
"Mas, kalau nanti aku melahirkan tidak selamat. Apa kamu tetap akan mengurus anak kita," ucap Sabrina saat berduaan dengan suaminya di kamar.
"Sayang, kamu bicara apa 'sih?" Arvan tak suka istrinya berkata begitu.
"Mas, aku bertanya seandainya. Karena ini sebuah perjuangan wanita melahirkan," ucap Sabrina.
"Kamu harus selamat!" ucapnya tegas. "Aku selalu mendoakan kalian berdua baik-baik saja dan sehat," lanjutnya lagi. "Jangan berpikir yang aneh-aneh, fokus pada lahiran saja!" Arvan mengingatkan sang istri.
"Apa kamu mencintaiku?"
Arvan tertawa kecil mendengar pertanyaan sang istri.
"Harus berapa kali ku bilang kalau aku mencintaimu Sabrina Suci!"
"Aku cuma memastikan cintamu pudar atau tidak," ucapnya.
"Kamu tahu 'kan perjuanganku mendapatkan dirimu?"
Sabrina mengangguk.
"Aku menunggumu, ku rela kamu menikah dengan pria lain. Walau sekarang kita berjodoh," ucapnya.
"Apa 'sih yang kamu lihat dari aku?"
"Aku juga tidak tahu. Intinya ku mencintaimu kemarin, hari ini dan seterusnya!" jawab Arvan mengecup kening istrinya. "Tidurlah, kamu terlalu banyak bicara hari ini," titahnya.
"Aku mau tidur memeluk kamu!"
"Kamu selalu saja memancingku," ujar Arvan.
"Sudahlah, Mas. Ayo, tidur!" Sabrina kembali pada mood cerewetnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas, ini apa?" Melihat tumpukan barang-barang dibungkus kertas kado warna-warni.
"Untuk kamu dan calon anak kita," jawab Arvan.
"Mas, yang membelinya?"
"Bukan, ini dari teman dan keluarga besar ayah dan ibuku," jawab Arvan.
"Mas, aku belum lahiran. Cepat sekali mereka mengirimkannya," ujar Sabrina.
"Ini karena begitu tidak sabar menanti anak kita," tuturnya. "Nanti bakal ada hadiah lebih banyak dari ini," lanjutnya lagi.
"Wah, kita tak perlu belanja lagi," ungkap Sabrina.
"Iya, biar kamu tak perlu repot-repot harus belanja," ucap Arvan.
*
*
"Stella, ada yang mencarimu!" panggil Mayang.
"Siapa, Ma?"
"Gunawan."
Stella beranjak bangun dari tempat tidurnya dan keluar kamar menemui pria yang selama ini selalu ada mendukungnya.
"Hai," sapa Gunawan kaku.
"Ada apa?" Stella bertanya ramah.
"Hmm, kau tidak ada kegiatan hari ini?"
__ADS_1
"Tidak," jawabnya.
"Aku mau ajak jalan-jalan kamu," Gunawan memberanikan diri mengajak wanita yang telah resmi berpisah dengan mantan suaminya beberapa bulan yang lalu.
"Memangnya kita mau ke mana?"
"Terserah kamu!"
"Kamu yang ngajak, kenapa terserah aku?"
"Iya, aku ingin kamu tersenyum lagi."
"Hah, seandainya Yudis berkata begitu. Senang sekali hati ini," batinnya.
"Stella!"
"Eh, iya. Baiklah, kita nonton saja!"
"Oke, deh. Siap, Stella!"
Mereka berdua pun pergi bersama menonton film di sebuah mall yang cukup besar di Kota B.
Gunawan terlihat canggung berjalan bersama Stella. Karena sejak dulu, ia sudah menyukai wanita itu. Namun, ia harus rela jika wanita yang ia sukai memilih dan menikah dengan anak sahabat orang tuanya.
Stella tiba-tiba berhenti, pandangan matanya tertuju pada seorang pria bersama wanita dengan menggendong balita, disampingnya ada seorang pria tua.
Gunawan mengikuti pandangan mata Stella. "Dia lagi," batinnya.
"Yudis," ucapnya lirih. "Dia dengan siapa?"
"Mana aku tahu, apa perlu kita tanya?" usul Gunawan.
"Tidak!"
"Kenapa? Kamu penasaran, kan?"
"Ayo, kita ke sini mau menonton bukan bertemu dengannya," ucap Stella.
*
*
"Kalian ingin bertemu dengan keluargaku?"
"Iya, papa penasaran dengan keluargamu." Jawab Saskia.
"Baiklah, jika kalian ingin bertemu. Aku mau menelepon Mama," ucap Yudis.
