Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 47


__ADS_3

Yudis terbangun dari tidurnya, lengan tangannya terasa berat. Ternyata, Stella yang tertidur mendekapnya. Reflek, pria itu mendorong tubuh istrinya.


"Apa yang kita lakukan?" tanya Yudis mulai panik saat melihat tubuhnya dan Stella setengah telanjang.


"Kenapa kau panik sekali?"


Yudis mengingat kejadian tadi malam, Mama Linda memberikan secangkir teh setelah itu ia begitu bergairah melihat Stella yang tampil cantik sekilas wajahnya seperti Sabrina.


"Tidak, ini pasti hanya mimpi," ucap Yudis menggeleng.


Stella memukul tangan kiri suaminya.


"Auww..." Yudis menjerit kesakitan.


"Kamu tidak mimpi. Ayolah, sekarang jalani pernikahan kita seperti pasangan lainnya," ucap Stella dengan mata masih tertutup.


Yudis menarik sudut bibirnya. "Tidak akan mungkin."


"Ya sudah, aku mau tidur lagi. Semalam kau sangat ganas," ucap Stella.


Yudis menjambak rambutnya. "Aarrghhhhh...sial!"


Ia bergegas ke kamar mandi membersihkan diri. Setelah itu ia menemui Mama Linda.


"Mama!" teriaknya.


"Hei, kamu sudah bangun?" Linda tersenyum manis dan begitu hangat.


"Obat apa yang Mama berikan di cangkir teh aku?"


"Oh, itu hanya obat stamina bagi seorang suami," jawab Linda santai.


"Aku tidak suka cara yang Mama lakukan!" hardik Yudis.


"Yudis, lupakan Sabrina. Istrimu sekarang Stella!" ucapnya dengan lantang.


"Tidak, Ma. Aku tak bisa melupakan dia," ucap Yudis.


"Sabrina sudah menikah, kau mau menghancurkan pernikahannya?"


"Jika itu bisa membuatnya kembali, aku akan melakukannya," jawab Yudis kemudian pergi keluar rumah, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Sabrina lagi, apa yang ia lihat dari wanita itu!" geram Linda.


Stella keluar dari kamar, berjalan santai ke arah dapur, ia membuka tudung saji dan melihat makanan di meja makan. "Ma, aku lapar. Ada tidak makanan?" tanyanya.


"Makanya, jangan bangun kesiangan. Semua makanan habis," jawab Linda dengan wajah kesal.


"Mama, kenapa?"


"Yudis marah-marah sama Mama," jawabnya.


"Soal minuman kemarin?"


"Ya."


"Itu semua 'kan rencana, Mama."


"Tapi kau juga menikmatinya," celetuk Linda.


"Yudis terus menyebut nama Sabrina, apa yang dinikmati," ujar Stella.


*


*


"Karin, kamu mau ke mana?"


"Aku harus berkerja, Michael."


"Bekerja? Anak kita masih dua bulan. Dia butuh kamu," ucap suaminya.

__ADS_1


"Kan, sudah ada baby sitter mengurus Kara," Karin tak mempedulikan larangan suaminya, ia menjinjing tasnya tidak lupa dia mendaratkan ciuman di pipi Michael dan putrinya.


"Karin, aku masih sanggup menafkahi kamu. Kau boleh bekerja tapi tunggu Kara 6 bulan," ujarnya.


"Itu waktu yang lama," ucap Karin tanpa melihat suaminya, ia sibuk dengan ponselnya. "Sudah terlambat, aku pergi!" pamitnya pada Michael.


*


*


*


Yudis sengaja pulang kerja larut malam karena ia malas bertemu dan berbicara dengan Mama Linda dan istrinya.


Ia membuka pintu kamar, tampak Stella sudah tertidur. Beberapa hari ini istrinya tidur itu selalu menggunakan pakaian terbuka tanpa lengan yang menampakkan paha dan belahan dada.


Ia mencoba menahan diri untuk tidak melampiaskan hasratnya pada Stella. Karena wanita itu bukan pilihan hatinya.


Ia membersihkan diri, setelah itu ia bersiap tidur. Istrinya begitu lelap tidurnya, ia bersin dan batuk saja Stella tetap nyenyak.


Dia memandangi istrinya itu. "Apa 'sih yang dilihat Mama dari Stella? Dia memang cantik, tapi sikapnya itu jauh berbeda dengan Sabrina," batinnya bertanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa benar ayahmu dan istrinya akan ke sini?" tanya Dewi pada Sabrina.


"Iya, Bu."


