MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
BERJUMPA NERO


__ADS_3

      Wanita yang bernama Loren itu langsung menerobos memasuki ruangan David, tanpa mengacuhkan teguran Diana.   Diana mendengus kesal.


     Sementara dii dalam ruangannya,David menatap wanita itu dengan berbagai ekspresi.Walaupun kesal, tapi dia berusaha menampilkan wajah ramahnya.


     "Ada yang bisa ku bantu nona..?"


     "Loren..Namaku Loren..Masa sih kamu gak ingat mas.."Jawabnya centil.


      Wanita itu tidak menutupi arti pandangan penuh dambanya.


     "Oh ya..Nona Loren..?" Jawab David berusaha wajar.Walau dalam hatinya mulai gerah dan agak malu.


     Bagaimana tidak..? Selain sikap yang tak malu-malu Dia memakai pakaian berbahan tipis yang lebih banyak mengekspos tubuh nya.Ukuran rok yang hanya sejengkal di bawah bokong, David tidak berani membayangkan jika wanita itu merunduk.Ya Tuhan…Semoga dia bukan penjahat kelamin.Doanya dalam hati.


     Loren memandang wajah David yang berbagai ekspresi malah menyalah artikan.


     "Aduh..Apakah anda sudah begitu pelupa..?Bukankah kita baru kenalan  beberapa hari yang lalu.Anda tidak mungkin melupakan saya setelah pesta yang diadakan Blue Stone di Prince Hotel."


     "Ah…Ya..ya.." Jawab Davil asal-asalan.


     "Apakah anda mulai mengingatnya..?" Tanya nya penuh harap.


     "Little bit.."Jawab David menyentuhkan ujung ibu jari dan ujung telunjuknya.


     Dia tidak bohong.Bagaimana mungkin bisa mengingat wanita satu di antara puluhan wanita yang berkenalan dengannya..?Mereka yang hadir hampir semuanya cantik.Bahkan sekretarisnya yang janda beranak dua pun tak kalah menyita perhatian di pesta.Semoga saja mantan suaminya yang dongok itu tidak menyesal sampai mati. Walaupun pemandangan itu nanti, akan David nikmati dengan sepenuh hati.


     Melihat reaksi David yang biasa saja melihatnya, wanita yang bernama Loren agak mati langkah.Tapi dia  berusaha menyemangati dirinya diam-diam, agar tidak patah semangat. Dia memaklumi, bahwa tidak mudah mendapatkan bujangan berharga seperti David.Perjuangan darah dan air mata adalah hal yang biasa.


    David kembali ke percakapan semula.Dia mulai merasa waktunya terbuang percuma.


     "Lalu..Apakah yang bisa saya bantu nona Loren..?"


     "Saya ingin mengundangmu makan malam.." Jawab Loren cepat.


      Demi apapun, David berharap wanita di depannya cepat pergi. Dia menyesal karena tadi sudah menyuruh Diana keluar.Seharusnya dia biarkan  tetap di ruangan ini.David  dalam menahan muak.


    Wanita di depan ya ini sangat agresif.Bahkan sudah berani mendekatkan tubuh sintalnya kepada pria itu , dengan pandangan menghamba. David tersenyum geli dalam hati saat membandingkan wanita ini dengan tiga wanita yang sangat dekat dengannya.Andita, Agnes dan Diana.


      Dia mendorong Loren dengan sopan, saat wanita itu sudah semakin berani menyentuhnya.


      "Maafkan saya nona, saya sangat sibuk sekali.Saya bahkan tidak bisa memberi janji untuk mengunjungi pacar saya…"


      "Apa..?Pacar..?"


      "Ya"


      "Maksud anda wanita yang bernama Dara itu ?"


      "Saya tidak bilang dia.."


      "Lalu..? Pacar yang lain lagi..? Ah..Kalian para pria suka bermain-main bukan.Oke..Tidak masalah bagi saya, selagi anda mau, saya ajak kencan.."


      David hampir saja memuntahkan isi perutnya saat mendengar ucapan berani wanita yang bernama Loren itu.Sekali lagi dia membandingkan tiga orang wanita "nya" , dengan Loren. David akhirnya  memutuskan, kalau mereka para wanita "nya", tidak bisa dibandingkan dengan dia.


     Dengan berbagai upaya akhirnya dia bisa membujuk wanita itu pergi. David menggeleng-gelengkan kepala ketika Loren sangat agresif berhasil mencium pipinya.Demi Tuhan..! Betapa susah dia menahan perasaan untuk tidak menendang wanita tak tahu malu ini. Walau harus merusak keindahan sepatu pantofel barunya.


