
Pembicaraan dua orang yang pernah saling mencintai itu seperti mulai menaburkan kembali kembang api di hati masing-masing. Walaupun Diana masih agak kaku menanggapi ucapannya kearah yang lebih serius.
Hingga pada saat pembicaraan selesai,Adnan menutup teleponnya dengan senyuman.Berbeda dengan Diana yang dilanda gugup dan gelisah. Dia bahkan lupa bahwa si kembar sudah dari tadi memantau dari jendela lantai tiga bagian kanan rumah.
"I love you mami.." Teriak mereka begitu melihat Diana menyadari keberadaan mereka.
Diana hanya melambaikan tangan.Lalu berjalan memasuki rumah.Saat ini dia butuh tempat untuk menenangkan kegelisahannya. Dia merasa seperti abege yang di rayu pria tampan.Sehingga semburat merah di wajahnya tidak dapat ditutupi.
Ketika menemukan dua art yang berdiri memandangnya dengan senyum,Diana semakin ingin cepat-cepat memasuki kamar.Dia bahkan tidak memberikan senyuman balasan untuk mereka.
"Mhh…Mungkin berendam air hangat akan terasa menyenangkan.." Gumamnya kemudian.
"Kamu sudah memenuhi bathub dengan air hangat nyonya..Juga sudah menyebarkan wewangian aromaterapi.."
Diana berjengit karena kaget.Dua orang art sudah berdiri di dekat pintu masuk kamarnya. Bukankah mereka sebelumnya hanya berdiri di dekat lorong..?
Dia mengucapkan terima kasih dan langsung masuk kamar.
"Aah..Akhirnya aku bisa sendiri tanpa gangguan .."Gumamnya sambil bersandar di pintu.
Sementara Adnan masih terbawa suasana hati yang bahagia .Sehingga tidak terlalu menggubris keributan di luar pintu ruangannya.Padahal biasanya pria dingin itu akan marah besar jika mendengar sedikit saja gangguan saat jam kerja.Dia terbiasa mencintai suasana hening.
Suara berisik kembali terdengar.Suara wanita yang sedang bersitegang dan sesekali di tengahi suara sekretarisnya. Namun Adnan yang sedang dalam mood baik, memerintahkan melalui intercom.
"Biarkan dia masuk Nancy.Kamu lanjutkan pekerjaan..!"
"Oh..Baik tuan.."
Pintu ruangan terbuka diikuti langkah kaki yang terbungkus sepatu high heel setinggi dua puluh centimeter. Adnan mengernyit heran.Bagaimana mungkin wanita mau mengambil resiko besar hanya untuk terlihat menarik. Dia berjanji tidak akan membolehkan Diana atau Savana memakai benda berbahaya itu nanti.Walau apapun alasannya nanti.Bukankah wanita-wanita kesayangannya itu sudah cukup cantik dan menarik tanpa harus menyiksa diri untuk citra mereka.
Namun dia tidak berminat untuk memperingatkan wanita bertubuh sintal itu.Dengan jahilnya Adnan berharap langkahnya akan tersangkut di karpet kantor. Dia mulai tidak suka dengan kehadirannya.
Adnan mempunyai kemampuan untuk tidak menampilkan isi hati di wajah datarnya yang kaku seperti kayu.Dia hanya memperhatikan detik-detik langkah wanita ini semakin mendekatinya.
Wanita itu melangkah memasuki ruangan dengan lenggang lenggok yang mengundang. Seandainya dia seorang yang bisa menebak gestur tubuh seseorang, tentu dia tidak akan percaya diri seperti ini.
"Hallo Adnan.."
"Ya..Ada perlu apa..?"
Adnan sengaja bersikap profesional.
Bagaimanapun dia adalah seorang bisnisman.
"Aku merindukanmu setelah pertemuan kali terakhir kita.." Sapanya dengan suara yang mendayu-dayu.
Dia sungguh wanita punya kepercayaan diri tingkat dewa.Tanpa mengacuhkan tatapan dingin pria itu.Dia tetap saja memamerkan keseksiannya.
Cara biasa yang mungki. Ada
Adnan menghela nafas menahan kesal.Dia baru saja gembira setelah berbicara dengan Diana dan anak-anak.Tapi wanita bermuka tebal ini datang mengaganggu.Namun fua harus menjaga imegnya. Walaupun tetap dingin dan kaku. Namun mengutuk dalam benaknya.
Camelia sangat yakin akan memenangkan pertaruhan dengan temannya .Pria di depan ini terlalu sexy untuk dibiarkan begitu saja. Walaupun beberapa kali mendapat tatapan tajam seperti silet, wanita itu berusaha bertebal muka menghadapinya.Bukankah tak ada yang instan untuk suatu kesuksesan.?
