
"Mama, kenapa?" tanya Karin pada Rindu.
"Papa juga bingung, dari kemarin Mama kamu seperti orang ketakutan." Jawab Roy.
"Apa yang terjadi, Ma?" tanya Karin, tadi pagi ia ditelepon Papanya agar datang.
"Mobil bagian depan rusak, Papa berpikir kemungkinan Mama kamu menabrak orang lain," tebak Roy.
"Apa benar kalau Mama menabrak orang lain?" Karin mulai mengintrogasi.
"Mama gugup, tidak sengaja menabrak sebuah mobil," jawabnya.
"Mama tidak berhenti untuk melihat korbannya?" tanya Karin.
"Karena panik, Mama melarikan diri." Jelas Rindu.
Karin menghela nafas. "Kemarin sore aku lihat di berita, istri Arvan kecelakaan. Tempat kejadiannya sama persis dengan lokasi Mama menabrak."
"Apa Mama yang menabraknya?" tanya Roy.
"Mama tidak tahu, kalau mobil itu milik keluarga Arvan," jawab Rindu ketakutan.
"Jika benar. Bagaimana?" tanya Karin.
"Kau, jangan menakuti Mama," hardik Rindu.
"Semua persis sama, Pa!" ucap Karin.
"Mama tidak mau dipenjara," Rindu mulai ketakutan dan panik.
"Kita ke rumah mereka sekarang, minta maaf." Ucap Roy.
"Pa, kalau mereka menuntut Mama. Bagaimana?" tanya Karin.
"Papa yakin tidak mungkin. Kita coba saja dulu," jawab Roy.
Mereka bertiga menumpang mobil yang sama, menuju kediaman keluarga Arvan. Sesampainya di sana, hanya penjaga rumah yang menyambutnya. Karena seluruh keluarga besar Arvan berada di rumah sakit.
Akhirnya, mereka memberanikan diri untuk mendatangi tempat di mana salah satu keluarga dari mantan tunangan Karin dirawat.
Lagi-lagi, mereka ditolak karena pihak keluarga belum mengizinkan untuk dijenguk kecuali oleh
orang-orang terdekat.
"Kita datang lagi ke rumah Arvan, dua hari lagi," usul Roy.
"Semoga saja, mereka tidak apa-apa." Ucap Rindu yang masih diselimuti rasa takut. Karena dia baca berita kalau korban lebih dari satu orang.
*
Sheila sudah bisa dipindahkan di ruangan rawat inap. Aldi selalu rajin mengunjungi gadis itu.
Walau, Sheila hanya bisa tersenyum saja. Saat merespon obrolan mereka. Dia belum mampu berbicara lama.
"Aku begitu khawatir, begitu mendengar kabar kalian kecelakaan." Ucap Aldi.
"Terima kasih, karena sudah mengkhawatirkan aku," ujar Sheila dengan terbata dan suara pelan.
Ditengah obrolan mereka, ponsel Aldi berdering. Ia pun meminta izin untuk menjawab panggilan. Gadis itu mengangguk mengiyakan.
"Halo, Alena!"
"Halo, Aldi. Kapan kamu akan kembali ke kota ini?"
"Aku belum tahu."
"Apa kakakmu belum sehat juga?"
"Dia sudah sehat, tapi..."
"Tapi, siapa?"
"Sheila belum sehat."
"Siapa dia?"
"Sepupu kakak iparku."
__ADS_1
"Apa kamu akan menunggunya pulih?"
"Kemungkinan dua atau tiga hari lagi, aku kembali," jawab Aldi.
"Semoga saja kamu menepati janji."
"Alena, kau kenapa? Aku di sini menjenguk keluargaku yang sakit," ujar Aldi.
"Tapi, dia bukan keluargamu."
"Alena, dengarkan aku!"
"Aku harus pergi ke kampus Aldi, maaf!" Alena menutup panggilan teleponnya.
Aldi menatap layar ponselnya. "Dia kenapa sih'?" gumamnya.
"Sudah selesai meneleponnya?" tanya Sheila dengan suara lembut saat lelaki itu kembali ke kamarnya.
"Sudah."
"Apa Tante Nadia menyuruhmu pulang?" Sheila kembali bertanya.
Aldi menggeleng.
"Kekasihmu?"
"Tidak."
"Gadis yang sering kau ceritakan itu, bagaimana?"
"Ya, begitu."
"Kalian sudah jadian?"
Aldi mengangguk.
Sheila tersenyum walau perih rasanya menerima kenyataan, kalau Aldi mengakui menyukai gadis yang lain. Bukan dirinya.
"Kau tidak apa-apa, kan? Maaf, ya?"
"Hei, aku tidak apa-apa. Kenapa aku harus marah?"
"Aku senang mendengarnya. Kau akhirnya jadian dengannya. Aldi, ku mau istirahat. Bolehkah tinggalkanku dulu?"
"Oh, ya. Aku mau pulang. Cepat sehat, ku rindu keceriaan dan cerewetnya dirimu," jawab Aldi tersenyum.
