dan membawanya ke kamar mandi untuk dibersihkan. "Kamu mandi 'ya, Papa sudah menunggumu," ia mengguyur pelan air ke tubuh kecil itu.


Kara begitu senang bermain air dalam bak mandi bayi.


"Sayang, Mama jadi basah!" ucapnya melembut. Kara malah tertawa riang.

__ADS_1


"Hei, malah tertawa!" Karin ikutan tergelak. Ia mengangkat tubuh itu lalu diselimuti handuk. "Ayo, kita pakai baju!" ia harus melihat kemasan diapers untuk memakainya.


Selesai mandi, Karin membawa putrinya bertemu Michael. "Dia sudah mandi dan aku akan membuatkannya sarapan," ia menyerahkan Kara pada papanya. "Kau boleh membawanya pulang setelah aku memberikannya makan," lanjutnya lagi.


__ADS_2