Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 34


__ADS_3

"Bu, ada yang ingin ku bicarakan," ucap Sabrina saat Mila menikmati siaran televisi.


"Kamu mau bicara apa?"


"Mas Arvan ingin melamarku," jawab Sabrina hati-hati.


"Oh," ucap Mila singkat.


"Kenapa cuma oh?" tanya Sabrina bingung.


"Lalu Ibu mau jawab apa?"


"Ya jawab apa 'ya, kaget atau senang begitu." Ujar Sabrina.


"Ibu sudah tahu, kalau Arvan akan melamarmu." Ucap Mila.


"Kapan Mas Arvan mengatakannya?"


"Sudah lama beberapa bulan yang lalu, dia juga bertemu dengan ayah kamu," jawab Mila.


"Jadi, Mas Arvan sudah membicarakan ini. Kenapa Ibu tidak memberi tahu aku?"


"Nak, kamu yang menjalankan pernikahan. Jadi kami serahkan semua padamu," jawab Mila.


"Berarti ini, tidak menjadi kejutan bagi kalian lagi dong, dia sudah berbicara," ucap Sabrina sedikit kesal.


Mila tertawa melihat wajah putrinya. "Arvan sudah mengambil hati kami terlebih dahulu, tapi belum hatimu. Jadi keputusan ada ditangan mu, menerimanya atau tidak. Anak itu sepertinya bertanggung jawab dan menyayangimu, buktinya diam-diam menemui kami," ucapnya.


Sabrina memeluk tubuh Ibunya dari samping. "Restui kami, Bu!"


"Ibu merestui kalian, suruh dia menemui kami dengan membawa keluarganya," titah Mila.


"Ya, Bu. Besok aku akan berbicara padanya," ucap Sabrina.


"Terima kasih, Bu."


"Apa kau sudah jatuh cinta padanya?" tanya Mila penasaran.


Sabrina menganggukan kepalanya.


"Akhirnya, putri Ibu sudah move on," ucap Mila lega.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini Arvan menjemput Sabrina, pria itu akan setia menjadi sopir pribadi agar semakin dekat pujaannya.


"Mobilnya masih di bengkel, kita naik motor lagi," ucapnya.


"Tidak apa-apa, Mas. Terpenting bagiku, sampai tempat kerjaan." Ujar Sabrina.


Mereka pun berboncengan menuju toko. Di perempatan jalan, motornya berhenti. Sebuah mobil hitam menghentikan lajunya tepat disampingnya, Sabrina tahu jika itu milik mantan mertuanya dilihat dari plat nomor kendaraannya.


"Sabrina!" panggil Yana membuka kaca mobilnya


Wanita itu pun menoleh ke arah suara.


"Kalian naik motor?" Linda mulai menyindir, wanita itu duduk di kursi samping pengemudi.


Sabrina hanya menjawabnya dengan tersenyum.


"Kasihan dia sekarang, Ma. Lepas dari Yudis dapatnya malah lelaki seperti itu," sindir Yana.


Arvan pun ikut menoleh dan hanya diam karena Sabrina melakukan hal yang sama.


"Mas, jalan!" perintah Sabrina berbisik.


Arvan melajukan motornya karena lampu lalu lintas berwarna hijau.


Yana dan Linda juga melanjutkan perjalanannya, karena suara klakson dari belakang saling bersahutan.


"Sombong sekali dia, Ma." Ucap Yana.


"Jangan dipikirkan, lagian dia cuma mantan istri Yudis. Tujuan kita sekarang membuat Yudis berpisah dari Nora sekretarisnya itu," ujar Linda.

__ADS_1


"Iya, Ma. Apa 'sih yang dilihat Yudis dari Nora?" tanya Yana.


"Entahlah, Mama pun tak tahu. Stella pun sepertinya sudah menyerah mengejar Yudis," keluh Linda.


*


"Kenapa kamu tidak membalas mereka?" tanya Arvan yang masih di atas motor berjalan.


"Untuk apa, Mas?"


"Ucapan mereka sudah kelewatan batas," ujar Arvan.


"Mas, biarkan mereka. Aku malas berdebat, hanya buat malu saja." Tutur Sabrina.


"Kamu kok baik banget," ucap Arvan.


"Karena aku sehat, Mas." Sahut Sabrina walau tak nyambung.


"Kamu lucu juga," ucap Arvan.


"Jangan ajak ku mengobrol, Mas. Nanti aku terlambat," ujar Sabrina.


"Maaf, Nona. Baiklah, kita akan ngebut. Pegang yang kuat," Arvan mengendarai motornya melaju dengan kencang.


Sabrina yang mulai ketakutan, memukul bahu Arvan.


