Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 42


__ADS_3

Tiga bulan kemudian...


Arvan berdiri harap-harap cemas di depan pintu kamar mandi. "Bagaimana?" tanyanya penasaran. Saat istrinya membuka pintu .


Sabrina menangis lalu berkata,"Maafkan aku!"


"Kenapa menangis?" Arvan mulai panik.


"Hasilnya negatif," ucap Sabrina terisak.


"Sudah, tidak apa. Belum rejeki kita," Arvan memeluk dan mengelus pundak istrinya.


"Kamu tidak marah, kan?" tanyanya.


"Kenapa aku harus marah? Namanya juga belum rejeki, nanti kita coba lagi sampai dapat," ucap Arvan tersenyum.


"Kamu harus janji tidak akan meninggalkan aku," pinta Sabrina.


"Iya, aku janji." Arvan mengacungkan jari kelingkingnya dan disambut istrinya.


Sabrina memaksakan tersenyum.


"Sudah, jangan menangis lagi." Arvan menghapus air mata di pipi istrinya. "Aku harus pergi kerja, kamu jangan sedih lagi."


"Iya, Mas."


"Kalau kamu mau pergi ke rumah ibu atau ayah, harus dengan sopir sekalian bawa Sheila biar tak suntuk dia di rumah," ujar Arvan.


"Iya, Mas. Kamu hati-hati, ya!" Sabrina mencium punggung tangan suaminya.


Arvan pun mengecup kening istrinya.


*


*


"Kita mau ke mana, Kak?" tanya Sheila pada Sabrina saat di malam mobil.


"Ke rumah ayahku," jawabnya.


"Ayah?"


"Iya, kemarin itu kita ke rumah ibuku. Aku sudah lama tidak mengunjunginya," ucap Sabrina.


Mobil pun menuju ke rumah ayah Sabrina. Sesampainya di sana ia disambut oleh Nadia, ibu tirinya.


"Apa kabar, Nak?" sapa Nadia.


"Baik, Ma. Ayah dan Aldi di mana?" tanya Sabrina. Ia mencium punggung tangan ibu sambungnya, begitu juga dengan Sheila melakukan hal yang sama.


"Mereka lagi keluar, sebentar lagi balik," jawab Nadia. "Dia siapa?" tanyanya melihat Sheila.


"Adik sepupu Mas Arvan," jawab Sabrina.


"Oh," ucap Nadia.


Sambil menunggu, ayah dan adik kandungnya yang beda ibu. Sabrina dan ibu tirinya itu saling mengobrol, Sheila hanya menjadi pendengar sesekali dia memainkan ponselnya.


"Nah, itu mereka baru pulang," tunjuk Nadia.


Mata mereka berdua pun mengikuti arah telunjuk Nadia.


"Ternyata dia..."


"Kapan datang, Nak?" tanya Toni memeluk putrinya.

__ADS_1


"Setengah jam yang lalu, Ayah dari mana?" tanyanya.


"Dari jalan-jalan di pasar. Kami beli banyak ikan, kamu makan di sini 'ya!" ajak Toni. Ia menyerahkan bungkusan plastik berisi ikan dan aneka sayuran kepada istrinya.


"Iya, Yah."


"Hai, Kak!" sapa Aldi yang baru masuk. Bola matanya tertuju pada seorang gadis belia di samping kakaknya. Namun, dengan cepat ia membuang wajahnya.


"Siapa gadis ini, Nak?" tanya Toni.


"Sepupunya Arvan," sahut Nadia.


"Oh, ya sudah. Nanti kita makan siang bersama," ucap Toni.


Tanpa permisi, Aldi segera masuk ke dalam kamarnya lalu keluar lagi, ia membawa handuk menuju kamar mandi.


Sabrina hendak ke dapur membantu Nadia memasak namun di cegah Sheila.


"Kakak mau ke mana?" tanya Sheila.


"Ke dapur mau masak," jawabnya.


"Kakak di sini saja, aku bisa dimarahi Kak Arvan jika tahu istrinya kelelahan atau capek," ucap Sheila.


"Jangan sampai Mas Arvan tahu," ucapnya.


Sheila menarik lengan Sabrina. "Jangan tinggalkan aku, Kak!"


"Hei, memangnya aku mau ke mana. Hanya ke dapur saja," ujar Sabrina.


"Tapi Kakak, jangan terlalu capek!" ucap Sheila menasehatinya.


"Iya, Sheila."


"Kakak!" panggilnya lagi.


Gadis itu mendekati, istri sepupunya. Lalu berbisik,"Cowok yang sering ku ceritakan ada di sini!"


Sabrina mengerutkan keningnya. "Maksud kamu Aldi adikku?"


