Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 77-Karin


__ADS_3

"Siapa yang mengantarkan kamu pulang?" tanya Rindu.


"Teman, Ma."


"Pasti dia pria kaya raya," tebak Rindu.


"Dia mantan suami dari istrinya Arvan," jelasnya.


"Kenapa dia bisa mengenalmu?"


"Ceritanya panjang, Ma."


"Mama siap mendengarnya," Rindu begitu semangat.


"Aku lelah sekali hari ini, Ma!" ucap Karin. "Aku mau tidur," lanjutnya lagi.


"Kamu tidak makan siang?"


"Sudah, Ma."


"Pasti dengan pria itu."


"Iya, Ma."


"Wah, tunggu apalagi!"


Karin berlalu begitu saja, malas meladeni ocehan Mama Rindu yang selalu mencari pria kaya dan tajir.


Ia membersihkan diri lalu menghempaskan tubuhnya di ranjang, menghirup nafas dalam-dalam lalu membuangnya.


"Rasanya seperti ini mencari pekerjaan, andai saja kemarin tidak mengalami perampokan mungkin aku masih diposisi aman," gumamnya.


"Ah, aku rindu Kara!" ia mengambil ponselnya dan melihat foto-foto yang dikirim Papa Roy ke ponsel barunya. Sebelum kejadian, Roy sempat mengambil momen kebersamaan cucu dan putrinya.


Karin juga melihat kontak mantan suaminya. "Aku sudah berjanji tidak akan menghubunginya lagi," gumamnya.


Ia memejamkan matanya dan terlelap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ma, aku titip Kara!" ucap Michael.


"Kau mau ke mana? Lamaran sebentar lagi."


"Iya, Michael. Kamu mau ke mana? Apa pekerjaanmu itu tak bisa ditunda?" tanya Arya.


"Tidak bisa," jawab Michael.


"Memangnya mau ke mana?" tanya Tissa.


"Ke Kota B," jawabnya.


"Ngapain lagi ke sana, bukankah sudah ada yang mengurusnya?" cecar Arya.


"Ada hal penting, Ma, Pa."


"Jangan sampai Mama mendengar kau menemui Karin," ancam Tissa.


"Ma, aku ke sana tujuannya bekerja. Bukan yang lain," Michael memberikan alasan.


"Biarkan saja dia ke sana, Ma!" ucap Arya.


"Ma, Pa. Aku berangkat dulu!" pamit Michael pada kedua orang tuanya.


"Mama takut Michael menemui Karin," ucap Tissa saat putranya tak tampak lagi.


"Tidak mungkin, Ma."


"Asal Papa tahu Michael sampai menyuruh seseorang mengawasi mantan istrinya itu," ungkap Tissa.


"Untuk apa sampai melakukan itu?"


"Mama pun juga tak tahu."


"Apa Michael merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Karin?" tanya Arya.


"Sepertinya iya. Wanita itu juga tak pernah menghubungi Michael lagi," tutur Tissa.


"Dari mana Mama tahu?"

__ADS_1


"Biasanya dia akan kesal dan marah jika Karin menghubunginya," jawab Tissa.


"Apa sebenarnya anak kita masih mencintai Karin?" tanya Arya.


"Sepertinya iya."


*


*


*


Michael memberanikan diri datang ke rumah mantan istrinya. "Sore, Om!" sapanya.


"Michael, mari masuk!"


"Terima kasih, Om!" ia pun masuk ke dalam rumah.


"Karin lagi di luar, ini hari pertamanya kerja." Tutur Roy.


"Kerja di mana, Om?"


"Di Toko perhiasan," jawab Roy. "Sebentar lagi dia juga sampai," lanjutnya lagi.


"Ya, Om!"


"Om akan buatkan minuman untukmu!" Roy ke dapur membuatkan teh. Tak lama ia pun keluar membawa segelas teh. "Silahkan, Nak!" ia meletakkan gelas kaca itu di meja.


"Terima kasih, Om. Tante mana?"


"Tante lagi di luar juga, biasa kumpul dengan teman-temannya," jawab Roy lagi. "Om, tinggal ke kamar. Mau mandi," ujarnya.


"Iya, Om!" Roy pun pergi meninggalkan Michael di ruang tamu sendiri. Matanya melihat sekeliling ruangan itu yang tampak kusam dinding temboknya. Di garasi biasanya tampak 3-4 mobil berjejer, kini satu pun tidak kelihatan hanya sebuah sepeda motor yang terparkir di halaman.


"Pa, ada tamu 'ya!" ucap Karin yang baru saja masuk dan tak lupa mengucapkan salam.


"Om Roy, lagi mandi!" sahut Michael yang ada di belakang Karin.


Wanita itu pun membalikkan tubuhnya. "Michael!" ada hati senang melihat wajahnya lagi.


"Kau baru pulang kerja?"


Michael menatap wajah itu dengan tersenyum.


"Ada apa ke sini?" tanyanya tersenyum.