"Mas, pelan!" teriaknya.


Arvan pun mengurangi kecepatan. Dia tertawa melihat Sabrina yang ketakutan.


"Malah tertawa, kamu mau batal melamar?" tanya Sabrina ketus.


Arvan menghentikan motornya. "Apa tadi kamu bilang?"


"Bilang apa?" Sabrina pura-pura lupa.


"Kamu bilang soal lamaran," ucap Arvan.


"Jadi aku diterima?" tanya Arvan dengan wajah bahagia.


"Iya, Mas."


"Nanti malam kami ke rumah kamu," ucap Arvan.


"Kenapa secepat itu? Ibu pasti kewalahan menyiapkan hidangan untuk kalian," ujar Sabrina.


"Kalau begitu, besok malam saja."


"Ya, besok malam saja!"


*


*


*


"Apa Bapak tidak lapar? Ini sudah waktunya jam makan siang," ucap Nora.


"Saya belum lapar, kamu kalau mau makan. Silahkan!"


"Apa perlu saya belikan makanan?" tawar Nora.


"Tidak usah," tolak Yudis.


Nora pun meninggalkan atasannya itu di dalam ruangannya, dia pun pergi ke kantin kantor menikmati makan siang bersama karyawan yang lain.


"Mana atasanmu yang duda keren itu?" tanya Lina, teman Nora.


"Masih sibuk di ruangannya," jawabnya.


"Sepertinya kalian cocok," celetuk Noni.


Nora tertawa lalu berkata,"Mamanya galak!"

__ADS_1


"Kalian sudah bertemu?" tanya Lina.


"Sudah, hari Sabtu kemarin aku dan Pak Yudis ke rumahnya yang ada di kota B," jawab Nora.


"Wah, udah serius aja nih." Sahut Noni.


"Dia menyuruhku berpura-pura sebagai kekasihnya," ujar Nora.


"Kenapa harus pura-pura?" tanya Noni.


"Karena Pak Yudis tak mau dijodohkan, apalagi dia masih mencintai mantan istrinya." Jelas Nora.


"Mereka bercerai karena apa?" Lina penasaran.


"Karena Mama Pak Yudis," jawab Nora.


"Kalau aku punya mertua begitu juga tak tahan," ujar Noni.


"Itulah, begitu juga dengan aku." Ucap Nora.


"Semoga saja aku mendapatkan mertua yang baik hati," harap Lina.


"Aku juga," sahut Noni.


"Sama, aku juga." Nora mengusap kedua telapak tangannya di wajahnya.


Lagi menikmati makan siang dengan temannya,


ponsel Nora berbunyi.


"Halo, Pak!" ucapnya.


"Belikan saya makanan dan antar sekarang!" perintah Yudis lalu menutup panggilannya.


"Huft..!"


"Siapa?" tanya Lina.


"Biasa atasan, minta dibelikan makanan." Jawab Nora.


"Sudah sana cepat kau bawakan dia makanan, bisa pingsan kalau kelamaan," ucap Noni.


"Baru juga makan separuh," keluh Nora. Ia pun memesan nasi soto dan perkedel untuk Yudis sambil menunggu ia memakan sisa nasinya yang belum habis dengan terburu-buru.


Selesai makan, Nora melangkah cepat menuju ruangan Yudis. Dia membawa piring berisi nasi dan perkedel serta mangkok dengan isi kuah soto dengan suwiran ayam.


"Bapak bilang tidak mau makan, saya jadi terburu-buru makan siangnya," protes Nora.


"Siapa bilang tidak mau makan? Saya hanya belum lapar saja," ujar Yudis.


"Ya, Pak. Saya salah," ucap Nora. "Kalau begitu saya izin kembali bekerja," lanjutnya.


"Kamu temani saya makan," pinta Yudis.


"Baiklah, Pak." Jawab Nora malas.


Wanita itu pun menunggu Yudis makan, ia juga menyediakan air putih di meja kerja atasannya.


"Mama saya ingin bertemu denganmu lagi," ucap Yudis membuka obrolan percakapan yang sempat berhenti karena ia lagi makan.


"Hah, untuk apa?"


"Dia ingin bertanya sesuatu padamu," jawabnya.


"Tapi saya harus jawab apa?" Nora mulai bingung.


"Saya akan membantu kamu untuk menjawab pertanyaan dari Mama," jawabnya.


"Kalau kita ketahuan hanya pura-pura, bagaimana?" Ia juga mulai khawatir.


"Kamu tenang saja, tidak akan ketahuan. Jika terjadi 'ya kita harus menikah," ucap Yudis santai.


"Tidak, Pak. Saya menolak anda!" ujar Nora dengan wajah kesal.

__ADS_1


__ADS_2