Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 74- Pengakuan


__ADS_3

"Dia siapa, Pa?"


"Arman!" Hendi menjawabnya terbata.


"Tidak mungkin," Yudis membuang wajahnya tak percaya.


"Kenapa selama ini kalian merahasiakannya kepadaku?"


"Mama kamu yang memintanya," jawabnya. "Mama kamu yang bisa menjelaskan ini semuanya, apa alasan dia melakukan itu," lanjutnya lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kita mau ke mana, Pa?" tanya Linda saat mobil Yudis memasuki hotel mewah.


"Bertemu dengan teman Papa."


"Pasti teman Papa orang kaya," tebak Linda.


"Iya, sangat kaya." Hendi mencoba tersenyum.


Yudis dan Hendi bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa.


Sesampainya di sana, mereka bertiga menunggu di ruangan yang sudah dipesan khusus.


"Mana teman Papa? Kenapa sepertinya di ruangan ini cuma yang ada kita saja?" cecar Linda.


"Sabar, Ma."


Tak lama menunggu, Arman beserta keluarganya datang.


"Kenapa mereka di sini, Pa?" bisik Linda.


Radit dan Saskia tersenyum menyapa mereka. Linda bersiap akan berdiri namun tangannya digenggam Hendi.


"Pa, Mama tak mau berjumpa dengan mereka?" bisiknya di telinga suaminya.


"Tenanglah," jawab Hendi.


Yudis berdiri dan meraup tubuh yang masih segar itu dalam pelukannya. "Ayah!"


Semua mata menatap heran termasuk Arman. Tangannya mengelus pundak putranya yang selama ini ia cari. "Maafkan, Ayah!" air matanya menetes.


Saskia memeluk suaminya, ia tersenyum bahagia. Matanya berkaca-kaca.


Linda menatap kesal, ia berusaha menahan diri.


Arman mengajak putranya itu untuk duduk, ia menatap mantan istrinya yang selalu membuang wajahnya.


"Sudah, kan? Ayo, kita pulang!" ajak Linda.


"Tunggu, Ma." Tahan Yudistira.


"Kalau kalian tidak mau pulang, biar Mama saja!" Linda beranjak berdiri.


Hendi menahan tangan Linda agar tak pergi. "Duduklah!"


Linda tak bisa lagi berkata apa-apa.


"Semua sudah berkumpul, silahkan berikan penjelasan kalian!" ujar Hendi.


"Pa, tidak ada yang perlu dijelaskan!" ucap Linda. "Yudis juga sudah tahu," lanjutnya lagi.


"Ma, tenanglah!" Hendi mengusap punggung tangan istrinya.

__ADS_1


"Tinggalkan kami bertiga!" pinta Yudis.


"Baiklah," ucap Radit mengajak istrinya. Hendi juga beranjak berdiri.


"Papa mau ke mana?" Linda bertanya lirih.


"Kalian perlu bicara," jawabnya lembut.


Ketiganya pun meninggalkan ruangan.


"Sekarang siapa yang akan menjelaskannya?" Yudis menatap Arman lalu menoleh ke arah Linda.


"Biar Ayah saja!" ucap Arman.


"Ciih, dia memanggil dengan sebutan ayah!" Linda tersenyum sinis.


Flashback...


"Mama tidak menyetujui kamu menikahi wanita ini!" Mamanya Arman menunjuk Linda yang tertunduk dengan air mata menetes.


"Arman tetap akan menikahinya," ucap tegas pria itu dengan tegas.


"Baiklah, jangan harap kamu mendapatkan warisan dariku!"


Arman menarik tangan Linda agar keluar dari rumahnya.


"Sebaiknya kita tidak usah melanjutkan hubungan ini. Orang tua kamu dan aku tak merestui cinta kita!" Linda melepaskan genggaman Arman.


"Kau mau menyerah?"


Linda menggeleng kepalanya.


"Aku tetap akan menikahi kamu, kita jalani ini sama-sama!"


Linda pun mengiyakan keinginan kekasihnya itu.


"Yah, tolong jadilah wali nikahku!" mohon Linda.


"Ibu tidak menyetujui hubungan kalian!" sahut seorang wanita yang melahirkan Linda.


"Baiklah, ayah akan menjadi wali nikah kamu."


Ibu ingin protes tapi akhirnya dia mengalah.


Keduanya menikah secara agama, karena seluruh data pribadi Arman dan berkas-berkasnya ditahan keluarga Arman hingga mereka tak bisa menikah secara hukum negara.


Pernikahan mereka pun berjalan dengan baik hingga suatu waktu membuat semuanya berantakan. Arman pergi saat Linda hamil 6 bulan. Dia beralasan karena mamanya sakit keras, jika ia datang menemuinya hubungan mereka akan direstui tapi kenyataannya berbeda.