     "Nona Loren, saya minta maaf.Saya harus kembali bekerja…"


      Wanita itu hanya mencebik jengkel.Ternyata perjuangannya hari ini tidak membawa hasil.Dia berharap ada hari lain untuk diulang kembali. Sayang sekali tidak "mencicipi" bujangan seperti David.


     David berusaha sabar, kemudian mengantarkan wanita itu ke pintu keluar. Sebelum berpisah Loren masih sempat mencuri ciuman pipinya. Membuat David benar-benar menekan rasa kesalnya yang hampir meledak.Dia tidak yakin jika Andita, Agnes dan Diana punya keberanian ****** tingkat dewa ini.


    Mengingat tiga nama itu, Andita, Agnes, dan Diana. David setuju pada satu kesimpulan. Mereka adalah wanita-wanita pilihan yang sudah langka. Wanita- wanita yang tulus dan setia..Para wanita yang berani berjuang di garis depan untuk orang-orang  yang dicintai.Tanpa perhitungan apakah akan memberikan kerugian yang telak untuk mereka. 


      Seandainya bisa , David akan menjadikan mereka semua sebagai istri.Walaupun seluruh penghuni bumi akan mengutuknya sebagai pria yang tamak dengan hasrat libidonya.Padahal bukan hanya sekedar itu tujuan utamanya.


Dia lebih ingin menjaga.Tapi ketika mengingat karakter Agnes dan Diana, dia jadi kecut.Sepertinya hanya Andita yang pas untuk dia.Dua wanita yang agak berat baginya .


      David berjalan kembali menuju ruangannya melirik meja Diana yang belum dihuni pemiliknya. Sekretaris yang satunya lagi sedang diperintahkan David mengerjakan tugas luar.Dia tidak mungkin kembali ke kantor dalam dua jam ini.


     Pria itu mengusap tengkuknya dan menguap.Rasanya capek sekali setelah berhadapan dengan makhluk yang bernama Loren itu.


     Sementara itu, Diana sedang berada di kantin kantor.Ikut nimbrung dengan mereka sedang larut dalam obrolan yang menjemukan. Kalau bukan karena pekerjaan, ya soal gaji, honor..


Selalu hal yang sama yang akan diulang jika mereka berkumpul di kantin.


     Diana meneruskan makan siangnya ,sambil sesekali menimpali obrolan mereka.Kedudukannya menjadi orang terdekat dengan David setelah Agnes, tidak membuatnya membangun tembok dengan pegawai lain. Dia lebih suka bercengkrama dengan mereka pegawai di bawahnya, asalkan sama-sama nyambung. Satu hal lagi yang membuat mereka nyaman dengan Diana, adalah penampilannya yang tidak menonjol Selain kecantikan dan kecerdasan yang terlihat di sosoknya.


     Tiba-tiba suasana menjadi agak diam.Hanya terdengar bisik-bisik kasak-kusuk.

__ADS_1


     Diana mengangkat pandangan dari piring makannya.Mencari sumber yang menyebabkan suasana berubah drastis.


Pandangan mengikuti arah semua orang.


     Di sudut sebuah meja tersendiri, seorang pria sedang mengotak atik hpnya ditemani segelas kopi.Bertubuh tinggi semampai dan berkulit kuning. Namun  wajahnya tidak terlalu jelas bagi Diana karena terhalang tubuh seseorang yang sedang duduk di depannya. Diana masa bodoh, kemudian melanjutkan makannya. Kalau hanya pemandangan seorang pria tampan .Diana pikir mereka terlalu lebay seperti anak-anak abg yang gandrung sama cowok-cowok idolanya.


      Dia menyeruput kuah soto yang nikmat itu .Saat mengangkat kepalanya, pemandangan yang masih sama seperti tadi.


     Diana Pun akhirnya penasaran. Tiba-tiba menjadi ikutan untuk melirik ,ke arah yang sama.Kebetulan pandangnya sudah tidak terhalang lagi. 


     Ketika dia tidak menemukannya.Diana pikir, mungkin dia sudah pergi.Sehingga melanjutkan suapan sendoknya.


      Bayang seseorang yang hadir di seberang meja, membuatnya tertegun dan hampir tersedak.


     Di seberangnya, pria itu sudah duduk dengan pose menarik perhatian ,menunggunya.Masih tampan dan berkharisma seperti dulu. Tidak jauh beda dengan Adnan sang kakak.


       Takjub dan tidak percaya membuat mulut Diana ternganga .Bagaimana mungkin si tengil ini bisa berada di kota ini..?


