
"Mama, Papa, kalian di sini?" Yudis terkejut yang baru pulang kerja, keluarganya datang tiba-tiba tanpa sepengetahuannya.
"Apa kabar ,Tante dan Om?" tanya Theo menyalim tangan kedua orang tuanya Yudis diikuti Miko. Lalu mereka berdua masuk ke dalam kamar.
"Mama merengek minta ke sini mau jumpa Kakak," sahut Rio.
Linda mendelikkan matanya pada putra bungsunya.
"Hai, keponakan paman! Apa kabar cantik?" sapa Yudis pada Clara.
"Baik, Paman!" ucapnya.
"Kalian kenapa tidak memberi tahu aku jika mau ke sini?" tanya Yudis.
"Kata Mama mau kasih surprise sama kamu," jawab Yana.
"Kamar di sini cuma dua, satu untuk Miko dan Theo dan satu lagi punyaku," ucap Yudis.
"Kami akan menginap di hotel," ucap Hendi.
"Memangnya Papa ada uang untuk menginap di hotel?" tanya Linda.
"Uang Mama dong, tapi kamu yang ngajak kami ke sini." Jawab Hendi.
"Tidak mau, nanti habis uangnya. Mama tak bisa belanja," ujar Linda.
"Kamu harus tanggung jawab. Bagaimana kalau kita balik pulang?" ucap Hendi.
"Yudis minta uang, kami mau menginap." Pintanya pada putranya.
"Tak ada, Ma. Habis bayar utang, lagian juga Yudis di sini butuh banyak biaya. Kalau pun ada harus nunggu 3 pekan lagi gajian," jelas Yudis berbohong.
Linda memanyunkan bibirnya. "Baiklah, Mama yang akan menanggung biaya hotel!"
"Begitu dong, Ma!" ucap Rio tersenyum sembari melirik Papa Hendi.
"Kalau begitu, kami langsung ke hotel saja!" ucap Papa Hendi.
"Sebentar Yudis mau mandi dan ikut mencari hotel," ucapnya.
"Rio sering ke kota ini, tidak mungkin dia nyasar," celetuk Mama Linda.
"Aku ingin menemani kalian selama di sini," ucap Yudis.
"Ya sudah, sana. Cepat mandinya," ujar Linda.
*
"Cari hotel yang paling murah," ucap Linda.
"Mana ada, Ma. Apalagi yang dekat dengan tempat tinggal Mas Yudis," ujar Rio.
"Lagian juga Mama, anaknya cuma sebulan di sini tapi ngeyel mau kemari," celetuk Papa Hendi.
"Mama ingin jalan-jalan juga. Selama ini Papa tidak pernah mau diajak jalan," ucap Mama Linda.
"Bawa Mama jalan-jalan buat kantong Papa menipis," ujar Hendi.
"Jadi tidak ikhlas bahagiakan istri?" Linda mulai menyindir.
"Ikhlas, Ma." Jawab Hendi.
"Coba kita ke sana!" Rio menunjuk sebuah bangunan.
"Tempatnya tidak mahal, kan?" tanya Mama Linda.
"Paling cuma habis sepuluh juta untuk dua malam," jawab Rio.
__ADS_1
"Apa!" Linda terkejut.
"Mama tidak mau di situ!" Linda menolak.
"Kalau begitu kita balik pulang ke rumah saja, Rio!" ucap Hendi.
"Iya, kita menginap di sini saja!" ucap Linda saat sampai di parkiran hotel.
Mereka pun memesan dua kamar untuk dua malam.
"Sepertinya besok tidak bisa menemani kalian keliling kota ini, aku harus kerja." Ucap Yudis.
"Tidak apa-apa, Nak. Kamu baik-baik saja di sini sudah jadi kebahagiaan buat kami," ucap Hendi.
"Sudah malam, aku harus kembali pulang." Ucap Yudis lagi.
"Iya, Nak! Kamu naik apa pulang?" tanya Hendi.
"Ojek online aja, Pa." Jawab Yudis.
Dia pun memesan ojek melalui aplikasi, tak lama menunggu ojek yang dipesan datang.
"Aku pamit pulang semuanya," ucap Yudis.
"Iya, Nak. Hati-hati," ucap Linda.
"Sampai jumpa besok, Paman!" ucap Clara.
"Iya, keponakan Paman yang paling cantik!" puji Yudis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Papa, Mama mau belanja baju kebetulan toko yang kemarin ada diskon dan promo," ujar Linda pada suaminya.
