
"Hai, apa aku membuatmu menunggu?" tanya seorang gadis berusia 18 tahun.
"Tidak. Apa kau sudah selesai bekerja?" Aldi balik bertanya.
"Aku sudah selesai."
"Kalau begitu naiklah, aku akan mengantarmu!"
Gadis itu naik ke atas motor yang dikendarai Aldi. "Kau tidak bekerja hari ini?" tanyanya.
"Hari ini ku libur. Tadi pulang dari kampus lama jadi aku memutuskan tidak bekerja," jawab Aldi.
"Oh, begitu."
Aldi mengendarai motornya menuju rumah Alena, gadis yang ia kenal di kampus. Selain, satu universitas ia juga merupakan sepupu dari teman.
Sesampainya di rumah Alena, gadis itu menawarkan Aldi untuk mampir. Namun, ia menolaknya karena sudah lelah.
Aldi pun mengarahkan laju motornya menuju tempat kos-kosan. Ia segera membersihkan diri dan bersiap tidur. Sebuah pesan masuk, tertera nama si pengirim.
"Selalu dia?" gumam Aldi. Ia melihat nama tanpa membuka pesan.
Aldi pun memilih untuk merebahkan diri sambil membaca buku. Lagi-lagi ponselnya berbunyi, dengan cepat ia mengangkatnya dan semangat menjawabnya.
"Iya, sebentar lagi tidur kok. Ini lagi baca buku," ucap Aldi menjawab pertanyaan dari si penelepon.
Cukup lama ia mengobrol dengan seseorang melalui sambungan telepon, tampak wajah Aldi begitu bahagia.
Selesai menerima telepon, ia kembali merebahkan diri. Kali ini yang menghubunginya Nadia, mama kandungnya.
Bulan pertama ia menginjakkan kaki di kota Y tersebut. Nadia bisa menghubungi putranya sehari lima kali. Ia pun kembali mengangkat telepon.
Tidak sampai lima menit mereka mengobrol. Itu pun sudah membuat hati Aldi senang dan tak membuat Mama Nadia khawatir.
Akhirnya, ia bisa merebahkan diri, kembali membaca buku dan tertidur.
"Sheila!" teriaknya. Tak sampai 3 jam tertidur, tiba-tiba ia terbangun. Wajahnya penuh keringat, napas tersengal-sengal. Ia mengambil segelas air putih dan meminumnya. "Kenapa aku bermimpi tentangnya?" gumamnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas, kamu mau pergi lagi?" tanya Sabrina.
"Iya, sayang. Cuma seminggu aja," jawab Arvan.
"Seminggu itu lama, Mas." Rengeknya.
Arvan tersenyum. "Karena ini cabang toko kita yang ke sebelas, jadi banyak yang harus diurus."
"Aku boleh ikut?"
"Tidak, kamu di rumah saja sama Ibu dan Sheila."
"Ya, sudah!"
"Tapi ingat selama aku pergi, jangan ke mana-mana," ucap Arvan.
"Iya, Mas!"
*
*
Yudis memilih mengajukan cuti untuk menenangkan pikirannya pasca bercerai dengan Stella. Ia memilih berlibur ke kota C.
Karin juga berlibur ke kota C, bukan tanpa alasan dia ke sana. Ia akan menemui kekasihnya. Selama ini ia mengatakan pada Michael bahwa pria yang sering mengantar dan jemput dirinya bekerja di satu gedung yang sama.
Siang ini, Yudis makan siang di sebuah restoran tidak jauh dari penginapan. Ia melihat Karin dengan seorang pria, ia ingin mendekatinya namun diurungkannya. Tak ingin ada salah paham lagi.
__ADS_1
Mungkin itu suaminya, pikir Yudis. Belum sempat ia beranjak pergi dari restoran. Seorang wanita yang ditaksir sebaya dengan Karin, melabraknya.
"Dasar pelakor!" ucap wanita cantik itu dengan lantang
"Apa kau bilang!" balas Karin.
Pria yang menjadi rebutan diantara dua wanita itu berusaha melerainya.
"Kau mau tahu barang-barangnya yang dibeli suamiku untukmu itu uangku!" ucap wanita itu dengan suara keras mengundang beberapa pengunjung restoran melihatnya.
Karin menatap tajam, pria yang membuat dirinya melepaskan Michael.
Dua orang satpam, berusaha melerainya. "Ibu-ibu , tolong selesaikan masalah kalian diluar. Jangan di sini!"ucap salah satunya.
Kedua wanita itu pun berhenti, sang pria menarik istrinya agar keluar dari restoran dan membawanya pulang.
