MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
PELAMPIASAN AMARAH


__ADS_3

     Saat memasuki pekarangan rumahnya, Diana disambut pemandangan yang semakin memuakkan nya Sebuah mobil silver metalik, seolah menantang nya di kegelapan malam. Diana menjadi miris, teringat memori pahit masa lalu.Mobil dengan merek dan warna yang hampir sama dengan yang lama. Yang pernah digunakan saat Adnan mengantarkan  Risa pulang dari rumah mereka.Saat itu dia terlalu polos untuk mencurigai suaminya sendiri. 


     Teringat perselisihan dengan Risa di toko pakaian tadi, membuat moodnya jadi berantakan. Dia ingin menenangkan diri sejenak bersama si kembar menjelang jam tidur, tanpa gangguan siapapun. Diana sangat rindu setelah seharian meninggalkan mereka dengan bu Ida.


Namun di saat dia tidak ingin menerima siapapun untuk jadi tamunya, Adnan sudah menunggunya dengan santai. Pria itu adalah salah satu manusia yang paling  ingin dia hindari. Sayang sekali, harapannya tidak dikabulkan kali ini.


     Memasuki rumah, dia tidak menjumpai bu Ida. Selain  Adnan sendiri bersama si kembar .Pria itu langsung menebak isi kepala mantan istrinya itu


   "Kamu sudah datang Diana…?" Sapanya basa basi.


      "Seperti yang terlihat…" Jawabnya tak acuh. Dia bekalan mencati keberadaan bu Ida melalui pintu sambung ke rumah bu Ida.."


     "Bu Ida sepertinya kurang sehat. Aku menyarankan untuk istirahat cepat.."


        "Mengapa dia tidak menelpon ku ya..?" Gumam Diana sendiri.


       Dia menoleh pada Adnan .Mempelajari gestur pria itu. Hal yang tidak berani dia lakukan di masa lalu. Adna hanya balas menatap tenang.


"Maaf kalau aku tidak mengabari kedatanganku sebelumnya. Aku rindu sekali pada mereka.."


       "Mmhh.."


      "Wah…Kamu cepat sekali ya..?Bahkan bu Ida langsung menurut padamu.." Kata Diana sinis.


      Adnan tersenyum simpul.Hal yang sangat jarang dilakukan.Dia paham saat Diana mulai mengibarkan bendera perang.


       "Aku bukan bermaksud begitu..Tapi sebaiknya ku carikan pengasuh untuk si kembar selagi kamu bekerja. Meskipun aku lebih menyarankan kamu di rumah saja. Aku akan membiayaimu melebihi gajimu di Blue Stone.." Terangnya sambil berdiri dengan si kembar digendongannya.


Diana melihat betapa tenangnya kedua balita itu. Perasaan iri sedikit muncul di hatinya.


       "Simpan niat baikmu ..Aku lebih suka hidup dengan hasil keringatku sendiri. Walaupun aku memang butuh, lebih baik minta tolong dengan orang lain.."


       Adnan menatap Diana dengan berbagai pikiran di kepalanya.Dia mendesah kesal.


       "Diana..Turunkanlah egomu sedikit demi anak-anak kita..!" Katanya kemudian.


Diana malah menantang.Hal yang tidak pernah dilakukannya di waktu lalu.


       "Jangan mendikteku..Kamu kira dari pertama hamil sampai membesarkan si kembar hingga detik ini aku ditopang siap hah..? Kamu kah..? Keluargamu kah..?Sudahlah Adnan.Sudah sangat terlambat bagimu untuk berbaik baik denganku.."Kata Diana sengit.


     .Diana  bahkan hampir tidak mampu menutupi kemarahannya  yang gampang tersulut, jika berhadapan dengan pria ini.  Saat bertatapan dengan manik mata Adnan matanya menyalakan api. Adnan hanya menatap dalam diam. Sosok pria tegap bertubuh tinggi lebih dari 185 cm itu, mendominasi ruangan. Dipangkuannya duduk dengan tenang sepasang kembar  Said dan Savana. Mereka memandang bingung pada Diana.


