
Linda tampak mondar-mandir di area dapur, ia mencari cara agar bisa keluar dari rumah tanpa harus berbicara atau mengobrol dengan keluarga Saskia.
Ia kembali ke ruang tamu dengan membawa tas yang biasanya ia bawa jalan-jalan atau berkumpul dengan teman-teman arisannya, tak lupa ia juga mengganti pakaiannya.
"Maaf semua, saya harus pergi. Ada teman dari luar kota tiba-tiba menelepon mengajak bertemu," Linda berusaha menahan diri agar emosinya tetap stabil dan ia berpura-pura baik-baik saja.
"Ma, duduklah sebentar." Pinta Yudis. "Mereka ingin mengenal Mama," lanjutnya lagi.
"Hmm, Yudis maafkan Mama. Lain waktu saja, ya!" ucapnya menatap putranya.
"Ma, tunggulah sebentar," Hendi ikut berbicara.
Linda tak menghiraukan permintaan suami dan anaknya, ia pun memilih meninggalkan tamu yang tak diundang itu.
Hanya Papa Saskia saja yang mengerti kenapa Linda harus menghindarinya, dia maklum jika wanita itu begitu makanya ia terlihat biasa saja.
"Maaf, istri saya tidak bisa menemani kita di sini!" Hendi membuka obrolan percakapan mereka.
"Tidak apa Pak Hendi," Papa Saskia mulai berbicara.
*
Sepulangnya keluarga Saskia dari rumah mereka, Linda pun kembali. "Semoga saja mereka tidak pernah kembali ke sini lagi," batinnya.
"Mama, Papa ingin bicara!" Hendi berjalan memasuki kamar terlebih dahulu.
Linda terlihat santai seperti tidak ada masalah, ia berusaha menutupi keresahan dan ketakutannya.
"Kenapa Mama bersikap seperti itu kepada keluarga Pak Arman?" Hendi kecewa dengan sikap istrinya.
"Mama tidak melakukan kesalahan apa-apa," jawabnya berusaha tenang.
"Sikap Mama menunjukkan kalau tidak suka dengan kedatangan mereka, padahal sebelumnya kamu terlihat biasa saja," Hendi berusaha berbicara tetap tenang.
"Sudahlah, Pa. Lagian juga mereka sudah pulang, Mama 'sih berharap mereka tidak kembali lagi ke sini ataupun berjumpa dengannya," ucapnya.
"Apa yang Mama sembunyikan dari Papa?" Hendi mulai curiga dengan sikap istrinya.
"Tidak ada, Pa. Istrimu ini tidak menyembunyikan sesuatu dari kamu," jawabnya.
"Papa harap Mama tidak berbohong," Hendi keluar kamar.
Setelah suaminya pergi, Linda merosotkan tubuhnya ke lantai. Ia mulai meneteskan air matanya, ia berulang kali menghapusnya. "Dia tidak boleh tahu sebenarnya, ku benci dia!" batinnya geram.
Linda segera menghapus air matanya saat mendengar suara langkah kaki mendekati pintu kamar, ia beranjak bangkit dan pergi ke kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang ini, Michael mengajak Nora untuk menemani dirinya dan Kara makan siang bersama Karin.
"Siang, anak Mama!" Karin menyapa balita yang ada di gendongan Nora. Ia berusaha mengambil alih namun Kara menolak di gendong ibu kandungnya.
"Kara, dia Mama kamu!" Nora membujuk bayi itu dan menyerahkannya pada Karin, lagi-lagi Kara membuang wajahnya.
"Dia tidak mau, jangan dipaksa!" ucap Michael.
Karin pun mengalah demi mengambil hati mantan suaminya. "Maafkan Mama, Nak!" Ia menunjukkan wajah sendu.
"Dia tidak akan peduli dengan kamu, walau kau berulang kali meminta maaf padanya," ujar Michael.
"Iya, aku salah. Makanya, ku ingin menebus kesalahanku dengan merawat dan menjaganya," pinta Karin.
"Ini kapan makannya?" Michael berusaha mengalihkan curahan hati mantan istrinya.
__ADS_1
"Oh, ya. Kalian pesan saja yang disuka!" tawar Karin. menunjukkan buku menu dan memanggil pelayan restoran.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Michael pada Nora, yang langsung mendapatkan tatapan sinis dari Karin.
"Aku nasi soto dan teh manis dingin saja," jawab Nora asal.
"Kalau Michael, beef steak dan jus buah sirsak!" Karin menyebutkan makanan kesukaan suaminya. "Aku masih ingat 'kan," ucapnya bangga.
"Oh, iya. Saya pesan yang disebutkan dia!" tunjuknya ke arah Karin.
"Kalau saya sama juga," sahut Karin.
"Baik!" ucap pelayan lalu ia menyebutkan kembali menu makanan yang dipesan. "Mohon ditunggu pesanannya," ucapnya.
