MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
PERASAAN YANG TAK TERBENDUNG LAGI


__ADS_3

      Ketika teringat akan kedua buah hatinya yang menunggu di rumah, Diana tidak menunggu lebih lama lagi.Bangkit dari duduk,dia bergerak cepat ingin hengkang dari sana. Tanpa memperdulikan pertentangan kedua kakak beradik itu, Diana berjalan melewati kedua kakak beradik tersebut.


     Tapi tidak menyangka kalau langkahnya akan dicegat .Mau tidak mau, dia harus terhenti, ketika akan melewati Adnan.Tangan pria itu bergerak cepat meraih  Diana dan mendekapnya dengan posesif. Dia tidak mengindahkan protes yang diajukan wanita itu.Semakin memberontak,Adnan semakin memperketat dekapannya.


      Namun sejauh itu, pria itu hanya sekilas melirik padanya.Selebihnya menatap tajam ke arah Nero.Seperti biasa , dingin dan datar.


Pandangannya berkuasa dan mengintimidasi.


     "Kau bisa pergi dari sini. ." Perintahnya tajam.


     Tapi tidak semudah itu memerintah Nero.Mereka adalah dua kakak beradik yang berasal dari gen yang sama.Dan keras kepala dan keangkuhan tak berbeda.


     Di masa lalu mungkin Nero masih bisa berperan sebagai adik yang patuh pada perintah Adnan sebagai kakak.Tapi  seiring perjalanan waktu telah mengajarkan, bahwa kakak yang di seganinya itu hanyalah manusia biasa yang juga bisa salah dan  bertindak bodoh.Nero  bertekad akan bersikap padanya sebagai seorang laki-laki .Bukan lagi  seorang adik yang akan selalu menganggap semua kebenaran dalam kata-kata dan sikap kakaknya.Nero merasa benci diintimidasi.


      Dia menatap tak kalah galak pada Adnan. Dia menegakkan posisi tubuh seperti orang yang siap-siap berkelahi.


      "Kamu tidak berhak mengusirku.Aku sudah bersamanya dari tadi.Kalau ada yang harus pergi, adalah dirimu kakakku Adnan yang terhormat" Tuturnya sarkas.Namun Adnan dalam mode tidak ingin dibantah.


       "Nero..!!" Geramnya.


       "Jangan berteriak kak.Di sini tempat orang berusaha. Kamu tidak ingin jadi pusat perhatian..?"


       Adnan semakin tidak sabaran.Matanya berkilat tajam seperti pembunuh.


       "Kalau kau menyadari itu, maka pergilah.Diana adalah urusanku.!"


       "Tidak.."


       "Jangan menguji batas kesabaranku Nero..!"


        "Aku bukan pecundang yang bisa kau perintah seenakmu.."Nero balik menantang. Dia sudah muak dengan tingkah kakaknya itu.


     Diana melihat situasi mulai memanas namun  tubuhnya masih terjepit dalam dekapan pria itu Dia benci dalam posisi tidak berdaya ini.Dua kakak beradik yang biasanya akur, sekarang bertatapan seperti dua musuh bebuyutan.


      Pengunjung kafe kembali terusik.Kali ini mereka memandang dengan penuh minat.Dua pria tampan dan tinggi sedang bertentangan.Sementara seorang wanita terjepit dalam dekapan yang satunya.


     Saat ini ,Diana ingin menenggelamkan dirinya ke dalam bumi. Rasa malu dan kesal bercampur jadi satu Tidak mungkin bertebal muka ketika beberapa orang wanita mulai bergunjing dan memandang sinis padanya. Dia tak ubahnya wanita yang sedang diperebutkan.Walaupun pada hakikatnya Diana lebih merasa dipermalukan. Dia dan Adnan sama-sama menyadari bahwa Nero sedang berusaha mendekati mantan kakak iparnya itu.Tapi itu juga bukan kehendak Diana.Apalagi sampai harus bermusuhan dengan mantan suaminya itu. Diana lebih memilih tidak ingin berhubungan lagi dengan mereka berdua 


       "Aku..Aku harus pulang..Adnan lepaskan aku.."Diana menggeliat dan mencoba melepaskan diri.Namun pria itu bukanlah lawannya.


     Fokus Adnan teralihkan sementara padanya.Mata hitam yang kelam menatap tajam padanya.Dia menyadari kalau Diana sedang memendam kemarahan padanya.Namun Adnan tidak ingin bertoleransi tentang itu.


    "Kamu pulang denganku Seperti halnya aku, Anak-anak juga merindukanku .."

