
Diana terkejut seketika. Adnan berdiri menjulang di hadapannya. Pria itu bersikap posesif,seolah dia masih pemegang kepemilikan atas Diana.Padahal dia tahu bahwa hal itu sudah jadi masa lalu. Sekarang ini, Diana telah berubah menjadi sosok yang mandiri dan bebas. Namun Adnan seperti bebal, setelah berkali-kali mendapatkan penolakan yang tidak ramah dari mantan istrinya itu.
Diana melihat malas pada mantan suaminya itu. Sambil melipat tangan di dada , dia melontarkan ucapan menyindir.
"Mengapa aku merasa selalu kamu tempel..?"
"Menempel..? Oh..kalau itu anggapanmu, aku setuju saja.." Jawabnya tak acuh.
Adnan sudah belajar menebalkan kupingnya terhadap sindiran dan kata-kata kasar Diana. Walaupun ada kalanya membuatnya benar-benar tertohok tak berkutik. Wanita itu memang menyimpan nuklir di bawah lidahnya.
Namun apapun halangannya, Adnan bertekad akan melaluinya.Asalkan bisa melihat wajah mantan istri yang pernah dia buang itu .
Mengingat kejadian itu, Adnan seolah merasakan beribu-ribu jarum menusuk jantung hati. Walaupun sudah beratus-ratus kali menyesalinya.Dia tetap tidak berada dalam kondisi batin yang tenang semenjak kejadian itu.
Hanya masih merasa bersyukur karena akhirnya dia menemukan Diana kembali.Walaupun sifatnya yang tidak sama dengan dahulu lagi. Raut wajah muak dan benci tidak pernah ditutupi saat melihat kehadiran pria itu.Adnan sangat menyadari besar salahnya pada Diana. Dan untuk ini pun dia rela menerima perlakuan kasar dari mantan istrinya itu.
Adnan menatap sosok Diana dengan bahagia. Malam ini, Diana sangat feminim dan sangat cantik. Penampilannya sanggup memukau siapapun yang melihat.
"Aku sekalian ingin bertemu anak-anak.."
"Mereka pasti sudah tidur malam.."
"Gak apa-apa.Paling tidak aku akan memastikan ibu mereka baik-baik saja sampai di rumah"
"Jangan jadikan anak-anakku untuk kamu pakai sebagai alasanMereka terlalu polos untuk kelicikanmu."
"Aku tahu..Tapi kamu harus tahu Diana.Disekitar ini adalah kawasan sepi penduduk. Kamu akan kesulitan mendapat tumpangan..!"
Diana terus berjalan tanpa mengacuhkan Adnan. Dia melewati beberapa orang yang kebetulan berlalu lalang di sana. Sekilas mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Sehingga orang-orang tidak terlalu peduli.
Diana sudah beberapa kali mengetik aplikasi mobil rental..Tapi hampir semua penuh.Walaupun kosong, jaraknya sangat jauh dari lokasi hotel.Angin laut mulai berhembus sehingga membuatnya sedikit kedinginan
Dia hendak berbalik ke dalam hotel, ketika merasakan kehangatan datang dari belakang. Sebuah Jas pesta yang pasangan dari belakang. Bau parfum maskulin menyeruak ke hidungnya .
"Jangan keras kepala.Jika terjadi sesuatu padamu, bagaimana nasib anak-anak kita. Berpikirlah dari sisi yang logis " Kata-kata Adnan mengusik pendengarannya .
Diana termenung sesaat menimbang-nimbang.Dia tidak punya pilihan ketika Adnan memandunya memasuki mobil.Dia langsung memerintahkan sopirnya langsung berjalan Karena hari sudah semakin larut
Sejujurnya,dalam hatinya Diana merasa beruntung ketika akhirnya ada yang mengantarkannya pulang.Dia tidak bisa membayangkan jika harus menunggu mobil rental selama berjam-jam.
Para tamu di pesta, sebenarnya
sudah disediakan tempat penginapan untuk yang tidak sempat pulang.Tapi bagi Diana, rumahnya adalah anak-anaknya.Wanita itu memastikan tidak akan bisa memejamkan semalaman walaupun di tempatkan di kamar vvip sekalipun. Wanita sederhana seperti dia hanya lebih menyukai hal-hal yang simpel saja.
Sesampai di gerbang rumah, terlihat lampu-lampu ruangan banyak yang sudah dimatikan.Pertanda yang punya rumah sudah beristirahat malam.
Diana menolehkan kepalanya kepada Adnan.
"Seperti yang kamu lihat, lampu sudah dimatikan, pertanda si kembar sudah tidur.Dia langsung membuka pintu mobil.Dan melangkah ke luar.Saat akan memasuki pekarangan rumah dia terkejut karena Adnan juga mengikutinya.