"Jam berapa mereka ke sini?" Fandi bertanya.


"Kemungkinan siang nanti, Yah."


"Aku tidak bisa menyambut mereka, maaf." Ucap Arvan.


"Tak apa, Mas."


*


*


"Kamu, cari Sheila?" pertanyaan Sabrina membuatnya terkejut dan sedikit gugup.


"Tidak, Kak."


"Dia lagi sekolah, mungkin sebentar lagi pulang."


"Siapa yang nyari dia?" Aldi terlihat salah tingkah.


Semua tersenyum.


"Nak, selamat 'ya!" ucap Nadia.


"Makasih, Ma."


Toni memeluk putrinya,"Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu."


"Terima kasih, Yah. Sudah mengunjungiku," Sabrina tersenyum.


"Ayo, makan siang!" ajak Fandi pada semuanya.


Mereka pun sudah berkumpul di meja makan, tak lama Sheila pun pulang dari sekolah.


"Siang semuanya," sapanya.


"Siang juga," ucap lainnya.


"Itu tuh yang kamu tunggu," celetuk Nadia.


"Mama apaan 'sih," ucap Aldi tersenyum malu lalu menunduk.


Sheila pun ikut bergabung menikmati makan siang bersama.

__ADS_1


"Aldi katanya akan melanjutkan pendidikan di luar kota, ya?" tanya Fandi.


"Belum tahu, Om." Jawab Aldi.


"Jadi sedih dong si Sheila," ceplos Sabrina.


"Kakak, kenapa bawa nama aku 'sih?" Sheila mengerucutkan bibirnya.


"Memangnya mau kuliah di kota mana?" tanya Dewi.


"Kota Y, Tante." Jawab Aldi.


"Di sana ada juga Toko Mas Arvan, kalau kamu mau bisa juga sambil bekerja," tawar Fandi.


"Benarkah, Om?" tanya Aldi semangat.


Fandi mengangguk mengiyakan.


"Aku mau, Om." jawabnya.


Sheila dari tadi hanya diam. Rasanya sedih kalau Aldi harus melanjutkan pendidikannya di kota lain.


Selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga. Saling mengobrol dan bersenda gurau. Aldi pun pamit permisi mau ke kamar mandi.


Sheila yang sehabis makan siang, pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Tanpa sengaja, keduanya bertemu tepat di depan pintu kamar Sheila yang baru saja keluar.


"Aldi," panggilnya.


Sosok yang dipanggil pun menoleh. "Ya."


"Apa benar yang kamu bilang akan ke kota Y?"


"Ya."


"Di kota ini banyak perguruan tinggi yang bagus dan terbaik," ucap Sheila.


"Aku ingin hidup mandiri saja, jurusan yang akan ku ambil lebih cocok di perguruan di kota Y," ujar Aldi.


"Aku berharap kau baik-baik saja di sana." Sheila tersenyum tipis, ia pun berlalu dan bergabung dengan keluarga lainnya.


*


*


Malam ini, Arvan sengaja pulang malam dan tak memberikan kabar. Ia akan memberikan surprise kepada istrinya.


Ia berjalan mengendap-endap ke kamarnya, ia membawa seikat bunga dan hadiah untuk istrinya.


Ia menyalakan lampu, terdengar suara isakan tangis.


Arvan mendengarnya jadi bingung. Ia memeluk tubuh istrinya dari belakang, mencium dan mengelus rambutnya.


"Kenapa menangis?" Arvan bersuara lembut.


"Mas Arvan, kenapa tidak memberi kabar kalau pulang malam? Ponselnya juga tidak aktif, aku telepon teman-temanmu mereka bilang tidak tahu, menghubungi karyawan toko mereka juga mengatakan kalau kamu sudah pulang dari sore," cerocos Sabrina. "Kamu ke mana 'sih, Mas?" tanyanya yang masih sendu.


"A.. aku tadi bertemu teman," ucap Arvan.


"Kamu tidak bohong, kan?"


"Tidak, sayang."


"Tapi kenapa gugup?" Sabrina mengendus aroma parfum suaminya. "Temanmu, pria atau wanita?" cecarnya.


"Wanita."


Sabrina mengangkat guling lalu memukul tubuh suaminya. "Mas, sengaja mau menyogok aku dengan bunga dan kado itu." Ia melihat sesuatu didekat Arvan. "Parfum kamu juga ganti," ucapnya kesal.


"Sayang, dengarkan aku. Biar ku jelaskan," Arvan memeluk istrinya.

__ADS_1


__ADS_2