Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 67


__ADS_3

Kepanikan terjadi saat Sabrina menaiki tangga ke lantai atas.


"Sayang, aku "kan sudah memperingatkan kamu. Jangan pernah naik turun tangga," Arvan berbicara dari bawah.


"Mas, aku akan hati-hati!" teriaknya dari atas.


"Kakak, biar aku pegangin!" Sheila sudah berada disampingnya.


"Tidak apa, Sheila. Kata orang naik turun tangga bisa memperlancar kelahiran," ucapnya.


"Sayang, tapi kamu yang begini. Aku yang khawatir," Arvan mulai menunjukkan wajah panik.


"Mas, situ aja!" Sabrina berteriak agar suaminya tak menyusul ke atas.


"Ayo, Kak. Aku bantu turun," Sheila mengulurkan tangannya.


"Biar Kakak sendiri saja," ia memegang pegangan tangga dan melangkah pelan.


Arvan yang dari tadi melihat setiap langkah pijakan kaki sang istri.


"Jangan naik lagi!" Arvan memegang tangan Sabrina.


"Mas, baru juga sekali!" protesnya.


"Kita jalan-jalan keliling komplek," Arvan menarik tangan istrinya berjalan ke luar rumah.


"Kalian mau ke mana?" Dewi melihat putranya mengenggam tangan istrinya pergi tanpa menggunakan kendaraan.


"Cuma jalan-jalan sekitar sini, Bu!" Arvan sedikit berbicara keras karena dari jarak jauh.


"Oh, ya sudah hati-hati!"


"Mas, tanganku sakit!" rengeknya manja.


"Eh, iya. Maaf, sayang!"


"Kamu tumben banget ajak aku jalan-jalan pagi begini," ucap Sabrina.


"Daripada kamu harus naik turun tangga, lebih baik begini," ujarnya.


"Mas, aku lelah!"


"Baru beberapa langkah sudah lelah," ucap Arvan.


Sabrina tersenyum nyengir. "Aku lapar, Mas!"


"Ayo, kita pulang saja!"


"Aku tidak mau pulang," tolaknya.


"Loh, jadi kita mau sarapan di mana?"


"Di sana!" Sabrina menunjuk warung bubur ayam.


"Aku tidak bawa dompet, kita pulang dulu!"


Mereka pun kembali ke rumah mengambil dompet suaminya.


Arvan dan istrinya menaiki mobil menuju penjual bubur ayam.


"Pak, saya pesan dua mangkok," ucap Arvan.


"Maaf, Mas. Sudah habis," jawab penjual ramah.


"Kan, jadi habis. Mas Arvan kelamaan 'sih!" Sabrina mulai merajuk, ia berjalan masuk ke dalam mobil.


Arvan mengejar istrinya ke dalam mobil. "Kita ke tempat lain saja, ya!"


Sabrina bergeming.


Arvan mengarahkan mobilnya mencari penjual bubur ayam hampir setengah jam memutar, namun ia tak menemukannya.


"Mas!"

__ADS_1


"Eh, iya. Biasanya di sini ada, mungkin hari ini tak jualan," Arvan celingak-celinguk mencari sambil menyetir.


"Kita pulang saja, aku tidak lapar lagi!"


"Bagaimana kalau buat saja di rumah?" usulnya.


"Mas yang harus buat!"


"Aku tidak bisa memasak."


"Lihat di ponsel dong, Mas."


"Iya, ya. Aku yang akan memasak spesial untuk kamu," ucap Arvan.


*


"Mas, masih lama?"


"Iya, sebentar lagi!" teriaknya.


"Ada apa 'sih teriak-teriak?" Dewi menghampiri menantunya yang sedang menunggu di meja makan.


"Mas Arvan lama sekali masak bubur ayamnya," ujar Sabrina.


Arvan membawa semangkok bubur ayam buatannya.


"Ini kenapa bawang gorengnya gosong?" protes Sabrina.


"Minyaknya kepanasan," jawab Arvan santai.


"Mana enak, Mas!"


"Coba aja rasain dulu," Arvan mengambil sendok dari tangan istrinya dan menyuapkannya ke mulutnya. "Bagaimana enak, kan?"


"Lumayan 'sih."


"Ibu mau?" tawar Sabrina pada mertuanya.


"Boleh." Jawab Tissa.


"Biar aku saja, kamu duduklah!" Arvan ke dapur mengambilkan seporsi bubur untuk ibunya.


"Makan apa kalian?" Fandi ikut bergabung juga.


"Bubur ayam buatan Mas Arvan," jawab Sabrina.


"Ayah mau juga dong," pintanya.


Arvan membawa dua mangkok bubur untuk ayah dan ibunya.


Mereka bersama menikmati bubur ayam buatan Arvan.


