
Beberapa bulan kemudian..
"Sayang, terima kasih kamu sudah melahirkan seorang putri cantik untukku," ucap Michael dengan wajah berbinar-binar.
"Heemm.."
Bayi mungil itu bergeliat dan bibirnya yang imut bercuap-cuap seperti kehausan.
"Sayang, sepertinya dia haus," ujar Michael.
"Berikan saja dia susu formula," ucap Karin ketus.
"Sayang, dia baru dilahirkan kamu beri ASI untuknya," titah suaminya.
"Aku tidak mau, nanti ku tak cantik lagi," ujarnya.
"Sayang, aku masih cinta padamu dan terima kamu apa adanya," ucap Michael lembut.
"Bicaranya sekarang begitu," Karin membuang wajahnya dan memilih merebahkan diri. "Panggil suster, untuk memberinya susu!" perintahnya.
Michael meletakkan bayi mungil mereka di keranjang bayi, lalu memanggil suster.
*
Orang tua Michael datang menjenguk cucu pertama mereka, ke rumah sakit. Wajah yang bahagia tampak di keduanya.
"Cantiknya cucuku," puji Tissa.
"Iya, seperti Karin." Sahut Michael.
"Cucunya mau tapi ibunya tidak diterima," sambung Karin menyindir.
Michael menatap wajah istrinya tak suka dengan ucapannya.
Tania tersenyum. "Mama bawa hadiah untukmu," ucapnya. Ia mengeluarkan kotak berisi perhiasan. "Ini ada kalung, cincin dan gelang emas, ku berikan padamu. Tapi ingat, jangan dijual. Kau harus mewariskannya nanti pada putrimu," ucap Tissa.
Karin menerimanya dengan wajah sumringah. "Terima kasih, Ma."
"Papa ingin menggendongnya," ucap Arya mengangkat cucunya dari keranjang bayi.
Karin senyum-senyum melihat perhiasan yang diberikan mertuanya. Ia melihat surat-surat perhiasan dengan harga cukup fantastis.
*
Lain tempat, Sabrina akan menghadiri pernikahan Rio mantan adik iparnya bersama suaminya. Sebenarnya, ia malas untuk hadir, tapi karena pria itu memaksa agar ia datang.
Di keluarga mantan suaminya hanya Hendi dan Rio yang bersikap baik padanya. Terpaksa, mereka datang sebagai tanda merestui dan mendoakan pernikahannya.
"Kamu yakin kita ke sana?" tanya Arvan.
"Yakin, Mas."
"Kalau mereka menghinamu lagi, bagaimana?"
"Aku senyum saja, anggap saja mereka sampah!" jawab Sabrina.
Arvan terkejut mendengar perkataan istrinya bisa sekasar itu. "Sepertinya aku yang tidak tahan, mereka mencacimu."
"Mas, tenang saja. Aku sudah biasa, lagian kita tidak tiap hari bertemu mereka," ucap Sabrina. "Mas, tahu balasan dari langit?" tanyanya.
"Tahu."
__ADS_1
"Suatu hari mereka juga akan sadar dan mendapatkan hukuman yang setimpal," ucap Sabrina. "Ya, sudah. Ayo, berangkat!" ajaknya.
*
Kedatangan mereka berdua disambut Yudis dan Hendi yang tersenyum ramah.
"Terima kasih atas kehadirannya," ucap Hendi.
"Sama-sama, Om." Jawab Sabrina tersenyum begitu juga dengan Arvan.
"Silahkan, di nikmati hidangannya," ucap Hendi.
"Iya, Om." Jawab keduanya.
Ditengah obrolan mereka berempat, Stella datang menghampiri Yudis dan menggandeng lengannya. "Hei, kalian diundang juga," ucapnya.
"Om tinggal ke sana, ya!" tunjuknya ke arah tamu yang lain
Arvan menjawab,"Ya."
"Karena kami diundang makanya ke sini, terpaksa juga kemari kalau bukan Rio dan istrinya yang memaksa," jawab Sabrina secara gamblang pada Stella.
"Oh, begitu."
"Ayo, Mas. Kita hampiri pengantinnya," Ia menggenggam jemari suaminya dan mengajaknya ke panggung pelaminan.
Yudis menatap punggung mantan istrinya dengan wajah penyesalan.
Sepasang suami istri ini memberikan ucapan selamat kepada pengantin baru tak lupa mereka membawa hadiah untuk keduanya.
"Terima kasih, Kak, Mas. Sudah menyempatkan hadir," ucap Rio.
Sabrina tersenyum. "Semoga kalian berbahagia, jaga istrimu jangan sampai ia terluka," ucapnya mengingatkan.
"Sama-sama," jawab Arvan dan Sabrina.
"Ini ada hadiah untuk kalian berdua, semoga suka," ucap Sabrina.
"Terima kasih, Kak." Ucap istrinya Rio dijawab Sabrina dengan senyuman.
