MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
Jaga Mulutmu


__ADS_3

  Senin  Diana  bangun agak cepat dari biasanya.Dia  harus segera menyelesaikan masalah Said di sekolah.Sekali lagi men cek surat  dari sekolah .Yaitu jam sepuluh pagi. Diana tidak ingin terlambat.


 Pukul sembilan teng ! Dia mulai bersiap-siap akan pergi memenuhi undangan ke sekolah putranya.Sementara membatalkan terapinya hari ini.


      Namun jalanan yang macet, membuatnya terpaksa harus sabar.


 Terlambat 5 menit dia langsung ke ruangan kepala sekolah. Di sana sudah ada yang beberapa orang yang hadir. Bapak kepala sekolah,sepasang suami istri, dan masih ada tiga orang guru yang juga ikut hadir.


      Diana menyadari keterlambatannya,langsung menyapa.


 "Selamat siang bapak-bapak, ibu-ibu maaf saya terlambat…" Ujarnya  Diana sambil menganggukan kepala.


     Mereka menyambutnya ramah dan sopan.Kecuali sepasang suami-istri yang sudah  pernah Diana kenal.Kenal bukan karena hubungan baik.Tapi karena mereka adalah orang-orang yang angkuh dan sombong.Yang merasa paling kaya dan paling bermartabat dari semua orang.


       Namun yang paling Diana tahu ,tidak akan berakhir baik kalau berurusan dengan mereka. Apalagi istrinya yang bernama Retha.Adalah wanita pendengki dan merasa paling sempurna. Mereka kebetulan punya rumah yang hanya beda satu gang dengan Diana.


       Tapi dia tetap bersikap tenang. Hingga kemudian salah seorang guru yang Diana ketahui adalah wakil kepala sekolah angkat bicara.


 "Baiklah bapak-bapak dan ibu-ibu, sekarang kita sudah bisa memulai pembicaraan kita.Yaitu mengenai permasalahan anak kita Thomas dari kelas 3A dan Said  dari kelas 2A "


Ibu guru itu ingin melanjutkan kata-katanya namun langsung dipotong ibu  Thomas yang bernama Retha.Sambil mengibaskan tangannya yang bersematkan emas hampir di seluruh jari.Wanita itu sepertinya sengaja ingin mendapat pengakuan akan kedudukannya sebagai orang kaya.


 "Udahlah bu..jangan kepanjangan deh pembukaannya.Langsung saja ke pokok masalah.."


 "Sabar bu…"


 "Udahlah langsung aja.Ini gimana ceritanya sih anak saya sampai di hajar sama anak dia…" Katanya kasar, sambil menunjuk dengan bibirnya ke arah Diana"


 "Kita tanya anak-anak kita dulu bu.Saya minta Thomas yang bicara dulu…!"


 Seorang anak laki-laki bertubuh gempal. Pipi tembem dan kulit berlemak.Sepertinya dia anak yang sangat dimanjakan kedua orang tuanya.


 "Bajingan kecil itu memukulku.Lihatlah bekas tangannya.Bahkan baju baruku sudah robek dan harus dibuang… "Kata anak itu bersemangat.Berbeda sekali dengan sikapnya setelah dihajar Said beberapa hari yang lalu.


      Namun Said hanya memandang dingin.Bibirnya menyeringai .


 "Kau bahkan harus mendapatkan lebih dari itu brengsek…"Jawab Saidl tak mau kalah.


      Diana  tersentak kaget .Tidak menyangka anaknya akan berkata kasar seperti itu.Dia memegang tangan anaknya dan memperingati melalui matanya.


      Tapi anak gempal itu seperti ingin memancing lebih.Bahkan menjadi agresif karena kehadiran orang tuanya.Dia menggasak maju ingin menyerang, untunglah ditahan salah seorang guru.


      "Diam kau..Kau harus mengganti kemeja baruku…."


      "Apa peduliku.Kau berani menghina ibuku lagi , maka akan ku lakukan lagi.Biar ku robek sekalian mulutmu.."


 Suasana semakin panas, Diana  berusaha menenangkan  Said.


     Tapi kedua suami istri di depannya malah masa bodoh .Mereka seperti sengaja membiarkan  Thomas yang tiba-tiba agresif hendak menyerang Said.. Untung cepat ditengahi salah seorang guru.


 "Tolong bersikap sopan Thomas…!" 


Mendengar anaknya dimarahi, Retha langsung bereaksi.


      "Hei..jangan bentak anak saya ya…"


      "Saya hanya ingin dia lebih sopan bu.Bapak dan ibu tolong kendalikan juga anaknya.."


