
Ruang meeting hanya berisi tiga orang yang menghadiri rapat.Tapi suara mereka mampu mengalahkan sepuluh orang yang sedang bergosip.Tidak ada batas bos dan bawahan disana.Masing -masing berpotensi untuk menjadi bos yang berkuasa dengan ide-ide dan analisanya.
Lucunya sang bos asli malah tidak ada tanda-tanda bahwa dia keberatan dengan gaya dua wanita di depannya.Hanya dengan merekalah dia bisa menunjukkan sisi aslinya yang tidak perlu pencitraan.
Agnes memberikan ide, agar langsung melakukan sidak kepada semua karyawan,termasuk tukang bersih-bersih.
Namun Diana berpendapat lain.Dia lebih suka kalau di jebak dan di tangkap basah.
David lebih suka apapun cara dari kedua-duanya. Dijebak atau disidak dia hanya mau perusahaannya tidak dihinggapi para lintah ataupun lalat busuk.
Walaupun dia punya kuasa untuk menghajar siapapun yang mengusiknya.Namun menghentikan orang yang sama pada tindakkan buruk yang berulang, adalah pekerjaan rumah yang membosankan baginya. Bagaimanapun ini negara hukum.Dia tidak mungkin langsung melakukan tindakkan bar-bar. Terlebih dari itu ada anak dan istrinya yang harus dipikirkan, agar tidak terkena imbas dari kecerobohannya.
Agnes memainkan pena pada tangannya. Dia cukup serius memikirkan masalah ini.
"David..Bukannya ada cctv di ruangan kerja mu..?." Tanya Agnes tiba-tiba.
David menjawab tanpa bersemangat.
"Kalau ada dan bisa digunakan, aku tidak akan mempermasalahkan ini .Bahkan cctv pun sudah diretas tanpa setahuku.."
"Mereka pasti orang-orang jenius…"
"Dan juga pengecut brengsek.Aku tidak sabar menghajar salah satu dari penyusup yang menyamar jadi karyawan itu.."Kata David memikirkan adanya pengkhianat dalam perusahaannya.
Diana mendengus bosan.
"Ku rasa dia sudah tahu kalau akan ada penyelidikan tentang kebocoran informasi perusahaan Blue Stones. Hanya dengan jebakan bisa diketahui.Aku yakin kalau mereka sudah merancang Plan A dan plan B sebelum melakukan ini semua.
David tiba-tiba memukul meja di depannya.Wajahnya memerah dan giginya gemerutuk.
"Aku bahkan takut jika mereka juga merekam pertunjukan olahraga panas di kamar pribadiku."Katanya tanpa beban.Malah menatap wajah dua wanita di depannya dengan bengis.
"Maksudmu.."Tanya Diana ragu.
Sementara, Agnes menahan senyum yang akan keluar dari bibirnya. David mengepalkan kedua tangannya.
"Apakah menurutmu bajingan itu sudah melihat tubuh polos istriku..?
"Oh my God.." Ucap Diana dan Agnes berbarengan
Ucapan David barusan, langsung mempengaruhi suasana di ruangan itu.
Diana dan Agnes hanya tersenyum kecut.Mereka bahkan kehilangan bahan percakapan selanjutnya.
__ADS_1
Kedua wanita itu bahkan tidak mengacuhkan pandangan David yang meminta perhatian mereka.Keduanya bahkan mengalihkan pandangan mereka ke luar jendela. Agnes hampir tersedak menahan tawa.Namun sebuah cubitan di tangan menghentikan tindakannya.
Beberapa saat kemudian, topik semula
kembali di bahas.Diana terus memperhatikan benda kecil di tangannya. Dia sangat penasaran dengan kedahsyatan benda kecil itu.Mungkin jika memakai kaca pembesar akan bisa dilihat detailnya. Namun untuk sementara sudah bisa menonaktifkan dayanya.Terlihat kilatan lampu merah menyerupai mata tadi ,sekarang sudah mati.
"Aku ingin bantuan seseorang bongkar benda halus ini Dav..Apakah ada yang bisa kamu rekomendasikan..? Dan satu lagi.Apakah komputer kantor secara khusus untuk digunakan sendiri..?
"Ya ..kenapa tidak.Katakan saja yang akan kamu perlukan.Apakah hardware atau software akan kusediakan segera. Mengenai mikrofon sebesar upil itu, aku akan memberi jawaban segera."
"Seharusnya cepat David.Atau perusahaan akan mengalami kerugian yang lebih besar lagi.." Sela Agnes.
"Nanti akan ku beritahukan.." Jawab pria itu kalem.
Selanjutnya mereka merencanakan langkah langkah selanjutnya.Karena penasaran.Diana minta izin pada David untuk membawa micro kamera itu pulang.Diana memasukannya pada sebuah kotak hitam kecil yang tanpa sengaja selalu dibawa di dalam tasnya.Diana ingat bahwa kotak itu juga berisi serum yang pernah diberikan seseorang dulu.
Tidak lama kemudian, Agnes sudah lebih dulu minta izin meninggalkan mereka.Karena ada sesuatu yang harus cepat diselesaikan.