"Kebetulan ada pekerjaan di kota ini."


"Oh, bagaimana kabar Kara?"


"Dia baik dan sehat," jawab Michael.


"Oh, syukurlah."


"Kau tidak menanyakan kabarku?" gumamnya.


"Apa?"


"Oh, tidak. Kenapa tak pernah mengirimkan pesan atau menghubungi aku dan Kara?"


"Aku ingin menepati janji untuk tidak menggangu kehidupan kalian lagi," jawab Karin sendu.


"Kau boleh mengganggu kami," ucap Michael.


"Hah!" Karin terkejut. "Bukankah kau sendiri yang minta?"


"Siapa yang minta? Kau sendiri yang mengatakan itu," ucap Michael.


"Eh, apa iya?"


"Pergilah mandi, aku ingin mengajakmu jalan-jalan," ajak Michael.


"Kita mau ke mana?"


"Kau pasti akan suka," jawab Michael.


"Baiklah, aku akan membersihkan diri." Karin melangkah dengan cepat menuju kamarnya.


*

__ADS_1


Michael membawa mantan istrinya ke sebuah restoran, mereka makan malam bersama. "Dulu saat kita menikah, aku jarang mengajakmu untuk makan malam berdua seperti ini," ungkapnya.


"Michael," ucap Karin lirih.


Michael menyodorkan kotak kecil berisi perhiasan. "Buat kamu!"


Karin membuka kotak itu dan mendelikkan matanya tak percaya. "Anting!"


"Semoga kamu suka!" Michael tersenyum.


"Kau tidak perlu memberikan aku anting. Ini pasti sangat mahal," ucapnya.


"Aku sengaja membelikannya untukmu," ujar Michael. "Kamu juga harus menjual anting untuk bisa kembali ke kota ini," lanjutnya lagi.


"Aku tidak bisa menerimanya," Karin mendorong pelan kotak kecil perhiasan itu.


"Kenapa?"


"Kita bukan suami istri lagi, hubungan kita cuma mantan, berikan saja ini kepada calon istrimu kelak," ucap Karin.


"Karin, aku ikhlas memberikan untukmu!"


"Maaf, aku menolaknya." Karin berusaha tersenyum.


Michael memandangi Karin sambil menikmati makan malam. "Apa kau sudah memiliki penggantiku?"


"Belum," jawabnya singkat.


"Tapi, kenapa menolak hadiah dariku? Biasanya kau senang jika seorang pria memberikanmu hadiah mewah," ucap Michael.


"Kau saja masih menilaiku sama. Bagaimana dengan orang lain?"


"Karin, bukan maksudku begitu."


"Apa kau bisa mengantarku pulang?" Karin menghentikan makannya dan mengelap bibirnya.


"Aku belum selesai makan."


Karin tak melanjutkan lagi makannya dan memilih diam. Pandangan mata mereka bertemu, ia segera membuang wajahnya.


"Ayo, aku antar pulang!" Michael mengenggam tangan Karin.


"Apa bisa kau melepaskannya?"


"Baiklah," Michael melepaskan genggamannya.


*


"Minggu depan, orang tuaku akan melamar Nora menjadi pendampingku," Michael membuka obrolan selama perjalanan pulang.


"Selamat!" ujar Karin tersenyum.


"Kau tidak marah?"


"Orang tuamu menyukainya begitu juga dengan Kara," jawabnya tanpa melihat Michael.


"Tapi, aku tidak bisa."


"Aku tidak memiliki urusan apapun dengan kehidupanmu," tutur Karin.


"Aku tidak bisa menikah dengannya," ucap Michael.


Karin hanya bergeming.


"Aku masih mencintaimu, Karin!" Michael menghentikan laju kendaraannya dan menatapnya.


Karin menatap mantan suaminya itu dan tersenyum tipis. "Apa yang kau lihat dariku?" tanyanya. "Aku ini wanita yang tak setia, matre, angkuh dan sombong," ucapnya lagi.


"Sekarang, kamu berbeda!"


"Itu menurutmu!" Karin mencoba menahan air matanya. "Orang-orang tetap menilaiku buruk!"


"Jangan dengarkan perkataan orang, kita yang menjalaninya. Kara butuh kamu, ibu kandungnya!"


"Kara tidak membutuhkanku, dia tidak mengenalku lagi. Aku, ibu yang jahat. Aku , ibu yang memikirkan ego tanpa melihatnya. Aku banyak salah padanya," Karin meluapkan isi hatinya. "Aku rindu dengannya," Ia menangis terisak.


"Hei, kau bukan Ibu yang buruk," Michael menangkup kedua pipi Karin.


Karin terus menangis. "Maafkan aku!"

__ADS_1


Selama mengenal mantan istrinya itu, Michael tak pernah melihat wanita itu menangis seperti itu. Malah sebaliknya, dia yang sangat terpuruk ketika ditinggal Karin.


__ADS_2