"Kau akan bosan mendengarnya," ucap Sheila tersenyum tipis.
"Tapi aku rindu," ujar Aldi tersenyum. Ya, sudah kalau begitu aku pamit," lanjutnya lagi.
Sheila menatap pintu yang ditutup Aldi dari luar. Tak terasa air matanya kembali menetes. Perlahan ia menghapusnya. "Sesakit ini rasanya patah hati," batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini Sabrina sudah kembali ke rumah hanya Sheila dan sopir pribadi istrinya yang masih tetap berada di rumah sakit.
"Mas, aku bisa sendiri." Tolak Sabrina digendong.
"Tidak apa-apa, sayang. Kau tidak boleh terlalu lelah," ucap Arvan.
Suara ketukan pintu terdengar, salah satu pelayan memanggilnya.
"Pak, Bu Karin dan orang tuanya ingin bertemu dengan anda!" ucap pelayan tersebut saat Arvan membuka pintu kamarnya.
"Untuk apa mereka ke sini?" gumamnya. "Baiklah, saya akan menemui mereka!" ujarnya.
"Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi!" ucap pelayan.
Arvan kembali masuk ke dalam kamar menemui istrinya.
"Siapa, Mas?" tanya Sabrina.
"Karin dan orang tuanya ingin bertemu denganku," jawab Arvan.
"Mas, tidak memiliki masalah dengan mereka?"
Arvan tersenyum lalu berkata,"Tidak sayang!"
__ADS_1
"Syukurlah, Mas!" Sabrina tersenyum lega.
"Aku temui mereka dulu, ya!" ucap Arvan.
"Iya, Mas!"
Arvan pun menemui Karin dan orang tuanya. "Ada apa kalian ke sini?"
Rindu mendekati mantan tunangan putrinya dan mencium tangan pria itu. "Maafkan, Tante!"
Arvan segera menarik tangannya. "Tante!"
"Arvan, Tante ingin minta maaf!" ucap Rindu dengan wajah sedihnya dan bersalah.
"Minta maaf?" Arvan mengerutkan dahinya.
Karin dan Roy hanya diam saat Rindu berbicara.
"Silahkan, duduklah!" Arvan mempersilakan ketiganya.
Mereka pun duduk di kursi tamu.
"Jelaskan, maksud dan tujuan kalian ke sini?" tanya Arvan.
Rindu meremas kedua tangannya. "Tante yang sudah menabrak mobil istri kamu!"
"Arvan tidak mengerti, maksudnya apa?" tanyanya.
"Beberapa hari yang lalu, Tante tidak sengaja menabrak mobil yang ditumpangi istri kamu." Jawab Rindu.
"Kenapa baru sekarang Tante mengakuinya?" tanya Arvan.
"Tante takut. Saat itu benar-benar panik," jawab Rindu.
"Sabrina baik-baik saja, calon bayi kami pun sehat, tapi..." Arvan menghentikan ucapannya.
"Tapi, apa Van?" Rindu penasaran.
"Sepupuku dan sopir pribadi Sabrina cukup parah hingga mereka diperbolehkan pulang," jawabnya.
"Apa kami boleh bertemu dengan mereka?" tanya Karin.
"Kami tidak menerima kunjungan, hanya untuk orang-orang terdekat saja." Jawabnya lagi.
"Tolong, Arvan. Tante mau minta maaf," ucap Rindu memohon.
"Biar Arvan telepon saja orang tua Sheila," ucapnya.
Mereka bertiga pun mengiyakan. Arvan sedikit menjauh untuk menghubungi orang tuanya kebetulan masih di rumah sakit, ia juga berbicara pada papanya Sheila. Selesai melakukan panggilan, ia segera menutup teleponnya dan menghampiri keluarga Karin.
"Orang tua Sheila akan kemari. Kalian tunggulah mereka sebentar," ucap Arvan.
"Terima kasih, Van." Ucap Roy.
"Sama-sama, Om. Aku tinggal sebentar, ya!" pamit Arvan.
"Oh, iya." Sahut Roy.
Arvan masuk ke dalam kamar menemui istrinya.
"Mas, apa Karin dan orang tuanya sudah pulang?" tanya Sabrina.
"Belum, mereka lagi menunggu orang tua Sheila."
"Kenapa mereka menunggu orang tuanya Sheila?" Sabrina penasaran.
"Karena Tante Rindu yang telah menabrak kalian."
"Apa!"
"Dia tidak sengaja, makanya mereka ke sini untuk minta maaf," jelas Arvan. "Kamu sudah makan?" tanyanya.
"Aku mau makan bersamamu, Mas!"
"Kamu makan duluan saja, aku ingin menemui mereka lagi." ujar Arvan.
"Baiklah, Mas. Aku menunggumu saja," ucap Sabrina.
__ADS_1
"Kalau kamu memang sudah lapar, makanlah tidak usah menungguku."
"Iya, Mas!"