
Tiba-tiba pagi ini Sabrina mengeluarkan semua makanannya, saat ia meminum segelas susu perutnya bergejolak.
Arvan terus memijit lembut tengkuk istrinya yang terus muntah, Sheila memegang segelas air hangat disisi kiri Sabrina sedangkan Dewi membuka sebotol kecil minyak kayu putih dan mengarahkannya ke hidung menantunya. Fandi sang papa mertua hanya melihatnya dari kejauhan tampak cemas diwajahnya.
"Bawa dia ke dokter," perintah Fandi.
"Apa jangan-jangan?" Dewi menutup mulutnya.
Sabrina dan Arvan menoleh ke arah Dewi.
"Hamil," sahut Sheila.
Semua mata menatap ke arahnya.
"Aku baca novel dan nonton film, ciri-cirinya sama seperti yang dialami Kak Sabrina," ucap Sheila tersenyum nyengir.
"Cepat kamu beli tes kehamilan?" bisik Dewi ditelinga Arvan.
"Tenang, Ma. Aku sudah membelinya selusin," jawabnya.
"Hah!"
Fandi yang mendengar ucapan sang anak hanya tersenyum. "Persis seperti aku," batinnya.
Arvan membantu istrinya berjalan ke kamarnya. Dewi mengikuti anak dan menantunya.
Arvan segera mengambil alat tes kehamilan di dalam laci nakas.
"Sudah berapa hari kamu telat?" tanya Dewi pada menantunya.
"Mungkin dua mingguan, Bu."
Dewi tersenyum mendengarnya.
Arvan menyodorkan alat tes itu pada istrinya, ia membantu istrinya berdiri dan mengantarnya ke kamar mandi.
Tak sampai lima menit, Sabrina keluar dengan wajah di tekuk. Ia menatap Arvan dengan mata berkaca-kaca.
Sabrina memeluk dan membenamkan wajahnya di dada suaminya. Ia mulai menangis.
Dewi dan Arvan saling memandang bingung.
"Sebentar lagi, Mas Arvan akan jadi seorang ayah," ucap Sabrina menghapus air matanya.
"Apa?" Dewi menutup mulutnya dan ikutan menangis.
Arvan melonggarkan pelukannya dan menangkup pipi istrinya. "Apa benar?" tanyanya menatap wajah Sabrina.
Wanita itu mengangguk pelan dan menunjukkan hasil alat tes kehamilan.
Arvan kembali memeluk dan mencium wajah istrinya bertubi-tubi.
Dewi tersenyum senang, lalu memeluk menantunya. "Selamat, Nak!" ucapnya lembut.
"Terima kasih, Bu."
"Ayo, kita ke rumah sakit untuk memastikannya lagi," ajak Dewi.
Arvan dan Sabrina pun mengiyakan.
"Kalian mau ke mana?" tanya Sheila saat melihat ketiga orang dewasa beda usia itu turun dari lantai atas.
"Ke rumah sakit," jawab Dewi.
"Sheila ikut, Tante!" usulnya.
"Papa juga," sahut Fandi.
Mereka berlima pun berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan dua mobil.
Sesampainya di sana, Sabrina langsung menjalankan tahap pemeriksaan karena tidak terlalu ramai pasien. Jadi, ia tak perlu menunggu lama.
Arvan masuk menemani istrinya, Dokter kandungan pun menjelaskan jika usia kehamilannya baru memasuki 4 minggu.
"Bagaimana?" tanya Dewi penasaran.
__ADS_1
Arvan pun menjelaskan semua keterangan Dokter kepada kedua orang tuanya.
Wajah keduanya tampak senang dan bahagia. Begitu juga Sheila yang menjadi pendengar budiman. Akhirnya, setelah 13 bulan pernikahan putranya mereka akan segera memiliki seorang cucu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selama kehamilan, Arvan lebih protektif. Ia selalu menanyakan keinginan istrinya. Namun, Sabrina tetap menolak untuk makan apapun.
"Sayang, kamu makan dong. Kasihan calon bayi kita," Arvan membujuk istrinya dengan lembut.
"Aku lagi tidak selera, Mas!" ucapnya lemas.
"Mau aku buatkan susu atau jus?"
Ia menggeleng pelan.
"Aku kupas buah, ya!"
"Boleh, Mas."
Arvan pun mengupas buah jeruk dan menyuapkan ke mulut istrinya.
"Mas, aku mau muntah!" ucap Sabrina menutup mulutnya.
Arvan membantu istrinya turun dari ranjang dan menuntunnya ke dalam kamar mandi.
"Kamu harus paksakan makan," ucap Arvan setelah istrinya memuntahkan isi perutnya.
"Iya, Mas. Buatkan aku sop daging," pintanya.
