MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
SEIRING WAKTU BERLALU


__ADS_3

      Pagi menunjukan pukul 7.10 menit.Diana sedang menstarter motornya untuk berangkat ke kantor.Sementara bu Ida, dan si kembar berdiri di pintu  untuk melepas kepergiannya.


      "Assalamualaikum bu..Diana berangkat dulu ya bu..Tolong titip anak-anak ya.Jangan lupa hubungi Diana kalau ada apa-apa ya."Katanya sambil melambaikan tangan pada tiga orang yang sangat dikasihinya itu.


      Sebenarnya ada yang mengganggu pikirannya saat akan berangkat.Akhir-akhir ini, bu Ida mengeluh nyeri di dada. Meskipun wanita itu mengatakan sudah tidak apa-apa pagi ini.Diana berencana akan membawa bu Ida ke dokter sepulang kantor nanti.Mungkin harus membawa mobil  yang sudah dititipkan parkiran kantor. Karena anak-anak juga harus dibawa.


   Tidak ada yang terlalu berubah setelah  satu bulan keberangkatan Adnan ke Swiss.Dengan berbagai alasan, Diana masih bertahan tinggal di rumah kontrakannya. Walaupun sudah berkali-kali Adnan menghubungi agar segera menempati rumah baru.Karena lebih luas dan layak untuk perkembangan si kembar.Setiap Adnan melakukan video call dia selalu menyuruh hal yang sama.Gingga kadang-kadang berakhir pertengkaran dengan Diana. 


      Hari ini seperti biasa dia berangkat ke kantor Blue Stone. Penutupan buku akhir tahun akan membuat volume kerjanya agak banyak. Namun Diana mencoba untuk tidak mengeluhkan apapun selama suasana kantor kondusif dengannya.


     Seperti biasa pagi ini,dia baru saja membuka lembaran kerja di laptopnya .Mmeriksa hasil pekerjaan kemarin.Lalu segera melanjutkannya.


      Dia kebetulan menoleh ketika melihat ob yang baru melewati mejanya.Ob yang bernama Jo baru satu bulan bekerja. Dia tak ubahnya Diana, juga sibuk dengan tugasnya.


     Pria melangkah menuju ruangan David saat melewati ruangan Diana. Hal itu sudah biasa terjadi di jam -jam kerja sibuk.Mereka tidak perlu berbasa basi dengan yang lain.Hanya perlu melakukan tugas mereka masing-masing.


     Di tangannya Jo berisi sepiring  sarapan dan segelas kopi. Diana isenf menegur 


     "Tidak biasanya bos minta sarapan pagi Jo..?"


     "Iya bu..Soalnya, tadi jam enam pagi pak David sudah masuk kerja.."


      "Oh…gitu ya.Berarti .duluan dari kamu masuk kerjanya bukan..?"


      "Eeh iya bu. .Saya kan masuk jam tujuh teng.."Sahut pemuda itu sopan.


     Entah mengapa, kehadiran Jo selalu mengusik perhatian Diana.Mengapa pemuda kinclong seperti ini bisa jadi ob..? Bukan mengecilkan ob, ob yang lain. Tapi dia terlalu menjolok  Diana berniat suatu saat akan mengajak pemuda itu berbincang-bincang.Ada yang ganjil  terlihat dari pemuda itu.Diana merasakan sesuatu mengusik jiwa keingintahuannya.


     Diana kembali disibukkan dengan laptopnya.Hp yang ditempatkan di meja dekatnya bergetar. Nomor bu Ida tertera di layar.


     "Halo..Ya ada apa bu..?"


     "Nak..Bisa tolong cepat pulang..? Badan ibu kurang sehat.." Jawaban dari seberang.


     "Oke bu…" Jawab Diana tanpa banyak tanya lagi.


    Dia kemudian mematikan komputer, dan mengemas barang-barangnya yang akan dibawa pulang. Kemudian melangkah ke ruangan David meminta izin pulang cepat.


    David bukanlah atasan yang terlalu kaku pada bawahannya.Apalagi sebelum mengajak Diana bekerja di kantornya, dia sudah paham kondisi wanita itu.Baginya, yang penting wanita itu bertanggung jawab menyelesaikan tugas tepat waktu 


     Langkah Diana agak berlari ketika keluar lift. Saat berpapasan dengan Agnes , dia hanya bercakap seperlunya.

__ADS_1


     "Ada hal penting di rumah Dy..?Tanya dia penasaran.


     "Bu Ida mendadak sakit.." Jawabnya Diana tergesa-gesa..


     "Oh…oke..Hati-hati bawa kendaraan ya.."


     "Ya..Makasih . "


     Diana berusaha tenang saat Mengendarai mobil mencoba membelah keramain kota. Walaupun pikirannya mulai cemas dan campur aduk 


    Ketika Diana turun dari mobil, dia berjalan hendak membuka pagar halaman.Seorang pria berdiri di pinggir jalan masuk.Tidak jelas apa maunya.Diana hanya melewati karena merasa tidak nyaman dengan senyum pria itu. Dia tidak yakin pernah bertemu dengannya.


     "Akhir-akhir ini banyak orang-orang aneh.." Katanya dalam hati.


    Dia kembali mengendarai mobil memasuki halaman.Melihat suasana yang agak hening Diana merasa sedikit cemas.Dia berdoa dalam hati, semoga bu Ida dan anak-anak baik-baik saja.Walaupun dia tahu bu Ida dalam kondisi yang mengkhawatirkan.


