Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 53


__ADS_3

"Mas, perutku sakit!"


Arvan segera menggendong istrinya dan melarikannya ke rumah sakit terdekat.


"Bagaimana, Dok?" tanya Arvan saat Dokter telah menyelesaikan pemeriksaannya.


"Kondisi janin baik-baik saja, tidak ada perlu di khawatirkan," jawab Dokter.


"Apa perlu perawatan inap, Dok?"


"Tidak perlu, Pak. Bu Sabrina hanya perlu istirahat saja. Jangan melakukan pekerjaan yang membuatnya kelelahan."


Setelah Dokter menerangkan dan menjelaskan, mereka kembali pulang.


Sebelum pulang ke rumah, ia memerintahkan kepada para pegawai yang ada di rumahnya untuk menyiapkan kamar di lantai bawah. Jadi, selama kehamilan Sabrina tak boleh menaiki atau menurunkan tangga.


Selain, memindahkan kamar. Arvan juga meminta bawahannya untuk membangun lift di toko. Agar istrinya atau karyawan wanita yang lagi hamil tidak harus naik turun tangga.


Sesampainya di rumah, mertua sudah menunggunya dalam keadaan cemas.


"Kamu tidak apa-apa, Nak?" wajah Dewi terlihat khawatir.


"Tidak apa, Bu."


"Seharusnya Ibu tadi di rumah saja menemani kamu," ucap Dewi merasa bersalah.


"Ibu ini kesalahan Sabrina yang tidak hati-hati," tuturnya.


"Seandainya tadi kalau Ibu di rumah, kamu tak perlu menemani Arvan ke toko," ucap Dewi lagi.


"Bu, aku tidak apa-apa. Jangan merasa bersalah begitu," Sabrina mengenggam dan mengelus punggung tangan ibu mertuanya.


"Bu, Sabrina harus beristirahat. Arvan bawa dia ke kamar dulu," ucap putranya itu.


"Oh, iya. Ibu buatkan sop daging, mau?" tawar Dewi.


"Mau, Bu." Angguk Sabrina.


"Arvan juga 'ya, Bu!" pinta anaknya itu.


"Ya, Ayah mau dibuatkan apa?" tawarnya pada suaminya.


"Sama aja," jawab Fandi.


Ibu pun pergi ke dapur, Arvan mendorong kursi roda yang diduduki istrinya ke dalam kamar. Ia mengangkat tubuh Sabrina dan membaringkannya.


"Mas, maafkan aku!" ucapnya.


"Maaf untuk apa?"


"Aku sudah merepotkanmu dan membuatmu khawatir," jawabnya.


"Kamu tidak merepotkan aku sama sekali. Setiap suami pasti merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada istrinya," tutur Arvan.


"Mas, terima kasih!"


Arvan tersenyum, ia mencium kening istrinya. "Kamu istirahatlah, jika sop daging sudah masak. Aku akan membangunkanmu."


"Mas, aku boleh minta sesuatu," pintanya.


"Minta apa?" tanya Arvan lembut.


"Aku boleh mengajak teman-temanku ke sini?"


"Tentu saja boleh," jawab Arvan.


"Bersama anak-anaknya?"


"Ya, bolehlah. Masa ibunya pergi, anak-anaknya dengan siapa?"


"Iya juga."


"Apalagi anak-anak mereka masih kecil dan lucu-lucu, belum bisa mandiri tentunya pasti akan mengajaknya," ucap Arvan.


"Terima kasih, Mas."


"Apa perlu aku belikan mainan untuk mereka, biar obrolan kalian tidak terganggu?"

__ADS_1


"Boleh, Mas."


"Kabarin aku jika teman-teman kamu mau ke sini, biar aku belikan mainan untuk anak-anak mereka," ucap Arvan.


"Iya, Mas."


"Ya, sudah kamu istirahatlah!"


"Aku mencintaimu, Mas!"


"Aku juga," Arvan mengecup lembut bibir istrinya.


"Jangan sekarang, aku masih butuh istirahat," bisik Sabrina di telinga suaminya.


"Aku sudah tidak sabar, ingin menerkam kamu." Arvan mencubit kedua pipi istrinya.


"Menerkam apa?" tanya Dewi tiba-tiba muncul dan masuk ke dalam kamar membawa sepiring buah potong.


"Ibu," ucap Arvan salah tingkah.


"Ibu tadi lihat pintunya terbuka, jadi 'ya masuk saja," tutur Dewi.


"Sop dagingnya sudah masak, Bu?"


"Sebentar lagi, ini bawakan buah. Kamu makanlah," Dewi menyodorkan sepiring aneka buah potong.


"Terima kasih, Bu."


"Arvan, Ibu perlu percaya padamu," ucap Dewi pada putranya.