__ADS_1


    "Tapi tidak harus begini .Kamu membuatku serba salah.."Ringis Diana .Tangannya menampar keras dada Adnan.Tapi kemudian  meringis dalam hati, karena merasakan sakit pada telapak tangannya.


     Adnan menghela nafas dan menatap datar.


     "Aku akan melakukan lebih jika kamu tidak patuh.." Ancamnya.


     Melihat mereka saling berdebat, Nero tidak bisa menahan lagi.Mencoba meruntuhkan ego kakaknya itu.


     "Kamu tidak punya hak atas dirinya lagi Adnan.Benar-benar memalukan tingkah kampunganmu.."


      "Tutup mulutmu sialan.Aku sudah memperingatkanmu, jauhi dia.Tapi masih kamu masih membangkang.."


     Diana sudah kepalang malu dan tidak ingin lebih menjadi pusat perhatian di sini Dia terpaksa mengikuti , ketika Adnan menggandengnya keluar dari kafe itu.Meninggalkan Nero yang sudah bersiap-siap dengan kepalan tangannya.Dia tidak mau menjadi penyebab pertengkaran kakak beradik ini.


     "Nero..cukup..cukup..! Aku tidak apa-apa.Biar aku pulang dengannya.Tolong jangan membuat posisiku sulit di sini..!" Mohon Diana.Dia sudah memerah sampai ke kuping menahan malu.


     Pria itu mengurungkan niatnya begitu melihat tatapan memelas dari Diana. Matanya melembut iba Bertentangan dengan pandangan marah dan kesal.Yang ditujukan pada  pria yang mendekap wanita itu.Tangan Nero mengepal menahan diri.


     Tidak ingin berlama-lama, Adnan menyeret langkah Diana menyusuri meja-meja menuju pintu keluar, Diana menundukkan wajahnya menghindari kontak mata dengan orang-orang yang memperhatikan mereka.


     "Kamu benar-benar bajingan tak tahu diri Adnan.." Kutuknya kesal.


      "Aku terima itu.." Jawab Adnan tak peduli.


     Mereka terus berjalan walaupun diselingi perdebatan.


     Sepuluh langkah menuju parkiran, seseorang seperti menunggu mereka datang. Sosok Risa berdiri seolah menyambut kedatangan mereka.Melihat Diana dalam gandengan Adnan, dia tidak bisa menahan cemburu dan kebenciannya.Seperti lupa dengan ancaman Adnan beberapa saat lalu, dia kembali iseng mengeluarkan bom dari mulutnya.


     "Sudah kuduga..Kamu akan merusak hubungan dua saudara ini Diana.."Katanya  sambil mencibir. Dia sangat benci dengan pemandangan di depannya.Adnan mendekap Diana  seperti barang berharga yang takut di rampas orang.Sesuatu yang tidak dia dapatkan selama pernikahan mereka.Risa merasa Diana tidak ada hak untuk mendapatkan perlakuan seperti itu.


      Mata wanita itu berubah bengis menatap Diana.Seandainya mungkin, dia akan mencakar dan merobek-robek wanita itu hingga berkeping-keping. Diana hanyalah wanita rendahan yang selalu mengambil keberuntungannya.


      "Kamu memang wanita licik Diana.Tidak heran jika keluarga Adnan Menyingkirkanmu waktu itu.." Kata-kata nya ,ibarat pisau yang ingin menyayat nyayat batin Diana. 


     Dia benar-benar sudah muak dengan wanita ini. Berbagai makian ingin dia muntahkan untuk memaki Risa.Tapi dia hanya menahannya demi kesopanan.Dia tanpa sengaja meluapkan perasaannya dengan cengkraman tangannya. Tanpa sengaja menyakiti lengan Adnan.Namun pria itu hanya memberikan wajah datar seperti biasa.Walaupun ruam kemerahan terlihat di kulitnya.


     Adnan mengetahui  gejolak emosi yang dirasakan Diana.


      Pria itu  menghentikan langkahnya .Namun gandengannya telah berubah jadi memeluk dengan posesif. Pandangan membunuh dia berikan kepada Risa.Walaupun dalam hati tidak habis mengerti dengan kebebalan wanita satu ini.


      "Aku sudah sering memperingatimu Risa..Tapi sepertinya hanya candaan bagimu..Mungkin sudah waktunya kubuktikan ucapanku padamu Jangan salahkan nanti jika kututup mulutmu dengan tanah .."


