Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 80-Pertemuan Bisnis


__ADS_3

Arvan menginjakkan kakinya ke Kota M lagi, kali ini bukan hanya melihat toko pakaiannya saja tapi ia bertemu dengan pemilik perusahaan periklanan yang selama ini menjadi rekan bisnisnya.


"Selamat siang, Arvan!"


"Siang juga, Om."


"Bagaimana kabar kamu?"


"Baik, bagaimana dengan Om?"


"Baik juga. Oh, ya Arvan. Om ingin memperkenalkan kamu dengan seseorang yang akan menggantikan dan meneruskan kerja sama kita," tuturnya.


"Om, ingin pensiun?"


"Ya."


"Siapa dia?"


"Dia anak laki-laki ku yang selama ini menghilang," jelas Arman.


"Sekarang di mana dia?"


"Sebentar lagi sampai," jawabnya.


Tak lama Arvan dan Arman saling mengobrol seorang pria menghampiri mereka. "Maaf, Yah. Sedikit terlambat," ucapnya.


"Tidak apa, Nak!" ucapnya. Lalu ia menoleh pada Arvan yang terkejut melihat seseorang yang dimaksud olehnya. "Arvan, kenalkan ini anak saya yang akan meneruskan kerja sama kita," lanjutnya.


"Yudis," gumamnya.


"Aku mengenalnya, Yah." Yudis tampak sedikit kaku.


"Ternyata, kalian saling kenal. Itu malah bagus," ungkap Arman senang.


"Akhirnya kita berjumpa lagi," ucap Yudis.


"Ya, semoga masalah pekerjaan kita tidak dicampur dengan urusan pribadi," sindir Arvan.


"Oh, tentunya."


"Kalian, sepertinya punya masalah sebelumnya," ucap Arman.


"Iya, Om. Masalah masa lalu yang seseorang belum bisa melupakannya," Arvan tersenyum sinis.


"Sudah, lupakan masalah kalian itu. Mari kita bahas kerja sama kita," Arman berusaha mencairkan suasana.


*


*


*


"Mas, merenggut aja. Ada masalah?" tanya Sabrina saat suaminya baru tiba di hotel tempat mereka menginap.


"Anak Pak Arman ternyata mantan suami kamu," jawab Arvan.


"Oh."


"Kamu sudah tahu?"


Sabrina mengangguk.


"Kamu tahu dari mana? Apa dia menemuimu lagi? Coba saja dia berani mengusik kita," cecar Arvan.


"Mas, tenanglah. Aku tahu dari Karin," jawabnya.


"Kapan kamu berjumpa dengan Karin?"


"Dua hari yang lalu, kami sempat bertemu dan mengobrol. Karin sekarang bekerja di toko milik adiknya Yudis bernama Saskia," jawabnya. "Saat Karin menyebut nama Saskia, ku penasaran serta mencari tahu siapa dia dan apa hubungannya dengan Yudis ternyata toko perhiasan itu masih satu grup dengan perusahaan Pak Arman," jelasnya lagi.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak memberi tahu aku?"


"Mas, kamu masih sibuk. Jadi, belum ada waktu untuk kita mengobrol," jawab Sabrina.


"Apa kamu tidak tahu jika selama ini Yudis bukan anak kandung Papanya?"


"Aku tidak tahu dan tidak peduli dia putranya siapa. Terpenting, Mas Arvan adalah suamiku. Fokus hanya untuk memikirkan kamu saja," jawab Sabrina tersenyum genit, perlahan membuka kancing baju suaminya.


"Arion di mana?"


"Dia lagi bermain dengan pengasuhnya," jawabnya. "Aku akan mengirimkan pesan pada mereka, kalau mamanya ada urusan dengan papanya," lanjutnya tersenyum.


"Sayang," Arvan memanggilnya mesra.


"Heemm!"


"Berapa usia Arion?"


Sabrina memukul dada suaminya dengan lembut. "Usia anaknya sendiri tidak tahu," ucapnya kesal.


"Apa sudah saatnya kita beri adik untuk Arion?"


"Aku belum mau, Mas."


"Kenapa?"


"Aku mau mengunjungi Sheila dulu," Sabrina mengecup lembut bibir Arvan.


Arvan melepas tautan bibirnya. "Setelah itu?"


"Kita bisa memberikan adik untuk Arion," jawab Sabrina tersenyum manis.


"Oh, kenapa senyummu manis sekali?" Goda Arvan membuat pipi istrinya bersemu.


"Senyum inilah yang membuatmu jatuh cinta padaku," jawab Sabrina.


Sabrina tertawa geli.


