
"Pak Arman!" sapa Hendi saat pria yang sebaya dengan usianya datang berkunjung ke rumahnya.
"Pagi, Pak Hendi!" sapanya.
"Pagi juga, anda dengan siapa?" Hendi melihat ke arah mobil Arman.
"Saya bersama dengan sopir," jawabnya.
"Oh, ada apa 'ya?" Hendi bingung kenapa Arman datang tanpa anak dan menantunya.
"Ada yang ingin saya tanyakan padamu," ungkap Arman.
"Soal apa 'ya?"
"Yudistira."
"Kenapa dengan putra saya?"
"Apakah Yudistira adalah anak kandung anda?"
Jeduaar..
"Siapa anda sebenarnya?" Hendi balik bertanya.
"Apakah istri anda tak memberi tahu sebenarnya?"
"Rahasia apa yang disembunyikan Linda," batin Hendi bertanya.
"Bertahun-tahun saya mencari mereka, akhirnya kami kembali bertemu dengan kondisi yang sudah berbeda." Jelas Arman.
Rahang Hendi mulai mengeras. "Jadi kamu lelaki yang tidak bertanggung jawab itu!" sentaknya.
"Aku minta maaf, ku tak bermaksud meninggalkannya."
"Kau tahu. Bagaimana hancurnya dia?" Hendi menaikkan suaranya.
Arman hanya diam dan tertunduk.
"Dia ingin membuang anak itu!"
Arman mendongakkan kepalanya, tak percaya bahwa Linda ingin membuang anak kandungnya.
"Kau tidak tahu terpuruknya dia. Ke mana saja dirimu selama ini?"
"Maafkan aku Hendi," pintanya.
"Harusnya kau minta maaf pada Linda dan Yudis," ucap Hendi.
"Apa yang bisa ku lakukan untuk menebus semua kesalahanku pada mereka?"
"Aku tidak tahu, hanya mereka yang bisa menentukannya," jawab Hendi.
"Aku ingin bertemu dengan mereka," ucap Arman.
"Aku akan bantu kamu, bertemu dengan mereka !"
"Terima kasih, Hen!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sabrina lagi menikmati menjadi seorang ibu. Waktunya sekarang dihabiskan untuk mengurus sang buah hati dan suami tercinta.
Dia merasa beruntung, bisa memiliki suami yang menyayanginya begitu juga keluarga besarnya yang menerima dirinya apa adanya tanpa melihat status sosial.
Terkadang dia sempat menyesal, kenapa tidak dari dulu ia mengenal Arvan. Sosok pria yang diam-diam mengaguminya dan mencintainya. Itu mungkin caraNya, menguji diri ini menjadi seseorang yang sabar.
"Sayang," Arvan mengecup kening istrinya. Hal yang biasa ia lakukan saat menyapa Sabrina di pagi hari.
"Kamu mau sarapan?" Sabrina masih memakai baju putranya yang baru saja selesai mandi.
"Iya, tapi tunggu Arion ganteng dulu," ucapnya menoel pipi sang putra yang sudah 3 bulan.
"Iya, Papa. Aku nunggu Mama, buatku ganteng," Sabrina menirukan suara anak kecil.
"Anak Papa sudah ganteng," Arvan mengangkat Arion dan menggendongnya.
Sabrina dan Arvan berjalan ke ruang makan.
__ADS_1
"Pagi semua!" sapa Arvan mengangkat tangan putranya melambai ke arah Oma dan Opa.
"Pagi cucu Oma," Dewi mengulurkan kedua tangannya menggendong Arion.
"Mas, kamu mau teh atau jus?" tawar Sabrina pada suaminya.
"Teh aja, sayang." Jawab Arvan.
Sabrina menyediakan segelas teh dengan sedikit gula, roti tawar dengan isian selai nanas untuk suaminya.
"Ini, Mas!" ia meletakkan dua roti ke dalam piring.
"Makasih, sayang!" ucapnya.
Ponsel Dewi berdering, ia pun melihat nama pemanggil dan menjawabnya. "Pagi, Sheila!"
"Malam, keponakan Tante yang ganteng!" Sheila melambaikan tangannya ke arah bayi Ar.
"Bagaimana di sana? Arion kangen!" ucap Dewi.
"Tante, di sini baik. Kangen banget deh sama Arion," Sheila tersenyum melihat wajah Arion yang menggemaskan.
Arvan mengambil ponsel Dewi. "Hei, di sana harus betah 'ya!"
"Iya, Kak. Aku akan usahakan tetap betah di sini!"
"Baguslah. Jangan kecewakan kami, belajar yang rajin di sana. Arion nanti setahun kami akan mengunjungimu!"
"Benar 'ya, aku menunggu kalian di sini!"