"Aku tinggal sebentar 'ya," ucapnya meminta izin pada istrinya.


Sabrina mengangguk.


Arvan mengikuti langkah ibunya. Ayahnya, juga sudah menunggunya.


"Ada apa, Bu?"


"Orang tua Karin meminta toko di kota A," jawab Dewi.


"Benar, tapi mereka menuntun kita karena menipu," sahut Fandi.


"Kita menipu apa?" Arvan merasa heran.


"Kamu telah menipu Karin, itu alasan mereka," jawab Dewi.


"Aku tidak merasa menipu putri mereka," ucap Arvan.


"Mereka bilang kamu telah membohongi Karin soal kebangkrutan padahal itu semua tipu muslihat kita saja agar terbebas dari kita," tutur Dewi.


"Mereka melakukan ini apa karena menantunya bangkrut," ujar Arvan.


"Suaminya Karin bangkrut?" tanya Dewi tak percaya.


"Iya, Bu. Dari info yang ku dapat suaminya Karin di tipu," jawab Arvan.


"Oh, pantas saja. Dia baru sekarang mengatakan kita penipu," ujar Dewi.


"Aku pernah melihat Karin dengan seorang pria, tetapi bukan suaminya," ungkap Arvan.


"Di mana?" tanya Fandi.


"Di kota C saat ada urusan pekerjaan di sana," jawabnya.


"Ada apa Karin di sana?" tanya Dewi.


"Katanya ada urusan pekerjaan," jawabnya lagi.


"Begitu ceritanya, mereka benar-benar licik!" geram Dewi. "Mereka mengancam akan mencemarkan nama baik keluarga kita," lanjutnya lagi.


"Kita laporkan balik mereka, jika itu terjadi," ujar Arvan.


"Sudah, Bu. Cuekin aja lagi jika Rindu menemui kamu dan mengancam kita," ujar Fandi.


"Iya, Yah." Dewi tersenyum tipis.


"Apa masakannya sudah siap? Ayah lapar," ucap Fandi.

__ADS_1


"Ibu akan siapkan di meja makan. Untuk Sabrina biarkan dia makan bersamamu di kamar," ucap Dewi pada Arvan.


"Iya, Bu."


Arvan kembali ke dalam kamar dan melihat istrinya sedang memainkan ponselnya.


"Sayang, kamu tidur?" tanya Arvan.


"Aku tidak mengantuk."


"Sebentar lagi sop daging kesukaan kamu akan diantar ke sini. Kita makan di dalam kamar saja, ya?"


"Iya, Mas. Tadi Ibu bicara apa sama kamu? Apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Tidak ada, tak penting juga. Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh. Cukup jaga calon bayi kita saja," Arvan memegang perut istrinya.


"Permisi, Pak!" ucap pelayan mengetuk pintu.


Arvan berjalan membuka pintu. "Silahkan!"


Pelayan membawa dua mangkok sop daging dan meletakkannya di meja kamar.


"Terima kasih," ucap Sabrina.


"Apa Ibu atau Bapak mau saya ambilkan nasi juga?"


"Kamu mau pakai nasi, sayang?" tanya Arvan.


"Tidak, Mas."


"Tidak, Mbak. Tolong, buatkan saya es jeruk nipis!" pinta Arvan.


"Baik, Pak. Kalau Ibu?"


"Tambahkan saja saya air putih," tunjuknya pada teko kaca berisi air minum.


"Baik, Bu." Pelayan pun mengambil teko tersebut dan pergi ke luar kamar.


"Kamu mau aku suapin?" tanya Arvan.


"Biar aku sendiri saja, Mas."


Arvan mengambil semangkok sop daging dan menyerahkannya pada istrinya. "Hati-hati panas!"


"Mas, ini kalau letak sambal enak!" ujarnya.


"Tidak boleh," larang Arvan.


"Sedikit saja, Mas. Biar tambah enak aku makannya," rayunya.


"Benar 'ya cuma dikit?"


"Iya, Mas."


"Jangan sampai khilaf!"


Sabrina tersenyum nyengir.


Pelayan pun membawakan pesanan yang dipesan majikannya.


"Mbak, bawakan sambal ke sini!" pinta Arvan.


Pelayan kembali ke dapur mengambil sambal pesanan Arvan.


"Ini, Pak!"


Sabrina semangat mengambil sambal dan menuangkannya ke dalam mangkok sop.


"Jangan terlalu banyak, sayang!"


"Iya, Mas. Kamu tidak mau pakai sambal?"


"Tidak, kamu yang makan saja perutku sudah mules," ucap Arvan menyeruput kuah sop segar dengan aroma rempah-rempah.


......................


Jangan lupa like ♥️

__ADS_1


__ADS_2