"Aku akan menyuruh pelayan membuatnya. Kita keluar dulu," Arvan membantunya membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Selang sejam, sop daging telah siap disantap. Kali ini mertuanya yang membuatnya.
"Ibu sudah buatkan, sop daging khusus buat kamu!" ucap Dewi.
"Sini, Bu. Biar aku yang menyuapin," ujar Arvan mengambil mangkok yang dibawa Dewi.
Sabrina perlahan menghabiskan sop daging buatan ibunya Arvan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kabar kehamilannya sampai ke telinga ibu kandungnya dan neneknya. Setelah, dua hari berita didapatkan mereka baru menyempatkan hadir.
"Ibu, Nenek!" Sabrina memeluk dua wanita berbeda usia dengan hati senang.
"Ibu senang mendengarnya, kamu jaga dia baik-baik!" ucap Mila.
"Jangan terlalu capek, lelah dan stres. Satu lagi banyak makan buah," nasehat nenek.
"Iya, Nek!"
"Mertua kamu mana?" tanya nenek.
"Mereka ada urusan kemungkinan sore baru pulang," jawabnya.
"Oh," ucap nenek singkat.
"Kalian mau dibuatkan apa?" tanya Sabrina.
"Terserah saja," jawab Mila.
"Baiklah, aku akan menyuruh mereka membuatkan makan siang untuk kita," ucap Sabrina.
*
"Stella, kamu dari mana?" tanya Linda melihat menantunya baru pulang menjinjing tas yang terbuat dari kertas karton berwarna-warni.
"Aku baru pulang belanja, Ma." Jawabnya santai.
"Kamu tahunya menghabiskan uang anakku saja," ujar Linda.
Stella tersenyum sinis. "Uang ini dari orang tuaku yang selalu mengirimkannya tiap bulan. Yudis hanya memberikan satu juta," ucapnya.
"Baguslah, dia cuma kasih kamu segitu," ujar Linda tersenyum.
__ADS_1
"Mama 'kan memang pelit," gumam Stella.
"Kamu ngomong apa?"
"Tidak ada," jawabnya.
"Kamu kenapa belum hamil juga?" tanya Linda.
"Bagaimana mau hamil? Sampai sekarang saja dia tak pernah menyentuhku," batin Stella berucap.
"Stella!" panggil Linda.
"Mama tanyakan saja itu pada Yudis. Aku mau ke kamar, capek banget hari ini," ucapnya berlalu.
*
*
"Mama kamu menginginkan cucu dari kita," ucap Stella.
"Aku tidak berminat bercinta denganmu," ujar Yudis.
"Tapi kenapa kau mau menikahi aku?"
"Bukankah kamu dan Mama yang menginginkannya?" Yudis balik bertanya.
"Yudis, lupakan Sabrina!" ucap Stella.
Pria itu menatap tajam istrinya. "Kau tidak berhak menyuruhku, melupakan dia!" ucapnya dingin.
Stella berdecak kesal, ia memilih membaringkan tubuhnya dan tidur.
Yudistira menghela nafasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kapan kalian akan memberikan Mama dan Papa keturunan?" tanya Linda pada kedua putranya.
"Mama bisa tanyakan pada Rio," jawab Yudis tanpa menatapnya.
Rio dan istrinya saling pandang.
"Yudis, Mama perlu bicara padamu!" ucap Linda.
"Hari ini aku sangat sibuk dan pekerjaan kantor menumpuk," ujar Yudis dingin. Ia beranjak meninggalkan meja makan. Semenjak menikah, ia memutuskan kembali ke kantor lamanya di kota ini.
"Kak Yudis, kenapa?" tanya Rio.
Stella menaikkan bahunya dan kembali menikmati sarapan paginya.
*
"Mama mau bicara padamu?" tanya Linda pada menantunya. Ketika selesai sarapan dan seluruh keluarga pergi bekerja.
"Mau bicara apa, Ma?"
"Apa yang kalian sembunyikan?" tanyanya.
"Mama kenapa tidak bertanya langsung pada Yudis," jawabnya.
"Kalau dia ada waktu dan mau bicara, Mama tidak perlu bertanya padamu," ucapnya ketus.
"Mama mau tahu?"
Linda mengangguk.
Stella membisikkan sesuatu ke telinga mertuanya itu, membuat Linda mendelikkan matanya.
"Masa 'sih dia tidak tertarik padamu?" tanya Linda.
"Aku mana tahu, hatinya masih ada nama mantan istrinya kemungkinan itu 'sih alasannya," jawab Stella.
"Mama harus berbuat sesuatu," ucapnya. "Kau harus mengikuti rencana Mama," lanjutnya lagi.
"Aku ikut aja mau Mama," ucap Stella.
__ADS_1