
"Kau mau pulang hari ini juga?" Pertanyaan Alena tidak menghentikan tangan Aldi mengemas pakaiannya.
"Aku di sana cuma semalam," jawabnya.
"Aku boleh ikut?" Alena menawarkan diri.
"Tidak, aku tak mau kedua orang tuaku bertanya tentang hubungan kita."
"Kenapa?"
"Alena, aku ke sini untuk belajar. Ku tak mau mereka khawatir dengan diriku apalagi sampai mengetahui kita menjalin hubungan," jawabnya lagi.
"Kan itu lebih bagus," ucap Alena. "Oh, ya atau jangan-jangan kamu ingin bertemu dengan gadis itu, siapa namanya?"
"Sheila."
"Ya, gadis yang kamu bilang jadi selebgram."
"Ini tak ada hubungannya dengan dia, aku ke sana ingin menjenguk kakakku," Aldi berusaha menjelaskan.
"Kamu malu 'ya memperkenalkan aku?"
"Eh, bukan begitu. Cuma waktunya belum tepat saja," Aldi memegang kedua lengan Alena dan menatapnya. "Kau mau aku antar pulang," tawarnya.
"Tidak, aku naik motor." Alena menyingkirkan tangan Aldi dan keluar kamar kos-kosan kekasihnya.
"Alena!"
Gadis itu tak menghiraukan panggilan Aldi.
"Ah, sudahlah. Aku harus pergi," gumamnya.
*
*
"Aku pikir kau tidak akan datang menjengukku!" Sabrina memeluk adik laki-lakinya itu.
"Aku pasti datang," ujarnya.
"Siapa namanya?" Ia melihat bayi mungil dalam keranjang boks.
"Arion Mahesa." Jawab Arvan.
"Wah, ada temanku berkelahi!" ujar Aldi.
"Enak saja!" protes Sabrina.
Aldi tergelak. "Aku bercanda, Kakak!"
Pintu kamar terbuka. "Kakak, aku sudah membawa..." ucapannya terhenti saat melihat tamu Sabrina.
"Mana!" Sabrina menengadahkan tangannya.
Sheila melewati Aldi yang menatapnya tanpa berkedip. "Ini, Kak!" ia menyodorkan mangkok plastik berisi sop buah.
"Terima kasih," ucap Sabrina tersenyum, ia membuka tutup wadah dan menikmatinya. Arvan masih fokus menatap bayi mungil yang beberapa jam lalu dilahirkan.
"Kakak, aku pamit pulang!"
"Cepat sekali?" Sabrina mendongakkan kepalanya menatap sepupu suaminya.
"Aku harus membuat video," jawabnya berbohong.
"Apa tidak bisa ditunda?" Arvan ikut bertanya.
"Tidak, Kak. Uangnya juga sudah masuk ke rekeningku. Jadi harus ku selesaikan segera," jawabnya.
Sheila pun meninggalkan ruangan istri sepupunya itu. Ia malas berlama-lama bertatapan dengan pria yang membuat hatinya hancur.
Aldi juga pamit keluar sebentar, ia mempercepat langkahnya mengejar gadis yang sempat mengatakan cinta padanya.
Sheila semakin mempercepat langkahnya saat ia diikuti oleh Aldi.
"Tunggu!"
Sheila terus berjalan dan tak menggubris panggilan adik iparnya Arvan. Ia masuk ke dalam lift begitu juga dengan pria itu.
__ADS_1
" Hei," Aldi menarik tangan gadis itu hingga wajahnya membentur dada.
Dengan cepat, Sheila merenggangkan jarak keduanya.
"Kau kenapa?" tanyanya.
"Apa kita pernah kenal?" Sheila menunjukkan wajah sombong dan angkuhnya.
"Sheila!" teriaknya.
"Hei, aku tidak tuli. Jangan berteriak!"
"Kau berubah sehabis kecelakaan kemarin," ucap Aldi.
"Iya, aku harus berubah menjadi gadis yang lebih dewasa, tidak manja dan bisa mandiri," ujarnya tanpa menatap wajah Aldi.
"Aku mengirimkan pesan dan mencoba menghubungimu tapi tak pernah kau membalasnya."
"Sepenting itukah balasan pesan dariku untukmu!" ia berjalan keluar lift.
"Sheila!" panggilnya.
Gadis itu membalikkan tubuhnya dan mendekati pria itu. "Ini rumah sakit dan di luar sana banyak wartawan. Jangan sampai mereka membuat berita yang merugikan aku!" ucapnya pelan dan tegas. Ia pun membalikkan tubuhnya berjalan dengan cepat.
"Dia sungguh aneh!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yudis juga mengetahui berita kehamilan mantan istrinya itu. Ia pun kembali ke Kota M untuk menenangkan diri. Entah kenapa dia selalu ke kota itu, seperti dia memiliki kenangan dengannya.
Linda sempat melarangnya untuk pergi ke kota M. Bukan Nora yang menjadi alasan larangannya melainkan pria yang sempat berkunjung ke rumahnya beberapa minggu yang lalu.