      Nero bertingkah  cuek dan  langsung mengambil tempat duduk kosong di depan mantan kakak iparnya itu.Dia berbuat seolah-olah wajar saja. Sehingga  tidak akan menjadi pusat perhatian orang-orang. 


      Tapi dia salah besar. Mengingat kehadirannya dari pertama kali sudah menyedot perhatian orang-orang, teristimewa wanita-wanita di sekeliling mereka.Bahkan ada di antaranya sampai lupa memesan makanan mereka.


     Nero tersenyum manis tanpa dosa.


     "Halo kakak iparku yang cantik.Bertambah umur tidak membuat kehilangan pesonamu.." Sapanya dengan manis. Tapi tidak cukup membuat Diana salah tingkah. 


     "Hush..Jaga sikapmu.Aku bukan kakak iparmu lagi.."


     "Kalau begitu aku akan memanggil namamu Diana.." Ujarnya tak acuh. Dia mencibir.


     "Kau ini…" 


     "Memang kenapa..? Kita hampir seumuran.Malah aku lebih tua satu tahun di atasmu.." Jawab Nero ngotot sambil cengengesan.


     Diana tersenyum  pada mantan adik iparnya itu.Dari semua keluarga Adnan, hanya dia yang selalu baik padanya.Apalagi  mengingat malam itu, Nero mencarinya dan menunggu dia pulang di depan apartemen.Pria itu meminta maaf akan ketidakmampuannya melindungi wanita itu.Melepas kepergiannya, saat Diana mengatakan pamit dan hendak berangkat ke kota lain bersama Agnes dan Erick.


     Tapi  sekarang dia harus menjaga jarak dengan Nero.Karena kedekatan mereka akan menyulitkan untuk dia. Diana memutuskan lebih baik segera menjauh dari Adnan dan keluarganya.


      Melihat kepada Nero, Diana ingin menanyakan sesuatu.


      "Kamu bekerja di sini juga Nero..?" Tanya dia kemudian.


       "Lalu..?"


       "Aku rindu padamu..Apalagi sekarang sudah ada keponakan kembarku.."


       "Hehehe..?Kamu tahu dari mana tentang aku sudah punya anak.?"


     Nero mengejek.Ciri khas dia kalau tengilnya keluar..


       "Kamu..? Nanya..???"


       "Ck..ck..Kamu ini..Seharusnya jangan menemuiku lagi.Aku dan kakakmu sudah bercerai.Dan kamu juga tahu kalau keluargamu tidak menyukaiku.."


      "Aku tidak peduli dengan mereka.Aku bukan Adnan si tolol itu.."


      "Jangan katakan itu..Dia kakakmu..!"


     Nero menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.Seperti katanya, dia tidak peduli.


     Nero dan Diana dahulunya adalah teman satu SMA. Dulu diam-diam juga pernah naksir pada Diana.Tapi agak sungkan juga ketika ada Erick yang sering mengawalnya. 


     Setelah beberapa waktu berlalu, dia kembali bertemu dengan Diana. Wanita itu semakin menarik di depannya.Nero semakin menyukainya. Apalagi Ketika mendengar Erik akhir menikah dengan wanita lain.Nero berusaha akan terus mendekati Diana 


     Tapi kemudian harapannya menjadi punah dan kecewa berat.Karena Adnan lebih dulu merebut hati Diana. Suka tidak suka, Nero terpaksa menerima Diana sebagai kakak ipar.Walaupun dia sangat benci dengan semua itu.


     Jalan lebar sekarang terbuka untuk Nero kembali mengejar Diana. Dia bertekad untuk menjadikan Diana miliknya Tidak peduli apapun status wanita itu sekarang. Nero bukanlah Adnan, yang mempunyai empati tinggi untuk keluarganya.Nero adalah orang yang hidup merdeka untuk dirinya sendiri.Hal itu juga yang menjadi alasan mengapa dia menolak menggantikan posisi Adnan di perusahaan keluarga.Nero benci  dikekang apalagi dikontrol orang lain.


      Diana menatap sosok di depan matanya itu.Banyak pertanyaan yang ingin diajukan lagi untuk si tengil ini tapi hanya satu yang dia ucapkan.


     "Ada perlu apa mencariku..?"


     "Sudah ku katakan..Aku merindukanmu.."


     "Tidak boleh..!"


     "Memang kenapa..?"


     "Rindu itu sakit.."

__ADS_1


     "Oh ya..?…haa..haa..Biar ku tanggung sakitku.." 


