Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 55


__ADS_3

"Karin, kita bisa bicarakan ini. Jangan ambil keputusan gegabah!" ucap Michael bersuara lantang.


Karin tetap tidak bicara, ia memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper.


"Karin, apa kamu tidak kasihan dengan anak kita?" tanya Michael mengikuti langkah Karin yang sudah keluar kamar menarik kopernya. "Kara masih butuh kamu sebagai seorang ibu," ucap Michael mulai tersulut emosi.


"Aku sudah mengajukan gugatan pisah kita, ku harap kau hadir di pengadilan nanti," ujar Karin mempercepat langkahnya menaiki mobil.


Michael berusaha berlari mengejar mobil Karin.


Kara yang mendengar kedua orang tuanya bertengkar membuat ia menangis histeris.


Michael mendengar tangisan putrinya berlari menghampirinya, ia mengambil alih gendongan bayi yang belum genap 6 bulan dari tangan pengasuhnya.


"Sayang, jangan menangis. Ada Papa di sini!" Michael memeluk dan berusaha menenangkan putrinya. Ia menciumi rambut dan kening Kara agar ia diam. Tak terasa genangan air di pelupuk mata menetes. "Kita bisa melalui semua ini sama-sama," ia memberikan botol susu formula ke dalam mulut mungil bayi itu.


Setengah jam Michael menggendong Kara hingga ia terlelap tidur dalam gendongannya. Ia merebahkan tubuh mungil ke dalam keranjang bayi.


"Maafin Papa, Nak!" ia mengelus lembut pipi Kara. "Karena Papa, Mama kamu pergi hidup kita," ucapnya lagi.


*


*


Sore harinya, Tissa dan Arya datang ke rumah putranya itu. ia bertanya pada para pelayan rumah. Jika Michael ada di rooftop.


Tissa dan suaminya pun menyusul putranya ke bagian atas rumah.


"Michael, apa yang terjadi?" Tissa melihat puntungan rokok dan minuman kaleng bersoda berserakan di bawah dan atas meja, wajah putranya kusut serta rambut berantakan.


Michael memeluk Tissa, ia menumpahkan tangisannya di pelukan sang mama. Arya hanya duduk melihat putranya memeluk istrinya.


"Ceritakan?" tanya Tissa.


"Karin meninggalkan aku, ia juga sudah mengajukan gugatan pisah," jawab Michael dengan lirih.


"Baguslah," sahut Arya. "Mama dan Papa sudah melarangmu untuk menikah dengannya, tapi kau tetap melanjutkannya. Lihatlah, sekarang. Dia meninggalkan putri kandungnya yang masih bayi. Ibu macam apa dia yang tega berpisah dengan anaknya?" Arya meluapkan isi hatinya yang selama ia tahan.


"Kau ikuti saja maunya. Kami akan membantumu untuk membangun bisnismu lagi." Ujar Tissa.


"Kenapa baru membantuku sekarang?" tanya Michael melepaskan pelukannya.


"Agar kamu tahu, bagaimana Karin. Apa dia menerimamu dalam keadaan susah atau tidak," jawab Tissa.


"Kamu tenang saja, Kara akan bersama kami. Kau fokus dengan persidangan dan bisnis. Seminggu sekali berkunjunglah ke rumah untuk menjenguk putrimu," jelas Arya. "Satu lagi rumah ini harus dijual," titahnya.


"Kenapa harus di jual, Pa?"


"Biar Karin tak bisa menemui kalian lagi," jawab Arya.


"Dengarkan dan turuti apa kata Papamu," ucap Tissa.


Michael menghela nafas dan mengangguk tanda setuju.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yudis baru saja keluar dari minimarket, mobilnya bersebelahan dengan kendaraan milik seorang wanita.


Saat bersama keduanya akan memasuki, mobil masing-masing. Namun, tiba-tiba saja wanita itu menjerit meminta tolong. Tas yang dijinjingnya dirampas pria yang berpura-pura menjadi pembeli yang juga baru keluar dari minimarket.


Yudis yang mendengarnya, ikut membantu mengejar jambret. Pria itu pun berhasil ditangkap, ia menggenggam kerah baju pria itu dibantu para warga memegangnya. Ia segera merampas tas milik wanita yang dipegang penjambret itu.


Wanita itu menghampiri Yudis dan merampas tas miliknya. "Terima kasih," ucapnya ketus. Ia pun pergi meninggalkan kerumunan dan berjalan ke arah mobilnya yang masih terparkir di depan minimarket.


Yudis hanya menatap wanita itu. "Aku seperti mengenalnya," ucapnya membatin.

