
Flashback
Satu tahun lalu di kota M
Adnan duduk dengan gelisah di dalam mobil yang akan membawanya ke bandara. Sudah lewat setengah jam macet tidak juga terurai.Padahal pesawatnya akan take off dua jam lagi.
Dia sedang dalam perjalanan ke luar kota untuk meninjau salah proyek di sana.Mungkin akan memakan waktu hingga tiga hari kedepan.Namun tidak menyangka akan bertemu dengan peristiwa yang menghambat perjalanannya
Di jalan tol yang akan menuju bandara telah terjadi kemacetan panjang. Karena kerumunan demonstrasi mahasiswa yang menyuarakan aspirasinya.
Mereka menyampaikan protes kelangkaan minyak goreng dan gas elpiji. Tanda simpati mereka terhadap keluhan emak-emak akhir-akhir ini.Masalah yang akan berimbas kepada perekonomian dan ketentraman rumah tangga .Khususnya strata menengah ke bawah.Yang sebelumnya sudah mengeluh soal uang belanja yang kurang kepada suami-suami mereka.
Para aparat kemudian didatangkan untuk membubarkan mereka. Karena sudah mengganggu kepentingan umum. Dua jam kemudian demonstrasi telah dibubarkan, Namun Adnan sudah ketinggalan pesawat.
Dengan kesal memerintahkan sopirnya untuk berputar arah menuju pulang dan menunda keberangkatannya hingga besok pagi.Dia sudah sangat lelah. Perjalanan yang tertunda dan udara yang gerah menguras emosinya.
Saat memasuki gerbang rumah, Adnan disambut tangisan Rafael. Keras dan melengking.Mengalahkan suara pengasuhnya terdengar membujuk bayi berusia lima bulan itu diam.
Adnan semakin melangkah ke dalam rumah. Dia tidak melihat keberadaan Risa di manapun. Di pintu kamar Rafael yang sedikit terbuka dia menolehkan kepalanya ke dalam. Seorang baby sitter bernama Anin terlihat sedang sibuk membujuk Rafael.Hingga beberapa saat kemudian bayi itu mulai tenang.
Anin menoleh saat melihat bayangan di pintu.
"Eh..?Bapak kok balik lagi ?.."
Adnan berhenti sejenak .Matanya memindai di sekitar ruangan.
"Ibu mana ? Tanya Adnan tanpa menjawab pertanyaan pengasuh anak tirinya.
"Keluar pak.."
"Kemana..?"
"Kurang tahu sih pak.Ibu gak bilang ke mana.Cuma saya rasa mungkin agak lama "
"Maksudnya ?"
"Oo..Maksud saya, mungkin nginap gitu lo pak.Soalnya ibu bawa pakaian satu tas kecil.Dan perginya dengan tuan Bima ?"
"Sama tuan Bima ?"
" Iya pak.."
Adnan mengerutkan keningnya.Nalurinya mengatakan ada yang aneh .Dia mulai bertanya serius.
"Nin ?"
"Ya pak ?"
"Kalau sudah tidur, coba si ade di taruh dulu ! Temui saya di ruang tamu.Ada yang mau saya tanyakan ke kamu "
Setelah mengatakan itu Adnan kembali ke ruang tamu.Dia menenangkan perasaannya yang mulai tidak tenang.
Beberapa saat kemudian, pengasuh Rafael yang bernama Anin menghampiri tuannya.
"Duduk Nin."
"Baik pak.."
Adnan menghela nafas berat.Kemudian bertanya hati-hati karena melihat wajah cemas di wajah Nining.Tangan pengasuh Rafael itu meremas satu sama lain.Dia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya.
"Coba cerita Ning, siapa tuan Bima itu."
"Sa..saya..'
"Mmhhh…..Jangan jawab tidak tahu Ning. Saya bisa membaca bahwa kamu kenal dengan orang itu.Dan apa hubungannya dengan istri saya.."
Ragu-ragu kemudian Nining bercerita dengan suara terbata-bata.
"Tuan Bima sudah sering ke sini pak. "
"Sudah berapa lama ?"
__ADS_1
"Kira-kira tiga bulan ini, setiap bapak keluar kota.."
"Ngapain saja di sini ?"
"Kadang keluar sama ibu.."
"Pernah nginap ?"
Anin terdiam.Wajahnya gelisah dan ketakutan. Tak lama kemudian dia menganggukan kepala.
"Dengan ibu ?"
"Ya ..pak ."
Adnan tidak mau menanyakan lebih lanjut.Dia memutuskan akan menyelidiki sendiri. Sebenarnya dia cuma ingin membuktikan firasatnya selama ini.