"Pakaian Mama sudah banyak di rumah, ngapain beli lagi," protes Hendi.
"Kak Sabrina pernah bekerja di toko itu, masa Papa tidak tahu," sahut Rio.
"Ini bukan di kota kita, mana mungkin dia bekerja di situ juga. Tapi kenapa kita bahas itu mantan menantu," ujar Linda tak suka.
"Ya sudah kita ke sana!" ucap Hendi.
Mereka pun akhirnya pergi ke toko pakaian yang tidak jauh dari tempat mereka menginap.
"Ternyata besar juga tokonya," ucap Yana.
"Cepat kamu pilih, biar Paman Rio yang bayarin," ucapnya pada Clara.
"Benarkan, Paman?" tanya Clara lagi.
"Iya," jawab Rio.
Clara pun mencari pakaian bersama mamanya beserta dengan neneknya.
Mata bocah perempuan itu tertuju pada seorang wanita dewasa yang sedang berdiri dan berbicara pada seorang karyawan. Dia pun mendekatinya.
Clara menarik-narik ujung kemeja yang dikenakan wanita itu.
"Tante!" ucapnya.
Wanita itu menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Clara!" ucapnya terkejut. "Kamu dengan siapa di sini?" tanya Sabrina.
"Aku dengan Mama, Nenek, Kakek dan Paman Rio," jelasnya.
"Kamu bisa kembali kerja lagi," ucap Sabrina pada karyawannya. Lalu ia kembali bicara pada Clara,"Mereka di mana?"
__ADS_1
"Di sana!" tunjuk Clara.
Sabrina menarik nafas dalam-dalam untuk menghadapi mantan mertuanya, ia menggenggam tangan Clara dan membawanya kepada Yana. Bocah itu melepaskan genggamannya dan berlari menghampiri nenek dan mamanya.
"Mama!" panggil Clara pada ibunya.
"Clara, ke mana saja?" tanya Yana khawatir.
"Clara dengan Tante Sabrina," ucapnya.
Yana dan Linda mengikuti jari telunjuk Clara.
"Sabrina!" ucap Linda terkejut.
Wanita itu hanya membalas dengan tersenyum.
"Lihatlah, Ma. Dia lebih cantik, sepertinya jabatan dia cukup bagus di sini," bisik Yana di telinga Linda.
"Kamu kerja di sini?" tanya Linda ketus.
"Iya, Tante."
"Sebagai apa?" tanya Linda yang penasaran dengan jabatan menantunya itu.
"Manajer," jawab Sabrina.
Yana menutup mulutnya tidak percaya lalu dia berbisik lagi kepada Mama Linda,"Sekarang dia tambah cantik dan kaya, Ma."
"Pria mana yang berhasil kau goda?" tanya Linda.
"Astaghfirullah, Tante." Jawab Sabrina.
"Tidak mungkin, secepat itu kau punya jabatan setinggi ini," ucap Linda.
"Kenapa tidak bisa, Tante?" tanya Sabrina menantang.
"Lihatlah, kau lulusan apa?" tanya Linda. "Oh, jangan-jangan atasanmu itu yang menjadi selingkuhanmu makanya bisa seperti ini," ucapnya lagi.
Sabrina mengepal tangannya, rasanya ia ingin menampar mulut wanita tua yang didepannya itu. Tapi ia sadar, tak mungkin membuat malu di depan umum.
"Hebat juga peletmu setelah berhasil menggaet adikku pindah ke pria yang lebih kaya," sambung Yana.
Beberapa karyawan melihat perdebatan mereka dan saling berbisik.
"Ternyata, Bu Suci janda."
"Apa selama ini Pak Arvan dan Bu Suci berselingkuh?"
Begitulah beberapa suara-suara angin yang terdengar. Sabrina mencoba bersabar.
Hendi melihat istrinya dan putrinya berbicara dengan seorang wanita segera memanggil Rio.
"Ada apa, Pa?" tanya Rio saat menghampiri Hendi.
"Mama kamu lagi berdebat dengan siapa?"
"Mana Rio tahu," jawabnya.
"Ayo, kita ke sana!"
Mereka berdua pun mendekati Linda dan Yana.
"Mama, ada apa?" tanya Hendi.
"Kak Sabrina!" ucap Rio.
"Lihat, Pa. Mantan menantu kita di sini," ucap Linda.
__ADS_1