
Hari ini adalah hari pertama Michael menjenguk mantan istrinya itu setelah sehat dan sembuh, pasca kejadian yang menimpa Karin beberapa bulan yang lalu.
Sebelumnya Michael, sering menjenguknya walau sebulan ini dia tak sempat untuk mengunjunginya dikarenakan kesibukan bisnisnya.
"Bagaimana keadaan dia, Om?" tanya Michael.
"Dia mulai membaik," ucap Roy.
"Apa Karin bisa dijenguk?"
"Boleh, silahkan!" Roy mempersilakan mantan menantunya itu masuk.
Michael pun berjalan menemui Karin yang sedang termenung di taman kecil yang ada dibelakang rumah milik orang tuanya.
"Hai!" Sapa Michael.
"Hai, Michael!"
"Apa kabar?"
"Sehat, terima kasih 'ya!"
"Dengan senang hati aku menolongmu!"
"Apa kau ke sini tidak bersama Kara?"
"Mama tidak mengizinkan aku membawanya," jawab Michael.
"Padahal aku sangat merindukannya," ucap Karin.
"Bagaimana kalau kamu ke sana?"
"Aku tidak berani mengendarai mobil ke sana," jawab Karin.
"Kita berangkat bersama," usul Michael.
"Benarkah?"
Michael mengangguk.
Di lain kota, dikediaman Michael. "Ke mana dia, Ma?" Tanya Arya pada Tissa.
"Dia ke Kota B, menemui Karin," jawab Tissa. "Pa, apa kita berkata jujur saja pada Michael?"
"Biarkan saja, dia juga tak bertanya lagi," ucap Arya.
"Bagaimana kalau dia tahu?"
"Biarkan saja," jawab Arya.
"Apa Papa merestui hubungan Michael dan Karin lagi?"
"Mereka tidak bisa dipisahkan, mau tidak mau kita harus merestui mereka," jawab Arya.
"Bagaimana dengan pria itu?"
"Aku sudah menyuruh Ardan untuk menjauhi pria itu dari kota ini dan tentunya dari hadapan Karin," jawab Arya.
"Papa juga sih' kenapa harus melibatkan pria itu dalam misi kita?"
"Papa mana tahu, semua Ardan yang menjalankan."
__ADS_1
"Mama tidak bisa bayangkan bagaimana kalau Michael tahu kalau Ardan ikut terlibat dalam hal ini, mereka berdua tidak pernah damai," tutur Tissa.
"Papa yakin Ardan tidak akan terpancing emosi jika hal ini diketahui, Papa yang bertanya langsung padanya dia siap menerima akibatnya," jelas Arya.
"Ya sudah kalau begitu," ujar Tissa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, mereka melakukan perjalanan menuju Kota M. Dari hotel tempat ia menginap, Michael segera menjemput Karin. Penuh semangat, ia berangkat karena akan bertemu dengan putrinya.
Sesampainya di Kota M, Tissa menyambut Karin dengan senyuman biasanya ia akan terlihat cuek ketika mantan menantunya itu berkunjung.
Tissa membawa cucunya menemui ibu kandungnya. Karin memeluk erat tubuh mungil itu, ia menciumnya hampir 6 bulan tak bertemu dengan putrinya.
"Mama, kangen kamu!" Karin tersenyum hangat menyapa Kara.
"Bagaimana keadaan kamu, Karin?" Tanya Tissa.
"Baik, Tante!"
"Syukurlah!"
*
*
"Dia di Kota ini!" ucap Arya pada Ardan.
"Apa Paman takut ini terbongkar?"
"Paman takut Michael membenci kita," jawab Arya.
"Wanita itu juga sehat, kenapa kita harus takut?" Ujar Ardan santai.
"Aku sudah menyuruh pergi dari kota ini," jawab Ardan.
"Pastikan dia tidak pernah menginjakkan kakinya di kota ini lagi," ucap Arya.
"Paman tenang saja," ujar Ardan.
...*...
"Ma, aku ingin membawa Kara bersama Karin," pinta Michael.
"Tapi bagaimana dengan kondisi kesehatan Karin?"
"Karin sudah membaik, Ma. Mungkin Kara bisa jadi penghibur bagi Karin," jelas Michael.
Tissa pun setuju dengan penjelasan Michael.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Kara di bawa Karin. Selama perjalanan menuju ke kota B tidak ada halangan.