Sheila mengangguk.


Sabrina menutup mulutnya tak percaya. "Kenapa kau tidak bilang kalau cowok yang kamu maksud adikku?"


"Aku mana tahu, kakak tidak mengatakan kalau Aldi satu sekolah denganku," jawab Sheila.


"Aku akan memarahinya karena sudah membuatmu malu," ucap Sabrina.


"Jangan, Kak!" larang Sheila.


"Kenapa?"


"Bisa gawat kalau Kak Sabrina tahu sebenarnya," ucapnya dalam hati.


"Malah diam," ucap Sabrina.


Sheila tersenyum nyengir. "Tidak usah, Kak. Nanti dia semakin membenciku," ucapnya berbohong.


"Ya sudah, kalau memang mau kamu begitu. Kakak tinggal ke dapur," ujar Sabrina.


"Iya, Kak. Ingat pesan Kak Arvan," ucap Sheila.


"Iya."


Sheila pun memilih duduk di ruang tengah dan bermain ponsel.

__ADS_1


Tanpa sengaja, Sheila melihat Aldi yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan cepat ia menutup mata.


Aldi berlari-lari kecil ke kamarnya, ia tidak menyangka tubuhnya terlihat oleh gadis yang sempat menyatakan cinta padanya.


"Huh," ucapnya lega. "Entah, kenapa dia harus duduk di situ? Apa tidak ada tempat yang lain?" gumamnya.


Aldi bergegas memakai pakaiannya dan keluar kamar, gadis itu masih duduk di tempat yang sama.


"Apa tidak ada tempat duduk yang lain?" tanya Aldi dengan dingin.


"Aku maunya di sini. Memangnya tidak boleh?" tanya balik Sheila ketus.


"Kau merusak pemandangan ku saja," jawab Aldi.


"Hei, aku tamu di sini. Hormati sedikit," protes Sheila.


"Aku tidak menyuruhmu datang ke sini dan kau juga bukan bagian keluargaku. Untuk apa ke rumahku?" tanya Aldi.


"Kalau tahu ini rumahmu, aku juga tidak mau ke sini," Sheila berdiri dengan sengaja berjalan menyenggol bahu Aldi.


"Dasar!" gerutunya.


*


Masakan telah selesai, waktunya makan siang. Seluruh keluarga telah berkumpul di meja makan termasuk Sheila. Menikmati makanan yang tersedia.


"Kata Sabrina, kamu dan Aldi satu sekolah 'ya?" tanya Toni. Setelah selesai makan siang.


"Iya, Paman."


"Kenapa kamu tidak cerita, Aldi?" tanya Nadia pada putranya.


"Aldi mana tahu, kalau Kak Arvan punya sepupu seperti dia," jawabnya melirik Sheila.


"Kalau begitu, kalian bisa sering pulang bareng dong." Ucap Nadia. "Apa kalian satu kelas?" tanyanya.


"Tidak, Ma. Dia adik kelasku," jawab Aldi.


"Oh, begitu." Sahut Toni.


"Asal Ayah dan Mama tahu kalau mereka berdua ini sering bertengkar di sekolah," tutur Sabrina.


Sheila mendelikkan matanya dan menatap wajah istri kakak sepupunya. Sedangkan, Aldi menelan saliva mendengar penuturan kakaknya.


"Kalian bertengkar? Apa yang dia lakukan padamu, Sheila?" tanya Toni pada gadis itu.


Wajah Sheila berubah merah karena malu. Dia gelagapan harus menjawab. "Oh itu, tidak ada Paman!" ucapnya terbata.


"Aldi, kamu laki-laki. Apa tidak malu bertengkar dengan perempuan?" tanya Toni.


Aldi menatap tajam gadis yang ada didepannya itu.


"Apa yang harus ku katakan? Tidak mungkin ku bilang jika dia pernah menyatakan kalau suka padaku," batinnya bertanya.


"Aldi!" panggil Toni.


"Iya, Pa. Hanya salah paham saja," ucap Aldi.


"Salah paham soal rasa, Yah." Ceplos Sabrina.


"Rasa apa?" tanya Nadia bingung.


"Hmm..Aldi harus ke kamar, ada tugas dari sekolah. Tadi lupa mengerjakannya," ucap laki-laki berusia 16 tahun itu. Ia sengaja meninggalkan meja makan untuk menghindari pertanyaan yang tidak penting dan menyudutkannya, bisa malu jikalau mereka tahu yang sebenarnya.


Sabrina melihat adiknya pergi hanya tersenyum,ia juga melirik Sheila wajahnya seperti kepiting rebus.

__ADS_1


"Kakak membuatku malu saja," bisiknya.


__ADS_2