
Sepuluh menit menjelang jam kerja usai Diana berhasil merampungkan pekerjaannya. Tidak lupa memperkuat portal pada file-file inti perusahaan. Tidak ada yang bisa memastikan kapan kejadian saat itu akan terulang lagi.
Dia sedang membereskan barang-barangnya untuk pulang ketika melihat seorang ob yang bersiap-siap akan membersihkan ruangan.Diana melihat, dia bukan ob yang biasanya bekerja.
"Kamu baru bekerja di sini..?" Tanyanya kemudian.
"Ya bu. "
Dia memperhatikan sekilas pemuda itu. Diana sempat agak heran karena pria itu tidak sama seperti ob biasanya.Kuku-kuku, tangan dan wajah seperti dirawat dengan baik. Bisa dibilang dirawat teratur di salon kecantikan. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba tidak nyaman dengan orang ini.Apalagi melihat pandangan mata yang selalu menghindar bila diajak bicara.
Namun Diana tidak terlalu ingin tahu sekarang.Karena jam sudah menunjukan pukul empat tiga puluh menit. Dia tidak ingin terlalu lama untuk sampai di rumah.
Sebuah notifikasi dari Nero masuk.Dia membatalkan janjinya hari malam itu untuk bertamu.Karena urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan
Diana hanya tersenyum datar menanggapi pesan itu.Kemudian mengirimkan sebuah meme lucu.oke !
Tak berapa lama kemudian sebuah motor berwarna coklat melaju keluar dari komplek gedung Blue Stone. Bergabung dengan arus jalan raya yang padat. Ini adalah pengalaman sehari-hari yang dijalani Diana dalam perjalanan pulang dan pergi ke kantor. Hanya perlu memakai helm, kacamata, sarung tangan dan masker.Tidak lupa menyiapkan mantel hujan dalam kotak motornya.
Diana selalu bahagia dengan motor maticnya, walaupun David sudah menyerahkan kunci mobil untuk da pakai.Mobil itu sengaja diserahkan, fasilitas ke kantor dan sehari-hari. Tapi Diana lebih suka memakai motor. Selain bisa menyalip di kemacetan,juga bisa cepat sampai ke tempat yang dituju.Hingga sampai saat ini, mobil itu masih berada di parkiran gedung kantor
Memasuki pekarangan rumah, sebuah mobil silver sudah terparkir dengan nyaman di sana.Pertanda pemiliknya sudah di dalam rumah.
Diana melenggang santai ke dalam rumah.Segera menemukan alasan si kembar tidak menyambut kedatangan nya di pintu, begitu melihat pemandangan di sana. Hal yang sudah diperkirakan sebelumnya.
Di ruangan tamu pada sebuah kursi single, Adnan duduk menunggu .Seperti biasa, si kembar sudah berada dalam pelukannya. Bermanja-manja layaknya kesayangan daddy.
Diana ragu untuk menanyakan perihal pesan yang dikirimkan Adnan . Namun dia memutuskan untuk bertanya .
"Adakah lagi yang ingin dibahas denganku..? Kalau ingin kembali denganmu ..lupakanlah.."
"Aku akan ke luar negeri dalam waktu dekat ini.."
"Lalu..?"
Adnan tidak menjawab.Dia menurunkan si kembar dari pangkuan, lalu mendudukan mereka pada kursi di sampingnya. Dengan tenang membuka sebuah tas hitam dan mengeluarkan beberapa benda.
__ADS_1
Diana hanya diam memperhatikan dlam diam. Tapi tidak lama kemudian memaksanya untuk berkomentar. Adnan menyerahkan salah satu ke hadapannya.
"Ini surat rumah.."Beritahunya kemudian
"Surat rumah..?"
"Ya .Ambilah.Anggap saja hadiah untuk kamu dan anak-anak.." Jawabnya agak mendesak. Diana tercengang dan menolak.
"Tidak perlu..Aku bisa membeli rumah kalau aku mau.."
"Aku tahu itu.Tapi izinkan aku memberikannya. Aku rasa adalah wajar .Karena akupun ingin bertanggung jawab untuk si kembar.Aku daddy mereka.."
Diana masih mempertimbangkan hendak menolak.Ketika Adnan kembali mengeluarkan yang lain.Kali ini sebuah kotak perhiasan.
Matanya terbelalak saat kotak itu dibuka.Walaupun tidak terlalu ahli soal perhiasan.Namun dia berani memastikan itu barang mahal.
"Untuk apa lagi..?"
"Ini juga untukmu.."
"Aku tidak mau menerima apapun darimu mas..Bawa saja untuk calon istrimu nanti.."
