
Diana memutar nomor ATM untuk mengambil uangnya . Berencana membeli sebuah dress dan sepasang sepatu untuk acara ulang tahun perusahaan besok 5malam. Bagaimanapun dia harus menunjukan sikap loyal nya,pada perusahaan tempatnya bekerja.
Sebenarnya Diana tidak berminat untuk hadir, mengingat baru bekerja dua bulan di Blue stone. Karena tidak ingin memberi kesan menonjolkan diri dari pegawai lama.
Sebagai pegawai yang masih terbilang baru, sedikit banyak dia harus hati-hati dalam menjaga hubungan dengan rekan-rekannya agar tetap kondusif.
Bertentangan dengan pikirannya ,dia tidak berdaya untuk menolak undangan ini. Apalagi bila dikemukakan pada David dan Agnes. Dia pasti akan dicecar dengan berbagai cara agar wajib hadir di acara tersebut. Kedua orang itu sering menjelma menjadi malaikat dan setan secara bersamaan untuknya.
Masih dalam box ATM, Diana kaget dan heran saat melakukan cek di saldo terakhir rekeningnya. Melihat jumlah saldonya yang bertambah dalam jumlah besar. Dia tidak yakin kalau David akan memberi bonus atau transferan tanpa konfirmasi dengannya.
Masih kebingungan , pikirannya menerka-nerka siapa pengirimnya. Dia kemudian berencana lain hari akan melakukan cek rekening ke bank tersebut. Membuktikan rasa penasarannya tentang kiriman yang tidak jelas asalnya itu.
.Diana kemudian berjalan menuju pelataran toko-toko sepanjang pasar yang bernama Pasar Belalang.Dia tersenyum mengingat pertama kali mengenal nama pasar ini. Iseng-iseng, dia menebak-nebak dalam pikirannya, alasan dibalik nama tersebut. Saat berada dalam keramaian pasar, terdengar suara pedagang kaki lima meneriakkan dagangannya.
*Sayang anak sayang anak.." Teriak pedagang mainan.
"Tiga lima ribu.." Pedagang garam tak mau kalah.
"Buah manis, buah manis..!"
Dia semakin jauh masuk ke dalam pasar menyusuri blok-blok pakaian jadi. Merasa sedikit lega karena disini tidak terlalu ramai. Namun dia belum menemukan dress yang diinginkan.Keringat mulai bermunculan di kening. Diana menghembuskan nafas lelah.
Seharusnya dia mencari baju di butik seperti yang disarankan David dan Agnes. Tapi wanita itu merasa sayang dengan banyaknya uang yang harus dibelanjakan hanya untuk sepotong pakaian. Toh dia bukan seorang selebritis ataupun artis. Tugasnya hanya mendampingi David sebagai sekretaris. Bila pesta telah usai artinya pekerjaannya pun tuntas. Kemudian dia akan pulang menemui kedua buah hatinya.
Dua jam sudah mengelilingi hampir semua toko di pasar itu. Rasa pegal mulai dirasakan di kakinya. Memasuki sebuah toko, matanya tertumbuk pada banyak pakaian yang digantung-gantung. Dia mulai tertarik.
. Apa yang diniatkan, apa yang diambil. Diana tiba-tiba lebih tertarik untuk membeli dua potong daster dan sepasang sandal untuk bu Ida. Kemudian dua stell baju untuk masing-masing si kembar.
Sambil terus berjalan, dia membayangkan, betapa tampan dan cantik kedua buah hatinya memakai baju-baju ini nanti. Dan juga betapa indah senyum di wajah bu Ida menerima daster dan sandalnya. Diana melupakan keinginan membeli dress sejenak.
"Apa baiknya ku pakai saja baju lama ya..?" Pikirnya sendiri.
Tapi kemudian menjadi ragu, saat membayangkan reaksi Agnes nanti. Karena sudah terlalu sering memakai baju itu.
Minggu kemarin baru saja memberikan uang kontrak rumah kepada bu Ida. Dan di hari ini, dia berencana membelikan daster dan sandal. Karena dia melihat daster bu Ida sudah mulai usang.
Diana tersenyum mengingat hubungannya yang agak unik dengan bu Ida. Dia adalah pengontrak rumah dan bu Ida adalah pemilik.Tapi wanita itu memperlakukan Diana seperti anaknya dan sukarela mengasuh kedua buah hatinya.Untuk yang terakhir ini, bu Ida menolak tegas uang yang ditawarkan Diana. Namun saat menukarnya dengan bentuk emas, beliau akhirnya menerima. Diana menjadi lega karena menemukan solusi untuk membayar lelah bu Ida mengurus kedua buah hatinya.Mungkin suatu saat dia akan mengajak wanita berhati tulus itu berbelanja kebutuhannya di pasar ini.
Semakin lama menyusuri pasar Belalang, lama-lama rasa haus dan lapar menderanya. Pada sebuah kios makanan, dia membeli sebungkus roti dan sebotol air kemasan. Tinggal mencari tempat duduk untuk beristirahat sejenak.
"Huft..Capeknya minta ampun.." Keluhnya sendiri.
