Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 33


__ADS_3

"Sesuai janji ku hari ini kita akan wisata kuliner," ucap Arvan semangat.


"Kita libur berdua begini, apa Pak Andi tidak marah?"


"Kalau kamu libur aku juga, tugasku mengantar dan menjemputmu!"


"Benar juga," ucap Sabrina tersenyum.


"Kita naik motor saja, bagaimana?"


"Tidak masalah, Mas Arvan."


"Oke, pegangan Nona cantik!"


Sabrina mengalungkan tangannya ke pinggang Arvan, pria itu tersenyum melihatnya.


"Jangan ngebut!" nasehatnya.


"Siap, Nona!"


Sabrina memukul bahu Arvan pelan. "Mas, pikir aku nona-nona bangsawan,"ucapnya.


"Mau di bilang istriku tidak mungkin," celetuk Arvan.


"Terserah, Mas Arvan saja deh mau bilang apa," ujar Sabrina.


Motor pun melaju, tujuan pertama mereka restoran ikan bakar yang terkenal dengan sambalnya yang pedas.


"Masih lama, Mas?" tanya Sabrina sedikit berteriak.


"Sebentar lagi sampai," jawab Arvan.


Tak lama kemudian mereka sampai ke tempat tujuan.


"Tempatnya cantik," puji Sabrina.


"Kamu juga cantik," goda Arvan.


"Apaan 'sih!"


"Ayo, cepat. Nanti keburu habis," Arvan menarik tangan Sabrina.


Mereka pun memesan dua ikan bakar, nasi, tumis kangkung dan es jeruk. Hampir sejam menunggu, akhirnya pesanannya datang. Maklum, namanya pembelinya banyak.


"Bagaimana rasanya?" tanya Arvan.


"Apa perlu direkam, Mas. Biar kita review makanannya?" tanya Sabrina bercanda.


"Memangnya kamu mau?"


"Tidaklah, Mas. Aku malu untuk berbicara didepan kamera," jawab Sabrina.


Arvan hanya tersenyum lalu berkata,"Ayo, makan!"


Mereka mencicipi hidangan ikan bakar yang sangat lezat dan gurih.


"Tahu saja Mas Arvan mencari rekomendasi tempat makanan yang enak,"ucap Sabrina.


"Semua dari teman," ujarnya.


"Berarti, teman Mas Arvan pintar!"


"Ya, begitulah. Dia juga hobi makan," ucap Arvan.


"Tiap hari kita begini, aku bisa gendut." Ucap Sabrina nyengir.


"Aku tetap terima kamu apa adanya," ucap Arvan menggombal.


"Bicaranya aja sekarang begitu, giliran sudah nikah istri gemuk mulai deh membandingkan dengan yang lain," ungkap Sabrina.


"Kayaknya aku tidak begitu," ucap Arvan.


"Yakin?"


"Apa perlu kita menikah agar kamu tahu bagaimana diriku?" tantang Arvan menatap mata Sabrina.


Sabrina segera membuang wajahnya.


Arvan tersenyum melihat wajah Sabrina tampak memerah.


"Setelah ini kita mau ke mana lagi?" tanya Sabrina membuang rasa grogi.

__ADS_1


"Makan es krim."


"Es krim, kamu suka 'kan?"


"Suka banget, sudah lama tidak makan es krim," jawab Sabrina semangat.


"Kamu habiskan ikannya dulu," ucap Arvan.


*


"Ini tempat, teman kamu juga yang memberi tahu?" tanya Sabrina.


"Tidak, ini tempat favorit Karin," jawab Arvan.


"Oh," ucapnya singkat.


"Kamu tidak marah?" tanya Arvan.


Sabrina tersenyum,"Untuk apa aku marah?"


"Karena aku menyebut nama Karin," jawabnya.


Sabrina kembali tersenyum,"Memangnya kenapa kalau ini tempat favorit Karin?"


"Ya, tidak apa-apa juga." Arvan menggaruk tengkuknya.


"Hemm...kamu mau es krim rasa apa?"


"Coklat dan strawberry," jawab Sabrina.


"Kamu tunggu di sini, aku akan memesannya!" ucap Arvan.


"Baik, Mas."


Arvan pergi meninggalkan Sabrina yang menunggu, ia harus mengantri untuk mendapatkan es krim.


Sambil menunggu Arvan, ia memainkan ponselnya. Matanya tertuju pada wanita yang menggandeng mesra seorang pria.


"Karin," gumamnya.


Ternyata, wanita itu pun melihat Sabrina yang sedang duduk di kursi pengunjung.


"Wah, kita jumpa lagi," ucap Karin tersenyum.


"Sabrina!" sapa Michael.


Karin terkejut karena kekasihnya mengenal Sabrina. "Kalian?"


"Dia mantan kekasihku ketika sekolah," jawab Michael.


"Apa?" Karin terkejut. "Dunia sempit banget, ya. Mantan Sabrina dengan aku dan mantanku dengan dia," ucapnya.


