
Pagi ini Karin benar-benar sibuk setelah membuatkan sarapan untuk kedua orang tuanya dan Michael, ia harus memandikan Kara dan memasak makanan pengganti ASI untuk putrinya.
Ia harus membuka ponselnya untuk melihat bagaimana cara masak makanan bayi. Tidak cukup lama, akhirnya makanan buat Kara selesai dibuat.
Karin menyuapkan makanan yang sudah dingin itu ke dalam mulut Kara.
"Karin biar aku yang suapin Kara," ucap Michael.
"Biar aku saja," tolaknya.
"Kamu mandilah, bajumu juga basah!" Ia melihat piyama tidur yang dikenakan Karin.
"Nanti saja, tunggu selesai Kara makan," ucapnya.
"Baiklah, aku menunggu di luar saja!" Michael berjalan keluar rumah, ia duduk di teras sambil memainkan ponselnya.
Karin pun menyuapin Kara, tiba-tiba saja tubuh putrinya memerah ia mulai menggaruk dan rewel.
"Sayang, kamu kenapa?" Karin mulai panik. "Ma, Pa!" panggilnya berteriak. Michael mendengar teriakannya juga menghampirinya.
"Ada apa 'sih Karin?" tanya Rindu.
"Kenapa tubuh Kara merah dan bengkak begini?" cecar Roy juga.
"Karin makanan apa yang kamu beri pada Kara!" bentak Michael, ia meraih tubuh putrinya dan menggendongnya.
"Aku hanya mencampurkan udang di dalam bubur nasinya," jelas Karin dengan wajah takut.
"Apa kamu tidak tahu kalau Kara alergi udang?" Michael menaikkan intonasi suaranya.
Karin menggelengkan kepalanya.
"Oh, pantaslah. Kamu 'kan tidak pernah merawat Kara," celetuk Michael.
"Sudah, jangan berdebat. Kalian bawa Kara ke rumah sakit sekarang," perintah Roy.
Mereka berdua membawa Kara ke rumah sakit terdekat. Mata Karin terus mengeluarkan air, ia merasa bodoh dan tak tahu apa-apa mengenai putrinya.
Kara mulai sedikit tenang ketika Dokter selesai memeriksanya dan memberikan obat pereda alergi.
Karin lega jika Kara tak harus dirawat inap, bintik-bintik kemerahan di kulitnya perlahan hilang.
"Aku harus membawa Kara hari ini pulang," ucap Michael saat perjalanan pulang ke rumah.
"Aku ikut," Karin menawarkan diri.
"Tidak bisa!"
"Aku harus ikut, siapa yang akan memegang Kara selama kau mengemudi!"
"Kemarin kau kenapa bisa?"
"Itu karena aku meminta seorang teman untuk mengemudi," jawab Karin jujur.
"Kau tidak boleh ikut!"
"Michael, kau ingin membahayakan Kara!" Karin mulai kesal.
"Kau juga tadi sudah membahayakan Kara."
"Aku tadi karena tidak tahu!" Karin menundukkan kepalanya bersalah, ia mendekap tubuh mungil dan mendaratkan kecupan berkali-kali di kepalanya.
"Aku tidak bisa membawamu jika pakaianmu begini, rambut acak-acakan, belum mandi," Michael menatap dan mengomentari mantan istrinya itu dari kepala hingga ujung kaki.
__ADS_1
"Aku akan mandi dan mengganti pakaian," ucap Karin.
"Aku kasih waktu 15 menit, untuk kau membersihkan diri!" ujar Michael.
"Kenapa cepat sekali?" protesnya.
"Mau ikut atau tidak?"
"Baiklah, aku mau."
Sesampainya di rumah, Karin keluar dari mobil sambil menggendong Kara.
"Bagaimana kondisi Kara?" Roy meraih tubuh mungil itu.
"Dia baik-baik saja, Pa!" ucap Karin dari jauh
"Syukurlah!" Roy merasa lega.
Karin mempercepat mandinya dan memakai pakaiannya. Sampai ia lupa merias wajahnya.
"Pa, aku mau pergi mengantar pulang Kara." Pamitnya pada Roy. "Sampaikan izinku pada Mama," lanjutnya lagi.
"Iya, kalian hati-hati di jalan!" ucap Roy.
Michael pamitan pada mantan papa mertuanya.
"Pakai sabuk pengaman," Michael mengingatkan Karin saat di dalam mobil.
Kara melambaikan tangannya kepada Roy, dari jendela mobil yang terbuka. Balita itu tergelak mendapatkan balasan lambaian tangan dari kakeknya.
"Kau bukan seperti Karin yang dulu," celetuk Michael.
"Maksudnya?"
