
"Hei, cewek jelek!" panggil Aldi.
Gadis itu menoleh dan menatap tajam.
"Kau tambah jelek begitu," sindir Aldi.
"Kau mau apa?"
"Tidak ada hanya menegur saja, kita 'kan keluarga," jawabnya.
"Oh."
"Kau menunggu jemputan?" tanya Aldi.
"Tidak, aku menunggu taksi. Sopirku tidak bisa menjemput karena sakit," jawabnya.
"Ayo, aku antar pulang!" ajak Aldi.
"Tidak, biar aku naik taksi saja."
"Nanti kau bisa nyasar kalau naik transportasi umum," ujar Aldi.
"Kau pikir aku tidak pernah naik taksi," protes Sheila.
Aldi menarik tangan Sheila. " Bukan begitu, tipe gadis sepertimu yang manja. Tidak mungkin tahu dan mengerti naik angkutan umum," jelasnya.
"Kau tahu rumahku?" tanya Sheila.
"Tidak," jawabnya.
"Terus kenapa mau mengantarku?"
"Kalau rumah mertua Kak Sabrina, aku tahu. Kau tinggal di sana, kan?"
"Ya, iyalah."
"Berarti aku akan mengantarmu tempat Kak Sabrina," ucapnya.
"Jadi kau pikir aku tinggal dengan orang tuaku?"
"Tidak juga. Ayo, cepat naik. Mama pasti akan mencariku jika terlambat pulang," ucap Aldi.
Sheila duduk di boncengan, Aldi mulai menghidupkan mesin motor dan melaju dengan kecepatan sedang.
"Apa tiap hari mamamu akan mencarimu?" tanya Sheila.
"Iya, dia begitu mengkhawatirkan aku."
"Kau beruntung memiliki orang tua yang begitu sayang dan khawatir begitu," ucap Sheila.
"Memangnya orang tuamu tidak sayang padamu?"
"Tidak."
"Mereka pasti sayang padamu, buktinya keinginanmu selalu diwujudkan," ucap Aldi.
"Tapi tidak ada waktu untuk aku, ku di sini saja mereka tak pernah meneleponku atau menanyakan kabar," ujar Sheila.
"Aku yakin mereka sayang padamu," ucap Aldi.
Sheila terpaksa tersenyum.
"Sudah sampai," ucap Aldi menghentikan laju kendaraannya.
Sheila pun turun dari motor. "Kamu tidak singgah?"
"Tidak, sampaikan salam aku pada kak Sabrina dan kakak ipar,"jawab Aldi.
"Baiklah, aku akan sampaikan!"
"Sheila, kamu sudah pulang? Diantar sama siapa tadi?" tanya Dewi.
"Aldi, Tan."
__ADS_1
"Aldi, siapa? Teman sekolah atau pacar kamu?" tanya Dewi.
"Adik Kak Sabrina, kebetulan kakak kelas aku." Jawab Sheila.
"Kenapa dia tidak kamu suruh singgah?" tanya Dewi.
"Dia takut Tante Nadia mencarinya," jawabnya.
"Oh," ucap Dewi singkat.
"Cie.. akhirnya diantar juga sama cowok yang ditaksir," ledek Sabrina yang baru muncul dari arah dapur.
"Benar kamu suka dengan dia?" tanya Dewi.
"Oh, itu. Hmm.. tidak, Tante. Kak Sabrina aja yang sok tahu!" ucap Sheila gugup.
"Kemarin itu yang nembak duluan, siapa?" tanya Sabrina sambil tersenyum.
"Sheila, kamu di sini untuk sekolah. Tidak ada pacaran atau teman dekat lelaki," ucap Dewi tegas.
"Iya, Tante. Aku akan rajin belajar dan tidak akan mengenal cinta," janji Sheila.
"Tante, pegang janji kamu!" ucap Dewi mengingatkan. Ia pun berlalu meninggalkan Sheila di ruang makan.
"Sheila, maafkan Kakak. Tapi sekarang hubungan kalian sudah membaik?" tanya Sabrina.
"Ya, gitu deh. Aku mau ke kamar, Kak." Pamitnya meninggalkan Sabrina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Buku ini, aku duluan yang dapat!" Sheila berusaha menarik buku yang ada ditangan Aldi.
"Tidak, aku yang pertama kali mengambilnya." Aldi tetap bersikeras.
"Kau mengalah saja sama cewek," protesnya.
"Tidak bisa," ucap Aldi.
"Heran deh aku sama kamu, sikapmu selalu berubah," Sheila mendorong tubuh Aldi hingga membuat rak buku bergoyang.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya pegawai perpustakaan dengan suara keras. Ia berlari mendengar sesuatu jatuh dengan suara kuat dan melihat buku-buku berserakan di lantai.
Aldi dan Sheila segera melepaskan pelukannya saat mata pegawai tersebut melihat buku-buku yang berjatuhan.