 "Loh kok malah nyalahin kita ?Seharusnya anda menyalahkan dia.Gara gara anaknya hingga membuat anak kami babak belur.."


 "Iya bu..Makanya kita harus bicarakan baik-baik.Sebagai orang tua kita harus lebih bijaksana di depan anak-anak.."


 Retha mendengus sinis.Sikap sok dan arogannya mulai diperlihatkan.


 "Begini ya..Harusnya anak wanita itu lebih tahu diri dengan siapa berurusan.Emang apa sih yang di banggakan dia hingga berani menyerang anak saya.Gak ngaca ya.."


 "Loh bu..omongannya sebaiknya di jaga .Fokus sama masalah anak-anak saja .Jangan melebar ke mana-mana.."Sela seorang guru.


      Tapi Rerha tidak mau diam.


 "Memang benarkan..? Supaya jangan menjadi pembawa sial seperti ibunya.."


Diana yang mendengar itu mulai bereaksi .


 "Apa maksud kamu bicara seperti itu..? Bicaramu mulai ngelantur ke mana-mana nyonya.Seharusnya anda fokus pada masalah yang sebenarnya. Said tidak akan mungkin memukul anakmu kalau dia tidak memprovokasi."


Katanya tajam.Tapi justru di sambut tawa melecehkan.

__ADS_1


 "He..he..Apa omongan anak saya salah.Kamu kan memang sial. Hanya beberapa tahun menikah tapi di usir suami.Kalau tidak sial apa namanya.."


 "Ibu…Tolong sopan bicaranya.Kita di sini bukan untuk adu mulut.Apalagi membongkar-bongkar aib orang Tapi menyelesaikan masalah anak -anak kita..!"


Wakil kepala sekolah memperingatkan dengan keras karena suasana mulai memanas.


 Darah Diana Mulai mendidih.Tapi dia masih berusaha mengendalikan diri.Kemudian membalas dengan tajam.


 "Anda tidak punya tatakrama nyonya.Jangan sok pintar dengan kehidupan orang kalau tidak paham yang sebenarnya.Sekarang saya malah maklum


 dari mana kelakuan anakmu yang bermulut kotor itu berasal…"


 "Hoo…hoo…Siapa yang mengatakan aku tidak paham.Buktinya suami mu menceraikanmu dan mertuamu mengusirmu. Bahkan kemudian mempunyai anak kembar dengan pria lain.Ck…ck..ck..


 "Saya rasa itu bukan urusanmu..Kuperingatkan untuk menjaga sikapmu.Jangan seperti orang tak berpendidikan.."


 "Oh ya…?Kalau saya salah bicara,coba tunjukan siapa ayah anak-anakmu.Jangan -jangan mereka itu anak haram…. "


     "Mulutmu memang sampah ya.." Ujar Diana berusaha mengendalikan dirinya.Beberapa orang guru mencoba meredakan kedua orang itu.


      Namun wanita yang bernama Retha seperti mendapatkan angin untuk semakin menghinanya.


      "Hoo.. hoo…Jangan bilang mulutku sampah kalau kamu sendiri tidak bisa menunjukkan siapa ayah sah Said.Kalau tidak bisa..berarti kamu yang sampah.Atau tidak ingat ya …Saking banyaknya..?"


      "Kau…"  Diana mulai bergerak ingin menampar wanita bermulut tajam itu.Dia harus memberinya pelajaran Karena percuma berdebat kusir dengan idiot.


     Sebuah suara bariton yang bernada rendah, namun memberi pengaruh di ruangan itu.


    "Saya daddy mereka…" 


 Semua orang terdiam seketika.Mereka seperti dihipnotis gelombang suara bariton yang berwibawa. Seperti di komando semuanya kompak melihat ke pintu masuk.Seorang pria gagah dan tampan memandang mereka semua dingin.Tapi sinar matanya melembut saat bertatapan dengan Diana. Seperti yang lain, dia tidak kalah kaget dan terpana.Hanya bedanya, pria itu bukan orang asing baginya.


     "Maafkan keterlambatan saya "Katanya kemudian.


    Berdiri dengan tenang memperhatikan semua yang hadir. .Mata elangnya kemudian mencari.Lalu melangkah dan duduk di kursi panjang samping Diana yang sudah ditempati bersama Said.


      Adnan tanpa beban mengangkat dan memindahkan putranya duduk di pangkuannya.Pandanganya dingin dan berkharisma.Menatap tajam pasangan suami istri yang duduk di depannya.