"Saya hanya melayani urusan bisnis.Karena ini adalah kantor di jam kerja .."Tegur Adnan duluan.Dia tidak memberikan sedikitpun kelembutan pada wanita manapun yang ingin menghampirinya.
"Anda terlalu kaku tuan Adnan..Berilah sedikit rasa rilrx pada tubuh anda.."
"Saya cukup toleran untuk memberikan waktu beberapa menit untuk anda.." Tanggap Adnan enteng.
Wanita itu mencibir sinis. Namun kembali memerikan suara manjanya.
"Saya cukup terkesan dengan pertemuan kita terakhir kali tuan…Oh…!! Bolehkah hanya menyebut nama anda saja..?" Tanyanya dengan imut.
"Silakan.."
"Dari percakapan kita di pesta , apakah anda tidak penasaran dengan saya setelah Adnan..?"
"Mmhh…"
Dan wanita itu terus berbicara panjang lebar dengan suaranya yang mendayu-dayu.Adnan mengakui kegigihan wanita berpakaian kurang bahan ini. Dari caranya berbicara dan kerlingan matanya sudah cukup menyimpulkan kalau dia sedang mengirimkan sinyal untuk merayu dan mengajaknya berhubungan lebih dari sekedar teman berbincang.
Adnan adalah pria normal yang juga tertarik pada wanita cantik.Apalagi yang berani memancing libido kelelakiannya.Namun pengalaman hidup telah mengajarkannya.Betapa mudahnya seorang pria dihancurkan karena terbujuk rayuan wanita .Dia tidak ingin mengalaminya lagi.Karena nikmat sesaat akan memberikan kepahitan bertahun-tahun.Karena harus kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.Selama ini hanya melampiaskan waktu untuk bekerja dan hampir lupa bagaimana rasanya bercinta.Dia hanya melampiaskan dengan bermain solo.Itupun juga dengan membayangkan Diana di sisinya.
Tapi sekarang dia malah meragukan kejantanan sendiri. Saat wanita cantik di depannya ini dengan bebas memperlihatkan sebagian anggota tubuhnya . Dia bahkan tidak ada ereksi sedikitpun Selain membayangkan berapa banyak pria yang sudah menjamahi wanita ini.Yang lebih menggelitik adalah virus atau penyakit yang mungkin sudah menghinggapinya. Dia tidak mungkin mau ambil resiko..
__ADS_1
Namun sebagai seorang gentleman, dia harus mengontrol emosi dan menyimpan perasaannya. Bagaimanapun wanita ini bukan orang yang pertama kali bertingkah seperti ini di depannya. Beberapa wanita dengan licik sebelumnya bahkan hampir berhasil menjebaknya.Syukurlah dia mempunyai orang- orang kepercayaan yang bisa diandalkan.Sehingga pada saat tak berdaya, dia masih bisa diselamatkan.
Camelia adalah salah seorang partner bisnisnya.Waktu mereka diperkenalkan dalam pesta, wanita itu sudah terang terangan tertarik padanya. Namun tidak disangka kalau sampai memburu ke kantornya.
Sebenarnya dia tidak tertarik mendengarkan ocehan tak bermutu yang keluar dari bibir berwarna merah darah itu.Tapi dia penasaran, sejauh mana wanita ini berani bertindak.
Adnan mendengarkan dalam diam.Bahkan saat wanita itu sudah mengganti panggilah formalnya dengan hanya menyebut nama tanda keakraban.
"Apa sebenarnya maksud kedatangan anda ke sini nona..?"(Pura-pura lupa..)
"Panggil Camelia..Bagaimana mungkin anda secepat itu melupakan saya.."Sambarnya cepat.Dia mengelyhkan dalam hati karena ketidak acuhan pria tampan di depannya ini.
"Hm..."
"Bukankah kita sangat akrab terakhir kali.."Katanya lagi dengan senyum genit.
"....."
Dia bukannya tidak ingat siapa wanita bernama Camelia ini. Mengingat kekacauan yang sudah disebabkan olehnya.Adnan mengira dia tidak akan berani menemuinya.
Wanita ini nekat membayar orang untuk menjebaknya. Minuman yang disajikan di gelas mewah itu sudah dimasukkan obat perangsang.
Namun saat ini, wanita tak punya malu. Dia berbicara seolah-olah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Bahkan dengan gamblang merayunya tanpa ragu-ragu.
Bahkan belahan dadanya yang hampir mencapai pusar sengaja dipamerkan.Wanita ini tidak memakai pelindung untuk bukit kembarnya.