Karin terduduk lemas, ia merasa ditipu. Menyesal, jelas ada penyesalan dalam hatinya.
Yudis yang sempat melihat kejadian tadi, segera berjalan menghampiri Karin yang sedang termenung.
"Boleh aku duduk!" Yudis menawarkan dirinya.
"Anda siapa?" tanya Karin mendongak.
Belum diizinkan duduk, ia memperkenalkan diri. "Saya Yudis, mantan suami Sabrina."
Karin berusaha mengingatnya tak lama kemudian ia berkata," Aku baru ingat,"
"Kamu mantan kekasih Arvan?" tebak Yudis.
"Dari mana kamu tahu?"
"Aku pernah melihatmu di kota M di depan toko pakaian. Kamu keluar dari mobil bersama Arvan," jawab Yudis.
"Lalu, apa keinginanmu?" tanya Karin tanpa berbasa-basi.
"Oh, itu. Mantan pacar, dia menipuku."
"Kenapa bisa?"
"Kamu, kenapa berpisah dari Sabrina?" Karin balik tanya.
"Hemm..itu karena, aku tidak bisa menjelaskannya." Jawab Yudis.
"Aku juga tidak bisa menjelaskannya, siapa pria itu?"
"Tapi, kenapa wanita tadi berteriak menyebutmu pelakor?"
"Itu kesalahan aku, bisa jatuh pada pria beristri."
"Oh. Kau dan Arvan putus karena apa?"
"Karena mantan istrimu!"
"Aku tidak percaya," ucap Yudis.
"Ya, sudah kalau tidak percaya." Karin bersiap beranjak pergi.
"Tunggu!"
Karin kembali duduk. "Ada apa lagi?"
"Aku ingin mengajukan penawaran kerja sama padamu," jawab Yudis.
"Kerja sama apa?"
"Aku menginginkan Sabrina kembali," jawabnya.
__ADS_1
Karin tersenyum sinis. "Kau tidak akan mungkin mendapatkannya kembali."
"Kenapa?"
"Kau harus melawan suaminya, ia takkan menyerah untuk mempertahankan istrinya," jawab Karin.
"Apa kau tidak menginginkan Arvan?" tanya Yudis.
"Hanya orang bodoh mengejar cinta seseorang yang tak pernah membalas cintanya. Arvan sangat mencintai istrinya. Jika ku berani mengusik hidupnya, itu sama saja masuk ke dalam kandang singa," jelas Karin.
"Apa 'sih hebatnya pria itu?"
"Kau bisa tanyakan langsung pada mantan istrimu," jawab Karin.
"Jadi kau tidak mau bekerja sama denganku?"
"Lebih baik aku mengejar kembali mantan suamiku daripada bekerja sama denganmu," jawab Karin, ia berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan Yudis.
"Apapun caranya aku akan merebut Sabrina lagi," batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sheila, cepatlah. Kita sudah terlambat," teriak Sabrina memanggil sepupu suaminya.
"Iya, Kak. Sebentar lagi," balasnya berteriak.
Sabrina duduk menunggu Sheila di teras rumah sambil membalas pesan dari sang suami.
"Ayo, Kak. Aku sudah siap!" ucap Sheila.
Mereka pun berangkat menuju rumah Meli, karena adik kandungnya menikah hari ini.
"Kak, perasaanku kenapa jadi tidak enak begini?" Ungkap Sheila.
"Tidak enak, bagaimana?"
"Tidak ada, Kak. Sudah, jangan dipikirkan," jawabnya tersenyum.
Kendaraan yang mereka tumpangi, menuju kediaman keluarga Meli. Saat melewati simpang empat jalan.
Dari arah belakang, sebuah mobil menabrak sisi kiri bagian mobil yang ditumpangi Sabrina, Sheila dan sopir.
Braakk ....!
"Aaaa.... tolong!" suara rintihan terdengar dari dalam mobil.
Beberapa warga berkerumun mengeluarkan penumpang dari dalam mobil.
"Cepat di sini, ada wanita hamil!" teriak seorang pria memanggil warga yang lain.
Sopir berhasil diselamatkan dan dikeluarkan dari bangku pengemudi dalam keadaan tidak sadar dengan memecahkan kaca mobil. Begitu juga dengan Sheila dirinya terluka parah.
*
*
Sebuah gelas kaca berisi air jatuh tanpa sengaja tersenggol Aldi yang sedang belajar di meja.
Dia memegang dadanya yang terasa nyeri.
"Perasaanku kenapa begini?" batinnya bertanya.
...----------------...
Selamat Membaca 😊
Jangan lupa tinggalkan jejak..
__ADS_1