Ketika memasuki kamar tamu, dia mencium parfum maskulin.Yang dipastikan bukan miliknya.Bercampur dengan parfum Risa istrinya.
Berjalan ke pojok kamar, dia mengulurkan tangan ke sisi yang tersembunyi yang tak terlihat orang.Sebuah kamera kecil, hanya sebesar headset. Menimang-nimang kemudian memasukan ke dalam saku.Dia melangkah ke luar menuju ruang kerjanya.
Dia menemukan bukti yang dia cari .Pada layar monitor di ruang kerjanya.Terlihat adegan perselingkuhan Risa dengan seorang pria.Adnan berusaha menahan emosinya saat mendengar ******* istrinya di bawah pria itu. Cukup sudah…!! Gumamnya kemudian.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk mengetahui keberadaan istrinya. Sepanjang waktu, Adnan tersenyum sinis mengingat kelakuan Risa.
Bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan bayi hanya untuk pergi berlibur dengan teman-temannya.Untuk kesekian kali Adnan merasakan tidak dianggap sebagai suami. Walaupun sudah cukup lama dia rasakan.
Berkat bantuan beberapa informasi, akhirnya Adnan menemukan lokasi istrinya berada.Di sebuah tempat di tengah laut bernama pulau Amor.
Adnan tidak mau tanggung-tanggung .Dengan berbagai cara akhirnya sampai di pulau itu.
Ternyata disana diadakan pesta kaum hedonis. Dengan mudah akhirnya dia mendapatkan undangan untuk masuk ke dalam area pesta itu.
Namun Adnan tidak ingin menampakan diri terlebih dahulu.Karena yakin akan ada mengenalnya diantara tamu undangan itu.Dia hanya perlu sedikit waktu untuk mencari untuk mengetahui keberadaan Risa,di tengah pesta itu.Kemudian bersembunyi di tempat yang agak terlindung.
.Tidak memakan waktu lama sosok Risa akhirnya terlihat.Memakai baju dengan warna dan aksesoris yang mencolok tidak sulit mengetahui keberadaan wanita itu.
Adnan menggertakan giginya saat melihat Risa. Istrinya sedang bersandar manja pada seseorang yang diyakini bernama Bima. Sepertinya Risa sudah mulai mabuk.
Pada saat Risa dan pasangannya hampir melewati tempat Adnan berada, pria itu semakin menyembunyikan dirinya di sudut yang tertutup oleh hiasan pesta.Namun matanya tajam mengikuti kedua orang itu.
Adnan memastikan arah mereka berjalan. Ternyata menuju pintu keluar dari lingkungan pesta.Karena pesta diadakan di taman, tidak sulit bagi Adnan mengikuti.
Pada sebuah bungalow yang sengaja disediakan pemilik pesta, Adnan berhenti dan terus memperhatikan. Risa dan Bima berpelukan mesra menuju sebuah kamar.Sesekali saling tukar cium tanpa memperdulikan sekelilingnya.
Adnan tersenyum masam mengingat kekonyolannya saat ini.Adakah suami yang seperti dia.? Adnan jad miris menertawakan diri sendiri.
"Aku mau membuktikan dengan mata kepalaku sendiri. Seberapa ****** dirimu Risa." Gumamnya kemudian
Tuhan menyertainya.Saat melihat seorang pelayan akan mengantarkan makanan dia memanggilnya.Dengan beberapa negosiasi yang cukup menguntungkan si pelayan, akhirnya dia semakin dekat dengan sasaran.
Pada sebuah pintu kamar yang sudah dipastikan dihuni Risa dan pasangannya , dia berhenti dan menyeringai. Menunggu sekitar beberapa menit, momen yang pas .
Ketika itu, suara-suara aneh yang membangkitkan perasaan aneh mulai terdengar.Makin lama makin cepat dan bersahut-sahutan.Adnan menghitung waktu lalu mengetuk.
"Room service.." Panggilnya sedikit menundukan kepala. Topi melindungi bentuk wajahnya. Agar tidak sampai terlihat di lobang intip.
Dia cukup lama menunggu.Hingga mengulang panggilannya sambil mengetuk pintu.
Terdengar umpatan dari dalam.Adnan menyeringai kejam.Dia bahkan tidak lupa memasang kamera kecil di kancing bajunya.
Pintu terbuka.
Seraut wajah pria terlihat begitu marah. Tampang kesal tidak disembunyikan karena merasa terganggu.
Dia ingin memuntahkan kata-kata kasar.
Namun saat bertatapan dengan wajah Adnan mukanya berubah kaget dan pucat Tidak membuang waktu.Adnan langsung mengayunkan tendangan atas hingga mengenai dagunya.Pria yang bernama Bima itu tidak siap sehingga jatuh terhumbalang.