     Bu Ida dulu pernah dia temukan pingsan di kamar mandi karena menderita serangan stroke mendadak.Bila teringat kejadian itu kembali , membuat Diana cemas dan waspada. Diana bertekad, untuk kali ini dia harus mempunyai baby sitter untuk kedua bocah kembarnya. Terlalu beresiko kalau hanya mengandalkan bu Ida walaupun wanita itu sangat tulus menyayangi si kembar. Tapi dengan kondisi sekarang, tidak mungkin baginya membiarkan bu Ida melarangnya 


      Mereka sudah siap-siap akan berangkat ke dokter ketika melihat sosok Sofia  tiba-tiba datang seperti orang mau perang. Dadanya yang bulat berayun-ayun saat melangkah.Tapi dia bukan orang yang akan memikirkan itu.


      Begitu berada dekat dengan Diana, wanita itu berkacak pinggang hendak melabrak.


     Diana yang sibuk membenahi pintu samping tempat anak-anak duduk di bagian belakang, hanya terheran mendapatkan semprotan panas itu. Dia memastikan pintu terkunci rapat kemudian memandang tajam pada wanita itu.Diana mulai sadar, bahwa Sofia diam-dian  sudah jadi musuhnya secara sepihak.Tapi baginya yang mempunyai kesibukan yang padat, urusan dengan Sofia bukanlah sesuatu yang urgen untuk ditanggapi.


     "Kamu bicara sama siapa..?" Tanya dia dingin, menatap wanita bertubuh padat itu.


     "Ya kamu lah…Kamu janda gatel..!" Makinya lagi.


     Diana mulai merasakan lonjakan emosi dalam darahnya.Namun berusaha tetap tenang.Matanya menatap dingin pada wanita itu.


     "Mulut kam…Gak mikir-mikir kalau bicara ya…?"


     "Kau  kan memang.. .."


     "Diam kamu !!.. Kamu punya bukti. ?" Sambar Diana keras.


     Sofia agak tertegun.Bener juga..Dia tidak punya bukti selain pengakuan dari kekasih yang memutuskan hubungan dengannya. Dia benci sekali dibandingkan dengan janda beranak dua ini.


      Melihat Sofia yang diam, Diana hanya melengos .Kemudian masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin.Sekali lagi dia menoleh pada wanita itu.


      "Carilah bukti dahulu sebelum mencercaku. Kalau kamu tidak punya, maka introspeksi dirimu.Atau akan kulaporkan kau ke kantor polisi atas tuduhan pencemaran nama baik dan fitnah…" Katanya lagi mengatasi suara mesin mobil.Selanjutnya terus melajukan kendaraan itu tanpa menggubris wanita yang sering membuat dia kesal itu.

__ADS_1


      "Bikin emosi saja…"Dengusnya kemudian 


       Bu Ida menatap dari samping dan mengusap punggungnya.


       "Sabar nak ya…sabar..!"


       "Ya bu…Tapi Diana jadi penasaran deh.Atas alasan apa tuduhan dia itu ya..? Kok gak ada angin, gak ada hujan main labrak aja..Kalau bermasalah dengan pasangan, ya selesaikan berdua lah…Kok nyerempet sama orang yang gak tahu apa-apa…"


      Bu Ida menarik nafas berat.Sebenarnya dia sedikit banyak mendengar omongan tetangga tentang Sofia. Wanita itu menangis berteriak teriak karena diputuskan sang pacar.


      Sebenarnya bukan hal yang akan mengusik mereka kalau seandainya pria yang menjadi pacar Sofia itu, ingin menjadikan Diana sebagai wanita idamannya yang lain. Ternyata yang mengirim bunga-bunga ke teras Diana adalah pria itu.Bu Ida biasanya segera menyingkirkan sebelum di ketahui Diana.Dia  tidak mau hal-hal bodoh seperti itu mengganggunya.. Mobil lalu melaju menuju jalan raya.


      Di tempat praktek dokter spesialis jantung, Diana menemani bu Ida untuk diperiksa.Hingga kemudian , ketika bu Ida telah selesai diperiksa dan masih berbaring, Diana sudah duduk menghadapi dokter yang telah memeriksa.


      "Bagaimana keadaan ibu saya dok..?"Tanya  dua kemudian pelan.


       Dokter agak terdiam sejenak.Dia menatap Diana dalam-dalam.


     "Apakah beliau benar-benar ibu anda..?"


     "Saya…Saya dengan beliau sudah lama serumah dan sudah seperti ibu dan anak.."


    Diana menjawab tanpa berpikir.Walaupun penasaran dengan alasan dokter menanyakan itu.


     "Anggota keluarga lain adalah…?"


     "Hanya dia dan anak-anaknya , keluarga saya dokter.." 


     Tiba-tiba bu Ida sudah hadir di antara mereka 


    "Oo.."Jawab dokter tersenyum .Tiba-tiba dia menjadi santai setelah kehadiran bu Ida.


    "Ibu harus bedrest ya ." Katanya kemudian.


     "Ya dokter.."


     Diana ikut tersenyum memandang wanita yang sudah seperti ibu baginya itu.Kebaikan dan kasih sayang sudah dia curahkan untuk Diana dan si kembar .Namun dalam hatinya tidak ada senyuman.Dia bertanya-tanya dalam hati, tentang maksud dari percakapan dengan dokter tadi.


      


     

__ADS_1


__ADS_2