
Suasana mulai memanas. Dua pasang mata wanita, sama menatap satu sama lain.Yang satu sengit tapi yang satunya dingin dan datar. Beberapa kali terdengar dengusan nafas yang keras. Kalau diibaratkan dalam pertandingan gladiator .
Bisa dikatakan Risa adalah banteng yang buas dan ganas, sementara Diana adalah sang gladiator yang dingin dan kejam. Yang pasti keduanya mempunyai nafsu membunuh yang sama besar.
Agnes adalah penonton yang setia menunggu kelanjutannya. Otak reptilnya berpikir liar. Kalau ada kawan di sampingnya tentu tidak akan disia-siakan. Mungkin akan diajak bertaruh .Yang pasti membuat ini lebih menarik.
Tapi tak apalah…Sahabat Diana itu geleng-geleng kepala takzim. Seperti melafalkan kata-kata mantra.Diana sempat mendelik jelek padanya. Seperti menebak isi otak sahabatnya itu. Agnes nyengir kuda. Diana melengos.
Diana tak berkedip menatap wanita di depannya itu.Tidak ada satu kebaikan yang diharapkan dari seorang Risa .Kecuali penampilannya yang cantik tapi beracun
"Aku bahkan tidak tertarik denganmu atau kehidupanmu.Tapi mengapa energi ku bahkan sampai padamu..?" Katanya sambil mencibir.
"Aah…Terlebih dahulu bukankah harus saling menanyakan kabar masing-masing..?" Lanjutnya lagi.
Risa tersenyum meremehkan. Wanita di depannya adalah salah satu penyebab paling kuat, di mana dia tidak pernah merasa dicintai Adnan.
Diana membalas senyum Risa tak kalah sinisnya.
"Baiklah..Apa kabarmu setelah di lepehin ..? Apakah menyenangkan..?" Sindirnya. Risa mulai tersinggung.Tidak mau kalah mulai membalas.
'Cih..Kamu bahkan tidak terlihat baik-baik saja waktu Adnan menendangmu waktu itu.."Balasnya kemudian.
Diana malah tersenyum mendengamya. Dia menatap Risa dengan santai .Bahkan cenderung meremehkan.
'Oh..Benarkah..?Matamu jeli juga ternyata. Aku ingat..Sebagai seorang pelakor, kamu cukup agresif juga waktu itu.Seperti doggy yang meleletkan lidah minta di…..." Kata Diana sambil memainkan dua jarinya sebagai tanda kutip.
"Kau..?!Berani mengatakan aku doggy..?"
Muka Risa mulai gusar. Tapi malah disambut kekehan dari Diana.
"Aku sudah mengatakan bukan..?" Jawab nya acuh tak acuh.
Risa semakin memerah. Sambil mengangkat tas Her**es yang harganya ratusan juta, dia mendengus.."
"Wanita hina..Bahlan harga tasku lebih mahal dari harga dirimu.."
"Terimakasih sudah membandingkanku dengan tas mahal mu.Tapi aku mau tahu .Apakah harga sandalku bisa disandingkan sel***kang mu.." Tantangnya.
Risa menjadi kalap. Tangannya terangkat hendak memukul.
"Kau..brengsek..Kurang ajar..?' Makinya.
Diana semakin bernafsu mengusiknya..
"Sst…Jangan ngamuk dulu..Oh ya apa kabar anak harammu. Sudah bisa diketahui DNA nya, milik siapakah dia..?Hee..hee..bingung ya..? Saking banyaknya..?"
Risa mulai meledak. Rencana semula hendak menghinakan Diana, malah berbalik mempermalukannya. Matanya menatap garang pada Diana.
__ADS_1
"Aku akan buat perhitungan denganmu brengsek.." Makinya kesal.
"Aku tunggu.." Jawab Diana acuh tak acuh.
Di waktu lalu, dia mungkin hanya diam saat diperlakukan seenaknya oleh orang-orang. Namun waktu telah menempanya menjadi sosok yang berani menentang ketidakadilan ats dirinya.
Dia menatap lekat wajah wanita cantik di depannya. Melangkah tenang menghampiri wanita itu. Risa menjadi gelagapan. Ada sedikit kecemasan yang berusaha di tepisnya.
"Kau…Mau apa..?"
Diana tidak menggubris. Bahkan semakin dekat dengannya. Tangannya dilipat di dada, menatap tenang wanita itu.
Dia mencondongkan tubuhnya, kemudian membisikan sesuatu dengan senyum yang lembut.
"Perusahaan pailit bukan..? Percayakah kalau ku peringatkan sesuatu..?"
