Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 30


__ADS_3

"Apa, Ma!" ucap Yudis terkejut mendengar kabar dari Linda jika Sabrina akan menikah dengan mantan bosnya.


"Mama berkata benar, Yudis. Kami berdua bertemu dengannya dan calon suaminya," ujar Linda di ujung teleponnya.


Yudis menutup teleponnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Permisi, Pak. Saya mau minta tanda tangan untuk berkas-berkas ini," ucap Nora saat memasuki ruangan Yudis.


"Letakkan saja di situ, nanti saya akan tandatangani," titah Yudis tanpa melihat wajah sekretarisnya itu.


"Bapak, sakit?"


"Tidak."


"Ada masalah?" tanya Nora kembali.


"Tinggalkan saya sendiri," perintah Yudis.


"Baiklah, Pak. Saya permisi," ujar Nora.


"Tunggu, Nora!"


"Ada yang bisa saya bantu, Pak!"


"Nanti malam bisa temani saya," pinta Yudis.


"Temani ke mana, Pak? Saya tidak mau ke tempat yang aneh-aneh," ujar Nora.


"Saya butuh teman ngobrol malam ini," ucap Yudis.


"Cuma teman ngobrol saja 'kan, Pak?" tanya Nora.


"Iya, kamu pikir saya butuh teman untuk di ranjang!" sentak Yudis.


"Saya takut aja, Pak. Secara bapak sudah lama menduda," celetuk Nora.


"Kau pikir saya pria kesepian," protes Yudis.


Nora tertawa kecil. "Maaf, Pak!"


"Sepulang kerja temani saya," pinta Yudis.


"Siap, Pak!"


*


"Biasanya kalau galau, apa yang kamu lakukan?" tanya Yudis sambil menghisap sebatang rokok.


"Kalau saya, biasanya makan, kumpul dengan teman-teman atau keluarga," jawab Nora sembari mengaduk jus alpukat dengan sedotan.


"Hanya itu saja?"


"Iya, Pak. Sebelumnya saya menangis tapi tidak berlarut-larut dan curhat kepada teman atau dengan orang yang dipercaya gitu," jawab Nora.


"Apa saya harus menangis untuk meluapkan kesedihan hati?"


"Kalau mau, silahkan saja. Menangislah, Pak. Walau dipojokkan kamar yang penting hati lega," ujar Nora.


"Apa kau juga sering menangis dipojokkan kamar?" tanya Yudis.


"Sering juga 'sih, Pak."


"Karena apa yang membuatmu menangis?"


"Tidak tentu karena apa, rasanya kalau pengen nangis 'ya tumpahkan saja biar tak jadi beban," jawab Nora.


"Apa wanita sebegitu rapuhnya?"


"Kalau saya rapuh banget, Pak. Dimarahin saja bisa menangis," jawabnya. "Tapi, tidak tahu dengan wanita lainnya. Menurut saya mungkin mereka takkan menampakannya walau lagi sakit hati," ujarnya lagi.


"Apa Sabrina selama denganku sering menangis?" gumamnya.


"Pak, kenapa jadi melamun?"


"Kalau mantan kamu menikah, bagaimana perasaanmu?"


"Sulit diartikan. Bapak bertanya seperti itu, apa mantan istri akan menikah lagi?" tanya Nora penasaran.


"Iya, dia akan menikah."

__ADS_1


"Wah, berarti istri Bapak sudah move on!"


"Itu artinya dia sudah melupakan saya," ucap Yudis.


"Saya tidak tahu, Pak. Melupakan atau tidaknya," sahut Nora.


"Mama selalu menyuruh untuk menikah lagi tapi saya menolaknya," ujar Yudis.


"Kenapa menolak?"


"Saya tidak ingin dijodohkan," jawab Yudis.


"Kalau begitu, Bapak harus cari wanita lain agar tidak dijodohkan," ucap Nora.


"Saya takut Mama akan menolaknya dan membencinya," ujar Yudis.


"Apa Bapak sudah coba lagi?"


"Belum," jawabnya.


"Bapak harus coba memperkenalkannya pada keluarga besar," ujar Nora.


"Benar juga usulnya, bagaimana jika kau yang saya perkenalkan?"


"Uhuuk... Bapak tak salah orang?" Nora menatap curiga atasannya itu.


"Tidak," jawab Yudis santai.


"Tidak mau, Pak. Mama anda nanti akan menghina saya," ujar Nora.


"Mencari wanita lain itu butuh proses dan memakan waktu lagi, Mama pasti selalu mendesak. Solusinya cuma satu, kamu!"


"Apa tidak ada wanita lain?" tanya Nora yang ingin menolak.


"Kriteria yang cocok ada di kamu!"


"Bagaimana 'ya, Pak?" Nora mulai bimbang.


"Cuma kamu yang bisa membantu saya, dua bulan ini saja kita pura-pura. Bagaimana, apa kamu mau?" tanya Yudis.


"Hmm...saya akan pikirkan, Pak."


"Saya akan melunasi cicilan motor kamu," janji Yudis.