Diana meminum air dan memakan rotinya.Matanya memperhatikan sekeliling. Hampir semua orang yang lalu lalang mempunyai tujuan yang sama dengannya.
Setelah agak lama duduk, dia pun bangkit dan berjalan kembali.
Di sudut yang agak sepi dia melihat seorang tua yang duduk terpekur.Tidak ada yang mempedulikan.Selain berpenampilan kotor dan bau, dia sepertinya kurang waras.
Diana melewatinya dan seperti pengunjung lain, dia pun mencoba tidak peduli. Namun setelah langkah kelima dia berhenti ketika mendengar suara lirih mirip bisikan.
"Haus..haus.."
Diana terbelalak dan membalikan tubuhnya ke arah orang itu. Darahnya berdesir saat matanya dan mata orang itu bersirobok. Beberapa detik kemudian Diana ingin berbalik. Tapi kembali tertegun.Suara memelas kembali terdengar.
"Aku haus sekali…tolong beri air nyonya.."
Diana memandang ragu botol air minum kemasan di tangannya yang sudah hampir separoh di minum.
"Beri aku air..tolonglah..!" Mohonnya sambil menggapai botol air di tangan Diana.
Diana terpaksa memberikan walaupun ada rasa risi, karena air itu adalah sisanya.Saat orang itu memandang lapar ke kantongnya Diana pun mengangsurkan roti, yang lagi-lagi sudah berkurang hampir separuh karena dimakannya.
Akhirnya Diana memberikan juga rotinya pada orang berkerudung kain yang ternyata adalah wanita.
"Ini bu..Maaf sudah saya makan separuh.."
Wanita itu makan dengan lahap tanpa peduli sekitarnya.
Diana mengikhlaskan air minum dan rotinya.Lalu berniat melanjutkan langkahnya.Namun tiba-tiba kaget agak takut ketika mendengar suara wanita itu.
"Mengapa kamu jadi bodoh, sehingga tidak menyadari kelebihanmu..?Kamu bahkan mampu mengguncang dunia hanya dengan jari-jarimu.."
__ADS_1
"A..apa..?" Diana jadi gugup dan tidak mengerti.Tidak menyangka wanita kumal itu akan berbicara tajam padanya..
Dia tidak bisa menutupi rasa shocknya saat itu. Karena yang dihadapi, adalah orang berpenampilan tidak biasa.
Diana mencoba mengatasi perasaannya. Kemudian memaklumi wanita di depannya hanya orang tidak waras.Diana pun tidak lagi mengindahkan. Namun ketika dia hendak beranjak, sepasang tangan pengemis itu memegang kuat tangannya.
Matanya bahkan menatap tajam. Untuk kesekian kalinya Diana mengalami shoxk terapi mental
" Tunggu..!"
Diana berusaha menguasai dirinya untuk tidak berteriak. Rasa cemas mulai menghampirinya.
Orang itu mengambil sesuatu di kantong kumalnya, kemudian memaksakan sebuah benda ke tangannya.
Diana ragu untuk menerimal benda itu.. Dia tidak menyukai hal-hal berbau klenik. Namun orang itu memaksakan ke tangannya.
"Apa ini..?"
"Kau memerlukannya suatu saat. Pergunakanlah jika memang saatnya tepat
Diana menatap botol kecil dengan ujung mirip tanduk.Di dalamnya terdapat cairan keemasan.
"Itu serum penetral racun yang sangat ampuh.."
"Aku tidak memerlukan ini.." Tolak Diana sambil mengembalikan botol itu.
"Kamu akan memerlukan ini.."
"Aku.."
"Simpan baik-baik..Jangan menggunakan bersamaan dengan obat. Karena akan menghilangkan fungsi obat itu. Obat atau racun akan netral bila terkena serum ini.."
Orang itu kemudian menutupi mukanya dengan kain. Berdiri dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia seorang yang lemah .Seperti yang ditunjukan pertama kali.
"Percayalah..!! Kamu akan memerlukannya suatu saat.."
Diana masih terpana seperti orang bodoh. Dia bahkan tidak menjawab ucapan perpisahan yang samar dia dengar. Menatap dengan ragu ke tangannya yang menggenggam botol aneh itu.
Diana menatap lagi botol itu.
"Apapun ini, aku tidak berani mengambil resiko .." Gumamnya. Mengingat si kembar sudah mulai aktif dan ingin tahu. Diana tidak dapat membayangkan jika botol ini terbuka dan berakhir di tangan anaknya.
Dengan perasaan bosan, Diana melemparkan botol itu ke tempat sampah. Kemudian berjalan cepat dari sana.
Tapi saat sampai di sebuah belokan yang mulai terlihat ramai penjual jajanan, langkahnya terhenti. Pikirannya kembali tertuju pada botol tadi. Menghembuskan nafas kuat, berbalik lagi ke tempat tadi.
"Syukurlah masih ada.." Gumamnya. Tapi dia jadi lucu sendiri dengan ungkapan kata 'syukurnya' .
Diana tidak mau membuang waktu lagi, bergegas pergi dari sana. Bahkan melupakan niatnya semula untuk mencari dress untuk dirinya.
