
"Mas, aku belum pulang kerja. Nanti Bu Wita marah padaku!" ucap Sabrina menolak Arvan yang ingin mengajaknya makan siang.
"Aku sudah minta izin padanya, kamu tenang saja!"
"Aku segan, Mas."
"Tidak perlu segan, dia sudah memberikan izin."
"Tapi kita keluar tidak lama, 'kan?"
"Tidak, hanya melepas rindu saja." Ujar Arvan.
Pria itu mengenggam tangan Sabrina menuju ke parkiran mobil dan membuka pintu depan. Wanita itu pun masuk dan mengucapkan terima kasih.
"Mas, kamu begini nanti Karin marah padaku."
"Dia takkan marah karena kami sudah putus," jelas Arvan sambil menyetir.
"Putus? Kalian berpisah bukan karena aku, 'kan?" tanya Sabrina takut disalahkan.
"Tidak, dia yang memutuskan." Jawab Arvan.
"Kenapa?"
"Karena aku bangkrut," jawabnya.
Sabrina menutupin mulutnya tidak percaya, Karin meninggalkan Arvan karena bangkrut. "Bukankah kalian membangun usaha ini bersama-sama?"
"Awalnya keluarganya memberikan kami pinjaman dengan bunga yang cukup besar dan syarat perjodohan," jawabnya.
"Kamu menerima perjodohan itu?"
"Mau tidak mau, karena aku menyukai Karin saat itu."
"Lalu sekarang, kenapa kamu melepaskannya?"
"Dia tidak sebaik yang ku pikirkan, Karin mengkhianati pertunangan kami. Ia bermesraan dengan pria lain." Jelas Arvan.
"Astaga, kenapa dia sejahat itu?" gumam Sabrina.
"Kalau kamu kenapa bercerai?" tanya Arvan memberanikan diri.
Sabrina menarik sudut bibirnya lalu menjawab pertanyaan Arvan. "Entahlah, Mas. Aku tidak mampu bercerita. Hanya akan membuat sakit hati saja," ucapnya lirih.
"Maaf, kalau membuatmu bersedih."
Sabrina kembali tersenyum tipis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas Yudis!" ucap Sabrina terkejut saat membukakan pintu kos-kosannya. Saat selesai mandi ia terdengar suara ketukan, dirinya segera membuka pintunya namun ternyata yang datang pagi-pagi ke kamarnya adalah mantan suaminya.
"Pagi, Sabrina!" sapa Yudis.
"Dari mana kamu tahu alamat ini?" tanya Sabrina curiga.
"Aku mengikuti kamu," jawab Yudis santai.
"Mas, apa kamu tidak punya kerjaan harus mengikuti aku?"
"Ada."
"Lalu, kenapa sampai mengikuti aku? Bukankah kamu bilang masa tugasmu di sini selesai?"
"Aku sengaja minta dipindahkan ke kota ini."
"Astaga, Mas. Sampai segitunya kamu harus minta dipindahkan. Pasti Tante Linda merasa kehilangan dengan anak kesayangannya," sindir Sabrina.
"Aku pindah demi kamu," ujar Yudis.
__ADS_1
Sabrina menyunggingkan senyum sinisnya. "Tapi aku tidak suka dan tak butuh, Mas. Kita ini bukan siapa-siapa lagi, jalani hidupmu dan jangan usik hidupku lagi." Ia lalu menutup pintu kamarnya dan membiarkan Yudis di luar.
Yudis masih tetap menunggu Sabrina keluar kamar.
Tak cukup lama menunggu, akhirnya mantan istrinya itu keluar dengan berpakaian kerjanya.
"Kamu masih di sini?" tanya Sabrina.
"Biar aku antar kamu," tawar Yudis.
"Tidak perlu, Mas." Sabrina berjalan ke arah pintu pagar kos-kosan.
Yudis tetap masih mengikuti langkah mantan istrinya.
Sabrina melihat jam di tangannya sambil menatap jalanan.
"Kamu pasti terlambat," ujar Yudis.
"Lebih baik terlambat daripada harus pergi dengan kamu, jika Mama Linda tahu aku bisa dimarahinya." Ungkap Sabrina.
"Maafkan aku, Sabrina!"
"Kalau mau dimaafkan, menjauh dari hidupku!"
Suara klakson menghentikan pembicaraan antara mantan pasangan suami istri itu.
Arvan turun dari mobil dan tersenyum kepada Sabrina lalu menoleh ke arah Yudis.
"Oh ternyata, ada mantan suami kamu!" ujar Arvan pada Sabrina.
"Jadi dia kekasih barumu, Sabrina?" tanya Yudis.
Sabrina tak menjawab dan hanya diam.
"Bukankah kalian sudah berpisah? Untuk apa lagi menemuinya?" tanya Arvan.