Dan seandainya kesempatan itu tidak ada lagi, maka dia memutuskan akan hidup dengan kenangan pernikahan mereka dahulu.Dia akan berusaha berbahagia walau hanya ada anak-anak yang menemaninya.
Melihat pria di depannya terdiam, Diana merasa dia terlalu nyinyir ingin mengusiknya.Berusaha mengalihkan pembicaraan kepada hal lain. Mungkin akan bisa menetralkan suasana yang mendadak canggung.
Ketika keadaan sudah biasa, Adnan kembali bicara dengan suara agak bergetar.
"Jika kamu tidak mau, tolong simpan ini untuk anak-anak.."
"Tapi…"
"Diana…please..!" Mohonnya.
"Ini terlalu banyak.." Keluhnya seperti mencurigai niat Adnan.
__ADS_1
"Tidak ! Menurutku tidak..Aku mungkin agak lama di Swiss, tidak tahu kapan kembali. Karena itu aku harus memastikan kamu dan anak-anak punya tempat tinggal dan tidak kekurangan…"
"Maksudmu, kamu meragukan kemampuan finansialku..?" Ledek Diana.Tanpa sadar menyombongkan kemandiriannya pada pria itu
Adnan merasa dia sudah salah paham, mencoba menenangkan.Bagaimanapun dia harus memberikan kesan yang baik setelah malam ini.
""Tolong jangan melebar ke mana-mana Diana..! Aku hanya ingin memberikan sebagian dari tanggung jawabku. "
Diana menghela nafas .Dia menjadi, lelah seketika..Setiap pertemuan dengan Adnan selalu berujung ribut. Padahal dia juga ingin ketenangan dalam menjalani hari-hari nya.
Diana bisa saja egois dan keras kepala.Jika ingin menjauhkan Adnan dari anak-anak mereka. Toh , dia masih mempunyai surat pernyataan yang disetujui dan ditandatangani.Secara hukum, dia bisa membela diri Tapi, hubungan darah antara anak-anak dengan ayahnya , bukanlah hal yang mudah dihapus.Diana tidak sanggup melihat anak-anak terluka karena keegoisannya. Kalau ada yang disesalinya adalah kedatangan Adnan kembali menemuinya.
Untuk beberapa saat Diana tidak tahu akan mengatakan apa-apa.Bahkan saat benda-benda itu di letakan ke hadapannya, dia tidak berniat sedikitpun untuk memeriksanya.Sekilas dia melihat surat-surat berharga.Seperti surat kepemilikan saham, Giro dan sertifikat rumah.Untuk yang terakhir ini, Diana cukup penasaran.Karena setahu dia, Adnan baru beberapa bulan di kota ini.
Kapan dia membeli rumah.
"Supri akan menemanimu melihat-lihat rumah itu, kapanpun kamu sempat.Dia ku serahkan menjaga keamananmu dan anak-anak setelah keberangkatanku…"
"Aku tidak yakin akan menerima ini.."
Adnan menjadi tidak sabar ketika mendengar kata-kata wanita itu Ini bukan saatnya bagi dia untuk memberikan peluang bagi Diana untuk menolak. Demi anak-anak mereka, dia harus memaksanya.
"Dengar Diana..! Lingkungan itu lebih aman untukmu dan anak-anak dari pada di sini.Ajaklah bu Ida jika ingin bersama.."
"Kamu mengambil tindakan tanpa bertanya tentang kesediaanku.Bagaimana kalau aku menolak..?"Tantangnya.
"Kamu harus menerima itu.." Tegas Adnan .
"Kamu memaksaku..?"
"Ya…Dan itu harus kupastikan. Kalau kamu begitu keras kepala, jangan salahkan aku terpaksa melakukan sesuatu Percayalah padaku Diana, akan lebih aman bagi kalian untuk tinggal di lingkungan yang terjaga keamanannya.!"
Itu adalah kata-kata terpanjang yang diucapkan Adnan semenjak tadi.Dia benar-benar mengeluarkan uneg-uneg dari kepalanya.Tidak lagi bicara dengan nada mengalah seperti biasanya.
Diana tidak menemukan kata-kata untuk membalasnya Dalam hati kecilnya, dia mengakui mulai tidak aman berada di lingkungan ini.Apalagi dia adalah seorang janda dengan anak-anak yang masih kecil-kecil.
__ADS_1
Tapi menerima sesuatu dari tangan Adnan seperti menelan pasir di tenggorokannya .Diana segera akan menolak, ketika rengekan si kembar membatalkan niatnya .Bagaimanapun dia adalah seorang ibu yang harus mengutamakan keselamatan anak-anaknya.