Ketukan pintu terdengar membuat mereka menghentikan aktivitasnya. "Kamu bilang sudah menitipkan Arion," tampak wajah Arvan berubah kesal.


"Sebentar aku lihat, Mas!" Sabrina merapikan pakaiannya dan rambutnya begitu juga dengan Arvan.


Ia berjalan membuka pintu tampak Arion menangis. "Kenapa dia?" tanyanya.


"Saya tidak tahu, Bu!"


Sabrina mengambil Arion dari gendongan pengasuhnya dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Kamu kangen dengan Papa, ya?" Sabrina melirik suaminya yang gagal bermesraan dengannya.


Arion tampak diam mendengar kata Papa. Arvan mendekati putranya dan mengambil alih dari tangan sang istri. "Kenapa 'sih, Nak? Kamu harus masuk disaat tidak tepat," Ia mencium pipi anaknya berulang kali.


"Papa, jangan marah dong. Kan, bisa lain waktu!" Sabrina terkekeh.


*


*


*


"Masalah apa yang terjadi diantara kalian?" tanya Arman pada putranya.


"Istrinya mantan istriku, Yah!"


"Oh, jadi istri Arvan yang kamu bilang tak bisa melupakannya."


"Iya, Yah."


"Ayah kenal dengan dia, Sabrina memang wanita yang baik dan penyayang. Dari tatapannya melihat Arvan dan jiwa keibuannya begitu besar," jelas Arman.

__ADS_1


Ucapan pujian yang dilontarkan Arman membuat Yudis tambah cemburu dan kesal.


"Arvan begitu mencintainya, setiap waktu bertemu dengan Ayah dia selalu memuji dan membanggakan istrinya itu hingga perjuangannya mendapatkannya ia pernah ceritakan," Arman menjelaskannya lagi.


"Apa Ayah sudah makan siang?" Yudis berusaha mengalihkan pembicaraan sang Ayah yang selalu memuji kebahagiaan dan kemesraan Sabrina dengan suaminya.


"Belum," jawabnya.


"Ayo, kita makan siang!" ajaknya.


"Kau tidak berpikir dan berniat menikah lagi?"


"Belum kepikiran menikah lagi," jawab Yudis.


"Apa karena Linda menjadi alasan kamu tidak ingin membuka hati lagi?"


"Itu salah satunya," jawabnya.


"Ayah akan berbicara pada Mamamu," ucap Arman.


"Tidak perlu, Yah. Yang ada nanti Mama akan semakin membenci Ayah," ucapan Yudis membuat Arman terdiam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mas, dua bulan lagi Arion setahun," ujar Sabrina mendekap suaminya yang belum membukakan matanya tapi mendengar ucapan sang istri.


"Lalu, kamu ingin kita membuat adik untuk Arion?"


"Ih, kamu ini!" Sabrina beranjak duduk.


Arvan menarik tangan istrinya membuat wanita itu jatuh di dadanya. "Kita akan pergi ke sana!"


"Aku akan mempersiapkannya mulai sekarang," ucap Sabrina semangat.


"Jangan terlalu capek, biarkan saja mereka yang mengurusnya. Kamu cukup mempersiapkan mental untuk memilki anak lagi," ujar Arvan mengecup kening istrinya.


"Bilang saja 'kamu cukup melayani dan punya waktu untukku'. Itu yang ingin Mas mau, kan?"


"Kenapa 'sih kamu tahu saja keinginan aku?"


"Karena aku mencintai kamu, Mas!" Sabrina berulang kali mencium seluruh wajah membuat pria itu tertawa.


"Cukup, jangan pancing aku!"


"Aku tidak memancingmu," ia berkelit.


Arvan duduk dan menatap sang istri. "Jadi ini apa?" ia membalas mencium seluruh wajah Sabrina membuat ia kegelian. "Kamu bilang tidak memancing," ia menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya."


"Ampun, Mas!" Sabrina tergelak.


"Tidak bisa, kamu sudah berani memancingnya!"


"Mas, aku mau buatkan sarapan untukmu dan Arion," ucap Sabrina terus tertawa.


"Arion belum bangun," Arvan membungkam mulut istrinya dengan bibirnya.


Sabrina mendelikkan matanya hingga ia kehabisan nafas.


"Mas!"


"Heemm."


"Aku mencintaimu," bisiknya.


"Aku juga mencintaimu!" serangan semakin ganas.


Pagi ini milik keduanya, ditambah rintik hujan membuat udara diluar semakin dingin tetapi tidak di dalam kamar mereka yang semakin hangat. Deru nafas keduanya saling berkejaran.


Arion masih terlelap tidur di kamarnya seakan ia tahu, bahwa kedua orang tuanya sedang memadu kasih.

__ADS_1


__ADS_2