
Adnan sedang mengikuti rapat pemegang saham di sebuah Universitas swasta, tempatnya mengajar dulu.Satu tahun setelah berada di luar negeri dulu, dia sudah membeli saham Universitas ini melalui pelelangan.Adnan berhasil mendapatkan sepuluh persen.Namun tidak berapa lama kemudian, sepuluh persen lagi dia dapatkan melalui jalur investasi.Dua puluh persen kepemilikan, membuatnya cukup disegani dan didengarkan apapun saran-sarannya.
Mereka semua mengetahui siapa dia dan sepak terjangnya dalam dunia usaha. Pria itu bukanlah orang sembarangan, yang hanya sanggup menambang hasil untuk beberapa juta pendapatan perbulan. Lalu akan memperhitungkan pengeluaran dari hari ke hari.
Meskipun tidak pernah dijelaskan secara rinci.,orang-orang itu sedikit banyak mengetahui usaha-usaha besar lain yang dimilikinya. Kalaupun di Universitas itu statusnya juga termasuk pemegang saham mayoritas, tapi hasil yang didapatnya pertahun bukan apa-apa dibandingkan dari keuntungan yang diperoleh dari perusahaannya yang lain.
Usaha itu sebenarnya sudah dirintis secara diam-diam semenjak
A enam tahun dulu. Tapi berkembangnya setelah lima tahun terakhir.
Dia kemudian lebih memfokuskan usahanya hanya demi tekadnya ingin melindungi anak-anaknya dan Diana. Belajar dari kejadian tahun-tahun lalu, yang membuatnya tidak berdaya mempertahankan rumah tangganya dengan Diana., salah satunya adalah karena masih bergantung pada perusahaan keluarganya.
Dia sangat mencintai keluarga besarnya. Waktu itu Adnan takut sekali jika keluarganya bangkrut dan harus hidup dari nol. Sehingga menerima solusi yang ditawarkan Risa kala itu. Apalagi ibunya yaitu Marlena sangat cocok dengan Risa.Namun tidak menyukai kehadiran Diana. Bukan sekali dua kali wanita itu menderita karena ulah ibunya. Katakanlah dia bejat, brengsek .Kalau kemudian terpaksa harus melepaskan Diana.Meskipun di kemudian hari dia harus menerima karmanya dan tidak pernah melewati satupun haripun tanpa penyesalan.
Adnan hanya bisa menghela nafas nya jika kembali teringat kejadian dulu.
Namun dia telah bersumpah.Jika kembali dihadapkan pada kejadian yang sama, dia tidak akan mengambil pilihan itu lagi.Adnan tidak akan melepaskan Diana .Dia akan menggenggam keluarga kecilnya sampai hari kematian nanti.
Rapat pemegang saham yerus berlangsung.Walaupun Adnan sudah tidak sabar pergi dari sana.Beberapa kali selalu melirik jam rolex di tangannya. Tingkahnya seperti ibu menyusui yang telah meninggalkan bayinya di rumah.Semakin lama semakin tidak sabar.
Sesi tanya jawab sedang berlangsung menjelang makan siang. Ketika tiba gilirannya , Adnan tampil untuk menyampaikan pikiran dan ide-idenya. Dia adalah orang yang juga punya tanggung jawab yang besar untuk kemajuan Universitas ini.Walaupun tahu bahwa tidak semua ide dan pemikirannya akan disepakati.
Dia baru saja duduk setelah penyampaiannya dan meminum beberapa teguk air putih Suara aplaus mengiringi sesi terakhirnya.Namun suasana teralihkan ketika mendengar suara ketukan pintu. Spontan semua kepala menoleh ke arah yang sama.
Supri datang menghadap dan memberi kabar yang membuat Adnan tidak ingin lagi duduk lebih lama di sana.
Diana sudah siuman dari koma.
Pada awalnya dia menampakkan ekspresi tak percaya, namun kemudian langsung terlonjak dan terburu-buru ke luar ruangan.Dia bahkan lupa mengatakan kata maaf atau permisi kepada peserta rapat. Beberapa orang geleng-geleng kepala sementara yang lain terpaksa memaklumi kondisinya. Supri yang tertinggal di belakang segera bertindak. Sedikit membungkuk, dia berkata.
"Tolong maafkan sikap kami tuan-tuan.Semua ini tak lain karena istrinya sudah siuman dari koma.Setelah hampir sebulan ini.."
Supri sengaja memberitahukan status Diana sebagai istri Adnan. Dia tidak suka ada pertanyaan lanjutan di kepala orang-orang itu.
Sementara itu,Adnan terus berlari ketika mendapatkan kabar Diana.
Jas pria itu berkibar-kibar mengikuti larinya.Sudah hampir satu bulan, akhirnya dia mendapatkan kabar yang menyenangkan hatinya.Air mata haru membasahi sudut matanya.Adnan te menangis sekaligus tertawa .Tanpa memperdulikan pandangan aneh dari orang-orang yang dilewatinya .Bahkan beberapa orang mahasiswa hampir saja kena tabrak. Reaksi mereka sama dengan yang lain. Terkejut sekaligus terpesona. Karena ada makhluk tampan sedang berlari-lari di kampus mereka.
Adnan tidak membalas, ketika salah seorang dari mereka menyapa.Mungkin citra dia akan dicap sebagai orang yang sombong .Tapi bukan saatnya bagi dia sekarang untuk berpikir tentang itu.Apakah dia harus peduli dengan pendapat orang-orang tentang dirinya. Sedangkan seluruh pikirannya tercurah pada Diana yang baru saja siuman.
