MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
BAHAGIA ITU SEDERHANA


__ADS_3

       


     Diana baru saja menyelesaikan sebuah makalah. Hanya tinggal diedit kemudian menggandakan dan langsung dikirim. Menunggu beberapa hari, maka uang akan masuk ke rekeningnya.


      David dari  Blue Stone"s menelponnya kemudian.Tawaran pria itu ternyata bukan cuma basa basi belaka.David tapi juga berani menjanjikan kompensasi yang besar.Bahkan cukup lumayan baginya untuk mempersiapkan masa depan anak-anaknya.Diana tersenyum mempertimbangkan tawaran manis itu.


     Diana memperhatikan sekeliling ruangan ruangan.Walaupun tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil, Diana tidak berpikir untuk pindah ke perumahan yang mampu di kreditnya.Dia merasa aman dan nyaman di sini.Apalagi dengan adanya bu Ida yang tulus membantunya tiap saat.


    Diana berjalan ke pintu samping sambil membawakan sebungkus martabak untuk bu Ida.Dia sudah membayangkan mata wanita tua itu berbinar  dan akan terkekeh bahagia saat menerimanya.Reaksi yang bahagia setiap kali Diana membawa makanan kesukaannya .Diana  juga ikut tersenyum bahagia.Ada kepuasan tersendiri di hatinya saat memberikan sedikit keceriaan di wajah wanita itu..


 "Kita makannya sama-sama ya nak.Ibu gak kuat habisin sendiri.."


 "Iya bu. Kebetulan Diana  ingin coba makan juga sambill ngobrol nyantai  dengan ibu.."


      "Mmh..Pasti enak sekali.."


      "Hee..hee..syukurlah kalau ibu suka "


    Diana kembali memasuki rumah diikuti bu Ida.Hubungan antara pemilik dan penyewa sudah hampir tidak ada di antara mereka. 


     Bu Ida memperhatikan Diana yang sedang menyeduh teh sebagai teman makan martabak. Wajahnya sumringah bahagia. 


 "Anak-anak ulang tahunnya kapan ya nak  ?" Tanya bu Ida kemudian.


    "Oh iya…Syukur ibu ingatkan.Kan tinggal satu bulan lagi.."


    "Selamatan kecil-kecilan aja ya nak."


    "Baik bu.."


    "Ibu sudah siapkan hadiah untuk si kembar.."


    "Jangan repot-repot bu.Kebaikan ibu sudah lebih dari hadiah bagi kami."


     "Eh..kamu ini.Itu lain ceritanya" Protes bu Ida.


    " Ibu cuma mau kasih kenang kenangan buat cucu ibu"


     "Duh ibu..Segitu baiknya pada kami."Diana agak tercekik mengatakannya.


     "Kamu juga sangat baik pada ibu.Kalau bukan karena kebaikanmu, mungkin ibu sudah lama  pergi.."Kata wanita paruh baya itu sendu.


     Wanita itu teringat saat Diana berusaha menyelamatkannya karena pingsan di kamar mandi.Diana juga sangat tulus saat merawatnya.


     Diana tersenyum memandang wanita yang sudah dianggap ibunya itu. Begitupun Bu Ida juga sudah menganggapnya anak.


     Bu Ida adalah pensiunan seorang guru SMA. Suami dan anak satu-satunya sudah meninggal dunia waktu wabah covid melanda dunia.Mereka kalah dalam memerangi virus yang menakutkan itu menyerang tubuh mereka.Sehingga meninggalkan bu Ida menjadi sebatang kara.


      Saat si kembar Savana dan Said masih berusia dua bulan, Diana bersikeras untuk hidup mandiri.Karena dia tidak mau bergantung pada kebaikan Erick dan Agnes. Meskipun Agnes dan Erick sudah menyerahkan satu paviliun mereka untuk ditempati Diana dan anak-anaknya.