"Silahkan."
Yudis menghubungi Linda untuk menanyakan boleh atau tidaknya bertemu. Wanita itu menolaknya dengan alasan Hendi tidak di rumah dan ia juga sedang berada di luar.
Selesai menelepon, Yudis pun mengatakan apa yang ia bicarakan pada mamanya. "Maaf, mereka lagi tidak berada di rumah. Kalian bisa besok saja lagi menghubungiku!"
"Baiklah, kami besok akan ke rumahmu!" ucap Radit.
"Ayo, Pa. Kita kembali ke hotel," ajak Saskia.
*
Diparkiran Mall, Yudis melihat mobil milik Stella. "Dia di sini," gumamnya. Ia pun memilih masuk ke dalam mobil daripada harus mencari keberadaan mantan istrinya karena memang ia ingin melupakan wanita itu.
Baru saja keluar dari parkiran, lagi-lagi ia berpapasan dengan mobil milik keluarga Arvan. "Itu mobil suami Sabrina!" gumamnya. "Tidak mungkin aku balik lagi, tapi aku benar-benar merindukannya," ucapnya lirih. Yudis segera menggeleng kepalanya untuk tidak membuat malu dirinya sendiri.
*
"Stella, kenapa melamun? Kamu pasti masih memikirkan mantan suamimu itu, kan?" tuduh Gunawan.
__ADS_1
"Eh, tidaklah." Stella cepat membantah tuduhan temannya itu.
"Dari tadi ku lihat wajahmu sedih," ucap Gunawan.
Stella tersenyum. "Aku tidak sedih, cuma ku terlalu bodoh pernah mencintainya."
"Jadi kau menyesal?"
"Bisa dikatakan begitu. Ayo, makan dari tadi kita mengobrol saja!" Stella menyedot jus buah yang ia pesan.
"Stella, boleh aku ngomong sesuatu?" tanya Gunawan.
"Katakanlah," jawabnya sambil menikmati mie goreng kesukaannya.
"Kalau ada pria yang menyukaimu dan melamarmu. Apakah kamu akan menerimanya?"
Stella menghentikan suapannya dan menatap pria yang ada dihadapannya.
"Maaf, kalau pertanyaanku salah," ucap Gunawan menggaruk tengkuknya.
"Ku akan menerimanya dengan senang hati, kalau aku mencintai pria itu," ujar Stella.
"Tipe pria yang kamu sukai seperti apa?"
"Tampan, kaya, sayang sama aku, terus...."
"Terus?" Gunawan tak sabar.
"Setia."
"Sepertinya ada diriku," Gunawan berbicara dengan percaya diri.
Stella tergelak mendengar ucapan temannya itu.
"Hei, apa ada yang salah?"
"Tidak, kau terlalu percaya diri saja," ucapnya tersenyum.
"Aku benaran suka sama kamu, Stella!" Membuat yang disebut namanya terdiam.
"Heemm, jam berapa kita pulang?" Stella melihat jam di tangannya menghilangkan rasa bingung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saskia dan keluarganya berniat akan kembali ke Kota M. Tapi, papanya tetap ingin bertemu dengan orang tua Yudis.
Suaminya pun menghubungi Yudis dan mengatakan keinginannya, pria itu menyetujuinya. Mereka akan datang pada sore hari sepulang dari kantor.
Yudis pun memberi tahu kedua orang tuanya bahwa papa Saskia ingin bertemu.
Sore harinya, Yudis menepati janji. Mereka bertemu di depan hotel tempat menginap keluarga Saskia lalu mereka bersama menuju rumah Hendi dan Linda.
Sesampainya, papa Saskia merasa ragu dan bimbang untuk turun.
"Ayo, Pa! Kita sudah sampai," Saskia mengulurkan tangannya.
"Sepertinya kita pulang saja," ia mulai ragu.
"Kita menunda kepulangan agar Papa tidak penasaran, tapi sesampainya di sini malah seperti ini," Saskia mulai mengomel.
"Sayang, sudah!" Radit menenangkan istrinya.
Papa Saskia pun turun dan masuk ke dalam rumah. Tampak Rio dan Marissa juga menyambut mereka.
Wajah Linda tiba-tiba berubah saat melihat lelaki tua yang ada dibelakang tubuh seorang wanita.
Saskia menggeser tubuhnya hingga papanya bisa melihat kedua orang tuanya Yudis.
__ADS_1
Hendi segera melihat wajah istrinya yang tiba-tiba berubah, begitu juga dengan Papa Saskia.
"Maaf, saya tinggal sebentar ke dapur!" pamit Linda terburu-buru sebelum keluarga Saskia mengenalkan diri.