"Mas, perutku kenapa tiba-tiba sakit!" Sabrina memegang perutnya.


Arvan memegang tubuh istrinya agar tak jatuh. "Bu, bagaimana ini?" ia mulai panik.


"Apa kamu akan melahirkan?" tanya Dewi.


"Mas, sakit sekali!" Sabrina mulai menjerit.


Fandi menelepon sopir untuk menyediakan mobil.


*


*


Di ruangan bersalin, Sabrina sesekali mengerang kesakitan. Arvan mengelus perut istrinya.


"Mas, kita pulang saja!" ajak Sabrina.


"Tidak, kalau terjadi apa-apa dengan kamu. Bagaimana?"


"Mas, bosan. Di sini kita sudah tiga jam," jawabnya.

__ADS_1


"Aku akan tetap di sampingmu!"


Sabrina meringis kesakitan.


"Apa yang ku bilang?"


"Mas, ini sakit sekali!" jeritnya mencengkeram bahu suaminya.


"Bagaimana aku bisa memanggil Dokter jika bahuku, kamu pegang?"


Sabrina melepaskan genggamannya. Suaminya itu segera memanggil Dokter.


Beberapa perawat dan dokter bersiap untuk melakukan persalinan. Wajah Sabrina pucat dan berkeringat. Tangan kiri suaminya mengusap lembut rambut dan tangan kanannya menggenggam jemarinya.


Dokter menginstruksikan kepada Sabrina untuk menarik nafas, selama proses persalinan Arvan mulutnya komat-kamit membaca doa.


Tangisan bayi menggema di ruangan bersalin, senyum bahagia terpancar dari wajah sepasang orang tua baru.


Dokter dan perawat bernafas lega, karena ibu selamat dan anak lahir dalam keadaan sehat dan sempurna.


Arvan mengecup kening istrinya berkali-kali.


*


*


Sabrina dan bayinya sudah dipindahkan di ruangan rawat inap, berita kelahirannya tersebar di laman media sosial.


Beberapa wartawan sudah menunggu di pintu rumah sakit. Sheila yang baru datang, menjenguk di cecar berbagai pertanyaan namun ia menolak menjawabnya.


Dewi dan Fandi begitu senang menyambut kehadiran cucu pertama di keluarga besarnya, tampak Mila dan ibunya juga hadir.


"Tante, di luar banyak sekali wartawan!" Sheila membuka kacamata hitamnya.


"Mas, kenapa di luar banyak wartawan? Kita "kan bukan artis," ucap Sabrina.


"Sheila sekarang jadi artis," ujar Arvan.


"Artis apa?" Sabrina benar-benar tidak tahu kalau sekarang sepupunya terkenal.


"Itu tuh yang di aplikasi goyang-goyang," celetuk Dewi.


"Oh, aplikasi yang lagi viral itu," ucap Sabrina.


"Iya, sudah banyak iklannya dia sekarang," tutur Dewi lagi.


"Pantas saja pengikutnya di media gram banyak sampai ratusan ribu, tahunya sudah jadi artis," ungkap Sabrina.


"Baru juga tiga bulan," Sheila malu-malu.


Semua ingin mengendong bayi mungil itu.


*


Berita kelahiran Sabrina terdengar di telinga keluarga besar Yudis dan Karin.


"Apa jadi Arvan cucu pemilik Star Hotel dan Rumah Sakit Kasih ?" Karin tak percaya karena selama ini ia hanya mengenal mantan kekasihnya sebagai pemilik AR fashion.


"Berarti dia lebih kaya dari mantan suamimu," ceplos Rindu.


"Bodohnya diriku, masa selama empat tahun bersamanya aku tak melihat tambang emas di depanku!" ucapnya lirih.


Lain tempat di kediaman keluarga mantan suami Sabrina.


"Wah, Kak Sabrina sudah melahirkan. Ah, semoga saja aku bisa hamil," puji Marissa.


"Sini, Mama mau lihat beritanya." Linda membaca berita online dari ponsel menantunya. "Jadi, selama ini yang dikatakan Stella benar. Sabrina hamil dan anaknya disebut sebagai pewaris Star Hotel di Kota B," ia melihat berita itu dengan tidak percaya.


"Mama, baik-baik saja 'kan?" Marissa mengguncang tubuh Linda yang terpaku.


"Enak sekali sekarang hidup Sabrina," gerutunya.


"Ternyata, Kak Sabrina beruntung 'ya pisah dari Kak Yudis," sahut Rio yang tiba-tiba muncul.

__ADS_1


"Mama beruntung tidak memiliki menantu seperti dia," ucap Linda nyinyir.


"Ternyata ada hikmah dibalik itu semua," sindir Rio.


__ADS_2