Nora membawa Kara sedikit menjauh dari orang tuanya karena balita itu selalu menunjuk sesuatu hingga ia harus mengikuti maunya.
"Michael, aku ingin kita kembali lagi." Karin tanpa malu-malu.
"Aku pernah memintamu untuk bertahan, tapi kau malah pergi!" Jawaban menohok ia berikan pada mantan istrinya.
"Aku janji tidak akan mengulanginya," Karin tak tahu malu memohon.
"Terlambat, lebih baik kau cari pria yang lebih kaya dari aku. Bisa memenuhi keinginanmu!"
"Michael, dengarkan aku!"
"Makanannya sudah datang," ucap Michael menghentikan rengekan Karin.
"Silahkan," pelayan itu tersenyum menghidangkan pesanan mereka.
"Terima kasih," ucap Michael.
Nora kembali bergabung dan duduk dengan Karin dan Michael.
"Sini biar Kara aku gendong, kamu makanlah!" Michael menyuruh Nora untuk makan terlebih dahulu.
"Tidak, kamu makanlah. Kara bersamaku saja," ucap Michael lagi.
Akhirnya Nora pun makan, begitu juga dengan Karin. Mantan istri Michael tersenyum sinis memandang wanita yang satu meja dengannya.
Michael menjauh dari meja makan, agar Kara tak menganggu aktivitas makan mereka. Walau ada bangku khusus balita yang disediakan tapi Kara tak mau didudukkan.
"Kau seperti pengasuhnya Kara," sindir Karin.
"Oh, ya. Daripada kau cuma dianggap orang lain di mata Kara padahal dirimu ibu kandungnya," Nora membalas sindiran wanita angkuh itu.
Karin mengepalkan tangannya. "Kau tidak bisa menggantikan posisi aku di hati Michael."
"Tapi aku bisa mengganti posisi kamu di hati Kara."
"Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke dalam hidupnya Michael," ancam Karin.
"Apakah kau yakin juga bisa masuk ke dalam hidupnya?" Nora bertanya menantang
"Kau!" geram Karin.
*
"Sayang, kapan-kapan kita jumpa lagi. Tapi kamu dan papa saja," ucap Karin mencium pipi Kara. "Mama selalu merindukanmu!" menoel hidung putrinya.
"Ayo, kita pulang!" Michael menggendong Kara di sisi kanan, tas bayi ia selempangkan di lengan kirinya.
Nora mengangguk. Tangan kanannya digenggam Michael mereka berjalan ke pintu keluar gedung mall.
__ADS_1
Karin yang melihat Nora tangannya digenggam berdecak kesal, ia menghentakkan kakinya.
Nora sekilas menoleh ke belakang dan menarik sudut bibirnya seakan berkata dirinya yang menang.
*
*
Kara tertidur dipangkuan Nora selama perjalanan pulang, setelah ia juga memberikan susu formula dalam botol.
"Karin tadi tidak mengatakan apapun, kan?" tanya Michael.
"Tidak!"
"Baguslah!"
"Memangnya kenapa?"
"Aku takut dia akan mengancam kamu!"
"Mungkin saja dia takut kamu, aku ambil!"
Michael tersenyum tipis. "Kemarin ke mana saja dia, sekarang baru tahu artinya kehilangan."
"Tapi Karin itu hampir sama dengan mantan bos aku," ungkapnya.
"Sama, bagaimana?"
"Tiap hari dia selalu curhat tentang mantan istrinya, sampai aku harus berpura-pura jadi kekasihnya agar ia tak dijodohkan dengan wanita lain walaupun ia terpaksa menikahi wanita itu," jelasnya.
"Jadi penyebab perpisahannya dulu apa?"
"Katanya 'sih, mantan istrinya itu tak tahan dengan sikap mantan mertuanya," jawabnya.
"Oh, begitu. Jadi sekarang hubungannya dengan istri barunya?"
"Berpisah lagi."
"Kenapa kemarin kamu tidak mau bersama dia?"
Nora tersenyum. "Mendengar kisah penyebabnya berpisah, sudah membuat aku merinding."
"Jadi mantan istrinya pertama sudah menikah lagi?"
"Sudah, aku juga menemaninya menghadiri resepsinya."
"Jadi kamu cuma pura-pura sebagai kekasihnya untuk menemaninya?"
"Ya."
"Siapa nama mantan istrinya?" Entah kenapa mulut Michael tiba-tiba penasaran dengan wanita itu.
"Sabrina!"
Michael mengerem mendadak.
"Kenapa?" Nora heran tiba-tiba saja pria itu mengerem.
"Nama lengkapnya?"
"Sabrina Suci, ia menikah dengan pemilik AR fashion."
"Jadi?"
__ADS_1
"Kamu mengenalnya?"
Michael mengangguk.