"Kembalilah..Mereka sudah tidur..!" Perintahnya.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu.." Sahut pria itu kalem.
Diana menghela nafas Tak menggubris lagi, langsung berjalan menuju pintu rumah.
Tiba-tiba lampu ruangan di hidupkan kembali. Terdengar suara si kembar yang berjalan cepat ke arah pintu.Selanjutnya adalah pemandangan yang membuat Diana terkesima.
Dua kepala si kembar terlihat di balik kaca, setelah sebelumnya berusaha menyibakkan gorden yang menghalangi.
Mereka berteriak gembira
__ADS_1
"Mami.."
"Daddy.."
Diana tidak mampu menemukan kata-kata untuk diucapkan.Bertambahnya usia, membuat si kembar semakin pintar.Mereka telah mengenali pria di belakang ibunya, adalah seseorang yang sangat penting bagi mereka.
"Mengapa belum tidur sayang..?" Tanya Diana, begitu pintu sudah dibuka bu Ida.
"Mereka menunggu..Ditemani tidur, malah ibu yang ketiduran.." Sela bu Ida.
Wanita itu kemudian melihat Adnan di belakang Diana. Kemudian berkata .
"Ibu langsung pamit ya nak.."
Diana tersenyum lembut pada wanita itu. Semua tidak lepas dari perhatian Adnan. Walaupun kemudian dia lebih tertarik menggendong kedua anak-anaknya.
Dia memeluk dan menciumi sepuasnya. Kemudian bercakap-cakap .Kembar yang masih cadel itu seolah-olah mengerti ucapan ayahnya. Namun menanggapi dengan bahasa yang dimengerti oleh merwka saja.
Adnan memangku berapa saat .Sebelum kemudian menurunkan mereka kembali.
"Daddy kerja dulu ya.." Ucapnya lembut. Hanya di anggukan oleh Said dan Savana.Tangan mereka melambai-lambai memberi dadah untuk Adnan. Pria itu menciumi kedua buah hatinya tak henti-henti.
"Daddy.."Panggil mereka lagi, seperti melarang pergi.
Adnan memalingkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca. Kemudian,menatap Diana dalam-dalam.
"Apakah di hati benar-benar sudah tidak ada aku..?" Tanyanya parau.
"Masih ada atau tidak, tidak akan mengurangi rasa benciku padamu.Melihatmu hanya membuatku mengingat kejadian saat kau membuangku. Berhentilah berpikir untuk kembali padaku.."
"Diana..Apa tidak kasihan dengan si kembar..?"
"Biar ini jadi urusanku..Kamu pulanglah.."Usirnya kemudian.
"Kamu yang membuatku berubah mas Adnan.."
Adnan terdiam dan menatap nanar wajah wanita di depannya.Berharap menemukan sedikit tanda , bahwa dia masih ada di hati wanita itu.Tapi kemudian kecewa ketika Diana hanya mem erikan wajah yang dingin dan datar untuknya.Adnan menelan ludah pahit.Di masa lalu, wajah seperti itulah yang sering disuguhkan pada mantan istrinya itu
Adnan merasa putus asa.Dengan langkah lunglai berjalan melewati tempat Diana berdiri. Lambaian tangan si kembar hanya mampu dia balas dengan anggukan kepala.
Sebelum memasuki mobil, dia berhenti sejenak dan menoleh ke arah rumah.Menatap dengan berbagai pikiran di kepalanya.Diana sudah mengunci dan mematikan lampu.Adnan menjadi ngilu, memikirkan Apakah hal yang sama sudah Diana lakukan pada hatinya.? Apakah memang tidak ada jalan untuk kembali..?
Mobil merayap meninggalkan tempat tinggal Diana.Terus menyusuri jalanan kota hingga tiba di gerbang pemukiman elite.Seorang satpam membukakan gerbang utama memasuki komplek. Adnan menolehkan kepala ketika melihat sebuah rumah yang dibiarkan kosong beberapa bulan ini.Di depan rumah terdapat papan bertuliskan kata "Di JUAL". Beberapa saat pikirannya teralihkan.
Sopir pribadinya yang bernama Supri melihat dari kaca spion ketertarikan tuannya pada rumah itu.
"Rumah itu sebelumnya dimiliki seorang dokter tuan.Tapi semenjak tinggal di luar negeri.Dia memutuskan untuk menjual saja Karena tidak ada yang akan merawat rumah itu"
"Apakah dia punya keluarga..?"
"Sebelumnya punya.Bahkan ada anak satu orang.."
"Ooh.."
"Tapi istri dan anaknya sudah meninggal dunia .."
"....."
Melihat tuannya hanya diam .Supri sang sopir sekaligus pengawalnya melanjutkan. Dia selalu merasa bahagia jika tuannya mau berbincang-bincang santai dengannya.Karena biasanya hanya suka diam selain memberikan perintah pendek padanya.