__ADS_1
Dia terus berlari menuju mobil yang menunggunya . Namun ketika telah duduk ,pria itu menggeram tidak sabar.Karena dari kejauhan, dia melihat Supri baru keluar dari lift. Dia tidak menutupi rasa kesalnya.
"Ya Tuhan..Apakah di kakimu sudah tumbuh urat ,..?"Bentaknya kesal ketika pria itu sudah berada di hadapannya.Dan hanya tersenyum minta maaf lalu buru-buru duduk di kursi sopir. Supri tidak ingin tuannya meledak karena tidak puas padanya.
Adnan begitu tidak sabaran sehingga menyuruh Supri lebih cepat menjalankan mobilnya. Atau dia sendiri yang menyetir.
Adnan bertingkah di luar karakternya sehari-hari. Bahkan sempat mengabaikan bunyi telepon dari orang-orang suruhannya.Hingga mobil berhenti di depan rumah sakit. Dia buru-buru turun.
Namun seiring dengan itu, salah satu orang kepercayaannya mendatanginya dan melaporkan bahwa mereka menemukan data orang yang telah menabrak Diana.
Langkahnya berhenti sejenak. Kemarahan kembali membungkus wajah tampannya. Dia langsung memerintahkan orang-orangnya meringkus bajingan itu. Dia kembali melanjutkan langkahnya. Dia tidak lagi berlari-lari seperti tafi.Langkahnya lebih tenang. Walau bagaimanapun, dia harus terlihat tampan bertemu Diana. Tanpa lelehan keringat di wajah dan badannya.
.Dia telah melangkah menuju ruangan tempat Diana dirawat.Ternyata ada Agnes dan Erick sudah duluan di dalam ruangan.
"Kalian sudah duluan datang.?”Tanya dia.Hanya dibalas anggukan dari keduanya.
Adnan menenangkan nafasnya lalu mendekati ranjang Diana. Walaupun sejujurnya dia ingin berlari dan memeluknya.
Erick dan Agnes hanya memperhatikan lalu mengambil duduk di sofa yang tersedia.
Adnan menatap lembut sosok yang berbaring lemah itu. Mata indah yang biasa galak padanya , sekarang hanya menatap lelah.
"Selamat…Kamu akhirnya bamgun.."Ucapnya sendu. Namun hanya ditanggapi senyum lemah.Dia langsung menanyakan tentang kedua buah hatinya.
Meskipun sudah mendengar sedikit banyak dari Agnes tentang keadaan sep
"Anak-anak …?"
"Mereka sehat dan aman.."Sahut Adnan.
Dia tidak bisa menahan untuk membelai rambut dan wajah Diana. Hatinya bergetar ketika mengingat ketakutannya saat -saat teringat penderitaan Diana yang terbaring berkubang darah .
Dia bersumpah akan membuat siapapun yang terlibat di dalamnya akan merasakan hukuman darinya.
Sinar matanya yang sempat bersinar kejam, kembali melembut saat bertatapan dengan mata lembut milik Diana.
Tangannya berpindah mengusap tangan wanita itu.Yang sedikit membengkak karena bekas jarum infus dan transfusi darah. Dia menatapnya agak lama.Kemudian berpindah ke mata wanita itu.
"Apakah ini masih sakit..?' Tanya dia kemudian.
__ADS_1
'Tidak..."
"Yang lain..Adakah yang tidak nyaman..?"
"Hanya lelah.."
'Syukurlah..Semoga beberapa lagi sudah bisa pulang.."
Wanita itu hanya bisa membiarkan saat Adnan membelai-belai rambut dan wajahnya. Bagaimanapun dia cukup bersyukur karena kedua malaikat kecilnya ditangan yang tepat.
Tidak banyak di percakapkan di antara mereka.Masih ada sedikit kecanggungan.Karena sudah lama tidak berbincang baik-baik seperti ini.
Salah satu orang suruhannya, datang bersama dengan Supri. Adnan menyuruh mereka menunggu di luat ruangan rawat.
"Ada apa..?" Tanya dia kemudian.
"Kami menemukan lokasi mereka.."
"Kalau begitu apa yang kalian tunggu lagi ?Ringkus secepatnya..!"
Mereka terdiam sesaat.Adnan menatap mereka .
"Bagaimana dengan orang-orangnya ..?"
Sepertinya ada keterlibatan nyonya Risa di sini. Melihat mereka punya hubungan.Seperti adalah pasangan yang sering bersama dan kumpul kebo.Tapi mereka bukan pacaran.
"Aku tidak ingin mendengarkan kisah asmara mereka.Sekarang cepat kamu ringkus pria itu dulu dan bawa padaku.."Ketus Adnan.Wajahnya terlihat muak.
"Siap tuan.."
Sinar matanya menggelap, dan dingin.Tidak lama kemudian berbalik menuju ruangan tempat Diana dirawat. Pandangan ingin tahu terlihat di wajah Diana dan dua orang yang duduk di sofa.
"Bukan apa-apa..Beristirahatlah dulu.Ada yang ingin menyelesaikan satu urusan.."Saran Adnan kemudian.
Diana hanya diam dan kembalienatap Adnan.
Dia memang tidak tahu pasti apa yang terjadi.Namun ketika melihat gelagat Adnan,Diana mencium sesuatu yang berhubungan dengan peristiwa penabrakan nya sebulan yang lalu.
__ADS_1