Adnan tersenyum masam.Mengingat beberapa hari kemarin hampir masuk dalam jebakan wanita ini.Dia tidak bisa membayangkan seandainya perbuatan itu benar-benar terjadi.Dalam kondisinya yang menjadi panas karena pengaruh obat perangsang. Besar kemungkinan berimbas dengan hubungannya dengan Diana.Pria itu sudah mati -matian sampai saat ini untuk merengkuh kembali cinta Diana. Namun pasti tidak akan ada kesempatan lagi jika kembali bertindak bodoh di mata mantan istrinya itu. Ya Tuhan....Dia sungguh mencintainya sampai ke tetes darah terakhir di tubuhnya..
Wanita yang bernama Camelia itu semakin bebas melemparkan rayuan mautnya.Bahkan sekarang tangannya yang lentik sudah menjalar di dada Adnan.
Adnan tidak betah untuk duduk lagi.Dia berjalan sambil mengibaskan dengan tenang tangan wanita itu. Dia berjalan perlahan agak menjauhi wanita yang masih saja berpose sexy di dekat mejanya…
"Apakah anda mengatakan bahwa kita akrab Camelia..?"
"Oh..ya..." Sahut Camelia cepat.
"Kapan itu.? Saya cuma menyapa anda satu kali.Selebihnya saya berjalan meninggalkan anda.."
"Tapi.."
Adnan mulai mengeluarkan aura dingin yang membuat wanita itu jadi merinding. Dia baru sadar, bahwa pria di hadapannya ini tidak sama dengan prua-pria lain yang pernah di rayunya.Namun justru itulah yang membuatnya semakin yakin kalau sudah jatuh cinta padanya.
"Anda salah paham.."Camelia menjadi gugup dan sedikit takut.Namun Adnan tidak mengacuhkan.Dia memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.Dan menatap dengan tajam .
"Oh..betulkah..?"
"Iyaa…"
"Lalu bagaimana dengan obat perangsang yang kamu masukan ke dalam minumanku..?"
"Itu bukan saya.." Seru Camelia dengan wajah pucat.
Adnan tersenyum sinis seketika.Wajahnya menjadi mengerikan.Seperti kilat, dia melangkah cepat.
Tiba-tiba tangannya sudah mencengkram wajah wanita itu.
"Apakah di matamu aku begitu mudah ditangani..Jangan memancing harimau tidur.Kamu bukan satu-satunya wanita yang pernah berlaku culas padaku…"
Darah seakan berhenti mengalir di wajah Camelia.Bahkan tidak sanggup mengeluarkan keluhan karena tangan pr8a itu seperti tang besi mencengkram rahangnya.
Dia tidak menyangka kalau rencananya sudah terbongkar.Wanita itu mengumpat keras dalam hati mengingat sejumlah uang yang sudah diserahkan kepada pelayan yang sudah mengkhianatinya.
Tapi saat ini dia tidak punya waktu untuk memikirkan itu.Dia harus mencari dalih dari pria tampan berhati dingin ini.Lupakan juga soal pertaruhan dengan kawan-kawan sosialitanya. Atau nasibnya akan berakhir tragis di tangan manysia kutub ini
" Mengapa kau diam..? Apakah lidahmu terpotong barusan..?"
"Aku bisa membicarakan itu..Hanya kesalahpahaman. Mana mungkin aku berani melakukan nya pada anda…".
"Oh masih berdalih bohong..?"
"Tidak..tidak.."
"Keluar..!!"
Perintah dingin dan tak berbelas kasihan itu berhasil memporak- porandakan mental Camelia.Apalagi ketika Adnan melepaskan cengkramannya dengan cara kejam hingga wajahnya tertoleh ke samping.
__ADS_1
Camelia tiba-tiba menjadi shock.Tanpa banyak bicara berjalan cepat menuju pintu. Saat akan membuka, menoleh kebelakang.
"Anda ternyata orang yang sadis tuan.Namun ada yang membuat penasaran.Apakah anda sudah tidak menyukai wanita lagi..?"
Adnan hanya menaikan alisnya menanggapi. Sudah cukup membuat Camelia bergegas hendak keluar dari ruangan itu.
Di depan pintu seorang pria plontos bertubuh besar menyambutnya dengan sopan.Namun justru semakin membuat wanita itu semakin jengah.Dia bertanya dengan nada jijik.
"Apakah tuan mu seorang gay..?"
Namun pria itu tidak langsung menjawab. Dia menelusuri wajah wanita itu dengan sikap angkuh.
"Nama saya Ed nona..Jagalah sikap anda bila berbicara dengan saya.Karena Ed adalah bawahan tuan Adnan.Bukan pembantu anda.."
"Kamu…?!" Tunjuk Diana kesal.