       "Adnan..Aku cuma mengatakan apa adanya.."Katanya wanita itu membela diri

__ADS_1


       "Tutup mulutmu..!! Masih belum mengerti kah..?..Jangan sampai kuhancurkan perusahaanmu kalau kamu tidak juga menjaga sikap.Kita sama-sama tahu bagaimana kondisinya saat ini.Sangat mudah untuk di bangkrutkan.."


     Ancaman Adnan cukup jitu menghentikan ocehan Risa.Wajahnya memucat.Walaupun sempat melayangkan pandangan cemburu, wanita itu bergegas pergi dari hadapan mereka.


     Kepergian Risa tidaklah membuat Diana menjadi lega Karena Adnan sangat keras kepala tidak mau melepaskan dekapannya. Bahkan hingga duduk di atas mobil tang sesak dengan barang-barang, barulah prua itu melepaskan tangannya.


      Teringat akan motornya yang terparkir sendirian,Dian akan melompat turun.Tapi tenaga Adnan sangat kuat menghalanginya.


      "Motorku.." Teriak Diana putus asa.Dia mencoba membuka pintu untuk keluar.Tapi lebih dulu ditahan tangan besar milik Adnan 


      "Berikan kuncimu.Biar salah seorang suruhanku mengantarnya.Atau biarkan saja. Aku bahkan sanggup membelikan berpuluh puluh yang lebih bagus untukmu.."


      "Oh ya..Mengapa tidak kamu belikan untuk wanita-wanita yang bersedia menjadi gundikmu..? Supaya kamu tidak selalu mengusikku.."


      "Aku hanya mencintaimu.."


      "Aku jijik.mendengar gombalanmu Adnan.."


       "Aku tidak peduli itu.."


     Nafasnya memburu menahan amarah.Diana sudah berada di batas kesabarannya.Menyadari betapa egois dan tak tahu dirinya pria yang sudah jadi mantan suaminya itu.


     Ketika Adnan menyadari semua itu, dia mencoba mengatakan sesuatu untuk meredakan emosi Diana.Namun ayunan tangan wanita itu sudah mengenai wajahnya.Tidak hanya satu, tapi ada lagi dan lagi.Diana mengamuk memukul , mencakar dan menjambak rambutnya .Seandainya ada challenge tentang siapa yang berani memukul Adnan, Dia pantas menjadi pemenangnya.Karena dalam umur Adnan yang hampir menginjak tiga puluh lima tahun, wanita itu adalah satu-satunya yang berani melakukan padanya. 


      Adnan dilahirkan dengan sendok perak di mulutnya, jangankan mengalami pukulan.Dia sangat dijaga kalau harus berinteraksi dengan orang lain.Dia adalah putra berharga dalam keluarga Djaelani. Ibaratkan putra mahkota dalam sebuah kerajaan.


      Namun saat ini, dia hanya menyerahkan dirinya menerima amukan Diana tanpa mengelak sedikitpun.Dia hanya menunduk ketika matanya memanas karena kelilipan .Beberapa goresan kuku dan rontokan rambut yang jatuh hanya dibiarkan saja. Dia tidak peduli bahkan ketika bunyi  berderik dari robekan bajunya akibat korban kemarahan Diana yang membabi buta.Adnan baru pertama kali melihat dia berperilaku begitu.


      Ketika Diana mulai tenang dan diiringi suara isakan tangis pilu wanita itu.Adnan meraihnya ke dalam pelukan.Tidak mudah dilakukan ketika wanita itu kembali memberontak.Tapi tenaganya sudah hampir terkuras habis dan dia terlalu lemah melawan kekuatan seorang Adnan.


    Dia hanya pasrah ketika kedua tangan kuat itu mendekapnya ke dada.


    "Maaf..maaf…" Akhirnya  pria memihon dengan lirih.


     Tidak ada tanggapan dari Diana.Wanita itu lebih menyesali dirinya karena berada dalam situasi yang yang tidak diinginkan ini.


     Mobil akhirnya bergerak pelan menuju gerbang keluar.Meninggalkan tatapan dari dua orang dengan arti yang berbeda.


    Nero mengepalkan tangannya erat-erat.Untuk kesekian kali dia kalah dari Adnan. Namun harus dia terima demi Diana.


    Sementara di bagian lain dalam sebuah mobil mewah berwarna merah.Risa memandang kepergian mobil itu dengan kemarahan. Tiba-tiba meraih telepon genggamnya.Wajahnya menjadi semakin bengis ketika berkata dengan nada memerintah.


      "Aku perlu bantuanmu untuk menyingkirkan seseorang.." Ucapnya tanpa perasaan.

__ADS_1


__ADS_2