
Malam itu cuaca bersahabat ditemani langit yang berbintang. Sesekali terdengar deburan ombak dari pantai yang berada beberapa meter di bawah bangunan hotel mewah tersebut.
Pesta ulang tahun perusahaan Blue Stone diselenggarakan di sebuah hotel bintang lima. Penataan hotel yang artistik dengan lampu warna warni dan pemandangan yang menghadap ke laut lepas. Sehingga menampilkan suasana romantis di malam hari. Membuat pengunjung merasa senang dan betah berkunjung ke sana.
Acara malam itu baru saja dimulai. Semua menunggu dengan sabar bintang pesta itu.
Sepasang pria dan wanita keluar dari sebuah mobil balap warna hijau stabilo. Sang pria berpenampilan bak pangeran tampan dan wanitanya bergaun mewah berpotongan sederhana.David John, akan menjadi bintang malam ini. Sedangkan pasangannya ada Diana sang sekretaris. Dimana posisinya menjadi "kekasih" malam ini.
Diana memakai gaun mewah yang harganya tidak main-main.David tidak menyetujuinya memakai gaun maron yang dibelinya kemarin .Dia menganggap gaun itu terlalu murah dipakai Diana sebagai pasangan 'kekasih' seorang David yang agung.
Sementara di tempat yang agak tertutup dengan dekorasi pesta. Erick dan Agnes Menatap dengan sumringah. Agnes sudah mengetahui rencana mereka.
Dia mengerling ke arah Erick.
"Diana cantik sekali bukan..? Dan David juga tampan. Aku sempat berfikir tadi bahwa kemungkinan dia adalah Andita ..".
"Mmh..? Siapa Andita..? Pacar David yang lain lagi kah..?"
"Sst ..Pacar David cuma Andita..Diana cuma sekretaris sekaligus orang kepercayaannya…"
Berbagai percakapan yang membicarakan dia dan David terus bergema sepanjang lantai yang dia lewati dengan David.
"Tetaplah di sampingku..Agar orang tua ku yakin bahwa aku sudah punya pasangan"
"Huff..Seharusnya kamu mengajak kekasihmu Andita ..Supaya aku tidak perlu repot harus menempel ke manapun.."
"Jangan bodoh..! Bagaimana mungkin aku mengajak wanita yang baru seminggu melahirkan anakku. Apalagi dia habis cesar.."
"Kamu sangat melindunginya Dav..Apakah tidak menyadari bahwa sesungguhnya kamu mencintainya..?"
"Sst tenanglah..! Bukankah kita sudah sepakat ..Kamu sudah kujanjikan kompensasi jika setuju melakukan sandiwara ini.."
"Aku tidak suka membohongi orang.Apalagi orang tua.
"Sekali ini saja.."
"Ini mencemari sejarah hidupku.."
"Ahh…Diamlah Diana..Semua orang memperhatikan kita.."
"Mereka pasti berpikir..betapa tidak tahu malunya aku..Janda beranak dua yang menempeli seorang pemuda tampan yang masih lajang.."
"Kamu salah..Mereka justru berfikir betapa serasinya kita.."
Diana tersenyum asam..David selalu mencarinya kika berurusan dengan yang memusingkan kepala. Dia jadi berpikir tentang kedudukannya sebagai sekretaris atau pembantu mana yang benar..?
Bahkan urusan melindungi Andita kekasih David yang baru melahirkan , juga menjadi tugasnya.Dia harus berpura-pura menjadi seorang kekasih saat ini.Salah satu tujuan nya adalah menghindari sebuah perjodohan.
Diana tertawa dalam hati. Bagaimana seorang David yang keras kepala dan angkuh akan patuh pada suatu perjodohan
Apalagi sekarang dia sudah mengetahui sia wanita nya.
"Kamu mempunyai adik ipar yang lumayan sexy Diana.."
"Mantan adik ipar..Ingat itu.."