      Ketika bertatapan dengan dua pasang mata polos si kembar, Dia tidak mampu menutupi perasaan bersalah di hatinya.Bagaimana dia bisa tega mengambil kebahagiaan dari buah hatinya..? Matanya nanar melihat perlakuan lembut dan sabar Adnan pada mereka.


      Seandainya peristiwa dulu tidak terjadi, tentu pemandangan sekarang begitu indah. Ketika mereka adalah cerminan keluarga yang bahagia. Karena Said dan Savana mempunyai keluarga lengkap yang menjaga mereka. 


       Tapi kenyataan itu tidak mungkin akan dapat terpenuhi oleh Diana. Adman sudah memberi luka yang dalam untuknya. Bahkan kehidupan berpuluh tahun belum tentu mampu membuat Diana sembuh dari rasa sakit itu.Peristiwa itu sering menghantui mimpi-mimpi dalam tidurnya.


        Adnan menyadari ketika Diana terdiam. Beberapa saat hanya menanggapi dengan tenang. Perlahan dia menurunkan si kembar dari pangkuannya. Kedua balita kecil itu berlari kegirangan ke arah ibunya. Diana menyambut mereka dengan hangat Memeluk dan meresapi bau alami mereka yang wangi.


       Adnan memperhatikan dengan terpesona interaksi ketiganya.


       "Bisa minta waktumu sebentar ..?Aku ada yang akan dibicarakan.."


        " Bicaralah yang cepat. Setelah itu silahkan pergi. Aku kehabisan oksigen bila di dekatmu.."

__ADS_1


        "Maaf.Aku akan mengganti dengan oksigen yang baru untukmu.."Katanya mencoba bercanda.


        "Gak usah minta maaf….Cepat katakan..!" Ketusnya.


     Adnan terdiam beberapa saat. Tertawa masam. Tidak mudah memulihkan hati Diana untuknya. 


        "Diana.. Bagaimana hubunganmu dengan David..?..Ehm…Maksudku bentuk hubunganmu bagaimana..?"


        "Apakah penting bagimu..?"Tanya Diana balik. 


        "Diana…"


        "Cukup mas Adnan yang terhormat. Jangan terlalu masuk ke dalam ranah pribadiku '


       "Aku harus mengetahui ini Diana.." Tegas Adnan.


       " Kita sudah bercerai dan kamu bahkan sudah menikah dengan Risa.Bahkan sudah punya anak. Mengapa tidak mengurusi anakmu dengan Risa ?'


         "Aku dan Risa sudah bercerai, dan anak itu bukan anakku. Kamu sudah pasti mengetahui itu.."


         "Cih…!"


         "Diana


         "Lalu? Apakah menurutmu itu berita membahagiakan untukku..? Lalu menerima kedatanganmu dengan tangan terbuka, kemudian mengontrol kehidupanku..?"


         "Tolong Diana, dengarkan dulu..!"


          "Biar ku perjelas..Apapun itu, jangan jadikan alasan untuk memperkuat posisimu di depanku.."


        "Tapi kamu sudah melakukan bukan..?"


         "Baiklah…Aku akan terus terang padamu"


        "Mmh.."


        "Aku  masih mencintaimu..aku sangat mencintaimu. Walaupun tahu kamu sangat marah padaku dan keluargaku.."


         "Oh..baguslah.."


          "Aku pun rela menerima kebencianmu padaku. Ku anggap ini adalah hukumanku.."


        "Aku tidak peduli..!"


        "Tolong dengarkan aku dulu..!"


         "Bicaralah..Apalagi yang kamu tunggu..?"


        Adnan menghela nafasnya.


        "Orang tuaku dan orang tua  David berkehendak menjodohkan Dara dengan David.."


        "Wahhh …." Diana surprise mendengarnya.


        Tapi ekspresi menjijikan terlihat dan diikuti cibiran yang meremehkan.Matanya  membulat beberapa saat.Kemudian diputar , diikuti ekspresi jengah di wajahnya.

__ADS_1


        "....."


        "Ternyata keluargamu memang tidak ingin sesuatu yang menguntungkan terlewati  ya..?" Sindirnya. 


       Adnan menyadari itu.Dia mengalihkan pembicaraan.


       'Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi..!'


       "Maksudmu..? Tentang hubunganku dengan David..?"


       'Ya..Kuharap tidak terlalu jauh.." Jawab Adnan penuh harap.


       Diana melipat tangannya, dan memandang dingin pada pria di hadapannya. Tiba-tiba senyum licik terukir di bibirnya. Saat ini dia berharap pria di depannya ini benar-benar terluka.


      "Bagaimana kalau kukatakan hubungan kami memang sudah sangat jauh..?"


       "Maksudmu..?" Tanya Adnan gusar.


     Seperti ada  kaca yang pecah di wajahnya. Bibirnya memucat. Dan matanya menjadi sendu dan berkaca-kaca.


     Diana belum merasa puas melihat itu.Dia ingin menikmati keputus asaan Adnan pada tingkat yang lebih.


    "Kenapa..? Kita sama-sama orang dewasa. Apakah ada yang ku khianati..? Tidak  ada kan..?"


     'Diana…Diana…..!" Panggil Adnan bergetar. Suaranya serak menyerupai bisikan. Seperti ada palu besar menghantam dadanya.


     "Mengapa tidak kamu tanyakan langsung pada David..? Dan mengenai Dara yang akan  dijodohkan dengan David….Kamu ingin tahu tanggapanku..?"


      "...."


      "Aku berdoa…Semoga adikmu yang  menyebalkan itu ditolak dan dilepehkan  oleh David.."


      "Dan saat peristiwa itu terjadi, aku berharap hadir dan menyaksikannya . Sehingga adik dan keluargamu malu dan terhina…"


      "Diana…Jangan mengucapkan kata-kata itu.."


       "Aku akan mengucapkan sampai aku puas. Kau paham itu..? Karena tidak ada sedikitpun kebaikan yang akan ku sisakan untukmu dan keluargamu.."


     Adnan kembali tertohok mendengar kata-kata dari mulut Diana. Berapa kali pun dia mencoba untuk kuat menahan makian yang sering dilemparkan Diana padanya, Dia tetap bertahan .


       Karena rasa bersalah yang menderanya , membuatnya tidak ingin membalas makian itu. Adnan lebih memilih sebagai objek pelampiasan kemarahan wanita itu tanpa menghindar sedikitpun Karena hanya dengan begitu dia bisa tetap bersama mereka .Mantan istri dan kedua buah hatinya. Adnan bersumpah tidak akan menyerah. Diam-diam berdoa, agar suatu saat ada celah hati Diana untuk dia masuki.


     Suara rengekan si kembar mengusik perdebatan kedua orang itu. Mereka kembali pada kenyataan bahwa ada dua makhluk lucu yang membutuhkan perhatian mereka. Kedua nya sama-sama tertegun . Diana yang pertama kali tersadar.


      "Anak-anak mami mau bobo ya..? Ayuk..Kita masuk kamar.." 


      Suara Diana yang tadi begitu ketus dan galak ,berubah jadi seratus delapan puluh derajat saat berbicara dengan si kembar. Adnan Pun menikmati kelembutan yang dulu pernah diberikan padanya. 


       Namun lamunan itu buyar.Ketika tersadarkan oleh suara Diana.


      "Sudah waktunya kamu pulang..!" Perintahnya singkat.


      Adnan mengangguk tanda mengerti. Merunduk menciumi kedua buah hatinya. Saat dia menegakkan kembali tubuhnya, menatap pada wajah wanita di depannya. Betapa dia merindukan untuk memeluk wanita itu dalam jangka waktu lama.Hal yang jarang dilakukan selama pernikahan mereka dulu. Pria itu memaki dirinya dalam diam, saat mengingat belum pernah memberikan apapun untuk wanita itu . Adnan  merasa putus asa membayangkan seandainya semua sudah terlambat untuknya.


     Diana tidak terlalu memperdulikan ekspresi sendu pria itu.Hatinya sudah lama tertutup dalam kebekuan. Dan dia hanyalah manusia biasa yang tidak mampu menampilkan bahwa semua baik-baik saja setelah luka berdarah yang ditorehkan di batinnya.

__ADS_1


__ADS_2