     Mau tidak mau Diana tertawa mendengarnya.


     Nero tertawa ngakak seenaknya.Beberapa pasang mata memperhatikan dengan heran.


     Seorang wanita di ujung meja.Pada awalnya terusik dengan ketawa Nero. Tapi, ketika Nero tersenyum manis saat mata mereka berpapasan wanita itu menjadi tersipu.


      Diana hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuannya. Dia tidak heran, karena ini bukan kali pertama melihat kelakuan mantan adik iparnya seperti itu.


      "Oke Nero..Bisakah kamu serius dengan pertanyaanku tadi..? Jangan lagi menjawab karena merindukanku alasanmu datang ke sini.


      "Hee…hee..Dasar hidung gukguk..Kebetulan sih. Ada bisnis selama tiga hari di sini.Orang tuaku bahkan dari sini juga.Kebetulan mereka ngoceh tentang kamu, dan….Yah.. Gitu deh.."


     "Mm..Aku paham.." Jawab Diana.


     Dia menyingkirkan piring bekas makanan nya dan langsung membayar. Nero menunggu sesaat sebelum melanjutkan.


     "Dan aku penasaran..Kamu tahu..? Begitu sampai di sini, mencarimu adalah nomor pertama dalam list ku.."


     "Hehe..Kamu  akan dapat masalah dengan keluargamu .Aku pastikan itu.."


     "Who's care ."


     "Dasar tengil.."


     " Bodo.."


     Diana menjadi tak berkutik. 


     Namun tiba-tiba wajah Nero menjadi serius.


Mata menatap Diana lebih dalam. Hingga menimbulkan pertanyaan di matanya.


     "Apakah si bodoh itu mengganggumu..?"


     "Siapa..?"


     "Adnan…Kakak tercintaku.."


     "Oh ..hehe.." Diana berusaha tidak peduli.


      Nero memperhatikan. Kemudian berkata dengan nada jengkel.


     "Dasar..Ternyata kamu dan dia sama bodoh.."


     "Eh sembarangan ngatain aku..Kamu ya..plak..!" Diana memukul kuat bahu pria itu.Nero meringis kesakitan.


     "Sakit..anjrr.."


      "Mau ku pukul lagi..?"


      "Gak,gak..ampun…ampun.." Jawabnya sambil mengangkat kedua tangan melindungi kepala. Diana menurunkan tangannya kembali.


      "Mmh..Nah itu baru anak baik.." Ujar Diana sambil mengacak acak rambutnya.


    Nero manut seperti puppy yang di kasih nugget. 


     Dia sering tertawa meledek Diana .Tapi  dalam hati,  kasihan sekali  pada wanita yang sejatinya adalah mantan kakak iparnya.Dia merasa gagal melindungi wanita itu dari keganasan keluarganya.Kalau sudah begini , apa bedanya dia dengan Adnan..?


     Nero berharap suatu saat dia bisa melihat wanita itu benar-benar bahagia dengan anak-anaknya.


      Diana  merasa percakapan mereka sudah agak lama.Kemudian melirik jam di pergelangan tangannya. Menunjukkan tanda istirahat sudah habis.Dia harus kembali ke kantor untuk bekerja lagi.


Merasa tidak enak hati untuk mengatakan pada pria itu.Namun Nero cukup cerdas memahami.


      "Kembalilah ke kantor. Mungkin nanti aku akan berkunjung ke tempatmu.Aku ingin berkenalan dengan kedua keponakanku.Supaya mereka tahu bahwa mereka mempunyai paman yang ganteng ini." Ujarnya penuh percaya diri.


     Diana kembali tersenyum masam melihat Nero begitu Narsis tapi jujur 


     "Okelah..Ternyata kamu memang pengertian.Sebaiknya aku kembali dulu.Silahkan hubungi aku dulu kalau ingin mampir ya.." Katanya sambil beranjak hendak meninggalkan pria tampan itu.


      "Oke..see you.." Balas Nero sambil melambaikan tangan.


     Diana membalas lambaiannya.Baru menyadari bahwa kantin tidak lagi seramai tadi pertama datang.Ternyata para pengunjung sudah banyak yang kembali ke kantor, melanjutkan pekerjaan tiga jam ke depan.


     Diana Pun juga sama dengan mereka.Bagaimanapun dekat hubungannya dengan David.Fia haruslah profesional dan bertanggung jawab dalam pekerjaan.


     Tiba-tiba dia teringat akan pesan Adnan di whats up tadi. Entah mengapa, Diana menangkap ada yang sangat serius dari sana.

__ADS_1


    


__ADS_2