Tiba-tiba David mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Diana.Posisinya terlihat mesra dari pandangan tamu-tamu yang kebetulan melihat pada mereka.
"Kamu tahu Diana, kamu sangat cantik malam ini.." Bisiknya sok romantis.
"Aku tahu aku cantik..Lalu menurutmu apa yang harus ku lakukan sekarang.."
"Biarkan aku mengusap kepalamu .."Bisik David lagi..
"Kamu hanya tinggal menolak kalau tidak suka.engapa harus repot-repot begini.."
" Belum waktunya.. Andita masih lemah..Aku harus memastikan dia aman dahulu. Bagaimana kalau ada yang ingin menyakiti dia dan anak kami..?"
"Jadi maksudmu aku sebagai tumbal…"
"Yah ..gak mungkin juga.."
"Nyata mya Iya…"
"Heii…Kita sudah sepakat ya kan..?"
"Tapi kau memaksaku.." gerutu Diana.
" Heiii….Lama-lama aku seperti melihat wujud Agnes pada dirimu.." Bisiknya mengejek.
" Heii..Mengapa tiba-tiba membawa-bawa namaku..?" Seru Agnes tiba -tiba sudah berdiri dekat mereka.David mendelik dengan ekspresi mengejek. Kemudian mengatakan sesuatu yang bisa membuat Agnes ingin memukulnya.
"Ku harap Erick menjaga kenakalanmu dengan baik..adikku. " Sentilnya.
Agnes benar-benar memberikan muka mengerikan untuknya.Tapi pria itu malah tertawa ringan.
Tawanya langsung hilang, begitu berhadapan dengan sosok ayahnya yang sudah berada di hadapannya. David menyapa dengan kaku.
"Maafkan saya terlambat.."
__ADS_1
"Yang penting kamu sudah berada disini" Ujar Dalton John ayah dari David John. Dia tidak menyembunyikan rasa bangganya karena mempunyai putra tampan dan tajir.
Tiba-tiba matanya menangkap kehadiran Diana di samping David.Dalton berpura-pura ramah dan peduli.
"Siapa wanita yang bersamamu nak..?
"Ooh…Kenalkan ini Diana sekretarisku .."
Dalton tidak puas menerima begitu saja.Dia harus memastikan hubungan mereka
"Cuma sekretaris kan…?"Bisiknya.Namun cukup kentara di kuping Diana
"Maksudnya pap apa..?" Tanya David pura-pura
"Diana…Maksudku.."
"No problem..Bisa jadi berubah menjadi kekasihku kedepannya.."Jawabnya tak peduli
"Dia tidak pantas denganmu.." Kata ayahnya sinis..
"Oh..benarkah..?Lalu papa kira ****** di sampingmu itu pantas menjadi ibu tiriku.." Ujar David tersinggung.
Dalton menjadi geram seketika.Anak memang sering berkata seenaknya padanya. Menahan marah, dia menegur.
"David.."
"Ah..Sudahlah..itu urusanmu pa…" Katanya pelan. Dia sedang tidak ingin ribut.
Ayah dan anak itu,kemudian berusaha bersikap seperti biasa-biasa saja. Dalton John cepat menangani suasana yang mulai dirasakan canggung.Dia rasa ,dia harus segera melanjutkan rencana semula.
Mata beralih pada tiga orang tamunya yang dari tadi menunggu kedatangan sang putra. Djaelani bersama istri dan putrinya.
"Oh ya David, mari papa kenalkan dengan teman SMA, papa dulu..! Mari pak Djaelani, perkenalkan putra saya David John.."Ujar Dalton John dengan mimik bangga.
David menyalami Djaelani, Marlena dan terakhir Dara.
Jangan di tanyakan ekspresi ketiga orang itu ,saat melihat David. Seperti orang lapar melihat potongan kue besar. David mendengus dalam hati. Karena dia sesungguhnya sudah mengetahui siapa ketiga orang di depannya.Sekalian hubungan mereka dengan Diana. Tapi David ingin menikmati pertunjukan ini.