Suami istri pun duduk bergabung dengan tamu-tamu yang lain setelah memberikan ucapan selamat kepada kedua pengantin.
"Mas, tunggu di sini. Aku akan ambilkan makanan dan minuman untuk kita," ujar Sabrina.
"Iya, sayang. Hati-hati," ucap Arvan.
"Kayak aku mau ke mana saja," Sabrina menautkan alisnya.
"Di sini banyak yang tak suka kamu," ucap suaminya mengingatkan.
"Tenang saja, Mas." Sabrina tersenyum.
Ia pun pergi menuju meja yang tersedia aneka makanan dan minuman. Lagi mengambil cemilan, Stella datang menghampirinya.
"Sepertinya makin bahagia saja," ucapnya menyindir.
"Terima kasih," jawab Sabrina.
"Aku dan Yudis akan menikah," ucap Stella.
"Oh, baguslah. Memang itu keinginan kamu," ujar Sabrina lagi.
__ADS_1
"Terima kasih, ya." Ucap Stella.
"Harusnya aku yang berterima kasih kepadamu, kalau bukan kamu yang masuk ke dalam rumah tangga kami tentunya aku tidak akan sebahagia ini," ucap Sabrina berlalu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Esok paginya, para keluarga sudah berkumpul di ruang tamu untuk membuka kado dari para tamu yang hadir pada acara pernikahan Rio.
"Cepat buka kado dari Sabrina," ucap Yana semangat. Ia penasaran apa hadiah yang diberikan mantan adik iparnya itu.
Rio pun perlahan mengoyak kertas kado dan memperlihatkan isinya. "Ini sepatu yang ku incar," ucapnya senang. "Kak Sabrina tahu juga ukuran kakiku," ucapnya bangga.
"Aku yang memberitahunya, beberapa hari yang lalu ia mengirimkan pesan menanyakan ukuran kakimu padaku," sahut istrinya.
"Kalau kamu?" Pandangan mata Linda menuju menantunya itu.
Menantunya itu juga membuka hadiah dari Sabrina. "Gelang," ucapnya pelan.
"Itu emas!" batin Yana.
"Wah, Kak Sabrina baik banget. Kamu diberi gelang emas," ucap Rio melirik Linda.
"Paling cuma lima gram," ujar Linda nyinyir.
Istrinya Rio membuka surat perhiasannya. "Tidak, Ma. Di sinilah tertulis lima belas gram," ucapnya.
"Hah, sebanyak itu?" Yana tidak percaya.
"Ternyata, suami dia kaya juga," batin Linda mulai tak senang.
"Tante Sabrina, kemarin juga memberikan aku boneka," sahut Clara dengan wajah polosnya.
"Benar, Mas?" tanya Yana pada suaminya.
"Iya, kamu saja yang terlalu sibuk dengan teman-temanmu," jawab Rudi ketus
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebulan kemudian...
Yudis dan Stella akhirnya menikah, tidak ada pesta pernikahan yang mewah hanya sekedar ijab kabul dan hanya dihadiri keluarga besar saja dan para tetangga.
Itu semua karena keinginan Yudis yang memintanya. Terpaksa, Linda mengiyakannya.
Stella tersenyum bahagia bisa menikah dengan lelaki yang bertahun-tahun ia mengejarnya. Oh, tidak. Bukan dia yang mengejarnya tapi ibu mertuanya yang selalu memaksanya.
Stella mencium punggung tangan suaminya dengan wajah bahagia dan suaminya itu hanya tersenyum tipis. Begitu dingin dan kaku. Pernikahan keduanya membuatnya tak memiliki semangat hidup.
Kali ini, mereka tidak mengundang Sabrina. Karena Linda tak menyukai mantan menantunya itu hadir mengusik hidup putranya.
"Marissa, ambilkan kue itu. Bagikan kepada teman-teman Mama," perintahnya pada istri Rio yang sudah tampak lelah. Dari tadi memang dia yang selalu disuruh mertuanya untuk mengambil dan mengantar ini itu. Beruntung, suaminya ikut membantunya. Kakak iparnya hanya duduk dan tersenyum manis menyambut para tamu.
"Rio, Kak Yana dari tadi dia hanya duduk-duduk saja. Aku capek," protesnya pada suaminya.
"Sabar, sayang. Aku akan selalu hadir meringankan beban kamu," ucap Rio mengeluarkan kata-kata puitis.
"Memang berat badanku ringan," jawab Marissa ketus.
"Wajahnya, jangan begitu. Kamu jadi tidak cantik lagi," goda Rio.
"Hei, jangan mengobrol saja. Cepat bagikan makanan itu pada tamu," Linda tiba-tiba datang memerintah anak bungsunya dan istrinya.
__ADS_1
"Siap, Nyonya besar!" ucap Rio.
Marissa tersenyum geli mendengar ucapan suaminya.