Kara begitu senang bertemu dengan ibunya, sesampainya di sana ia disambut oleh kedua kakek dan neneknya.
Michael hanya mengantarkan Karin saja, ia harus kembali lagi ke kota M karena urusan pekerjaan.
Sore harinya, Karin membawa putrinya itu berkeliling area sekitar rumah. Sebuah mobil mengawasi mereka dari jarak jauh. Seorang pria tersenyum misterius.
"Ayo, Nak. Kita pulang, kamu pasti sudah lelah!" Karin menggendong putrinya itu.
__ADS_1
Sementara itu, Ardan begitu gelisah. Ia mendapatkan kabar bahwa Putra telah kembali. Ia takut kalau pria itu mengatakan sebenarnya.
Lain halnya dengan Putra yang terus memandangi foto Karin. "Kau semakin cantik saja," ucapnya. "Kemarin aku dibayar untuk melakukan itu, mulai saat ini aku akan berusaha mendapatkanmu!" Ucapnya lagi dengan tersenyum jahat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya, Karin melakukan aktivitasnya sebagai seorang ibu. Ia memandikan dan memberikannya sarapan sebelum ia berangkat bekerja.
Sebulan ini ia bekerja sebagai karyawan di perusahaan keluarga Yudis. Pria itu yang menawarkannya. Walau Linda tak menyukai kedekatan putranya dengan Karin.
Linda berpikir kalau Karin akan memanfaatkan Yudis untuk menguras hartanya di tambah lagi berita yang beredar kalau mantan kekasih Arvan itu seorang wanita yang matre.
"Sayang, Mama mau berangkat kerja. Kamu sama Opa dan Oma, ya!" Karin mencium putrinya yang kini beranjak usia 2 tahun.
"Iya, Mama."
Karin mengendarai sepeda motornya menuju kantornya. Selama diperjalanan ia selalu melihat kaca spion, lalu sekilas ia menoleh ke belakang. Ia pun mempercepat laju motornya agar segera sampai di kantor.
Mobil yang mengikutinya berhenti mengejarnya saat motor Karin memasuki halaman gedung kantor. Ia pun segera turun dari motornya dan berjalan cepat ke dalam gedung.
"Karin!" panggil Ria, teman kantornya.
"Kau mengejutkan aku saja," ucapnya.
"Kau kenapa? Aku lihat begitu terburu-buru," cecar Ria.
"Aku tidak apa-apa," jawab Karin tersenyum
"Oh, aku kira ada sesuatu," ujar Ria.
"Kau tenang saja, aku baik-baik saja."
"Oh, ya. Apa kau sudah menyiapkan berkas yang diminta Pak Yudis?" tanya Ria.
"Astaga, aku hampir lupa," jawab Karin. "Aku duluan, ya!" ucapnya berlalu.
Rapat pun dimulai, rekan bisnis Yudis kali ini adalah pengusaha dari Kota M. Karin tidak pernah mengetahui jika pria yang hadir saat rapat adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa dirinya.
Selesai rapat, Ardan melihat sosok Karin yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. "Apa saya boleh tahu, siapa nama dia?" tanyanya pada Yudis.
"Dia Karin!"
"Apakah dia sudah menikah?" tanya Ardan pura-pura tidak tahu.
"Sudah tapi telah berpisah," jawab Yudis.
"Kenapa anda bertanya tentang dia? Apa anda menyukainya?"
Ardan tertawa tipis. "Dia mirip dengan seseorang," ucapnya.
"Oh, tapi sepertinya dia akan kembali lagi dengan mantan suaminya," jelas Yudis.
"Kenapa anda tahu?"
"Saya kenal dengan mantan suaminya," jawab Yudis.
"Oh, begitu."
"Kalau begitu, saya pamit. Semoga kerja sama kita berjalan lancar," ucap Ardan.
"Sama-sama, Pak Ardan." Yudis tersenyum puas.
__ADS_1
Sore harinya, sepulang kerja Karin sengaja singgah ke toko mainan dan pakaian anak-anak untuk membelikan mainan dan baju Kara.
Selesai memilih dan membayar transaksi di meja kasir, Karin bergegas menuju motornya. Sebuah tangan, membuat dirinya dengan cepat melihat siapa orang yang telah membuat ia ketakutan.