"Maaf, kami tidak sengaja!" ucap Aldi.
"Tidak sengaja, kalian bilang? Dari tadi aku dengar kau dan dia ribut," tunjuknya ke arah keduanya. "Aku tidak mau tahu, kalian bereskan dan setelah ini kalian berdua ke ruang guru," ucapnya.
*
*
"Anda siapa mereka berdua?" tanya seorang guru pada Sabrina.
"Saya kakaknya," jawabnya.
"Kakak? Maksudnya anda, mereka berdua kakak beradik?" tanya guru tersebut.
"Bukan, Pak. Sheila adik sepupu suami saya. Sedangkan, Aldi adalah adik kandung walau kami beda ibu," Sabrina memberikan penuturan.
"Oh, begitu. Karena anda sebagai perwakilan orang tua siswa , saya ingin bilang nasehati mereka berdua untuk tidak membuat kegaduhan," ujar Guru laki-laki.
"Kesalahan apa yang mereka lakukan?" tanya Sabrina.
"Pertama membuat keributan di ruang perpustakaan, kedua buku-buku pada berserakan dibuat mereka dan ketiga berpelukan di ruangan itu," ucap Bapak Guru.
"Hah!" ucap ketiganya terkejut.
"Itu tidak benar yang ketiga!" protes Sheila.
"Iya, Pak. Itu salah, kami tidak sengaja melakukannya." Jelas Aldi.
"Pak, mungkin keduanya hanya salah paham." Ucap Sabrina dengan tenang dan lembut.
__ADS_1
"Pak, saya bisa jelaskan!" ucap Aldi.
"Ya, sudah. Jelaskan!" titah pria itu.
"Saat Sheila mendorong, rak buku itu bergoyang. Dia menarik tangan saya untuk menghindari buku berjatuhan," jelasnya.
"Baiklah, tapi sikap kalian yang ribut di ruangan itu tak baik," ucap Bapak Guru.
"Maafkan kami, Pak!"
"Ya."
*
"Kalian berdua ini, ada saja tingkahnya. Kemarin akrab, hari ini musuhan. Apa mau kalian dijodohkan?" tanya Sabrina.
"Tidak!" ucap Aldi.
Sheila menyebikkan bibirnya.
"Ayo, pulang!" ajak Sabrina.
"Kenapa Kakak yang datang ke sini?" tanya Aldi.
"Ayah pergi ke luar kota dan Mama Nadia lagi kurang sehat," jawab Sabrina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa wajahmu sedih begitu, sayang?" tanya Karin pada suaminya setelah menerima telepon.
"Aku di tipu," jawabnya.
"Di tipu, bagaimana?" tanya Karin.
"Temanku yang mengajak bisnis itu kabur," jawab lagi.
"Lalu, bagaimana? Berapa kerugian yang kamu alami?"
"Mungkin aku terpaksa harus menjual 1 showroom mobil untuk menutupi utang," jawab Michael mengusap kasar wajahnya.
"Anak kita belum lahir, perusahaan kamu bangkrut." Ucap Karin.
"Aku masih ada 1 showroom mobil, yang ada di kota C. Kamu tenang saja," jawab Michael menyakinkan istrinya.
"Tapi milik kamu di kota sana, hanya toko kecil dan tidak sebesar di sini. Kamu minta bantuan sama orang tuamu, sayang!" ujar Karin.
"Mereka tidak akan membantu kita," ucap Michael.
"Bagaimana padahal aku lagi mengandung cucunya, masa mereka tidak mau membantu." Protes Karin.
"Aku akan bertanggung jawab pada kamu dan anak kita, tapi kita harus berhemat," ucap Michael. "Mungkin untuk sementara kita akan memberhentikan beberapa pelayan dan kamu tidak bisa belanja atau kita jalan-jalan ke luar negeri lagi," lanjutnya lagi.
Karin tampak berpikir. "Aku jatuh miskin ceritanya," batinnya.
"Sayang, maafin aku. Kamu mau 'kan tetap bersamaku dalam keadaan begini," ucap Michael.
Karin mengangguk pelan.
Michael tersenyum. "Terima kasih, ya!" ia mencium kening istrinya. "Aku pergi sebentar untuk mengurus masalah ini," ucapnya lagi.
"Ya, sayang." Jawab Karin pelan.
Michael pun melangkah keluar. Karin menatap kecewa punggung suaminya itu. "Huh, aku mau menikah dengan kamu karena kaya," batinnya menggerutu.
......................
...----------------...
...----------------...
Hai semua, terima kasih sudah membaca dan terima kasih juga kalian memberikan respon positif untuk karyaku yang ini.
Karakter tokoh Yudistira di part selanjutnya akan ku buat dia menikah tapi masih dengan bayangan masa lalu sang mantan. Nah, setelah itu aku buat dia tersiksa lagi.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, komen, poin dan vote 😊
Sekali lagi terima kasih, dukungan kalian penyemangat aku...♥️