"Apa benar kalian akan rujuk?" tanya Arvan pada Sabrina
Wanita itu memutar bola matanya dan malas untuk membahas tentang percintaan. Lalu ia memilih meninggalkan kedua pria yang sedang berdebat dengan menaiki taksi yang kebetulan melintas.
"Sabrina!" panggil Arvan saat wanita itu membuka taksi.
"Kamu lihat," celetuk Yudis. "Skor kita sama!" sahutnya lagi, ia pun membuka pintu mobil dan membunyikan klakson mengejek.
"Sial," batinnya.
*
"Mas Arvan!" sapa Sabrina saat akan keluar toko dan hendak pulang.
"Ayo, aku antar pulang!" ajak Arvan.
"Mas, mulai hari ini tolong menjauh dariku!"
"Kenapa? Apa karena mantan suamimu?"
"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Mas Yudis, biarkan ku sendiri." Pinta Sabrina.
"Baiklah, ku akan menjauh darimu. Tapi izinkan aku mengantarmu hari ini pulang," mohon Arvan.
Sabrina pun mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sabrina, hari ini kamu terakhir bekerja di toko aku!" ucap Wita di ruangan kerja miliknya.
"Kenapa, Bu? Apa saya ada melakukan kesalahan?" tanya Sabrina yang bingung.
"Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, kinerjamu cukup baik. Saya akan memindahkan dirimu di toko pusat, awal mulai meniti karir." Ujar Wita.
__ADS_1
"Jadi saya kembali bekerja di kota B ?"
"Iya, biar kamu lebih dekat ibumu."
"Tapi bukan Pak Arvan yang menyuruh Ibu untuk memindahkan saya?" tanya Sabrina curiga.
"Tidak, dia bukan pemilik toko yang ada di sana!"
"Jadi dia ke mana?"
"Saya tidak tahu, mulai lusa kamu harus sudah kembali bekerja di toko pusat." Jelas Wita.
"Baik, Bu." Ucap Sabrina tersenyum tipis.
*
Sabrina pun pulang ke kos-kosannya sebelumnya ia juga sudah berpamitan dengan karyawan lainnya, pikirannya sekarang kalut. Bingung antara kembali ke kota kelahirannya atau menetap di sini.
"Aku berusaha ingin melupakannya malah harus kembali lagi, Mas Yudis juga sekarang di sini. Tidak mungkin pindah ke kota lain lagi," ucapnya dalam hati.
Malam harinya, Sabrina hendak mengemasi barang-barangnya ke dalam koper dan kotak besar. Pintu kamarnya diketuk seseorang.
"Siapa 'sih yang mengetuk jam segini?" gumamnya. Ia melangkah dengan malas membukakan pintu.
"Malam, Sabrina!" sapanya.
"Mas Yudis, ada apa lagi?" tanyanya malas.
"Aku cuma ingin mengobrol denganmu," jawab Yudis. Ia pun masuk tanpa diizinkan terlebih dahulu.
"Mas, aku capek banget hari ini dan tolong jangan dekati diriku lagi. Ku tak mau Mama Linda dan calon istrimu mengamuk," ujar Sabrina.
"Tapi di kota ini mereka tidak ada," ucap Yudis. Pria itu melihat tumpukan barang-barang berserakan dan koper. "Kamu mau ke mana?" tanyanya lagi.
"Mau pulang, aku akan kembali ke kota asal." Jawab Sabrina ketus.
"Jadi kamu akan meninggalkan kota ini?"
"Iya, Mas mau pindah juga gitu?" tanyanya menyindir.
"Baru juga dua mingguan di sini," jawab Yudis.
"Baguslah, setidaknya di sana kita tak pernah bertemu lagi." Ujar Sabrina.
"Biar kamu bisa dekat dengan pria itu lagi?" sindir Yudis.
"Mas, mau aku dekat dengan siapa itu bukan urusan kamu!" ujar Sabrina kesal.
"Aku takkan pernah mengizinkanmu dekat dengan siapapun!"
"Kamu mengancamku? Ingat Mas kita bukan suami istri lagi. Mending kamu menikah dengan Stella dan Mama Linda menyukai wanita itu," ucap Sabrina.
"Tidak Sabrina," pria itu memegang lengan mantan istrinya dan merapatkan giginya. "Aku tidak membiarkan pria lain mendekati kamu!" ancamnya.
"Sakit, Mas!" Sabrina meringis.
"Aku tidak akan pernah mau menikah dengan Stella. Hanya kamu yang menjadi milikku!" Yudis melepaskan genggamannya dengan kasar lalu pergi.
Sabrina memegang lengannya dan menangis.
Hai readers, sambil menunggu ini update kalian bisa baca karyaku yang lainnya..
JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR, LIKE DAN VOTE..
TERIMA KASIH ♥️
__ADS_1