Arman dibawa pergi keluar negeri untuk menjauhi Linda. Beberapa bulan setelah pergi, Arman kembali datang mencari istri dan calon anaknya karena menurut pengakuan keluarganya Linda akan membuang anaknya.


Itu membuat Arman semakin merasa bersalah apalagi ia juga mendengar kabar Linda telah menikah lagi dan meninggalkan kota mereka, dia kehilangan jejak. Keluarga Linda juga menghilang.


Flash On...


Arman menceritakannya dengan mata berkaca-kaca.


"Kakakmu tidak menceritakan bagaimana perlakuan mereka padaku," Linda akhirnya buka suara.


"Mereka mengatakan kau datang dan akan membuang anak kita!" ucap Arman.


Yudis mendengarnya hanya mengusap wajahnya kasar.


"Iya, aku membenci anak itu karena kau!"

__ADS_1


Arman berlutut di hadapan Linda sambil tertunduk. "Maafkan aku!"


"Ayah, bangunlah!" Yudis menarik tubuh itu agar berdiri.


"Mereka membenciku dan anakku, bahkan mereka menawarkan aku sejumlah uang untuk tidak menggangu hidupmu lagi tapi ku menolaknya," Linda membuka suaranya. "Saat aku terpuruk dan sangat membenci calon bayiku, orang tuaku menjodohkanku dengan Hendi. Pria dengan satu orang putri," Linda sejenak berhenti. "Aku menerimanya dan dia juga yang menguatkanku untuk menerima anakmu, kami menikah tepat usia Yudis 3 bulan!" Linda sesenggukan.


"Mama!" ucap Yudis lirih.


"Maafkan aku, karena diriku kalian menderita!" ucap Arman.


"Kau sangat membuatku menderita!" Linda meninggikan suaranya. "Sekarang, untuk apa lagi datang? Aku sudah bahagia dengan keluarga dan anakku!" tanyanya berurai air mata.


"Aku ingin memastikan kamu dan anak kita baik-baik saja," jawabnya.


"Aku baik-baik saja, pergilah dari kehidupan kami!" ucap Linda berderai air mata.


Yudis memeluk Linda yang terduduk lemas. "Maafkan Mama, karena rasa benci pada Ayahmu. Aku melampiaskan padamu."


"Mama!" peluk Yudis erat.


"Mama mau pulang!" pinta Linda.


"Iya, kita pulang!" Yudis menuntun Linda keluar ruangan.


"Linda!" panggil Arman lirih.


"Biarkan Mama tenang dulu, Yah!" pinta Yudis.


Arman menyanggupinya.


Hendi melihat Yudis menuntun istrinya, menghampirinya.


"Mama mau pulang, Pa!" ucap Yudis.


Saskia dan Radit menatap heran.


"Ayo, kita pulang!" jawab Hendi terbata.


Diperjalanan pulang, tak hentinya Linda menghapus air matanya. Yudis dapat melihat kesedihan mamanya dari kaca spion dalam mobil.


*


*


*


Di saat Linda sudah tenang. Yudis memberanikan diri untuk berbicara empat mata dengan mamanya.


"Maafkan Mama!" ucapnya lirih.


"Yudis sudah memaafkan kalian," jawabnya dengan lembut.


"Kau yang harus menanggung semua rasa benci Mama pada Ayahmu dan kedua orang tuaku," ucapnya lagi menatap putranya.


"Ma!" ia berlutut menggenggam kedua tangan Linda.


"Karena Mama pernikahanmu dengan Sabrina gagal, memaksa menikah dengan Stella anak orang kaya yang dapat membungkam mulut orang-orang yang menghina Mama, ternyata cara itu salah. Kamu menderita karena aku," ucap Linda. "Mama selalu meminta kamu menuruti kemauan kami, Mama yang selalu sayang pada Yana daripada kamu yang anak kandungku," lanjutnya kembali menangis.


"Semua sudah terjadi, Mama mengakuinya. Itu semua membuatku lega. Aku sudah tahu siapa ayah kandungku dan ku berjanji tetap menyayangi Papa yang merawat dan menerimaku dengan baik," janji Yudis.


Hendi yang dari tadi mendengar obrolan ibu dan anak itu membuat matanya berkaca-kaca dan menghampirinya.


"Terima kasih, Nak!" ucap Hendi membuat keduanya menoleh.

__ADS_1


"Papa," membuat Yudis berdiri.


Hendi memeluk erat tubuh Yudis. "Kau adalah anakku juga!"


__ADS_2