__ADS_1


Ia pun berlari menuju mobilnya, sambil mengingat wajah wanita yang ia tolong.


"Aku baru ingat," gumam Yudis. "Dia itu pernah ku lihat beberapa kali di toko pakaian milik Arvan di kota M," ucapnya lirih.


"Kenapa aku tadi tidak minta nomor ponselnya?" tanyanya membatin.


*


*


*


"Kamu dari mana? Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Stella pada suaminya, biasanya wanita itu terlihat cuek.


"Aku dari rumah teman," jawab Yudis.


"Mama Linda sakit," ucap Stella.


"Kan ada kamu yang selalu dibanggakannya," sahut Yudis.


"Perjanjian kita tinggal beberapa hari lagi, aku takut memberitahukan perpisahan kita kepadanya," ucap Stella.


"Kalau begitu, tunggu sampai dia sembuh,"ujar Yudis.


"Apa kau tidak bisa membuka hatimu untukku?"


Yudis tersenyum tipis pada istrinya. "Tidak usah terlalu berharap, nanti hanya akan membuatmu sakit."


"Yudis, cobalah sekali lagi!"


"Bukankah kau yang membuat perjanjian?"


"I..iya."


"Yudis..!"


"Aku capek mau tidur," Yudis membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa hari kemudian...


"Stella!" panggil seorang pria saat ia akan memasuki sebuah kafe.


"Siapa kamu?" tanyanya.


"Gunawan."


"Gunawan, temanku waktu SMA?"


"Ya," jawabnya. "Kamu apa kabar?" tanyanya.


"Baik," jawab Stella.


"Boleh kita mengobrol sebentar?"


"Tentu, boleh."


"Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kamu tambah cantik saja," puji Gunawan.


"Terima kasih," Stella tersenyum tipis.


"Apa kamu sudah menikah?"


"Sudah. Kamu?"

__ADS_1


Gunawan tersenyum lalu berucap,"Belum."


"Kamu mau pesan minuman apa?" tawar Stella.


"Sama seperti kamu saja."


"Aku belum menyebutkannya."


"Biar ku tebak, kamu pasti akan memesan es coklat!"


"Hei, kok kamu tahu kesukaanku?"


"Tahu dong. Apa 'sih yang tidak ku ketahui dari kamu Stella Cornelia," ucapnya.


"Kau juga mengingat namaku dengan lengkap," Stella memuji teman sekolahnya itu.


"Selalu ku ingat," ucap Gunawan.


Sambil mengobrol mereka menikmati es coklat dan kentang goreng yang dipesan.


"Hei, kamu lihat apa?" tanya Gunawan mengikuti arah mata Stella. "Kau mengenalnya?" tanyanya.


"Heemm..ya." Jawab Stella. "Oh, ya. Sepertinya akan turun hujan, aku harus pulang."


"Biar aku antar," tawar Gunawan.


"Tidak usah, aku bawa mobil."


"Baiklah. Boleh aku minta nomor telepon kamu?"


"Mana ponselmu?"


Gunawan menyerahkan ponselnya. Stella menekan angka dilayar setelah itu ia kembalikan kepada pemiliknya.


"Aku coba hubungi, ya?" Gunawan menekan nomor yang ditulis Stella pada layar ponselnya.


Ponsel Stella pun bergetar, ia pun melihatnya. "Aku simpan nomor kamu!" ucapnya tersenyum.


"Aku juga. Hati-hati, ya!" Gunawan membalas dengan senyuman.


Stella melaju kendaraannya dengan kecepatan sedang. Air hujan perlahan membasahi jalanan. Ponselnya terus berdering tertera nama 'Mama Linda'.


Ia enggan menjawab panggilan tersebut dan memilih mendiamkannya.


Sesampainya di sana, mertuanya itu sudah menunggu di depan pintu.


"Dari mana kamu? Jam segini baru pulang?" cecar Linda mengikuti langkah menantunya itu.


"Tadi jumpa teman."


"Ini sudah 4 bulan. Bagaimana hasilnya?"


"Masih negatif, Ma."


"Bagaimana 'sih kamu? Masa belum hamil juga, kau sama Sabrina saja!" ucap Linda kecewa.


"Mungkin memang belum dikasih aja!" tutur Stella.


"Atau jangan-jangan kamu tidak subur," tuduh Linda.


"Apa Mama bilang?" tanya Stella meninggikan sedikit suaranya. "Mama bilang aku tidak subur?" tanyanya sekali lagi.


"Iya, kau dan Sabrina tidak bisa memiliki keturunan!"


"Mama mau tahu sebenarnya?"

__ADS_1


__ADS_2