"Apa maksudmu..?" Risa meradang. Dalam pikirannya, dia terlalu berharga untuk di tekan oleh seorang Diana yang hina. Cuma wanita bodoh yang berhasil disingkirkan pada dua tahun yang lalu.Kemudian merebut Adnan di depan matanya.
Risa tidak pernah merasa bersalah dengan itu. Kalau Diana ingin menyalahkan, salahkan saja dirinya yang terlahir sial. Dia hanya harus memuliki apapun yang dia inginkan.
Diana menyadari sikap Risa. Tapi bagi dia yang sudah melewati berbagai duri penderitaan, penghinaan itu tak ubahnya goresan tipis di kulit arinya.
" Kalau kamu tidak bisa menjaga sikapmu.. Jangan salahkan siapa-siapa kalau dalam hitungan jam perusahaanmu akan ambruk. Hingga kemudian, kamu terpaksa menggadaikan tas mahalmu hanya untuk semangkuk bubur"
Risa menjadi pucat, tak menyangka rahasia perusahaannya diketahui Diana.
Diana terkekeh geli .Pelan namun pasti, dia mulai menghancurkan kesombongan di wajah Risa
"Menurutmu dari mana..?" Ejek Diana tanpa ampun.
Risa semakin benci. Dia mulai terlihat putus asa.Merasakan tali kendali di lehernya. Tapi dia begitu keras kepala untuk mengakui kekalahannya.
"Dasar kampungan.." Umpatnya kemudian.
"Terima kasih orang kota.." Jawab Diana sambil nyengir.
Risa hampir tidak mampu lagi mengendalikan emosinya.Tapj dia tetap harus tetap menampilkan sosok anggun dan berkharisma miliknya.
"Kamu akan membayar untuk ini Diana…" Ucapnya tajam.
Dia tidak lagi menolehkan wajahnya ke arah Diana. Melangkah cepat menjauh dari sana. Dia tidak ingin lebih dipermalukan Diana.
Diana hanya menatap kepergian Risa dengan tenang .Hingga baru bereaksi saat Agnes yang menepuk bahunya.
"Sepertinya , musuh-musuhmu sudah mulai berdatangan. Bersiaplah.
"Mmh..sepertinya begitu..Aku bahkan tidak menyangka Risa datang ke kota ini.."
__ADS_1
Agnes mendelik jijik ke arah perginya Risa.
"Berapa kilo sih wanita itu menaruh silikon di dadanya..? Bahkan penutupnya hampir tidak mampu melindungi.."
Diana tertawa kecil mendengar celotehan Agnes.
"Kenapa ..? Ingin dipermak juga. Sana minta izin dulu sama suamimu. Takutnya setelah dipasang mahal-mahal malah tidak mau menyentuh .Gara-gara barang jadi-jadian di dadamu..?"
"Iih…Gak deh..Semoga tidak pernah. Soalnya udah ngilu duluan.." Agnes bergidik ngeri.
Menoleh kembali kepada Diana, sahabatnya itu pun sedang memandang heran melihat punggung Risa yang semakin jauh.
"Bahkan setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Masih datang mengusikku.." Gumamnya kesal.
Agnes membenarkan ucapan Diana.
"Sepertinya ini tidak akan sebentar" Terangnya kemudian.
"Ya. Kamu benar..Aku harus hati-hati..'
Agnes tidak menanggapi lebih lanjut. Mulai fokus pada niat semula.
"Sebaiknya kita cepat membeli baju itu dan pergi dari sini. "
"Mmh..Kamu benar. Ayolah..! Kita sudah banyak membuang waktu "
Tidak lama kemudian, kedua wanita itu selesai melakukan transaksi jual beli.Tidak hanya baju, Agnes juga ngotot memilihkan sepasang sepatu cantik untuk Diana.
Akhirnya mereka menenteng beberapa tas dengan wajah puas.Kemudian berjalan beriringan menuju pintu keluar. Ternyata hari sudah mulai senja. Beberapa lampu-lampu jalan dan lampu-lampu toko sudah di hidupkan.
Diana tidak membuang waktu lagi Dia bergegas ke tempat parkir yang agak jauh dari lokasinya berbelanja .Tak. berapa lama kemudian melaju pulang.
Agnes kembali ke pelataran toko busana menunggu jemputan.
Dia berjuang mengumpulkan kesabarannya saat mendengar suara yang menyebalkan di belakangnya.
"Cih…Akhirnya pergi juga temanmu yang tak tahu diri itu.."
Melihat Agnes yang low respon, Risa menyangka Agnes adalah sosok yang pendiam dan lemah. Sehingga mengeluarkan kata-kata pedas yang merendahkan.
"Hei..! Kamu tidak tuli kan..?"
__ADS_1