"Apa perlu saya melunasinya sekarang?" tantang Yudis.


"Baiklah, Pak. Saya mau," ujar Nora.


"Kalau begitu saya akan melakukan video call dengan Mama," ucap Yudis mengangkat ponselnya.


"Hah, sekarang!" Nora mulai gugup.


"Iya, sekarang!"


Yudis pun menghubungi Mama Linda tak menunggu lama panggilan teleponnya dijawab.


"Halo, Nak!"


"Halo, Ma!"


"Tumben kamu video call?"


"Ma, aku ingin mengenalkan seseorang."


"Seseorang wanita?"


"Iya, calon mantu Mama!"


"Tidak, Yudis. Calon kamu cuma Stella!"


"Aku mencintai dia, Ma." Yudis mengalihkan kamera ponselnya ke arah Nora.


"Mama tidak suka, kamu harus menikah dengan Stella".


"Ma, sudah dulu. Kekasihku merajuk!" Yudis pun memutuskan panggilan tersebut.


"Lihatlah, Pak. Mama anda begitu," ucap Nora.


Yudis menghela nafasnya.

__ADS_1


"Sebenarnya tipe menantu seperti apa yang diinginkan Mama anda?" tanya Nora.


"Cantik, kaya dan keturunan terpandang," jawab Yudis.


"Matre juga Mama anda!" ceplos Nora.


Yudis menyipitkan matanya tak suka.


"Hehehe, maaf!"


"Saya bingung!" Yudis meletakkan kedua tangannya di kedua pipinya.


"Bapak bilang saja kalau saya seperti yang diinginkan oleh Mama anda," usul Nora.


"Ide kamu nanti saya pikirkan lagi, sekarang kita pulang."


Lain halnya dengan Linda, ia merasa kesal dan kecewa setelah mendapatkan telepon dari anaknya.


"Kenapa wajah Mama begitu?" tanya Hendi pada istrinya.


"Yudis memperkenalkan kekasihnya pada Mama," jawab Linda sewot.


Hendi tertawa mendengarnya.


"Papa, kenapa tertawa?" tanyanya tak suka.


"Mama lucu, anaknya mampu melupakan Sabrina malah tidak suka."


"Mama hanya mau Yudis menikah dengan Stella," ucap Linda.


"Yudis tidak mau, mengapa harus dipaksa?"


"Papa tahu siapa yang membuat Yudis seperti sekarang ini?" tanya Linda.


"Tahu, orang tuanya Stella."


"Nah, Papa benar."


"Tapi, Ma. Kalau anaknya tidak mau ngapain dipaksa. Ini pernikahan jangan dimainkan," jelas Hendi menasehati.


"Pa, keluarga Stella itu terpandang. Mereka orang kaya," ucap Linda membanggakan.


"Mama tidak pernah memikirkan perasaan Yudis, dia berhak bahagia dan memilih jalan hidupnya," ujar Hendi.


"Papa tidak pernah memikirkan perasaan Mama, orang tuaku juga dulu begitu. Kita dijodohkan, aku tidak menolaknya. Ketika kerja tiap bulan wajib memberi mereka uang tak peduli diriku di kota orang," ungkap Linda mencurahkan isi hatinya dengan mata berkaca-kaca.


Hendi memeluk istrinya yang matanya mulai berair.


"Jangan limpahkan kesalahan orang tua kita dahulu kepada anak-anak, Ma!" ujar Hendi.


"Rasanya tidak adil, Pa." Linda mengusap air matanya yang menetes.


"Coba maafkan kesalahan mereka yang menurutmu tidak adil," ujar Hendi.


"Mama akan coba, Pa."


"Ini demi kebahagiaan anak-anak kita, jangan sampai mereka mengalami apa yang kita rasakan dahulu," ujar Hendi.


"Iya, Pa."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ada apa Mas Arvan sepagi ini menjemputku?" tanya Sabrina.


"Aku ingin mengajakmu sarapan diluar," jawab Arvan.


"Mas, tapi jam 9 pagi ini aku harus segera sampai di toko," ucap Sabrina.


"Aku sudah bicara dengan Pak Andi, kalau pagi ini kamu sedikit terlambat," ujar Arvan.


"Tidak bisa begitu, Mas. Baru beberapa hari ini, aku kerja. Ku tak mau membuat Pak Andi menganggapku karyawan yang tidak disiplin," jelas Sabrina.


"Jika kamu dimarahi, nanti aku yang bicara," ucap Arvan.


"Benar 'ya, kamu harus tanggung jawab."


"Iya, buruan nanti kamu bisa terlambat kerja kalau kita mengobrol saja." Ajak Arvan.


"Oh, iya. Aku pamit dulu pada Ibu dan Nenek," ujarnya. Begitu juga dengan Arvan berpamitan.

__ADS_1


"Memangnya kita mau sarapan di mana?" tanya Sabrina saat mereka berada di dalam mobil yang melaju.


"Di rumah orang tuaku," jawab Arvan.


__ADS_2