Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 63


__ADS_3

Sesampainya di rumah keluarga Michael, wanita itu menggendong bayi mungil itu ke dalam kamar karena selama diperjalanan dia kembali tertidur.


"Kalian tidak makan dulu!" ucap Tissa yang melihat putranya dan Nora berjalan ke arah parkiran mobil.


"Tidak, Ma. Nanti saja makan di luar," sahut Michael memberikan alasan padahal ia ingin Nora pergi dan Mama Tissa tidak banyak bertanya.


"Iya, Tante. Nora juga lagi buru-buru," ujar Nora berbohong.


Dengan langkah cepat Michael kembali ke mobil, wanita itu juga menyusulnya.


"Cepat dikit!"


"Iya, sabar!"


Mobil pun keluar dari halaman rumah orang tua Michael. "Maaf, aku tidak ingin kamu berlama-lama di rumahku!"


"Iya, aku tahu. Kamu tak ingin Tante Tissa membahas perjodohan kita," ucap Nora.


"Kenapa kau bisa menebak jalan pikiranku?"


"Karena jalan pikiranmu lewat depan rumahku," jawabnya bercanda.


Michael tergelak mendengar jawaban Nora. "Kamu lucu sekali!"


"Kara lebih lucu dan menggemaskan!"


"Kau suka banget 'ya dengan anak-anak?"


"Suka banget. Mereka lucu dan bikin hati senang," jawab Nora.


"Kenapa sekarang kau belum menikah?"


"Aku belum menemukan jodoh saja," jawabnya singkat.


"Bagaimana kalau kita makan?" tawar Michael. Dia ingin tahu seperti apa wanita yang ingin dijodohkan orang tuanya.


"Boleh."


Mereka pun singgah di warung pinggir jalan. Mantan istrinya dulu tidak suka kalau diajak makan seperti ini.


"Di sini enak loh, makanannya," puji Nora.


"Kau sering ke sini?"


"Baru dua kali karena terlalu jauh dari rumah," jawabnya.


Michael memesankan dua porsi bebek goreng dan nasi. Karena terlalu ramai, jadi cukup lama menunggunya.


Sambil menunggu mereka bermain ponsel, sesekali ia melirik Nora. "Cantik juga dia," batinnya berucap.


Pesanan yang Michael pesan pun tiba. Nora begitu antusias memakannya. Hingga sambal belepotan disekitar bibirnya.


Tanpa sadar Michael mengambil tisu dan mengelap sambal dari bibir. "Maaf!"


Nora tersenyum kikuk saat tangan Michael menyentuh bibirnya dengan tisu.


"Kau makan seperti anak kecil!"


Nora memaksakan tersenyum. "Abisnya enak!" alasan itu yang ia ucap untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Michael berdiri, berjalan menuju meja kasir dan memesan seporsi nasi bebek goreng lagi.


Lalu ia kembali lagi duduk, melihat Nora yang belum selesai menikmati makanannya. Sambil menunggu wanita itu makan dan pesanannya datang Michael memilih bermain ponsel.

__ADS_1


Tak sampai lama, pesanan Michael datang. "Ini Pak, pesanannya!" seorang pegawai warung menyodorkan satu plastik berisi makanan.


"Oh, ya. Makasih!" ucap Michael tersenyum.


"Kau mau makan lagi di rumah?" tanya Nora.


"Tidak. Ini untuk ibumu!" jawab Michael menyerahkan plastik tersebut.


"Terima kasih," ucap Nora.


"Ya."


Mereka berdua pun keluar menuju parkiran, saat mobil meninggalkan warung sebuah kendaraan lain mengikutinya.


Mobil yang mengikuti mereka, menyalipnya hingga membuat Michael mengerem mendadak.


Seorang wanita turun dari mobilnya menghampiri Michael yang masih berada di dalam. "Karin!" ia pun keluar dari kendaraannya.


"Michael, aku mencarimu ke mana-mana. Ternyata kamu di kota ini," ucap Karin ingin memeluk namu tangan Michael menolaknya.


"Karin, kita bukan suami istri lagi. Pergilah dari kehidupanku!" ucap Michael.


"Aku merindukan kalian terutama Kara," ujar Karin.


"Jika kau ingin bertemu dengan Kara, ikut aku ke rumah orang tuaku!" ajak Michael, ia kembali masuk ke dalam mobil.


Begitu juga dengan Karin yang kembali masuk ke dalam mobilnya menuju rumah mantan mertuanya.


"Kita kembali lagi ke rumah orang tuaku, ya." Ujar Michael pada Nora.


"Aku bisa naik ojek saja!" tolak Nora.