David menemaninya Diana hingga ke lantai satu. Sekalian melihat-lihat kondisi lingkungan perusahaan.Pria itu merasa seseorang sudah mengikuti rutinitasnya sejak lama.
Setelah lama terdiam di falam lift.David membuka percakapannya.
"Apakah kamu tidak ingin ngantor lagi Diana..?"
Diana hanya memperlambat langkah kakinya.Melirik David sekilas.Pria itu hanya tersenyum masam setelah menyadari bahwa tawarannya hanya sia-sia.
"Masih dengan alasan yang sama kok Lagian sepertinya aku ini tidak cocok jadi orang kantoran.
"Sayang sekali harus membiarkan bakat hebatmu jadi percuma.
Diana tertawa .Suaranya serasa seruling di telinga David. Pria itu merasa wanita di depannya itu sangat sempurna.Dia mempunyai kecantikan, kebaikan, dan kepintaran dalam satu tubuh.Paket komplit.
Ketika meninggalkan kantor David,hari sudah siang.Tapi dia menolak tawaran David untuk mentraktirnya makan siang.
"Sebaiknya aku balik ke rumah dulu .Kasiam bu Ida terlalu lama kutinggalkan.
"Kamu bahkan mencintainya sama kepada anakmu.." Kata David. Tidak jelas apakah itu sindiran atau pujian.
"Aku tidak perlu menjawabnya bukan..?" KelakarDiana lagi.
"Oke..Aku pun tidak akan memaksa kok..Baiklah ,kamu hati-hati dijalan yaa..Aku harus segera kembali menemani istriku.Mungkin saat ini sedang menunggu untuk makan siang bersama."
"Oke..Sampai jumpa nanti David.."
__ADS_1
"Ya..Sampai jumpa lagi.."
Mereka akhirnya saling mengucapkan salam .Bersamaan dengan itu sebuah mobil pesanan online hampir tiba menjemput.
Diana melangkah keluar dari gerbang lobby.Berjalan beberapa langkah menuju mobil yang sedang menunggu.
Dia masih sempat menyapa beberpa orang yang dikenalnya dan melambaikan tangan pada David.Ketika sebuah motor dengan kecepatan tinggi menuju padanya.
Pengendara itu sudah hampir mendekati posisinya, namun bukan mengurangi malah semakin menambah kecepatan.Aura membunuh menguar dari tindakannya.
Beberapa orang meneriak, namun hampir tidak ada gunanya lagi. Pengendara itu langsung melesat ke arah Dia. Tanpa ampun dan ragu sedikitpun.
"Matilah kau betina..!" Umpatnya kejam.
Diana sempat menolehkan wajahnya.Namun seringaian kejam dari mulut terlihat dari balik kaca helmnya. Diana tidak sempat lagi mengelak.
Hingga tanpa ampun tubuhnya ditabrak dengan telak .
Untuk sesaat wanita itu hannya memandang tak percaya. Perasaan shock, membuatnya terpaku.Hingga menyadati tubuhnya sudah terbaring tak berdaya di aspal panas. Dia melihat dara yang mulai mengalir dari tubuhnya.Persaan takut sedikit dirasakannya, ketika menyadari ada seseorang yang memang berniat mencelakainya.
Suasana di tempat parkiran Blue Stone's menjadi gaduh.Beberapa orang berlarian ke tempat kejadian.Melihat berapa orang yang hampir mencapainya.
Namun penabrak itu segera melarikan diri.Tanpa mengindahkan korbannya sudah mandi dalam genangan darah.
David tidak menyangka, ketika hanya beberapa langkah dia membalikan badan akan berhadap dengan mimpi buruk ini. Dengan wajah pucat ,pria itu berlari keluar gedung dengan panik.
"Cepat telepon ambulan..?" Teriaknya kepada salah seorang security.
Orang-orang semakin berkerumun .Tapi agak takut mendekati tubuh Diana.Semua panik.Tapi mirisnya, malah banyak yang memvidiokan.
Diana terbaring tak berdaya di lantai parkir. Dikelilingi tatapan orang-orang yang menatap ngeri padanya,dia bahkan hampir tidak merasakan apa-apa pada tubuhnya.
Namun ketakutan yang sangat besar melingkupinya.Diana tidak bisa membohongi bahwa kondisinya benar-benar di titik rendah.
Samar samar dia mendengar teriakan seseorang bahkan disusul teriakan yang lain.
"Minggir, apa yang kalian pikirkan dengan hanya menonton..? Brengsek.."
Seraut wajah tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Diana..!Diana..! Aku di sini..Kamu bertahanlah.."
Untuk pertama kali setelah perceraian mereka, Diana sangat bahagia bertemu Adnan.Walaupun wajah tampannya sekarang sangat gusar. dan kusut.
__ADS_1
Diana tidak mampu membalas apapun ucapannya.Pelan-pelan semua gelap.Dia seperti diterbangkan ke dunia lain yang tidak dimengerti.Hanya sunyi..Dan sunyi…