       Adnan berhasil mematahkan mental mereka.Bahkan wanita yang bermulut tajam itu mulai pucat dan berkeringat dingin. Sikapnya mulai gelisah .Sesekali melihat ke arah suaminya meminta dukungan.Tapi sang suami tak kalah cemas darinya.Sedangkan wakil kepala sekolah dan para guru masih terkesima.Tatapan  mereka seperti orang bermimpi.


 "Are you oke son..?" Tanyanya lembut sembari mengusap kepala anaknya.


 "Daddy…" Panggil Axel lirih.Dia masih tidak percaya.Setelah lama dirindukan, akhirnya daddy datang di hadapannya.


     Seketika perasaan bocah itu menjadi tergoncang.Pancaran matanya mengadu dan meminta perlindungan .Said kembali ke jiwa kanak-kanaknya..Dia yakin bahwa mereka akan aman jika daddynya hadir di sini.Mengingat ucapan orang-orang yang menghina dan merendahkan maminya,    


  Matanya mulai memerah.Perasaan Adnan  seperti diremas seketika.


      "Iya..Daddy disini…" Sahut Gerry.


      "Daddy….." Suara  Said  diikuti isakan.Suasana menjadi haru.


     Adnan membiarkan Said membenamkan wajah di lehernya.Tangannya mengusap-usap lembut punggung putranya.


      Said menangis dan terus menangis meluapkan perasaannya.Salah satu orang guru wanita ikut berkaca-kaca melihat adegan itu. Sementara Diana hanya duduk diam dalam posisi tegang di samping mereka.Terbungkam sekian lama..Demi mendengar tangisan Saud,dia menyadari betapa menderita putranya karena merindukan sang ayah.


     Setelah Said mulai tenang ,pembicaraan kembali dilanjutkan.Dimulai oleh seorang guru yang agak sedikut grogi karena  kehadiran Adnan.


     Namun pria itu seperti menganggap sepi sekitarnya.. Matanya tanpa malu sering menatap  Diana tanpa berkedip. Diana yang duduk di sisinya menjadi jengah.Dia berjuang mati matian agar tidak  grogi dan tetap serius mendengarkan  pembicaraan yang sedang berlangsung.


     Adnan hanya bereaksi kemudian setelah mendengar ayah  Thomas  mulai menyampaikan unek-uneknya.


     "Ehm..Kami bahkan tidak pernah menyentil  Thomas.Apalagi memukul.Bisa kalian bayangkan perasaan kami melihat anak kesayangan kami  pulang dengan darah bercucuran dan baju robek-robek.."


 "Benar sekali..Saya bahkan hampir pingsan seketika itu "Timpal istrinya Retha.Walau matanya agak takut-takut memandang ke arah Adnan yang menatap tajam seperti ingin menerkam.


    Adnan memperhatikan mereka dengan muak. Dia sudah sangat hapal dengan karakter kedua suami istri. Dalam dunia bisnis, seseorang sering berhadapan dengan jenis-jenis seperti mereka.


    Tatapan matanya menilai .Seperti orang menilai kuda untuk dibeli.


 "Apakah anda tahu apa penyebab anak anda jadi seperti itu..?Tanyanya dingin.


Ayah Thomas mendengus.Meskipun rak lebih untuk menyembunyikan kegugupan sendiri.


 "Ya..saya tahu.Tapi itu kan cuma ucapan sepele dari anak kami…"


 "Sepele..?Yang mana yang sepele.Coba ulangi kata-kata itu.."Mata Adnan beralih ke pada Thomas  yang meringkuk di antara orang tuanya.

__ADS_1


 "Sa..sayya.."Tergagap ketakutan.


 "Sebutkan..!" Perintah Adnan


    Thomas semakin ketakutan.Melihat anaknya ketakutan.Ibunya berani angkat bicara.


 "Anda jangan menekan anak kecil tuan..Lihat anak saya menjadi ketakutan..."


     Adnan  tidak peduli,dia merebahkan punggungnya di sandaran kursi .Sambil menahan kepala Saidl di dadanya dia memandang sinis wanita sombong itu.


 "Kalau begitu anda yang harus menyebutkan kata-kata yang diucapkan anak anda kepada Said anak saya.."


 "Sa..saya…?"Tanyanya sambil menunjuk diri sendiri.


 "Ya !!! Bukankah kata-kata itu bersumber dari mulut kotor anda nyonya ?"


 Wanita itu terbungkam.Dan saat pembicaraan itu terjadi, tidak ada yang berani menyela mereka Bahkan kepala sekolah pun hanya memperhatikan.Sekaligus berharap cepat selesai Karena perutnya dari tadi sudah minta jatah diisi.Pria itu bahkan sudah kehabisan permen untuk meredam laparnya.