"Ceritanya cukup miris tuan.." Ujarnya lagi. Adnan mengangkat menoleh padanya.Supri mengetahui gestur tuannya yang mulai tertarik pada ceritanya.
__ADS_1
"Dokter itu berselingkuh dengan seorang perawat. Mereka ketahuan, yang menyebabkan pertengkaran hebat suami istri itu. Istrinya kabur dari rumah dengan membawa sang anak. Saat ketahuan, dokter tersebut berusaha menyusul.Hingga terjadilah kejar-kejaran di jalan tol.Pada kilometer empat puluh, mobil istrinya tak terkontrol hingga menabrak pembatas jalan. Tidak ada yang selamat. Istri dan anaknya meninggal ditempat. Tak ada yang bisa dilakukan lagi ketika semua terjadi di depan mata dokter itu. Dia…"
"Cukup ..Jangan diteruskan lagi..!" Perintah Adnan tiba-tiba. Cerita Supri membuat dadanya tiba-tiba sesak. Entah mengapa pikirannya melayang pada Diana dan anak-anak mereka. Adnan tidak bisa membayang hal yang sama terjadi pada mereka.
Supri hanya nyengir salah ltingkah.Padahal dia sedang bersemangat untuk bercerita Jarang-jarang tuannya mau mendengarkan cerita dia agak lama.
Mobil berhenti di pintu masuk rumah.Setelah menurunkan Adnan, langsung masuk garasi.
Adnan membuka pintu yang tidak terkunci. Mengucapkan salam, dan terus berjalan hingga ruang tengah rumahnya.
Di depan televisi ada tiga orang yang masih tekun mengikuti acara di layar datar itu Mereka baru bergeming ketika melihat Adnan yang melintasi mereka .Djaelani lebih dulu menyapa.
"Kenapa larut sekali baru pulang Adnan..?
"Ya ayah.."
"Duduklah dahulu berbincang -bincang. Karena besok kami akan kembali ke kota kita.."
"Besok masih ada waktu kok yah. Saat ini sudah sangat lelah.."
"Kami dengar kamu mengantarkan perempuan itu pulang..?" Tiba-tiba Marlena bertanya dengan gaya sarkas.
Adnan tersenyum sinis.
"Perempuan itu punya nama, ibu.."
"Terserah..Kamu masih saja mencarinya. Apa sih hebatnya dia. Banyak wanita lain yang lebih cantik dan kaya.."
"Kaya..? Apa itu selalu jadi patokanmu bu..? Ibu memang luar biasa.."
"Apa yang salah..? Kita semua butuh harta. ?"
"Memang kita semua butuh harta.Tapi tidak harus menjual harga diri.." Sindir Adnan pedas.Marlena membelalakkan mata.
"Kamu..?"
"Cukup.Jangan mencampuri hidupku lagi..Apalagi sampai menghina Diana.Padahal dia tidak salah apa-apa.Tapi masih saja kalian kuliti.."
"Apa kamu berniat kembali padanya..?"
"Ya..Itu keputusanku.Aku tidak butuh sanggahan."
Semua orang yang ada di ruangan terdiam.Adnan menatap tak bergeming.Beberapa saat kemudian.
"Ada yang harus aku katakan kepada ayah dan ibu.Sibuklah mengurus kelakuan Dara daripada Diana. Apa yang dia lakukan di pesta tadi sungguh memalukan.Berdoalah semoga tidak ada yang merekam kejadian itu.
Sehabis mengatakan, Adnan berjalan cepat menuju kamar.
Djaelani yang pertama bereaksi setelah kepergian Adnan. Mukanya menjadi masam saat menatap wajah putrinya
"Katakan dengan jujur..Apa yang sudah kamu lakukan tadi…? Jangan jangan omongan orang-orang tentang pertengkaran dengan seseorang adalah benar.."
Dara meringkuk ketakutan mendapat kemurkaan ayahnya.Sementara Marlena berusaha menenangkan suaminya. Djaelani semakin marah.Dengan kesal di membentak istrinya.
"Mengapa kau selalu membela dia..?Apakah tidak tahu apa akibat dari perbuatan bodohnya itu..?"
"Aku cuma tidak ingin kami terlalu marah mas…"Marlena berusaha membela dirinya.
Sementara di dalam kamar, Adnan sedang memeriksa notifikasi di mesin penjawab pesannya. Berita undangan para pemegang saham seminggu lagi akan dilaksanakan di New York.
Adnan hanya memberikan ekspresi datar. Berjalan ke jendela memandang gelapnya malam. Adnan menimbang, nimbang.Mungkin dia akan mengajukan resign di Universitas tempatnya mengajar. Karena antara pengusaha dan pengajar, dia harus memilih salah satunya
__ADS_1
Pria itu menghembuskan nafas beratnya. Menatap kosong pada langit malam.