"Kau..?" Serunya kaget.
Dia terhuyung tanpa pakaian di tubuhnya.Hanya celana boxer yang terbalik karena dipasang terburu-buru.
__ADS_1
"Iya..aku. Sepertinya kau mengenalku brengsek." Kembali mengayunkan tinju ke wajahnya.Pria itu kembali di hajar.Adnan kembali mengayunkan tinju.
Namun kali ini pria itu sudah bangkit dan bersiap..Sehingga tinju Adnan meleset saat pria itu menghindar.
Beberapa orang tiba-tiba mulai berkumpul ingin tahu.Bahkan ada yang membawa hp dan menghidupkan kamera.
"Brengsek ." Bima mengumpat melihat ke pintu. Bagi orang-orang kaya seperti mereka.Nama baik adalah harga yang sangat mahal .Pengaruhnya sangat besar pada bisnis-bisnis mereka .
Adnan melihat Bima lengah, mendapatkan kesempatan menghajarnya lagi.Tapi diurungkan ketika terdengar suara manja dari dalam kamar.Kemudian diikuti bunyi langkah-langkah kaki yang diseret.
Bunyinya semakin dekat sehingga akhirnya memunculkan wajah cantik berpakaian seadanya.
"Sayang, kenapa ribut sekali sih ? Ada
ap….???"
Matanya terbelalak kaget melihat keadaan yang kacau balau.Apalagi kondisi Bima yang lebam . Ketika memutar wajahnya menatap si penyerang.Saat itu dia hampir kehilangan kesadarannya.
Wajah Adnan menyeringai seperti iblis.Satu tarikan nafas dari suaminya itu seperti mampu membuat lidahnya kepalanya tercabut.
"Mas..Mas Adnan..?" Panggilnya gemetar.
Adnan yang sudah berhasil mengontrol emosinya tersenyum dingin.Dia bahkan tidak memperdulikan Bima yang diam-diam berlari ke luar kamar menyelamatkan diri.
"Sepertinya aku mengganggu perzinahan istriku yang ******.."Ucapnya pedas.
"Aku bisa jelaskan ini.."
"Hee…hee ..Apa kau mau menjelaskan kenapa ****** bertaburan di leher dan dadamu yang hampir tidak ditutupi..?
Lisa terdiam tak berkutik.Tubuhnya bergetar menahan malu dan takut.Apalagi saat melihat beberapa orang yang ikut berkumpul di pintu.
Adnan memperhatikan tampang istrinya yang berantakan karena habis di gauli pria lain.
"Bahkan dari tubuhmu masih menguar aroma persetubuhan dengan selingkuhan mu."
Dia menghela nafas berat.Harga dirinya sudah semakin terinjak-injak. Sementara Risa semakin gugup berusaha menutupi area tubuhnya yang terbuka. Adnan menatap dalam
"Kita bercerai.." Katanya dingin.
Risa terperangah.Sampai kapan pu. Dia tidak ingin bercerai dari Adnan.
"Jangan..mas..Aku minta maaf.." Mohonnya terburu-buru.Dia berusaha menggapai lengan Adnan.
"Singkirkan tangan kotormu betina ******. Kau tidak lebih dari hewan di mataku sekarang.Lebih tepatnya seekor anj*ng pemakan kotoran." Ucapnya kejam.
Air mata mengalir di pipi Risa.Untuk pertama kali di dalam hidupnya sebagai wanita kelas atas dihina dengan sangat rendah .Bahkan disamakan dengan bintang.
Dia tidak berani lagi menatap apalagi menyentuh Adnan. Karena sadar kali ini tidak akan ada maaf untuknya.
"Aku menunggumu di pengadilan besok.Kuharap jangan mempersulit perceraian ini.Atau bukti perzinahan akan dibongkar ke media massa "Ancam Adnan. Dia berjalan ke pintu.Di mana kerumunan tadi sudah bubar.
"Kau tidak mungkin melakukannya.." Kata Risa cepat..Mencoba memberi tekanan.
Adnan berhenti dan menatap tajam.
"Kenapa ? Kau mengancamku..?"
"Ingat nasib perusahaanmu !"
Adnan tertawa sinis.Tangannya menyambar muka wanita yang masih berstatus istrinya itu.Menekan dengan kejam sehingga mengirim kesakitan pada wanita itu. Matanya menatap dengan bengis.
"Ini peringatan terakhir untukmu.Jangan lagi coba-coba menekanku atau keluargaku. Atau aku akan menghancurkanmu dan keluargamu.."
Dia menahan tangannya sebentar kemudian melemparkan muka cantik dengan kuat.Kemudian tanpa menoleh lagi melangkah ke pintu .
Flashback off
__ADS_1