 "Apakah saya harus menanyakan pada anak saya ?" Cibir Adnan.


 Tatapannya melembut memandang putranya.


 "Kamu mau mengatakan itu my son ?"


Tanyanya kemudian. Said mengangguk.Sambil memperbaiki posisi duduknya dia bercerita 


 "Said sedang berjalan sendiri di lorong.Dia bersama tiga kawan-kawannya membullyku Kemudian menjungkal kakiku.Mereka bilang Said anak haram karena berasal dari ibu yang liar…"


    Diana  menahan sesak di dada.Matanya memerah setelah mendengar ucapan tidak baik yang dialamatkan pada putra kesayangannya.Tanpa dia sadari sebelah tangan Adnan  sudah melingkari bahunya.Disengaja atau tidak ,memijatnya dengan lembut.Dia mulai tenang.


     Namun Sekian detik berjalan, dia mulai sadar dan terkejut. Saat itu posisi mereka menjadi sangat berdekatan satu sama lain.Bahkan bisa  merasakan hembusan nafas  Adnan  di wajahnya .Diana menatapnya tajam memperingati agar menjauhkan tangannya.Adnan malah menatapnya lembut.Sesaat saling bertatapan.Nayla menghindari pandangannya kemudian berusaha tenang. Lalu dengan pelan memindahkan tangan Adnan dari bahunya Kemudian menjaga jarak duduk mereka. 


 Adnan bukannya tidak menyadari reaksi wanita itu.Namun begitu melihat wanita itu sangat dekat dengannya, dia bahkan hampir gila menahan hasratnya Adnan mungkin tahan lagi untuk tidak menyentuh mantan istrinya itu.


      Namun kemudian pria itu seperti diingatkan urusannya di sini.Kedua pasangan suami istri itu menjadi gelagapan.Ketika tatapan tajam seperti mata elang menatap mereka.


     "Jadi sekarang apa mau kalian..? Dua anak kecil bertengkar bisa berbaikan.Kalau soal luka, anak saya juga terluka…"


     "Tapi Thomas lebih menderita dibandingkan anak anda.." Retha masih berusaha untuk menang.


       Namun ketika tatapan Adnan semakin ingin membunuhnya..


      "Bukannya seharusnya begitu..Asal kalian tahu.Aku tidak akan menyalahkan tindakan anakku pada anak kalian.Karena saya juga akan melakukan hal yang sama pada kalian.."


       "Aa..apa..?"


       "Ya..Kenapa..? Mulut sampah yang memfitnah anak dan ibu anak-anak saya, harus saya perkarakan segera.."


       "Ta..tapi…Kan nyatanya memang begitu.." Kata Retha ngotot


       "Nyatanya kepalamu idiot.." Tiba-tiba Diana mengeluarkan bom dari mulutnya.


      "Kau…" Retha menatapnya garang.


Namun Diana sudah kepalang marah.Dia sudah menahan amarahnya dari tadi.


       "Apa..? Anda mau mengelak..? Gak berani tanggung jawab ya..?"


        "Kamu jangan coba-coba menekanku perempuan sial.."


        "Oh ya…Aku akan berani..Sekalian akan menginjak mulutmu itu.."


         "Kau…."


       "Aku akan memperkarakan.Mulutmu harus dipertanggung jawabkan." Tandasnya kemudian .


      Retha masih mencoba menantang untuk menyelamatkan harga dirinya.Walaupun begitu, getaran dalam suara ,tak sanggup menutupi kegelisahan hatinya.Sementara sang suami mulai gelisah.


       "Kamu tak akan berani..Apakah kamu punya pengacara yang sanggup kamu bayar…?"


       "Kita lihat saja nanti..Oh ya…Saya akan minta rekaman cctv dari ruangan ini.Supaya bukti fitnahan dari mulutmu semakin jelas.."


      Kedua suami istri itu semakin gelisah.Pihak sekolah pun menjadi bingung untuk membela siapa.


      Sementara Adnan hanya memperhatikan dalam diam.Walaupun begitu, dalam hatinya berkobar api kemarahan yang tak kalah besar pada dua orang itu.


     Melihat mereka dengan lancang menghina dan memfitnah tanpa berpikir, dia yakin kalau kejadian ini bukanlah satu-satunya yang dialami Diana dan anak-anak mereka. Adnan bersumpah tidak akan tinggal diam.Dia akan memberi pelajaran bagi mereka yang telah mengusik hidup orang-orang tercintanya.

__ADS_1


__ADS_2