     "Untuk apa sih pindah.Kan selama ini baik-baik saja.."Protes Agnes ketika dia mengutarakan niatnya.


      "Aku harus belajar hidup mandiri dari sekarang. Kalian sudah sangat baik selama ini untukku dan anak-anakku."


     "Anakmu masih dua bulan say.."


     "Gak masalah..Kan aku mami mereka.Lagian cuma ngurus mereka. Pekerjaanku sebagai freelancer bisa kulakukan saat mereka tenang atau mereka tidur.."


      "Kamu selalu keras kepala Diana.." Katanya sambil geleng-geleng kepala. Diana cengengesan.


      "Sorry beb..Aku mau cari kontrakan dulu. Bisa titip bayi-bayiku sebentar kan ?"


Pinta Diana dengan rayuannya.

__ADS_1


     Agnes menghela nafas kesal.Akhirnya dia berkata.


     "Kalau memang mau pindah juga.Kamu sebaiknya jangan jauh-jauh amat oke..?"


      "Diana mengacungkan jempolnya.Kemudian berjalan ke pintu sambil mengusap nakal pipi sahabatnya itu.."


     "Duh..Cantiknya bini si Erick.Pantas aja doi jadi bucin gitu sama kamu.."Kelakarnya menggoda.


     "Preet.." Cibir Agnes.


     Diana kemudian berjalan ke box bayi melihat Said dan Savana  lagi tidur.Kebetulan hari minggu, sehingga bisa menitipkan si i kembar sebentar pada sahabatnya itu. Agnes memperhatikan gerak gerik  Diana.Lalu berkata


      "Aku punya kenalan yang pernah jadi guru SMP ku dulu.Beliau ramah orangnya "


       "Lalu..?"


       "Kalau mau cari rumah kontrakan coba kamu kesana dulu deh.Beliau punya paviliun yang sudah lama kosong !"


       Mata Diana membulat begitu mendengar ucapan Agnes.


      "Sungguhkah..? Kamu tahu dari mana..?"


      "Ya tahulah..Kan aku suka mampir ke sana.Karena beliau hidup sebatang kara.."


       "Oh kebenaran..Okelah. Aku langsung cuss ke sana.."


      Hari itu adalah pertemuan pertama kali Diana dan bu Ida. Dia orang yang hampir senasib dipertemukan dalam kondisi yang saling membutuhkan. Sehingga tanpa sadar membangun suatu pondasi ikatan batin yang tak kasat mata. Tiga hari kemudian, Diana sudah menempati paviliun di rumah bu Ida .Bersama si kembar yang semakin hari semakin lucu.


     *****


     Diana  kembali mencomot sepotong martabak ke mulutnya.Lelehan coklat jatuh di dagunya tanpa sengaja.Bu Ida malah tertawa memperhatikan. 


      "Oh ya bu.Diana mendengar ada penghuni baru di komplek ini.."


       "Seumuran siapa ya bu..? Tanya Diana lagi.


       "Orang tuanya sih seumuran ibu, anaknya kayaknya seumuran kamu deh.."


       "Ooo…"


     Mereka kemudian diam sejenak.Diana menyeruput teh nya .Tak lama kemudian, bu Ida berkata lagi.


      "Ini..Rumahnya yang sebelah rumah ibu "


 " Oo ..Ibu udah kenalan ?"


 "Eeh…udah dong " Sahut bu Ida ikut menyeruput teh nya.Rasanya enak sekali makan martabak diiringi teh hangat


 "Oooh.. ya..ya. "


 Mereka kemudian ngobrol hal-hal lain lagi.Dari soal bunga anggrek bu Ida sampai harga cabai yang melonjak dan minyak goreng yang susah di dapat.


Secara 


     Nayla adalah ibu rumah tangga juga , tentu saja topik tentang sembako cukup asyik dibahas.


     Hingga kemudian tanpa mereka sadari seorang wanita berdiri, di pintu masuk ruang tamu tempat tinggal Diana .Karena kebetulan sengaja dibuka supaya sejuk.


