MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
LUKA ITU MASIH MEMBEKAS


__ADS_3

      Diana menatap Adnan tak berkedip.Dia mempunyai kejengkelan yang hampir tak terukur pada pria di depannya.Apalagi  saat melihat tingkah Adnan yang santai tanpa beban.Diana mulai melemparkan bom dari mulutnya.


     "Apa maksudmu dengan ini.."


     Adnan tidak langsung menjawab.Hanya menatap wanita itu lama.Dia menghembuskan nafas kesal.


     "Aku hanya ingin memberikan sesuatu untuk anakku. "


     Diana memutar bola matanya. Lalu mencibir.


     "Anakmu..? Ha !! Kamu yakin sekali mereka anak-anakmu.."


     "Ma..maksudmu..?"


    Diana tertawa mengejek.


     "Haa..haa…"


     "Diana..!!"


     "Apa kamu menyangka, kamu satu-satunya makhluk yang bernama lelaki..?"


     "Diana..!!" Teriaknya gusar.


     "Jangan membentak dekat anakku bodoh.Turunkan mereka.Jangan sampai ada niatmu untuk menculik anak-anakku.."


      'Mereka juga anak-anakku. Mengapa harus repot-repot menculik..?" Balas Adnan.


      Emosinya mulai tersulut. Namun saat melihat mata kedua balita dalam gendongannya, Adnan mematuhi. Si kembar lalu diberikan kepada bu Ida.Kemudian dibawa masuk ke dalam sebuah kamar.


     Adnan mengalihkan pandangannya kembali kepada Diana.Dia sadar tidak akan mudah mendapatkan hati wanita ini kembali. Tapi dia bukanlah orang yang begitu mudah menutup cerita dengan wanita ini.


     "Aku hanya ingin berbuat yang terbaik Diana, untukmu dan anak-anak kita.."


     "Berbuat baik kepalamu. Apa kau kira masih ada kepercayaan untuk brengsek sepertimu..?"


     "Diana..!"


     "Keluar..!!"


     "Diana..Katakanlah apa yang harus kulakukan. Jangan menghukumku begini..!"

__ADS_1


     Kau bilang, jangan menghukumku begini..? Setelah apa yang kamu dan keluargamu lakukan padaku, kamu masih punya muka untuk berkata begitu..?


    "Diana..aku.."


    "Oh..Aku seharusnya tidak mengherankan itu.Orang sepertimu kenapa tidak? Kau bahkan bisa tawar dengan uang.." 


    "Tutup mulut Diana..!!" Teriaknya gusar.Rasa sakit karena malu meremas hatinya.


     "Mengapa..? Apakah itu salah..?"


     "Cukup Diana..cukup..!!" Mohonnya kemudian. Suaranya hampir tercekat di tenggorokan.


      "Kalau kamu sudah merasa cukup, maka menyingkirlah dari hidupku dan anak-anakku.."


       "Diana..Maafkan aku..Beri aku kesempatan.."


       "Untuk apa..? Sebagai tahananmu hingga kamu menemukan wanita kaya yang mampu menggelontorkan uang untukmu dan keluargamu..?"


     Adnan luruh berlutut ke lantait.Kedua tangannya mengepal menahan emosi.Matanya memerah dan berkaca-kaca menatap Diana.


    "Diana..Aku tahu aku sudah sangat keterlaluan padamu. Aku sangat menyesali semua itu.Bahkan tidak pernah terlewatkan satu haripun aku menyesali keputusan hari itu.Akupun menderita."


    "Kamu pantas untuk itu.." Jawab Diana dingin  sambil memandang Adnan masih dalam posisi berlutut.


     "Aku bahkan belum membalas perlakuan kejam kalian padaku.."Katanya tak lama kemudian.


     "Aku akan menunggu hukuman itu.Tapi satu ku mohon.Jangan jauhkan anak-anak kita dariku.."


     "Memuakkan….Mengapa tidak fokus saja dengan anakmu yang lain.Bukankah kamu dan Risa sudah punya anak.Bahkan hampir seumuran si kembar..?"


     "Dia bukan anakku.Risa membohongiku.Dia sudah hamil dengan pria lain waktu menikah denganku.."


     "Oh…Kamu sungguh baik untuk orang lain Adnan.Tapi tidak untukku.."


     Adnan hanya menatap nanar. Dia tidak lagi menyanggah ucapan Diana. Diana memang pantas berpendapat begitu buruk padanya. Tidak ada yang salah dari ucapannya.Hanya Adnan terlalu malu dan sakit untuk mengakui semua itu.