"Ada apa lagi 'sih, Pak?" keluh Nora.
"Kau tahu berita ini?" Yudis menunjukkan ponselnya.
"Oh, itu!"
"Jadi kau tahu?"
"Aku sekarang sulit untuk menggapainya," tuturnya.
Nora tertawa mengejek. "Bapak itu bodoh, sudah tahu milik orang lain tapi masih juga dikejar."
"Aku memang bodoh," ia memasang wajah sedihnya.
"Pak, kejar yang pasti-pasti saja!"
"Tidak bisa, Nora. Mungkin aku terkena sumpahnya," ujarnya lagi.
"Bisa jadi."
Mata Yudis menatap seorang wanita yang ia kenal. "Karin!" gumamnya.
"Karin, ngapain dia di sini?"? Nora melihat orang yang sama.
"Kau mengenalnya?"
"Iya, Pak!"
"Aku mau bicara dengannya," Yudis beranjak berdiri.
"Eh, jangan Pak!"
"Kenapa?"
"Dia akan menghinaku."
Ternyata Karin juga melihat mereka, wanita itu berjalan mendekati keduanya.
"Wow, ternyata kalian berdua saling mengenal?" Karin melipat kedua tangannya diperut.
"Dia mantan sekretaris aku," jawab Yudis.
"Kenapa kalian tidak menikah saja?" usul Karin.
"Maksudnya apa?" Nora mulai tak suka dengan ucapan Karin.
__ADS_1
"Dia ingin aku bekerja sama merusak rumah tangga mantan istrinya dan kamu ingin merebut putriku dan papanya," jawabnya.
"Aku tidak merebut mereka tapi kau sendiri yang memberinya," ujarnya.
Karin tersenyum sinis. "Daripada kalian berdua mengganggu hidupku, mending pergi menjauh dan berbahagia!"ia berlalu meninggalkan keduanya.
Nora kembali menghempaskan tubuhnya di kursi kafe.
"Dia mantan istri dari pria yang ingin dijodohkan denganku."
"Jadi, mantan suaminya mengenal Sabrina juga?"
"Sangat mengenalnya," Nora menekankan kata-katanya.
Alis Yudis mengerut. "Aku tidak mengerti."
"Mantan istri Bapak itu mantan kekasih Michael saat sekolah," Nora menjelaskan. "Michael itu mantan suaminya," lanjutnya lagi.
"Oh, pantas saja dia menolak untuk bekerja sama. Dirinya takut kalau Sabrina kembali pada Michael," tebak Yudis.
Nora tergelak. "Dia takut Michael bersamaku, lagian dia takkan berani menyentuh pria pewaris Star Hotel."
"Aku takkan menyerah merebut Sabrina," ucapnya membara.
"Sudahlah, Pak. Lebih baik mundur, hiduplah dengan tenang," nasehat Nora.
*
*
Yudis masih terus memikirkan ucapan Nora. Ia memandangi langit-langit kamar hotel. "Apa sebaiknya aku mundur?" gumamnya.
Ia bangkit dan duduk, mendekap lututnya. "Aku menyesal pernah membuatnya bersedih," ucapnya lirih.
"Aarrghhhhh..aku menginginkannya untuk menebus kesalahan atau hanya obsesi," pikiran itu terus menari-nari di kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebelum pulang ke kota B, ia memutuskan pergi mengunjungi keluarga Radit. Padahal, Linda melarangnya keras menemui mereka.
Ia sempat bertanya alasannya, tapi mamanya tidak mampu menjelaskannya. Hal itu membuat ia semakin bertanya-tanya.
Sesampainya di sana, ia disambut gembira oleh Arman. Pria itu begitu senang melihat wajah Yudis. Rasanya ia ingin memeluknya.
Arman juga menanyakan kabar Linda dan Hendi. Mereka saling mengobrol hingga tertawa bersama.
"Sepertinya Papa begitu bahagia bertemu Yudis," ucap Radit pada Saskia.
"Iya, Mas. Biasanya Papa jarang sekali tertawa kecuali bersama Aryo," ujar Saskia.
"Aku rasa, Yudis itu Kakakmu!" tebak Radit.
"Kita belum menemukan bukti akurat mengenai keluarga Yudis, orang tuanya begitu tertutup. Papa juga masih menutupi yang sebenarnya dari kita," ucap Saskia.
*
"Yudis, Mamamu apa tidak pernah cerita tentang masa lalunya?"
"Tidak, Om."
"Dia mirip sekali dengan seseorang," ucap Arman.
"Mungkin hanya kebetulan saja, Om."
"Ya, bisa jadi!"
Yudis pun pamit pulang dan kembali ke kota B, tak lupa ia mengungkapkan terima kasih atas jamuan makan siang.
"Aku yakin jika kamu yang ku cari selama ini!" Arman menatap mobil Yudis keluar dari halaman rumahnya.
...----------------...
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan poin.
Selamat Membaca.
__ADS_1