Sabrina hanya tersenyum, ia malas harus meladeni Karin bicara.


"Kenapa 'ya? Selalu ada nama wanita ini di tiap pria yang ku dekati," ucapnya menyindir.


"Itu hanya kebetulan saja dan tidak direkayasa," jawab Sabrina santai.


"Hemm.. sayang, kamu tidak jadi pesan es krimnya?" tanya Michael mengalihkan perdebatan antara dua wanita.


"Tidak, sayang. Aku tak selera lagi," ucap Karin angkuh.


"Ayo, sayang!" ajak Michael.


Beberapa langkah Karin kembali lagi lalu menghampiri Sabrina yang masih berdiri. "Jangan pernah mendekati Michael, jika kau tak mau hancur!" ucapnya menekankan kata-katanya. Ia pun segera pergi dari hadapan wanita itu.


Sabrina menghela nafasnya dan memijit pelipisnya. Ia kembali duduk. "Jangan sampai aku bertemu wanita itu lagi," batinnya berkata.


Arvan datang membawa dua mangkuk plastik berisi es krim, ia melihat Sabrina sedang menunduk dan memijit pelipisnya.


"Kamu sakit?"


"Hah!"


Sabrina mendongakkan kepalanya dan memperbaiki duduknya dan tersenyum.


"Kenapa memegang kening? Apa kamu sakit?" tanya Arvan sekali lagi.


"Oh, tidak. Aku baik-baik saja, kok." Jawab Sabrina tersenyum.


"Kamu yakin baik-baik saja?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Iya, Mas. Aku baik-baik saja. Mana es krim pesananku?"


Arvan menyodorkan satu mangkuk es krim. Wanita itu menerimanya dan menyendokkannya secara perlahan sebelum masuk ke mulut


"Es krimnya enak," ucap Sabrina.


"Benar kamu suka?"


Sabrina mengangguk.


"Aku bisa tiap hari membelinya," ucap Arvan.


Sabrina tersenyum lalu berkata,"Tidak harus tiap hari juga belinya."


"Kenapa, kamu takut gendut?"


"Tidak juga, nanti gaji kamu habis untuk membelikan aku es krim. Mas Arvan harus hemat," ucap Sabrina.


"Mengapa harus hemat?" pancing Arvan bertanya.


"Hidup bukan cuma hari ini. Apa Mas Arvan tidak mau menikah atau mendapatkan toko AR Fashion lagi?" Sabrina balik bertanya.


"Ingin 'sih AR Fashion kembali lagi. Tapi soal menikah, aku sudah menyiapkan biayanya," ucap Arvan.


"Bagus dong begitu," ujar Sabrina.


"Tapi calonnya belum ada," Arvan melirik wanita yang ada disampingnya.


"Pasti ada, tenang saja."


"Jika calonnya itu kamu, bagaimana?" Arvan menatap Sabrina.


"Aku?"


"Iya, kamu?"


Sabrina tertawa kecil mendengar pertanyaan Arvan. "Ya, aku juga tidak tahu. Kalau namanya jodoh tidak mungkin ditolak," ucapnya.


"Jadi kamu mau jadi istriku?" tanya Arvan.


"Mas, melamarku?" Sabrina balik bertanya.


"Memangnya kamu mau dilamar biar aku telepon ayah dan ibu," Arvan bersiap membuka ponselnya.


"Mas, mau apa?" tanya Sabrina mulai salah tingkah.


"Bukankah kamu ingin dilamar?"


"Tapi tidak sekarang juga," jawabnya.


"Berarti kamu mau?" tanya Arvan penasaran.


"Temui ayah dan ibuku dulu," jawab Sabrina tersenyum.


"Kamu benaran?" Arvan sekali lagi bertanya.


Sabrina mengangguk tanda mengiyakan.


Arvan tersenyum dan tanpa sadar memeluk tubuh Sabrina hingga pengunjung kafe es krim melihatnya.


"Mas, malu dilihat orang!" Sabrina mendorong pelan tubuh Arvan.


"Maaf," Arvan menggaruk kepalanya dan kembali tersenyum.


"Jangan senyum saja, sisakan buat aku." Ucapnya menyindir.


"Terima kasih, ya!"


"Ayo, kita pulang!" ajak Sabrina. Pria itu pun mengikuti langkah wanita yang ada didepannya.


Arvan pun mengendarai motornya mengantar Sabrina pulang ke rumah.


"Kapan aku bisa bertemu dengan ayahmu?" tanya Arvan saat sampai di rumah Sabrina.


"Minggu depan saja," jawabnya.


"Kalau Tante Mila, sekarang saja ku sampaikan." Ucap Arvan semangat dan hendak turun dari motor.


Sabrina menahan tubuh Arvan. "Jangan sekarang, biar aku bicara pada ibu dulu," ucapnya.


"Baiklah, aku tunggu kabarnya."

__ADS_1


"Ya, sudah sana kamu pulang. Jangan lupa besok antar aku kerja!" ucap Sabrina.


"Siap, Nona!"


__ADS_2