     Ketika kemudian pria itu bangkit dari posisi berlututnya Dia hanya menatap Diana pilu.


    "Aku mencintaimu Diana..Aku mencintaimu..Aku akan membuktikan seumur hidupku.." Katanya dengan suara bergetar.


     Diana tidak mengubris lagi.Baginya saat ini lebih baik membuang kenangan pahit yang pernah dia alami.Termasuk membuang orang-orang yang terlibat di dalamnya.

__ADS_1


     Adnan berjalan ke pintu. Kemudian melihat ke arah kamar, tempat si kembar dan bu Ida berada. Dia berharap melihat dua anaknya walau sebentar.


Beberapa saat kemudian kembali menatap Diana.


    "Aku pergi dulu. Dalam waktu dekat akan ke sini lagi. Jaga dirimu baik-baik dan  titip anak-anak kita.."


    Wanita itu hanya diam tidak menyahut. Dia dalam mood yang buruk.Kata-kata baik yang di ucapkan dari mulut Adnan hanya membuatnya semakin muak.Adnan menyadari itu.Tapi dia merasa harus melakukan.Berharap suatu saat, hati wanita yang sudah dia sakiti ini mencair untuknya.Adnan bahkan tidak berharap banyak hubungan yang akan sama seperti sebelum dia menyakiti Diana.Tapi setidaknya , dia ada sekali kesempatan untuk kembali bersama.


     Adnan berjalan lambat menuju mobil.Sebuah pesan dari ibunya mengabari bahwa Danuarta menarik investasinya dari perusahaan mereka.


     Adnan sudah memperkirakan ini jauh hari sebelumnya.Sehingga sudah mencari persiapan jika suatu saat ini terjadi.


    Selanjutnya berita dari orang kepercayaannya tentang proyek hotel yang menunggu finishing.Adnan akan segera meninjau ke sana.


     Menutup hpnya, dia memandang rumah kontrakan Diana sekali lagi.Sementara mobil pelan-pelan bergerak meninggalkan tempat itu.


     Sementara di dalam rumah bu Ida, Diana sedang duduk bengong.Barang-barang yang dibawa Adnan menumpuk hampir memenuhi ruang tamu bu Ida yang tidak terlalu besar.


    Bu Ida berjalan dan duduk di dekatnya.Sementara si kembar sudah tidur di sebuah kamar.Bu Ida memang menyediakan sebuah kamar kosong untuk Said dan Savana menginap kalau dititipkan Diana di rumah bu Ida.Bahkan kamar itu juga di hiasi dengan berbagai pernak-pernik khas balita.


     "Bagaimana nak..? Kamu gak apa-apa..?"


      "Gak apa-apa bu..Diana hanya lelah dengan semua ini..?"


      "Kamu bisa kok bercerita dan berkeluh kesah pada ibu "


      "Terimakasih ya bu..Iya nanti Diana akan lakukan.."


      "Aggaplah ini ibumu sendiri.Ibu pun sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya kalian keluarga ibu"


       "Iya bu.."


       " Ibu berharap kamu dan anak-anakmu bahagia, dan punya keluarga yang utuh.Tapi ibu sedih juga membayangkan suatu saat ibu kalian tinggalkan.."Ucap wanita itu sendu.


      Diana langsung memeluk bu Ida dan menciumi kedua pipinya.Kedua wanita itu sama-sama berurai air mata.


      "Diana janji tidak akan pernah meninggalkan ibu.Walaupun suatu saat Diana pindah, Diana akan membawa ibu.Karena ibu adalah ibu Diana, nenek si kembar.."


     "Terimakasih sayang.."Kata bu Ida sambil menghapus air matanya. Dia sungguh berat jika suatu saat Diana pergi meninggalkannya.Tetapi di atas semua wanita itu tetap menginginkan Diana bahagia.Walaupun nanti diboyong suaminya, bu Ida harus mengikhlaskannya.


Namun dia hanyalah wanita tua yang kesepian di hari tuanya.Berharap ada menemaninya menjelang ajalnya.Semenjak dia kehilangan suami dan anaknya yang tercinta, bu Ida mengalami ketidak percayaan pada orang-orang sekitarnya.

__ADS_1


Namun saat bertemu Diana dan kedua bayinya yang menggemaskan itu, Bu Ida seperti menemukan kembali keluarganya yang hilang.


__ADS_2