Beberapa detik kemudian, David juga memperkenalkan Diana.Yang membuat wajah ketiga orang itu membeku seketika.
Hanya beberapa saat waktu terjeda, masing-masing hampir tidak mampu menitupj aura kebencian nya.
Dan bukan Diana namanya jika tidak memanfaatkan setiap moment sebagai ajang balas dendamnya.
"Selamat berjumpa lagi nyonya mantan mertua….tuan mantan mertua..nona dara mantan ipar…"
"Kamu…"Desis Marlena.
"Sungguh dunia yang sempit untuk kita bukan…?" Kata Diana pura-pura senyum.Tapi disambut cibiran dari Dara
"Masih tetap yang sama..cuma sampah.." Celetukan Dara pelan.Namun cukup terdengar di telinga kedua orang itu. Bahkan David mengangkat alisnya menatap penuh menilai.
Dara menyadari nya. Wajahnya memucat dan kikuk. Ketika menyadari reaksi David yang mendengar celetukannya. Dia cepat beralih peran untuk diri sendiri. Menampilkan sosok elegant wanita yang berkelas.
"Anda cukup berkarakter nona Dara.." Sindirnya tajam.
Marlena adalah orang yang pertama kali menyadari keadaan.Bertindak cepat sebagai ibu dan mantan mertua yang bijaksana.Walaupun ujung-ujungnya tetap runcing menusuk seperti pisau ke jantung.
"Ah..Dara dan Diana dulunya memang suka bercanda. Oh ya.. Apa kabar Diana..? Apakah kamu meninggalkan kedua anakmu sendirian di rumah..?"
"Aku belum pernah melakukan itu.."Jawab Diana cepat.
"Oh..ya..?Lalu kamu meninggalkan dengan perempuan tua itu..?"
"Bu Ida..Ya. Tapi anda salah mengatakan dia perempuan tua, sementara anda tidak menyadari kerentanan anda.." Balas Diana tak ampun.
Marlena langsung mengatupkan mulut dengan gigi gemerutuk Bagaimana mungkin mantan menantu yang diremehkan mempunyai kekuatan mengganteng bujangan emas David John. Dunia tidak adil. Pikirnya..
Sementara David menatap pacar ayahnya yang berperan sebagai istri Dalton John. Wanita yang telahmembuat mendiang ibunya menderita. Karena dulunya dia adalah mantan pengasuh David yang merangkak ke ranjang ayahnya. Penampilannya seperti pemeran blue film, ternyata sanggup meruntuhkan iman Dalton. Hingga melupakan janji setianya pada sang istri.
Semenjak remaja, David menyimpan dendamnya untuk diri sendiri. Hingga ketika warisan ibunya telah jatuh ke tangannya, dia mulai mampu menunjukan amarahnya.Dia berjanji akan membalas semua rasa sakit ibunya kepada dua orang itu.
Dalton menyadari itu.Tapi sekarang tidak mempunyai kuasa untuk mengontrol sikap anaknya.
"Ehm David..Ajaklah Dara berkeliling dan perkenalkan dia kepada rekan-rekan kita dan teman-temanmu.Mungkin kedepannya kita akan semakin menjalin hubungan yang lebih dekat satu sama lain..?"
"Begitu .? Apakah anda yakin mereka akan menyukainya..? Maksudku , orang-orang itu nantinya..,"
"Mengapa tidak..?"Marlena langsung menyambar. Dibalas lirikan tajam oleh suaminya.
"Ehm..Maksudku ada baiknya dia lebih dekat mengenalmu, dan juga orang-orang sekelilingmu.Bukankah di masa depan Dara akan banyak membantumu juga.."
"Maksud nyonya..?"
"Maksudnya David sayangku..Kamu dijodohkan dengan anaknya. Tapi bagaimana mungkin dia melakukan itu.Tidaklah dia melihatmu menggandengku .?"Ejek Diana tajam.