"Silakan keluar nona.Anda harusnya bersyukur karena tuan saya mau melepaskan anda "
Aura dingin yang dikeluarkan Ed, membuat Camelia menjadi mengkerut.
"Ahh..sialan…Gak majikan..gak bawahan sama-sama mengerikan.."Gumamnya pelan.Namun cukup jelas di telinga Ed.
"Jangan coba-coba mengumpat nona..Atau anda akan menyesalinya.."
Peringatan Ed kembali terdengar .Memberikan shock terapi pada Camelia.
Sepeninggal wanita itu, Ed memasuki ruangan bos nya.Adnan yang sedang mengoreksi dokumen mengangkat wajahnya.Mengira wanita itu kembali lagi.Dan dia sudah menyiapkan sesuatu yang akan membuatnya berpikir untuk mendekati lagi Dia benci sekali pada orang-orang licik ini.
"Dia licin seperti belut tuan."
"Dan licik seperti ular"…" Jawab Adnan tanpa mengalihkan matanya dari berkas-berkas penting itu.
Edward atau lebih sering dipanggil Ed , memperhatikan kesibukan tuannya dengan berbagai pikiran di kepalanya.
Tuannya sangat tampan dan gagah.Dia berani memastikan bahwa seandainya disejajarkan dengan pria-pria model di majalah Internasional, tuannya tidak akan kalah ketampanannya.Apalagi ditunjang dengan kecerdasan dan jabatan sebagai C.o di sebuah perusahan besar.
Ed merasa akan sangat bahagia jika suatu saat ada wanita istimewa yang mendampinginya.Sekian tahun tuannya masih saja sendiri dan gila kerja.Dia bahkan seringkali menolak undangan dari seseorang untuk kencan. Meskipun undangan itu bukan datang dari kalangan biasa-biasa saja. Namun pria itu seperti memagari hatinya dengan gembok tak kasat mata.Dan memberikan tampilan luar yang dingin dan kaku.
Namun begitu dua menolak pendapat yang mengatakan bahwa tuannya seorang gay. Ed berani memastikan itu dengan nyawanya.Tuannya adalah pria normal.Hanya karena terjebak dengan. Kenangan masa lalu, sehingga membuatnya hanya memikirkan wanita masa lalunya itu.
Sampai sekarang Ed sangat penasaran dengan wanita masa lalu yang dicintai tuannya .Walaupun sudah.sering memergoki mereka sedang video call, namun belum pernah diperlihatkan padanya.
"Seribu dollar untuk isi kepalamu Ed…"
Ed terperangah ketika Adnan menyindir tingkah lakunya.
"Mm..maaf kan Ed tuan.."Katanya santun.
"Sabarlah Ed..Tidak lama lagi kamu akan berkenalan dengan wanita itu.Dan saat kami menikah,yakinkan dirimu bahwa kamu tidak akan tergoda dengannya…"
Ed semakin terpojok.Ternyata tuannya adalah seorang cenayang.Yang bisa menebak isi pikiran orang tanpa bertanya dulu.
"Ya tuan…Ed mengerti.."
Adnan menghentikan pekerjaannya yang sudah rampung. Lalu menggabungkan semua berkas itu. Kemudian dengan santai mempersilakan. Ed untuk duduk di sofa.Ed paham, itu adalah isyarat tuannya ingin bicara serius.
"Ed..?"
"Ya tuan..?"
"Sudah berapa lama kita bekerja sama…?"
"Sudah lama sekali tuan.Mungkin sepuluh tahun atau lebih.."Jawab Ed santun.
Adnan menghela nafasnya kemudian.Menatap pria besar berkepala plontos di depannya itu.Selama mengenal Ed, pria itu sudah membuktikan kesetiaannya yang tinggi padanya.Ed bahkan rela menjadi perisainya ketika dia hampir di serang orang-orang karena mengacau di sebuah pub malam.
"Saya tetap mempercayaimu Ed..Saya akan mengangkatmu menjadi orang yang penting di perusahaan ini.Walau statusmu adalah asisten saya.Dan menghadiahkan lima persen sahamku untukmu."
"Tuan.." Ed hampir bersimpuh memeluk tuannya.Kalau tidak ingat bahwa Adnan benci dia melakukan itu.
"Ed bersumpah almarhum mama, akan setia sampai mati untuk tuan Adnan.." Ucap pria itu kemudian sambil menyilangkan sebelah tangannya di dada.
Adnan tersenyum dan mengangguk.Ke depan dia akan lebih mengandalkan tenaga dan kesetiaan Ed.Karena akan sering berada di tengah orang-orang tercintanya.Wajah Diana dan si kembar menari di pelupuk matanya.
__ADS_1