"Iya, kami janji!" ucap Arvan.
"Aku ingin melihat Kak Sabrina!" Arvan memberikan ponselnya pada istrinya.
"Hai, Sheila!"
"Kakak Sabrina, aku rindu!" Sheila menunjukkan wajah kangen dan manjanya pada istri sepupunya.
"Kau baru saja dua minggu di sana, sudah kangen," celetuk Sabrina.
"Hei, apa yang kalian curhatkan?" sambung Arvan memotong pembicaraan istri dan sepupunya.
"Tenang saja, Kak Sabrina tidak pernah menceritakan dirimu Kak Arvan. Dia begitu mencintai kamu," ujar Sheila.
Arvan menatap istrinya dan Sabrina membalas tatapan itu dengan senyuman hangat.
"Sini Ayah juga mau bicara dengan dia," Fandi mengambil ponsel istrinya.
"Hai, Om!" sapa Sheila.
"Hai juga, kamu di sana jangan keluyuran. Sering kabarin Paman Dani jika mau pergi atau ke manapun," nasehat Fandi.
"Iya, Om. Mereka seminggu sekali mengunjungi aku di sini," ucap Sheila.
"Oh, ya sudah. Jaga diri dan baik-baik saja di sana. Om menunggumu menjadi CEO di perusahaan kami," ujar Fandi.
Sheila tertawa geli mendengar kata CEO. "Aku tidak pantas Om, memimpin perusahaan itu. Biarkan Kak Arvan saja yang memimpin," ucapnya.
"Arvan sudah memiliki Star Hotel dan AR fashion," tutur Fandi.
"Baiklah, Om. Aku akan belajar di sini, jangan lupa aku tunggu kedatangan kalian!"
"Iya," jawab serempak ke empatnya. Dewi menutup panggilan video teleponnya.
*
*
"Ma, ada seseorang yang ingin bertemu dengan kamu dan Yudis?"
"Siapa, Pa?"
"Kamu juga bakal tahu," jawab Hendi.
"Siapa 'sih, Pa?"
"Arman!"
__ADS_1
"Mau apa lagi dia?"
"Jadi kamu mengenalnya sebelum menikah dengan aku?"
"Pa, Mama tidak mau membahas masa lalu."
"Jelaskan, kenapa Mama merahasiakan semua ini dari Papa?"
"Mama bilang tidak mau membahasnya lagi," jawab Linda tegas.
"Dia ingin tahu siapa anak kandungnya."
Linda tersenyum sinis. "Kenapa baru sekarang dia mencari kami?"
"Dia sudah mencarimu, tapi kalian seperti menghilang."
"Bukankah itu yang ia inginkan?"
"Linda, selesaikan kesalahpahaman ini!"
"Tidak ada yang perlu diselesaikan. Yudis itu tetap anakmu!"
"Dia berhak tahu siapa ayah kandungnya?"
"Untuk apa?" mata Linda mulai berkaca-kaca. "Agar Yudis meninggalkan aku!"
"Bukan begitu!"
"Ma, kurangi sikap egois kamu!"
"Dia yang egois, kalian yang menghancurkan aku!" Linda mulai terisak.
"Ma!"
"Cukup, Pa!" hardik Linda. "Mama tidak akan pernah mau menemuinya!"
Hendi menghela nafasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Linda memilih diam dan tak banyak bicara. Pikirannya kacau karena suaminya memaksa untuk mengajaknya bertemu dengan seseorang dari masa lalunya.
"Mama, kenapa?" tanya Rio.
Linda hanya diam, selesai sarapan ia kembali ke kamar.
Hendi menghampiri Yudis saat yang lainnya tidak di rumah kecuali Linda yang memilih mengurung di kamar.
"Papa ingin bicara dengan kamu berdua?"
"Sekarang, Pa?"
Hendi mengangguk. Ia mengajak putranya itu ke tempat kemarin mereka kunjungi.
"Apa ada hal penting, Pa?"
"Sangat penting," jawab Hendi. "Papa dari dulu ingin mengatakan sebenarnya, namun Mamamu melarangnya," ujarnya lagi.
"Katakanlah, Pa!" Yudis penasaran.
"Sebenarnya kamu bukan anak kandung Papa!" Hendi memandang wajah Yudistira.
"Apa!"
"Maafkan, kami merahasiakan ini padamu dan kedua saudaramu yang lain," ungkap Hendi.
"Jadi siapa ayah kandungku?" tanyanya yang tak sabar.
"Kau sudah mengenalnya, Nak!"
"Maksud, Papa?"
"Kalian sudah saling kenal dan dia tahu kalau kamu adalah anak kandungnya," jawab Hendi.
"Dia siapa, Pa?"
"Arman!"
__ADS_1