"Tidak, kau harus ikut bersamaku!" ucap Michael tegas.


Nora pun mengiyakan.


Karin terkejut Michael satu mobil bersama seorang wanita. "Kau bersama dia?" tunjuknya.


"Iya, kenapa?" tanyanya dingin.


"Michael, bukankah dirimu masih mencintaiku?"


"Itu dulu, sekarang tidak!" jawabnya dingin. "Kau mau bertemu dengan Kara atau tidak?"


"Iya, aku mau." Karin mengikuti langkah mantan suaminya.


"Kalian kenapa balik lagi?" tanya Tissa.


"Ma, ada yang ingin bertemu dengan Kara," ucap Michael.


"Siapa?" tanya Tissa lagi.


Michael meminggirkan tubuhnya hingga Tissa bisa melihat mantan menantunya.


"Dia!" Tissa terkejut mantan menantunya datang.


"Mama!" Karin memeluk kaki Tissa. "Maafkan aku!" ucapnya menangis.


"Eh, apa-apaan ini." Tissa membantu Karin berdiri.


"Maafkan aku, Ma!" ucap Karin.


"Aku bukan Mama mertuamu lagi!" ujar Tissa ketus.

__ADS_1


"Maaf!" ucapnya lirih.


"Dia ingin bertemu dengan Kara," ucap Michael.


"Kau boleh melihatnya tapi tidak memilikinya," ujar Tissa.


"Tante, Kara putriku!"


"Kemarin kau ke mana saja?" tanya Tissa.


Karin tertunduk dan diam. Tissa pun memanggil pengasuh untuk membawa Kara bertemu dengan ibu kandungnya.


Balita itu tersenyum kala melihat Nora, pengasuh memberikannya kepada Karin namun Kara menangis. Arah pandangannya tertuju pada wanita yang ada disamping papanya.


"Kara, ini Mama!" ucap Karin lirih, air matanya menetes.


Tangisan Kara semakin menjadi, saat Karin berusaha mendekap tubuh putrinya.


"Lihatlah, dia sudah tidak mengenalmu lagi!" celetuk Tissa. Ia mengambil Kara dari gendongan mantan menantunya. Lalu ia menyerahkannya kepada Nora.


Kara tampak diam dan tenang saat Nora menggendongnya.


"Lihatlah, Kara lebih memilih yang mana?" tanya Tissa pada semuanya.


"Ma, izinkan Kara bersamaku!" pinta Karin.


"Tidak!" tolak Michael tegas.


Nora menjauhi Kara dari ketiga orang dewasa yang sedang beradu mulut.


"Dia putriku!" ucap Karin bersikeras.


"Bukankah, kau yang tidak menginginkan dia!" Michael menaiki nada suaranya.


"Aku mengaku salah, ku ingin menebus kesalahanku!" ucap Karin terisak.


"Kami tidak akan mengizinkan kamu membawa Kara," ujar Tissa. "Kau boleh kapan saja ke sini untuk menemuinya," lanjutnya lagi.


"Jika berani membawa kabur Kara, aku tidak segan melaporkanmu!" ancam Michael.


"Baiklah, aku tidak akan membawa Kara." Tangis Karin mereda.


Tissa pun bernafas lega, ia menyuruh pelayan memanggil Nora untuk membawa kembali menemui ibunya.


Karin pun mencium pipi putrinya, walau ia masih dalam gendongan Nora. "Kau tidak bisa memiliki mereka," bisiknya di telinga wanita itu. Setelah itu ia pamit, dalam hati berucap akan merebut kembali hati mantan suaminya.


Karin pun meninggalkan kediaman mantan mertuanya, Kara tetap tidak menghiraukan kepergian ibunya. Dia malah menangis saat Nora hendak beranjak pergi.


Terpaksa, Nora harus menidurkan kembali bayi perempuan itu.


Michael pun harus menunggu Nora menidurkan putrinya, agar ia bisa mengantar wanita itu pulang.


Hampir sejam Nora berusaha menidurkan Kara, akhirnya balita itu tertidur setelah lelah bermain dan ia bisa kembali pulang.


"Terima kasih, ya. Sudah berada di sisi Kara," ucap Michael.


"Ya, sama-sama."


"Nora!" panggilnya kembali sebelum wanita itu turun dari mobil.


"Ya!"


"Tetaplah menjadi teman buat Kara," pinta Michael.

__ADS_1


"Aku akan menjadi teman yang baik untuknya, kamu tenang saja!" ucapnya tersenyum


"Terima kasih!" Michael tersenyum hangat.


__ADS_2