 "Permisi bu Ida…"Sapanya wanita itu ceria.


 Dua orang wanita yang beda zaman itu berjengit kaget.Mereka tidak menyangka akan kehadiran seseorang yang tiba-tiba itu.


    Wanita itu berjilbab,tapi berbaju ketat dan celana levisnya agak sempit.Sehingga tonjolan daging tubuhnya kelihatan sana-sini.Apalagi bagian dada yang ukuran cukup wow…

__ADS_1


     Bu Ida sedikit ragu, karena paviliun ini adalah tempat Diana. Namun saat melihat kegelisahan bu Ida, Diana paham. Dia memberi kode sambil menganggukkan kepala. Bu Ida tersenyum lega.


 "Eh…Ayo masuk Sofia .Ini juga ada martabak.."


 "Oh iya maaf bu saya mengagetkan.Cuma mau minta tolong.."


 "Oh ya ?Ada apa ya nak ?"


 "Mau numpang nelpon bu.Pulsa saya habis .Mau pesan go car.." Pintanya agak memelas.


 "Aduuh…kebetulan pulsa ibu juga habis nak.Coba Ibu pinjam punya Diana."


   Diana hanya memperhatikan..Karena belum diajak bicara.Bu Ida menyadari itu.


       Eh ..Kalian belum kenalan ya..?"


      Diana tersenyum ramah. Setelah dari tadi hanya mengikuti pembicaraan mereka, berdiri mengulurkan tangan.Namun Sofia lebih dahulu mengenalkan diri.


      "Sofia.."


      "Diana.."


      "Saya sudah tahu nama mbak.Nama mbak ternyata terkenal di sini.."


 "Oh..iya kah…?"


 "Iya mbak..Kan sebelumnya saya nanya-nanya juga.."


 "Oh.. Gitu ya.." 


     Sofia memperhatikan Diana kemudian menjelajahi seluruh ruangan


     "Kerja di mana mbak ?"


     "Hanya pekerja kecil"


      "Kerja apa an tuh ?" Tanya Sofia mulai kepo.


     "Saya penulis.."


     "Ohh..Saya kira kerja apa an.." Katanya lagi , memberi kesan meremehkan.


  Nayla tersenyum geli melihat tingkah Sofia.Kemudian mengambil hpnya.


Lalu mencari aplikasi Gocar.  


       Namun dia tidak menyadari saat Sofia mendelik kaget demi melihat hp Diana.Keluaran terbaru dari merek bergengsi.Yang harga mungkin tidak terjangkau oleh orang kebanyakan.


     Handphone itu adalah hadiah dari David atas bantuannya dua minggu yang lalu.


  Sofia agak gugup saat Diana kemudian terdengar suara Diana.


 "Jurusannya kemana mbak ?"Tanya wanita itu lembut, tanpa mengalihkan pandangannya.


 "Ngghh….Oh !.Jalan Setia Budi mbak.."Jawab Sopiah gelagapan.Mata wanita itu jelalatan menelusuri sosok Diana dari kepala hingga seluruh badan.


  Diana hampir tidak bisa menahan senyum gelinya.Sementara bu Ida pura-pura meminum tehnya.Untung tidak tersedak.


 "Oke…beres. Tinggal tunggu telpon balik aja " Ucap Diana kemudian.


 Tidak menunggu lama kemudian ada telpon masuk, menanyakan lokasi dan tujuan.Setelah menjelaskan kepada sopir Gocar.Nayla memberi kode pada Sopfah agar bersiap-siap.


     Sopiah yang tadinya nyinyir tiba-tiba agak pendiam.Matanya memandang Diana penuh cemburu.

__ADS_1


     Diana tidak memperdulikan itu.Selama dua tahun lebih di perlakukan tidak baik oleh keluarga mantan suaminya.Membuatnya kebal dengan segala bentuk tingkah laku buruk orang padanya.


__ADS_2