Masih agak linglung, ketika deringan telepon terdengar dari tas . Nama Agnes muncul dengan profil sok cantiknya.
"Hall … "
"Kamu di mana sekarang..?" Serobot Agnes.
Diana membulatkan matanya. Demi Tuhan….Punya sahabat satu-satunya, tapi tidak ada sopan-sopannya. Dia menghela nafas. Lalu menanggapi…
"Heh…!! Heran ya..Kamu itu kalau telepon aku gak ada sopan-sopannya ya..Apalagi basa-basi ."
"Wk..wk…wk..Sorry ya syantik…Soalnya aku melihat sosok mu tadi berjalan di emperan toko. Pas mau nyamperin..eh…Kenapa kamu hilang..? Kamu bisa teleportasi kah..?"
"Jangan ngawur deh..Aku sedang di dekat bengkolan yang ada ATM nya…"
"Oh iya…Di situ..Aku udah lihat tampang dongok mu.."
"Kurang ajar.."
"makasih…"
"Idih..dasar.."
__ADS_1
"Haa..ha..ha.."
Diana menunggu hingga Agnes berjalan mendekati posisinya. Penampilan sahabatnya itu cukup menyita perhatian pria-pria di sekitar jalan yang dilewatinya.Tapi wanita itu tidak peduli dan menikmati saat jadi pusat perhatian. Jalannya malah semakin berlenggang-lenggok menuju ke arah Diana.
Diana geleng-geleng kepala. Ternyata penyakit narsis sahabatnya itu sedang kambuh.
"Tingkahmu menjijikan Agnes.." Ketusnya begitu wanita itu sampai di dekatnya. Agnes malah berlagak bego
"Ah…masa..?"
"Ah masa, ah masa..!! Aku bilangin Erick baru tahu tahu rasa…" Ancam Diana.
Wajah Agnes yang semula sumringah mendadak kaku.
"Eh..Jangan dong beb.." Rajuknya manja.
"Aku malu. Tau nggak..?"
"He..he..sorry.!"
Diana tidak menggubris lagi.Tapi menyeret Agnes agak menjauh dari sana.Diana tidak sama dengan Agnes. Dia tidak suka jadi pusat perhatian.
Pada suatu deretan toko-toko busana yang mewah. Gantian Agnes yang menyeret Diana masuk ke dalam salah satu toko yang cukup terkenal.
"Aku melihat sesuatu yang bagus untukmu..'
"Jangan disini ah, barang-barangnya pasti mahal harganya..!" Protes Diana.
"Alah…Jangan kelewat pelit buat badan sendiri.."Tegas Agnes tak mau kalah.
"Tapi.."
"Dengar Diana..! Aku tahu di dalam rekening kamu isinya lebih dari cukup. Jadi tidak ada salahnya kalau sesekali memanjakan dirimu.."
Agnes akhirnya berhasil mengajak Diana masuk ke dalam toko itu. Tidak mau membuang waktu, langsung menuju ke sebuah konter khusus dress pesta.
"Cari di tempat lain aja yuk, Nes.." Ajak Diana mencoba merayu Agnes.
Agnes tidak mempedulikan. Pikirannya lebih tertuju pada dress cantik, yang di pasangkan di manekin kemarin sore.
Senyum di wajah Agnes semakin sumringah begitu melihat dress itu masih ada. Dan terpasang dengan anggun di manekin. Dress berwarna maroon, berbahan sutra berkualitas tinggi.Di bagian dada dan lengan dihiasi dengan renda halus berwarna senada.
Diana pun juga menyukai dress itu. Agnes memang tahu seleranya.Tanpa ragu dia mengulurkan tangan mengelus bahannya yang lembut.Dia terpesona dan berminat untuk membeli.
Pikiran kedua wanita itu sama-sama terfokus pada benda yang sama. Hingga mengabaikan suara bunyi tumit sepatu wanita yang tiba-tiba terdengar di belakangnya. Diikuti sebuah suara sinis.
"Oh..oh..Lihat siapa ini..?"
Terkejut, Diana dan Agnes menoleh serempak. Keduanya pun tertegun dan heran memandang wanita itu.
Keduanya mengalihkan pandangan ke wanita itu.Mata Diana memutar dengan jemu. Tak kalah sinis dia berkata.
"Kamu bahkan tidak tahu cara menyebut namaku, mengapa jadi sok akrab begitu nyonya"
"Kau.?!!" Bentaknya .Marah wanita itu mulai terpancing. Tapi Diana malah tersenyum melihatnya. Sementara Agnes hanya menonton dan menikmati pertunjukan. Nalurinya otak reptilnya berkata, ini pasti seru.
"Kenapa Risa..? Apakah tiba-tiba merasa tercekik ..?"
Diana tidak mungkin melupakannya sosok wanita angkuh ini. Tapi sekarang tidak ada kata mengalah baginya .Dia akan melayani dengan santai. Kalau perlu akan melontarkan ucapan sinis, yang akan membuat emosi wanita itu naik ke ubun-ubun.
__ADS_1