Karin melihat kaca yang ada di dalam mobil dan memegang wajahnya. "Jelek 'ya?"
"Biasanya kau berias, itu bisa memakan waktu 1 jam." Jelas Michael.
"Ternyata kau masih mengingat kebiasaan aku," ucap Karin dengan wajah bersemu.
"Hah? Kau tidak usah terlalu percaya diri. Ingat ya, kita dekat begini bukan ingin rujuk denganmu," ucap Michael.
"Iya, ya. Aku akan mundur, yang penting ku bisa bertemu dengan Kara tanpa dihalangi," ungkapnya.
"Aku pegang ucapanmu," ucap Michael. "Oh, ya. Aku tidak bisa mengantarmu balik," ucapnya lagi.
"Tidak apa, aku bisa pulang naik bus."
"Kau yakin naik bus? Tidak menginap di rumah sepupumu?"
"Aku tidak bisa, besok ku harus masuk ke kantor." Jawabnya.
"Oh, begitu!"
Diperjalanan menuju kediaman keluarga Michael, Karin selalu menguap sampai ia harus mengucek matanya agar tidak tertidur karena Kara dalam pangkuannya.
Michael melirik Karin yang berusaha menahan kantuknya.
"Kau mengantuk?"
"Tidak," jawabnya berbohong.
*
__ADS_1
*
"Kara!" Tissa mengambil cucunya dari tangan Karin. "Ngapain lagi kamu ke sini?" tanyanya ketus.
"Dia ke sini untuk mengantar Kara saja, Bu!" sahut Michael.
"Iya, Tante. Karin juga mau balik kok," ucapnya.
"Ya, sudah sana balik!" Tissa berkata tanpa menatap wajahnya, ia hanya fokus memeluk cucunya.
Karin pun pamit pada Michael, Kara dan kedua mantan mertuanya.
"Biar aku antar ke terminal," tawar Michael.
"Tidak, Michael. Ku naik taksi saja, sekali lagi maafkan aku!" Karin berulangkali meminta maaf selama perjalanan pulang dari Kota B ke Kota M.
"Kamu yakin?" Michael tidak sepenuhnya percaya kalau Karin bisa pulang menaiki bus selama ini ia tahu mantan istrinya itu sombong, angkuh dan dari keluarga cukup kaya.
"Hei, kau tidak percaya kalau aku bisa pergi naik bus seorang diri?"
"Aku yakin, kok. Ya, sudah hati-hati." Ucap Michael.
Karin pun menyetop taksi menuju terminal.
"Apa dia sudah pulang?" tanya Tissa.
"Sudah, Ma."
"Paling dia juga ke rumah sepupunya," Tissa tak percaya mantan menantunya pulang naik bus.
"Nanti Michael ke rumah sepupunya, benar dia ke sana atau tidak." Menyakinkan ibunya dan dirinya.
Tiga jam kemudian, Michael mengobati rasa penasaran akan ucapan Karin kalau ia akan kembali ke Kota B menaiki bus. Ia mendatangi rumah sepupunya.
Sesampainya di sana sepupunya mengatakan bahwa Karin tidak ada ke rumahnya.
"Berarti dia benar!" batin Michael.
Michael pun kembali ke rumahnya, rasa penasarannya pun terjawab sudah. Tapi hatinya tiba-tiba menjadi cemas.
"Kenapa aku jadi memikirkan Karin?" gumamnya.
Sore harinya, ia mendapatkan telepon dari Roy bahwa putrinya belum sampai juga. Lima jam yang lalu, Karin mengirimkan pesan lagi di bus.
"Papa sudah menunggunya di terminal di kota ini, sampai bus terakhir dari Kota M," ucapnya. "Ponselnya juga dihubungi tidak aktif," lanjutnya lagi.
"Michael akan mencari Karin di terminal kota ini," pria itu pun mengakhiri panggilan teleponnya.
Michael mengambil kunci mobil dan berjalan dengan cepat menuju pintu keluar rumah.
"Kenapa terburu-buru? Mau ke mana?" pertanyaan Tissa menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahnya.
"Karin belum sampai juga di rumahnya," jawabnya.
"Paling juga ia ke rumah temannya atau kekasihnya," tuduh Tissa.
"Tidak, Bu. Nomor ponselnya tidak aktif, Om Roy juga sudah mencarinya di terminal Kota B, Tante Rindu juga menghubungi teman-teman Karin tapi mereka semua bilang tidak ada bersamanya," jelas Michael.
"Paling juga itu akal-akalan mereka, agar kamu dan Karin bersatu lagi," Tissa tetap tidak percaya.
"Bu, aku tetap harus mencari Karin!" Michael berlari memasuki mobilnya.
"Awas saja kalau Karin berani berbohong," geram Tissa.
__ADS_1