"Benarkah..? Ck..ck..ck…Benar-benar membuatku tersanjung nyonya.."
Diana hanya mengulum tawa. Ada hal unik tentang David yang tidak semua mengetahuinya.Kecuali dia dan Agnes.
__ADS_1
Pria dingin dengan segudang keangkuhan juga adalah pria yang konyol dan jahil. Dia akan berwibawa dan dingin setiap harinya, namun ada satu menit dalam dirinya yang bisa berubah tiba-tiba.
"Ku kira aku akan berbelas kasih sekali ini Dav..Ayo pergilah bawa nona besar ini berkeliling. Tapi jangan berkecil hati ya,Karena kalau dia menemukan ikan yang lebih besar untuk di pancing, maka dia akan membuangmu.."
David terkekeh mendengar ucapan Diana yang memperingatkan dirinya. Secara tidak langsung sudah menyadarkan nasib yang telah diterimanya dari keluarga Djaelani.
Diana melangkah menuju tempat kue-kue cantik tertata rapi.Agnes sudah menunggu di sana.Sementara Erick sedang berbincang-bincang dengan seseorang. Apalagi yang dibahas kalau bukan sekitar urusan bisnis.Dan Agnes tidak suka hanya jadi pajangan dekat mereka.Bukankah sibuk sendiri dengan berbagai makanan lezat lebih mengasyikan. Ini pesta bray..bukan kantor.!
"Kamu sudah dibuang David..? Kelakar Agnes sambil cekikikan.
"Yah ..sepertinya nasibku memang harus begini ..!" Sahut Diana tak kalah konyol.
"Percayalah padaku..Dunia ini tidak hanya diisi satu dua orang pria tampan dan mapan. Kamu bahkan memiliki sepuluh kali kesempatan menikah dengan pria-pria pilihan. Hanya menunggu waktu kapan kamu ingin melakukan nya…"
"Diih…Jadi serius gitu..?" Cibir Diana.
" Ah nggak..!! Bohongan.."
"He..he..he. Dasar..!"
"Eh ..Kita cicipi menu di sana yuk. Aku dengar zuppa soup nya lezat lo.."
"Kamu saja ke sana Nes. Aku tidak terlalu suka soup lengket-lengket begitu. "
"Oh ya udah.Tunggu aku di sini ya..!"
"Oke.."
Diana mengalihkan pandangan pada kue-kue cantik di sampingnya. Dia lebih betah memperhatikan keindahannya dari pada memakan salah satunya.Tiba-tiba terdengar suara di belakang punggungnya.
"Mereka akan sedih jika tidak kamu cicipi salah satunya sayang.."
Diana memutar badan dan mendapatkan sosok Adnan yang berdiri gagah di belakangnya. Dia memang tampan dan berkharisma. Tapi juga menjadi racun hidup bagi Diana .Dia mendengus.
"Wah..Satu keluarga datang ke sini..Sepertinya kalian yakin Dara akan lolos kualifikasi calon istri.."
"Aku datang dengan diriku sendiri..tidak ada urusannya dengan perjodohan Dara dengan David.."Jawab Adnan enteng.
Matanya tidak berhenti memandangi wajah Diana dan penampilannya yang memukau Adnan tidak pernah melihat sebelumnya. Ternyata mutiara dalam lumpur mulai menampakan sinarnya.
Diana mulai jengah.Dia tidak suka berbagi oksigen dengan pria di hadapannya itu.Wanita itu kemudian mulai mengambil langkah menjauhi pria yang pernah jadi suaminya itu
"Kamu mau ke mana..?Tidak bisakah kita ngobrol seperti teman..?" Tanya Adnan berusaha menahannya.
"Aku tidak akan pernah menganggap pengkhianat sebagai teman..Cam kan itu.." Ucapnya sambil meninggalkan Adnan yang tertohok karena ucapannya.
"Aku hanya manusia biasa Diana..Mengapa tidak memberikan sedikitpun celah untuk berbaikan denganmu..?" Tatapannya nanar, begitu langkah-langkah Diana menjauhi. Adnan tidak sadar sudah berapa lama dia berdiri dalam posisi tetap .
Diana akhirnyabernafas lega saat lepas dari Adnan.Ketika melewati sekelompok orang ,terdiri dari dua dan satu wanita. Mereka sedang membicarakan sesuatu yang mengusik pendengaran. Diana.
"Benar-benar ******.Bagaimana dia bisa hinggap dari satu pria ke pria lain.
Diana menoleh saat tatapan matanya langsung pada seorang wanita yang berbicara dengan rekan pria.
Wanita itu bahkan belum pernah melihatnya. Sehingga tanpa beban menyemburkan ludahnya yang ber api..Di lihat dari penampilannya ,sangat bertolak belakang dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Diana berhenti melangkah. Menatap datar sambil mempelajari mereka. Kalau tidak salah mereka dari divisi pengadaan. Diana ingin memastikan siapa yang mereka bicarakan. Karena kata-kata itu diucapkan saat dia melewati mereka.
Pengalaman masa lampau mengajari Diana, bahwa dia harus mendisiplinkan seseorang yang bertingkah mulai tidak sopan padanya.
Tapi kemudian mengetahui objek yang mereka bicarakan bukan dirinya, melainkan Dara , adik perempuan Adnan.Diana semakin tertarik untuk mengetahui kelanjutannya.
Mata mereka serentak memandang pada satu objek yang sedang menempel pada David. Memperlihatkan sikap kepemilikan sepihak darinya.
Wanita tadi mendengus tajam dan memandang sinis.
"Memangnya adakah hal tidak pantas , yang tidak sanggup dia dilakukan untuk mencapai tujuannya. Bahkan keluarganya pun berkarakter sama dengannya ."
" Ya, kamu benar. Ku dengar dahulu mereka pernah menendang keluar seorang wanita .Yang sudah berstatus menantu resmi keluarga itu selama dua tahun"
Diana tersenyum dingin dalam diam.Sementara mereka semakin bergunjing dengan bebas.
"Masa sih..? Kamu tau dari mana..?"Tanya tang berbaju merah ketat.
"Ya tahulah..Kebetulan saja aku mengetahui kejadian itu.Kira-kira dua tahun lalu aku sempat magang di perusahaan keluarga itu.. Hampir tiap hari mereka diperbincangkan. Sayang sekali, aku tidak sempat tahu seperti apa wajah wanita malang itu.Dia benar-benar diperlakukan tidak adil.."
" Bagaimana nasib wanita itu sekarang..?"
"Entahlah..Ku dengar dia menghilang malam setelah kejadian itu.."
"Kasihan sekali. Lalu bagaimana dengan suami ya..?"
"Siapa..? Suami..?..Dia tidak.pantas disebut suami.Lebih tepat memanggilnya. Pecundang sampah.."
Diana sudah mulai jenuh mendengar pergunjingan mereka. Kemudian bersikap seolah-olah tertarik pada tatanan piring-piring kue dan buah yang sangat menarik mata. Orang-orang yang melihat tingkahnya tidak ada yang menyangka .Bahwa sebenarnya dia itu adalah salah satu objek pembicaraan mereka. Keadaan mungkin agak berubah kalau yang mendengarkan adalah Dara, dan bukan Diana.
Sementara itu, di sisi yang agak terlindung, seseorang berdiri dengan kaku. Dari tempatnya berada,dia juga ikut mendengarkan percakapan itu. Tapi selanjutnya lebih tertarik dengan sikap dan reaksi Diana.
Pria yang tak lain adalah Adnan menghela nafasnya berat.
__ADS_1
"Kalian benar..Aku adalah pecundang sampah yang tidak mampu menjaga miliknya yang berharga…." Bisiknya pelan.